Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 57


__ADS_3

Malam itu semakin mencekam, sederet manusia duduk dengan kepala tertunduk sedih. Satu diantara mereka menangis sesenggukan hingga bahunya naik dan turun secara teratur. Sumiyati, Asep, dan Khadijah, duduk berjajar di bangku depan IGD.


Sementara Alfin, berdiri di dekat sebuah pilar. Menatap hampa pada langit malam yang gulita. Ia bahkan menolak mengganti pakaiannya yang basah. Membiarkan kain tersebut mengering di tubuh sendiri. Kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celana tanggungnya, mengepal kuat-kuat.


Bayangan dua laki-laki yang menindih tubuh Naina, masih membuat hatinya bergejolak panas. Ia memejamkan mata, menarik napas untuk dapat mengurangi sesak dan nyeri di hati. Namun, tetap tak bisa ia lakukan, terlebih saat mata sayu Naina menatapnya sambil memohon.


Senyum yang tersemat saat itu, menandakan kelegaan hatinya akan kedatangan Alfin. Air mata yang luruh, membuat hati Alfin tak kuasa menahan diri.


"Argh!" Secara tiba-tiba Alfin meninju pilar tersebut, hingga membuat gesekan antara kulit jari juga dinding. Kulit yang tergores dan buliran darah menyembul darinya, tak dihiraukan Alfin sama sekali.


"Aku memang lemah, nggak bisa jagain kamu. Lemah, lemah, lemah!"


Ia membentur-benturkan kepala pada pilar, membuat Khadijah tak bisa menahan diri lagi. Wanita itu bangkit dan menjauhkan tubuh Alfin dari pilar.


"Apa-apaan, sih! Jangan nyalahin diri kamu sendiri, semua ini bukan salah kamu. Kita belum tahu apa yang terjadi sama Naina," sergah Khadijah memegangi kedua tangan adiknya agar tidak melakukan tindakan bodoh.


"Apa yang belum tahu, Kak? Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Mereka ... mereka ...."


"Argh!" Alfin berbalik, lagi-lagi meninju pilar meluapkan kemarahan.


Khadijah menarik tubuh sang adik, menyeretnya sedikit menjauh dari tiang-tiang. Sumiyati dan Asep menatap sedih pada dua kakak beradik itu. Terutama Alfin yang tak berhenti menyalahkan dirinya sendiri.


"Kasihan Nak Alfin, dia pemuda yang baik," gumam Asep menatap iba pada pemuda itu.


"Naina juga anak yang baik. Semua yang terjadi malam ini bukan karena inginnya. Ini sudah takdir yang harus mereka jalani," sahut Sumiyati sedikit tak senang karena ucapan Asep seolah-olah menyudutkan Naina.


"Iya, Bapak tahu. Mudah-mudahan mereka kuat menjalani ini semua," ucap Asep sambil mengusap-usap punggung istrinya.


Khadijah memutar kepala Alfin yang berpaling darinya. Melayangkan tatapan tajam pada pemuda yang kini tengah menangis itu.


"Lihat Kakak! Apa yang kamu lihat belum tentu sama dengan apa yang kamu pikir. Tunggu penjelasan Naina, atau dokter. Barulah kita bisa mengambil kesimpulan. Bukannya kamu bilang pakaian Naina masih utuh? Cuma robek-robek aja, 'kan? Jadi, berpikir yang jernih, Alfin. Jangan menuruti napsu kamu," cecar Khadijah menyadarkan Alfin yang lepas kendali.


Dia seperti binatang liar, yang apabila tidak dikekang ataupun terlepas, maka akan lari dan lepas kendali.

__ADS_1


"Aku nggak tahu, Kak. Aku nggak tahu!" Alfin menggeleng-gelengkan kepala, tak tahu akan jalan pikirannya sendiri. Dia membutuhkan tempat untuk menenangkan hati, membutuhkan waktu untuk sendiri.


"Alfin, kalaupun semua itu terjadi, bukan karena kehendak Naina. Dia juga nggak mau semua ini terjadi. Kita bisa apa, Alfin? Selain harus saling menguatkan satu sama lain." Khadijah mengusap wajah sang adik.


Tangan lainnya mengangkat tangan kanan Alfin, mengusap jemarinya yang berdarah. Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku tas, membalut luka itu agar tidak tersentuh bakteri.


"Aku mau ke masjid, Kak. Aku butuh waktu sendiri, aku butuh tempat untuk menenangkan diri. Aku mau pergi ke masjid, Kak," ucap Alfin. Teringat pada satu-satunya tempat yang selama ini membuatnya tenang.


Khadijah menghela napas, menggenggam jemari adiknya, kemudian menatap wajah Alfin dengan lekat. Bola matanya bergerak ke kanan dan kiri menatap bergantian kedua manik Alfin.


"Kamu boleh pergi kalo udah ketemu Naina. Tahan sebentar, Alfin. Kalo Naina bangun nanti, yang akan dia tanyakan pasti kamu. Bukan yang lain. Jadi, beri dia sedikit harapan," ujar Khadijah. Ia menarik tubuh Alfin ke dalam dekapan menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.


Alfin menjatuhkan kepala di pundak sang kakak, membalas erat pelukan Khadijah. Ini adalah pelukan pertama mereka setelah Alfin beranjak dewasa.


