Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 124


__ADS_3

Takjub. Satu kata yang menggambarkan ekspresi wajah Naina ketika tiba di depan sebuah gedung menjulang tinggi. Meski sering melihat gedung yang sama persis, bahkan memasukinya, tetap saja gedung perkantoran milik Adrian membuatnya berdecak kagum.


Sikap karyawan yang bersikap ramah, sopan dan santun dalam menerima tamu yang datang ke gedung tersebut menambah rasa kagum di hati Naina. Diakah pemilik gedung itu kelak?


"Sayang, kenapa? Kok, melamun?" tegur Adrian begitu melirik pada Naina.


Istri Alfin itu tersadar dari lamunan, menatap semua orang yang tengah memperhatikannya. Ia tersenyum, bersemu kedua pipinya.


"Udah selesai, Pah?" tanya Naina spontan. Mereka semua menahan senyum, merasa lucu dengan sikap putri pemimpin mereka. Di hati semua karyawan Adrian memuji akan kesederhanaan putri pemilik gedung tersebut.


"Udah. Apa kamu bosan?" tanya Adrian hati-hati.


Eh?

__ADS_1


Naina menatap bingung papahnya. Lantas menggelengkan kepala karena dia sendiri tidak tahu apa yang sedang dibahas. Adrian membubarkan perkumpulan, secara serentak mereka meninggalkan ruang rapat dan kembali pada pekerjaan mereka.


"Dulu, Nai juga sempat pengen kerja di kantoran. Jadi karyawan kayak teman-teman yang lain, tapi nggak kepikiran bakal punya kantor sendiri," celetuk Naina disaat hanya ada mereka berdua saja.


Adrian khusyuk mendengarkan, melihat senyum di bibir wanita itu hatinya turut merasakan kebahagiaan.


"Kenapa, kok, nggak kepikiran?" tanya Adrian menanggapi disaat Naina justru terdiam untuk waktu yang lama.


Wanita berhijab merah muda itu menoleh, tersenyum kepada laki-laki yang menyayanginya tanpa batas waktu.


Adrian terenyuh mendengar kisah sang anak yang miris. Seandainya dia lebih cepat menemukan Naina, mungkin masih memiliki kesempatan untuk meminta maaf kepada Lita. Sayang, semuanya terlambat dan hanya ada sesal yang tertinggal di hatinya.


"Sekarang, Nai nggak perlu susah-susah lagi. Ada Papah dan juga mas Alfin yang menjaga segala kebutuhan Nai." Ia tersenyum menatap Adrian. Meski singkat saja pertemuan mereka, sudah meninggalkan kesan mendalam di hati Naina.

__ADS_1


Adrian tersenyum getir, berjanji dalam hati untuk selalu menjaga senyum itu. Rasa sesal semakin menumpuk, berkumpul jadi satu di dalam relung jiwa yang terdalam. Seandainya, andaikata, umpama, misalnya. Waktu bisa diputar, dia ingin memperbaiki segalanya.


"Jangan pernah merasa sendiri lagi, sayang. Papah nggak mau kamu melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri buat orang lain. Datang pada Papah atau mamah, kita bicarakan dan cari solusi. Kamu punya keluarga," pinta Adrian tak bosan-bosan mengingatkan Naina untuk tidak mengorbankan diri sendiri.


Istri Alfin itu tersenyum, mengangguk pelan. Hatinya diliputi rasa haru karena keadaannya yang sekarang. Ada Alfin yang setiap hari menaburkan cinta ke dalam hatinya, ada Adrian yang siap siaga melindungi. Ada Habsoh yang selalu membuka kedua tangan untuk berlabuh ketika terkungkung masalah. Mereka semua menyayanginya sekarang.


"Nai bersyukur ketemu Papah sama mamah. Dulu, Nai sering tanya sama ibu siapa ayah Nai? Tapi ibu nggak pernah mau kasih tahu. Katanya, Nai nggak harus tahu dan nggak perlu tahu. Lalu, tiba-tiba ibu nyuruh Nai datang ke sini. Salah satu alasannya mungkin supaya Nai ketemu sama Papah," ungkap Naina tak lagi menutup-nutupi kisah di masa lalu.


Adrian semakin teriris, sebegitu bencinya Lita padanya? Tapi ia sadar semua itu terjadi karena dia jua.


"Papah minta maaf, ya, karena terlambat menemukan kamu. Jadi, nggak sempat minta maaf juga sama ibu. Lain waktu, kita kunjungi makam ibu, ya." Adrian meraih tangan Naina, menggenggamnya hangat. Tak akan ia lepaskan lagi tangan itu apapun alasannya. Adrian tak ingin kehilangan lagi, tak ingin ada perpisahan lagi.


Naina tersenyum haru, menjatuhkan kepala di bahu laki-laki itu.

__ADS_1


"Makasih, Pah."


"Iya, sayang." Larut dalam rasa hangat dan damai.


__ADS_2