Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 64


__ADS_3

"NAINA!"


"Nggak! Naina, jangan lakukan! Jangan, Naina! Jangan!" racau Alfin dalam tidurnya.


Peluh membanjiri seluruh tubuhnya hingga pakaian yang ia kenakan menjadi basah. Raut gelisah dan cemas tercetak jelas di wajahnya, Alfin terbawa arus mimpi buruk.


"Nak Alfin! Bangun, Nak! Istighfar." Ustadz Hasan menepuk-nepuk pelan pipi pemuda itu, membangunkannya dari mimpi buruk yang mengganggu.


Namun, Alfin masih terus meracau memanggil-manggil nama Naina. Dengan lisan yang bergetar, air mata bercampur keringat menyatu dalam rasa panik yang sangat.


"Naina, jangan pergi!" pinta Alfin sambil terisak-isak sedih.


"Astaghfirullah al-'adhiim! Ambilkan segelas air," pinta Ustadz Hasan kepada salah satu anak asuh Alfin yang berada di sana. Tangannya mengambil ponsel Alfin dan melihat gambar Naina pada layar. Ia menggelengkan kepala sambil menghela napas.


Salah satu anak tersebut berlari keluar dari kamar sang ayah, pergi ke kran wudhu dan mengambil air menggunakan gelas plastik. Membawanya kembali pada Ustadz Hasan dengan cepat.


"Naina! Jangan pergi! Maafin aku, Naina!" Lisan Alfin masih terus meracau tak henti memanggil-manggil nama Naina sambil menangis.


"Nak Alfin! Bangun! Astaghfirullah, ya Allah!" Ustadz Hasan mengusap wajahnya sendiri, tak habis pikir Alfin yang selalu duduk di masjid ternyata begitu hanyut dengan perasaannya.


"Ustadz, airnya." Secangkir air diterima sang ustadz, ia membacakan Al-fatihah pada air tersebut sebelum mengambilnya sedikit dan mengusapkannya ke wajah Alfin. Sambil membaca syahadat dan sholawat, juga perlindungan dari godaan syetan dan makhluk-Nya yang lain.


Alfin mulai tersadar, tubuhnya yang bergerak-gerak gelisah berangsur-angsur diam. Begitu pula dengan wajah pucatnya yang cemas, perlahan mulai tenang.


"Bangun, Nak! Ucap istighfar. Astaghfirullah al-'adhiim!" pinta Ustadz Hasan sembari mengusapkan air tersebut ke wajahnya lagi.


Alfin menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan-lahan.


"Astaghfirullah al-'adhiim! Astaghfirullah al-'adhiim!" lirihnya pelan dan bergetar.

__ADS_1


Ia mengusap wajahnya, perlahan beranjak duduk dengan perasaan yang tak menentu. Kepalanya menunduk, mengingat-ingat mimpi buruk yang batu saja dialaminya.


Sapuan lembut sang ustadz pada punggungnya memberi ketenangan yang perlahan merasuk ke dalam jiwa Alfin. Memberinya rasa damai, tapi mimpi yang baru saja dialaminya, benar-benar terasa nyata.


"Nak Alfin mimpi apa? Teriak-teriak sampai kedengaran ke luar," tanya sang ustadz dengan lembut. Tangannya mengibas, meminta semua anak Alfin untuk keluar dari kamar sang ayah asuh.


Mereka menurut, yang paling besar mengajak yang kecil untuk keluar dan berkumpul di depan kamar Alfin.


"Astaghfirullah al-'adhiim! Saya merasa berdosa, Pak Ustadz. Saya merasa bersalah karena meninggalkan Naina dan nggak pernah datang lagi, padahal saya bilang sama dia mau tetap di sana jagain dia. Saya sangat berdosa, Pak Ustadz," racau Alfin menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Kembali menangis tersedu teringat dosanya karena meninggalkan Naina tanpa kepastian.


"Istighfar, Nak Alfin. Tenangkan diri dan hati dulu, minta petunjuk sama Allah. Jangan terlarut dalam perasaan yang akan mengundang syetan untuk masuk dan ikut campur di dalamnya. Istighfar!" ucap pak ustadz memperingatkan Alfin.


Alif menggeleng sambil mengucap kalimat istighfar dengan lisan yang bergetar. Mimpi yang baru dialaminya sangat mengganggu.