"Kakak ngerti gimana perasaan kamu sekarang. Sangat mengerti, tapi kita nggak bisa ninggalin Naina. Dia butuh dukungan dari orang-orang yang dia sayangi. Kamu juga pasti tahu kalo Naina sendiri nggak mau semua ini terjadi. Kalian harus bicara, beri Naina harapan supaya dia nggak mengalami trauma mendalam," lirih Khadijah di telinga Alfin.


Pemuda itu terisak lirih, menumpahkan tangis kesedihan juga penyesalan di dalam hatinya. Dia menyesal karena terlalu lambat menemukan Naina. Dia merutuki dirinya sendiri yang begitu lemah dan tak berdaya.


Khadijah melepas pelukan, mengusap air mata di pipi adiknya.


Alfin menghela napas, mengucap istighfar di dalam hati untuk meraih ketenangan. Ia menepis bayangan kelam yang tak mau pergi dari pikiran. Berdiri bersama sang kakak, menunggu Naina selesai ditangani.


Berselang, pintu IGD terbuka, para perawat mendorong brankar keluar memindahkan Naina ke ruangan.


"Naina!" Alfin dan Khadijah berhambur mendekat dan melihat Naina dengan wajah pucatnya yang tertidur.


Mereka ikut mengantar Naina ke ruangannya, bersama Asep dan Sumiyati. Dokter menjelaskan kondisi Naina secara mental, tapi tidak menjelaskan apakah dia mengalami pelecehan membuat Alfin dan Khadijah bingung.


"Kalian bisa tanya sendiri ketika dia bangun nanti. Saya permisi," jawab dokter saat Khadijah bertanya tentang keadaan Naina.


Beberapa saat setelah kepergian dokter, Naina membuka matanya. Ia menatap ke sekitar mencari satu wajah yang terus terlintas dalam pikirannya.


"Alfin!" panggil Naina dengan suara yang lirih dan bergetar.

__ADS_1


Semua orang yang duduk di ruangan itu tersentak, tapi mereka membiarkan Alfin sendiri mendatangi Naina.


"Aku di sini," ucap Alfin sembari menahan perasaannya yang terguncang. Ia duduk di tepi ranjang Naina, menatap wajah gadis itu.


"Kamu nggak apa-apa? Kamu baik-baik aja, 'kan?" tanya Naina sembari menelisik wajah Alfin yang tak lepas dari menatapnya.


Pemuda itu berpaling, mengusap sudut mata tak tega melihat terlalu lama wajah pucat Naina.


"Kamu nggak usah mikirin aku. Aku baik-baik aja. Kamu sendiri gimana? Apa yang sakit?" tanya Alfin menahan getar di lisannya.


Khadijah diam-diam mengusap matanya, sudah sedari tadi ia menahan diri agar tidak menangis. Sekarang, rasanya wanita itu sudah tak sanggup lagi. Ia menutup wajah menggunakan kerudung, menangis dalam diam.


"Aku nggak apa-apa," sahut Naina. Ia menatap wajah Alfin dalam-dalam, ketakutan tiba-tiba muncul di hatinya.


"Alfin, kamu percaya, 'kan, sama aku? Semua yang kamu lihat nggak seperti yang kamu pikir. Kamu harus percaya sama aku," ucap Naina memberitahu kondisinya.


Alfin kembali berpaling, menyeka sudut mata karena tak kuasa menahan diri untuk tidak menangis.


"Aku nggak tahu, Naina." Ia menggelengkan kepala, "aku nggak tahu karena aku melihat sendiri kejadian itu. Maafkan aku," ucap Alfin kembali menjatuhkan pandangan pada gadis itu.


Naina menitikan air mata, siapapun tak akan percaya karena posisi kedua laki-laki itu yang telah menindihnya.


"Jangan menangis. Kamu harus banyak istirahat supaya cepat sembuh. Sekarang kamu tidur lagi, ya. Muka kamu masih pucat banget," ucap Alfin mengusap air mata Naina menggunakan sapu tangan yang melilit jemarinya.


"Aku nggak mau tidur, aku takut kamu ninggalin aku," rengek Naina sambil menggelengkan kepala. Gadis itu berurai air mata sedih.


Alfin terisak, begitu pula dengan ketiga orang di sofa. Pemuda itu menunduk, mengusap wajahnya yang berair.


"Kamu nggak akan ninggalin aku, 'kan? Kamu akan tetap di sini, 'kan? Bilang, Alfin, kalo kamu nggak akan ninggalin aku," pinta Naina sambil tersedu-sedan membayangkan bila pemuda itu pergi meninggalkannya.


Alfin menyudahi tangisnya, mengusap wajah dan menghela napas. Ia tersenyum pada Naina, lalu mengangguk pelan.


"Aku nggak akan ninggalin kamu, Naina. Nggak akan. Tidurlah, malam masih panjang. Kamu harus istirahat. Aku akan di sini menunggu kamu," ucap Alfin sembari tersenyum meski hati perih teriris.

__ADS_1


Naina mengangguk, perlahan memejamkan mata untuk kembali beristirahat. Ia meraih tangan Alfin dari balik selimut, dan menggenggamnya erat. Hati Alfin semakin perih, ia kembali menitikan air mata. Terlebih saat melihat senyum di bibir gadis itu.


__ADS_2