Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 97


__ADS_3

Motor Alfin masih melaju di jalanan dengan kecepatan sedang. Berkali-kali pemuda itu mencubit pinggang sang kakak supaya mempercepat laju motor mereka, tapi tetap saja Busyro berkilah tentang ketergesaan itu bukan sesuatu yang baik.


"Tokonya di seberang masjid kamu itu, 'kan?" tanya Busyro tanpa mengindahkan permintaan sang adik.


"Iya. Cepetan, Kak! Kenapa kayak keong begini, sih?" umpat Alfin semakin kesal.


"Berhenti, Kak!" Alfin berseru tiba-tiba, mendadak Busyro menginjak rem.


Alfin terburu-buru turun, dan mengambil kunci motor.


"Eh, mau apa kamu?"


"Minggir! Biar aku yang bawa!" ketus Alfin meminta sang kakak untuk duduk di belakang.


"Sabar, Fin." Namun, ia beringsut mundur jua, membiarkan sang adik untuk membawa motor tersebut.


Alfin duduk dan langsung menancap gas, melaju dengan cepat.


"Astaghfirullah al-'adhiim! Astaghfirullah al-'adhiim! Kakak masih mau hidup, Fin. Masih banyak dosa yang harus Kakak tebus. Ya Allah!" racau Busyro sembari mencengkeram kuat-kuat pinggang adiknya.


Ia benamkan kepala di punggung Alfin, terpejam mata takut. Alfin menyalip kendaraan di depannya dengan gerakan gesit dan lincah. Keahliannya di arena balap liar sangat berguna di saat genting seperti sekarang ini.


"Alfin!" Busyro meracau tak henti.


Sampai motor itu berhenti, barulah ia membuka mata. Turun dari kuda besi tersebut dengan kaki gemetar, ia ambruk di depan toko, menenangkan diri. Sementara Alfin, bergegas masuk ke dalam dan menemui karyawan di kasir.


"Apa pemilik toko ada datang ke sini?" tanya Alfin tanpa berbasa-basi.


"Maaf, beliau memang sempat ke sini tadi pagi, tapi siang tadi keluar dan sampai sekarang belum ada lagi ke sini," jawab karyawan tersebut mengecilkan hati Alfin.


"Kalian tahu di mana alamatnya?" cecarnya dengan segera.


"Maaf, tapi kami nggak tahu di mana rumah beliau karena beliau baru di sini."


Alfin menghela napas, pasrah. Ia keluar dengan gontai, menemui kakaknya. Pandangan Alfin tertuju pada masjid besar di seberang jalan, masjid yang beberapa hari tak ia datangi karena harus merasakan dinginnya jeruji besi.


Ia menengadah, menatap langit yang hampir didominasi warna gelap. Keindahan senja perlahan memudar, sang mentari tenggelam di peraduan. Hatinya merindukan anak-anak di sana, dia ingin memeluk dan bercerita bersama mereka.

__ADS_1


Tanpa menghiraukan Busyro yang masih terduduk lesu, Alfin melangkah menyebrangi jalan di bawah tatapan bingung sang kakak. Busyro menghela napas, menormalkan dirinya dari getaran rasa takut akibat laju motor yang diatas rata-rata.


Kakak Alfin itu beranjak dan membawa motornya setelah sang adik tiba di seberang jalan. Pucuk dicinta, ulam pun tiba.


Alfin mematung di halaman masjid, hatinya bergetar, mata memanas. Lidahnya kelu tak dapat digerakkan, dari balik jendela ia bisa melihat sosok bidadari yang dicarinya. Alfin melangkah tanpa mengalihkan pandangan dari sosok tersebut.


Ia bisa mendengar suaranya yang semerdu nyanyian para bidadari. Tawanya begitu renyah terdengar, meringankan pikiran Alfin. Beberapa saat ia hanya mematung dibalik pilar masjid. Tersenyum bibirnya menyaksikan bagaimana mereka begitu akrab dan saling menyayangi.


Alfin tak dapat lagi menahan diri, ia datangi lebih dekat kelompok tersebut. Menatap lebih jelas pemilik wajah yang membuatnya selalu merindu.


"Naina!" Lirih dan bergetar Alfin memanggil namanya.


Tawa canda mereka, celoteh anak-anak itu, seketika saja berhenti. Keadaan berubah hening, serentak mereka menoleh. Anak-anak itu menatap Alfin dengan wajah yang berbinar.


"Ayah!" seru mereka secara bersama-sama.


Mendengar teriakan itu, kedua orang yang sedang duduk di gazebo menoleh dengan segera. Menyaksikan sendiri anak-anak yang berhambur memeluk Alfin. Tak ada beda dengan pertemuan mereka bersama Naina, anak-anak itu bahkan lebih histeris ketika Alfin membentang tangan merengkuh tubuh mereka.