"Astaghfirullah al-'adhiim! Tenang, Nak. Itu cuma mimpi. Sebaiknya tunggu sampai pagi datang, barulah Nak Alfin pergi mendatangi gadis itu ke rumah sakit," sergah Ustadz Hasan mengingat waktu malam sudah hampir mencapai puncaknya.


Alfin gelisah, meraba-raba sekitar tempat tidur mencari ponselnya.


"Coba ditelpon dulu aja. Tanyakan sama dia gimana keadaannya sekarang?" pinta ustadz sembari menyerahkan ponsel yang dicari Alfin.


"Iya, Ustadz." Alfin menerima benda pipih itu, menyalakannya dan melihat jam yang tertera di sana. Gambar Naina tersenyum langsung menyambut Alfin membuat hatinya teriris perih.


Ia mencoba menelepon Naina. Satu kali, dua kali, tiga kali, nomor yang ditujunya tetap di luar jangkauan. Ia menghela napas, bahunya melorot ke bawah lesu. Air mata luruh kembali menjatuhi sarung yang ia kenakan.


"Nggak aktif, Pak Ustadz." Kepalanya menggeleng lemah, tak tahu harus apa.


"Tenang, Nak. Baiknya Nak Alfin mengambil wudhu dan lakukan sholat empat raka'at yang terlewat. Jangan tinggalkan sunnahnya, minta petunjuk kepada Allah. Sesungguhnya Allah sebaik-baik tempat mengadu," ucap pak ustadz seraya beranjak dari samping Alfin.

__ADS_1


"Astaghfirullah al-'adhiim! Astaghfirullah al-'adhiim!" Alfin kembali menutup wajahnya, ia tertidur sampai terlewat waktu isya.


Alfin beranjak menyusul Ustadz Hasan yang lebih dulu keluar dari kamar. Hatinya mencelos nyeri ketika mata Alfin menangkap beberapa sosok kecil yang duduk bersama sang ustadz.


"Kalian nggak tidur?" tanya Alfin tak enak.


Keempat anak itu menggelengkan kepala, mereka merasa cemas dan tak dapat memejamkan mata ketika mendengar suara teriakan Alfin.


"Kita nggak bisa tidur, Yah. Ayah terus berteriak memanggil Ibu. Emangnya ibu Naina kenapa, Yah? Udah lama nggak main ke sini. Apa bener kata Zalfa kalo ibu sakit?" tanya salah seorang anak yang tubuhnya paling besar di antara keempat anak itu.


Alfin mendesah, menghampiri mereka sebelum pergi ke tempat wudhu. Ditatapnya satu per satu dari wajah itu, wajah-wajah polos yang menemani perjalanan hijrahnya.


"Itu benar. Ibu kalian emang lagi sakit. Nanti siang sepulang sekolah, kita akan jenguk ibu di sana." Alfin tersenyum, menahan perasaannya yang teriris. Masih pantaskah ia menjadi pendamping Naina setelah pergi tanpa kabar layaknya seorang pengecut.


Mereka tersenyum, beberapa saat merasa seperti memiliki keluarga utuh dengan kehadiran Naina, tapi beberapa hari berlalu dan wanita itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya mencipta rindu di ruang hampa hati mereka.


"Sekarang kalian sebaiknya tidur lagi, ini masih larut malam. Supaya besok lebih segar ketika menjenguk ibu," pinta Alfin pada mereka.


Keempat anak itu pergi dengan patuh, menyalami keduanya dengan hati riang gembira. Berharap esok akan segera tiba, tak sabar ingin berjumpa ibu mereka.


Kini, hanya menyisakan dua laki-laki berbeda usia di serambi masjid itu. Ustadz Hasan menatap lekat-lekat wajah Alfin yang sekilas saja terlihat dia begitu gelisah.


"Lalu, apa yang mau Nak Alfin lakukan?" tanyanya merasa hati pemuda itu sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya.


"Bismillahirrahmanirrahim. Insya Allah, saya akan menikahi Naina secepatnya, Ustadz. Saya nggak mau nunda-nunda lagi," ucap Alfin dengan yakin.


Ustadz Hasan mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Sebelum beranjak dia memberi peringatan kepada Alfin, "Ingat! Sebesar apapun ombaknya. Jangan pernah melompat dari kapal."


Laki-laki sepuh itu meninggalkan Alfin yang mematung sendirian. Merenungi dan mencerna ucapan sang ustadz untuk diresapi olehnya.

__ADS_1


__ADS_2