"Anak-anakku, ya Allah. Maafin Ayah, Nak! Maafin Ayah kalian ini," ucap Alfin sambil menangis menahan rasa sesal yang mendalam.


"Kami kangen sama Ayah. Maaf, Yah. Kami nggak tahu kalo selama ini Ayah ada di kantor polisi," ungkap anak tertua yang memeluk Alfin dari belakangan.


Naina menitikan air mata, terharu mendengar ucapan anak tersebut.


"Nggak apa-apa, sayang. Ayah memang nggak mau kalian tahu kalo Ayah di sana, tapi apa kalian baik-baik saja selama Ayah tinggal? Siang malam Ayah terus memikirkan kalian," ungkap Alfin berderai air matanya semakin deras.


"Kami baik, Yah. Ada Ustadz yang selalu mengurus kami, kadang paman Bas juga datang ke sini, dan sekarang ada Ibu juga di sini. Kami baik-baik saja, tapi apa Ayah sehat?" sahut anak yang lain mewakili saudaranya.


Alfin mengangguk, ia melepas pelukan, mengumpulkan mereka di hadapannya. Menatap satu per satu wajah-wajah polos yang sangat ia rindukan.


"Ayah baik-baik saja. Kalian nggak usah mikirin Ayah." Alfin mengusap kepala beberapa anak. Tersenyum menyatakan bahwa dirinya memang baik-baik saja. Kecuali hati, yang sedang dilanda rasa gelisah.


"Ayah di sana pasti kedinginan, nggak ada yang kasih selimut. Apa tidur Ayah pules?" celoteh Halwa sembari mengusap pipi Alfin.


Pemuda itu tertawa, tapi berair mata. Bersyukur karena memiliki anak-anak hebat seperti mereka.


Naina yang masih duduk di sana tanpa melirik ke arah Alfin, beranjak mendatangi Adrian, belum ingin bertemu dengan pemuda itu.

__ADS_1


"Pah, udah mau maghrib. Sebaiknya kita pulang," ajak Naina yang berbanding terbalik dengan hatinya.


Adrian menghela nafas, nasihat sang ustadz mengiang di telinga. Ia menarik tangan Naina untuk duduk di gazebo, menatap dalam-dalam manik gadis itu, menelisik kejujuran di sana.


"Kamu perlu bicara dengan Alfin, sayang. Selesaikan masalah kalian, jangan lari dan menghindarinya. Kalo kamu mau semuanya berakhir di sini, akhiri sekarang juga, tapi kalo kamu masih mau mempertahankan semua, tegaskan sekarang juga. Menghindar nggak akan menyelesaikan masalah." Adrian mengusap kepala gadis itu, memberinya kekuatan untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi di dalam hubungan mereka.


Naina menunduk, air menetes dari salah satu sudut mata yang segara ia hapus.


"Kamu mau bicara berdua, atau kita bersama-sama di sini membahas kelanjutan hubungan kalian?" tawar Adrian memberikan pilihan kepada Naina.


Gadis itu menghela napas, memang sebaiknya semua harus dibicarakan.


"Di sini, Ayah. Nai mau kalian menjadi penasihat kami," ujarnya dengan lirih.


Adrian mengusap bangga kepala Naina, dan Ustadz Hasan tersenyum sembari mematri tatapan pada gadis tersebut.


"Assalamu'alaikum!" sapa Busyro begitu ia tiba di gazebo, diikuti Alfin di belakangnya.


Sementara anak-anak dibiarkan di masjid, diminta untuk tidak mendengarkan pembicaraan mereka.


"Wa'alaikumussalaam, Ustadz Busyro! Mari silahkan! Maa syaa Allah, lama kita nggak ketemu, ya. Apa kabar?" sambut Ustadz Hasan sembari memeluk Busyro dengan hangat.


"Alhamdulillah, Ustadz. Baik, gimana kabar Ustadz sendiri?" Busyro balik bertanya setelah melepas pelukan.


"Alhamdulillah, baik. Silahkan!" Ia mempersilahkan mereka duduk.


Alfin datang menghadap, memeluk ayah kedua yang tak pernah lelah menasihatinya.


"Apa kabarmu, Nak?" bisik Ustadz Hasan dalam pelukan.


"Alhamdulillah, sehat, Ustadz." Alfin menjawab lirih sambil menangis.


Mereka duduk saling berhadapan, sesekali Alfin akan melirik Naina yang tak luput dari perhatian Adrian. Sedangkan, gadis itu terus menunduk dalam diam.


"Mmm ... begini, Ustadz-"


"Aku ingin menikahi Naina sekarang juga!"

__ADS_1


__ADS_2