Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 33


__ADS_3

Dalam keremangan lampu jalan, malam gelap tiada berbintang, angin menerpa begitu dingin menusuk. Semua orang yang berada di luar rumah merapatkan pakaian mereka menolak udara menyentuh kulit.


Namun, tidak untuk laki-laki itu, duduk dengan tubuh memanas bergejolak di dalam mobilnya. Kedua tangan mengepal kuat, mata semerah darah, kulit wajahnya menghitam karena amarah menguasai hati.


"Kurang ajar! Bilangnya ada acara sama bibi, tapi ternyata sama pemuda brengsek itu. Awas kamu, Naina. Aku nggak terima kamu bohongin kayak gini," gumamnya meremas kemudi dengan kuat.


"Brengsek!" Ia memukul setir mobilnya cukup kuat, merapatkan gigi hingga terdengar bunyi gemelutuk yang nyaring. Kemudian melanjutkan perjalanan setelah menandai kedua orang itu.


Sementara Alfin masih berada di dalam toko, berbincang soal pesanan bahan bangunan sebuah proyek besar yang berada di luar kota. Alfin menyerahkan tanggung jawab itu kepada semua pengurus toko, ia hanya perlu menandatangani kesanggupannya menyediakan bahan bangunan yang diminta proyek.


Tak lupa memesan bahan untuk memperbaiki asrama anak-anak yang lapuk karena air hujan. Setelah menyelesaikan urusannya, Alfin bergegas kembali ke mobil di mana Naina tengah menunggu sambil memperhatikan dirinya.


"Udah selesai? Mau bangun masjid atau asrama?" tanya Naina setelah pemuda itu duduk dibalik kemudi.


"Asrama, ada beberapa atap yang harus direnovasi karena sudah lapuk terkena air hujan." Alfin tersenyum usai menjelaskan kedatangannya ke toko tersebut.


Mobil melaju meninggalkan toko tanpa dicurigai Naina. Alfin benar-benar menyembunyikan identitasnya sebagai seorang pengusaha hebat. Biarlah orang-orang mengenalnya sebagai marbot yang tidak memiliki penghasilan.


"Mmm ... Alfin, nanti pas aku ketemu sama ayah kamu apa nggak apa-apa aku cium tangan sama beliau?" tanya Naina khawatir salah dalam mengambil sikap.


Alfin meliriknya sambil tersenyum, melengos kembali ke depan dengan hati yang tiba-tiba berbunga.


"Buat sekarang sebaiknya jangan karena belum jadi mahram. Kalo nanti udah nikah nggak apa-apa," jawab Alfin.


"Kalo ibu kamu?" Naina kembali bertanya.


"Ya, kalo ibu, kamu bisa bersikap kayak kamu ketemu sama ibu-ibu lainnya." Alfin kembali melirik sambil tersenyum.


Naina menganggukkan kepala mengerti. Tak lagi bertanya dan kembali menatap deretan bangunan di tepi jalan.


Jalanan mulai memasuki kawasan permukiman warga yang cukup padat. Ada banyak anak muda di beberapa tempat tertentu mengabiskan malam dengan berkumpul bersama rekan-rekan. Tak ubahnya kota Jakarta, dunia malam di kota itu juga terasa hidup.

__ADS_1


Naina meneguk ludah saat mobil Alfin mengarah pada sebuah rumah besar di kawasan tersebut. Rumah tinggi dengan gerbang kokoh yang dicat berwarna putih serupa dengan bangunan tersebut.


Ia melirik Alfin yang tampak biasa saja, gerbang kokoh itu telah terbuka lebar, beberapa mobil yang terparkir di halamannya yang luas. Hati Naina bertanya-tanya benarkah itu tujuan mereka? Atau hanya persinggahan semata.


"Kita mampir lagi di sini?" tanya Naina ragu.


Alfin tidak menyahut, diam dengan garis bibir yang terangkat ke atas. Naina mengalihkan pandangan pada teras rumah yang dilengkapi kursi terbuat dari kayu jati. Klasik dan elegan.


Napas Naina tercekat saat seseorang yang dikenalnya muncul dari dalam rumah tersebut. Dia Khadijah yang tak sabar menunggu calon adik iparnya datang ke rumah.


"Kak Dijah? Ke-kenapa di sini? A-apa ini rumah kamu?" tanya Naina terbata-bata.


"Bukan. Ini bukan rumahku," jawab Alfin sejujurnya.


Naina menoleh, kedua matanya menyiratkan keragu-raguan atas pernyataan Alfin.


"Aku belum punya rumah, Naina. Nanti kita bangun sama-sama, ya, kalo udah nikah. Ini rumah orang tuaku," jelas Alfin tak membuat jantung Naina menjadi normal kembali.


"Iya. Kenapa?"


"Aku mau pulang aja," kata Naina spontan.


Trauma penolakan dari orang-orang yang tinggal di rumah persis seperti bangunan di hadapannya, kembali hadir dan selalu menjadi mimpi buruk untuk Naina. Ia terlihat gelisah, wajahnya yang tadi ceria bahkan bersemu berubah pucat pasih.


"Nai! Mereka nggak seperti yang kamu bayangkan. Kita masuk aja dulu, nggak enak udah sampe sini apalagi Kak Dijah udah nungguin kamu. Dia nggak sabar buat ngenalin kamu sama keluarganya," ucap Alfin merayu Naina yang tak tenang dalam duduknya.


Gadis itu menggelengkan kepala, bayangan kematian Lita melintas semakin menambah ketakutan dalam dirinya. Air matanya luruh, Alfin benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Ia melongo keluar, meminta sang kakak untuk datang.


Keduanya berdiskusi tanpa suara, Alfin meminta bantuan sang kakak untuk membujuk Naina agar mau bertemu dengan kedua orang tua mereka.


Khadijah yang mengerti lekas menghampiri gadis itu. Ia mengetuk jendela mobil, berulang lagi sampai Naina mengangkat wajahnya. Khadijah meminta gadis itu membuka jendela tersebut sambil tersenyum lembut.

__ADS_1


Alfin menekan tombol otomatis, kaca itu pun terbuka dengan sendirinya. Khadijah meraih tangan Naina, menggenggamnya lembut. Menyingkirkan air mata dari pipinya mencoba meyakinkan Naina dengan sikap yang ia tunjukkan.


"Kakak ngerti apa yang kamu rasain, sangat mengerti. Akan tetapi, kita nggak akan pernah tahu kalo belum mencobanya, 'kan? Jadi, kenapa nggak masuk dulu aja dan kamu bisa menilainya sendiri. Kakak berjanji nggak akan ada yang bikin kamu sedih di dalam sana. Yuk, turun sama Kakak," papar Khadijah.


Kelemah-lembutan yang dimilikinya, berhasil menyentuh relung hati Naina. Perlahan tangisnya mereda, mengingat kembali apa tujuannya datang. I menganggukkan kepala, membuka pintu dan keluar seraya disambut Khadijah dengan uluran tangan.


Tanpa menunggu Alfin, keduanya berjalan masuk. Naina menundukkan kepala, melihat ujung sepatu yang ia kenakan. Ramai orang berceloteh di dalam rumah, mengusik gendang telinga Naina.


"Assalamu'alaikum!" ucap Khadijah yang diikutinya dari dalam hati.


"Wa'alaikumussalaam!" sambut semua orang yang berkumpul di ruang tengah.


"Wa'alaikumussalaam!" jawab mereka serentak.


"Umi!" Dua orang anak yang hampir sama usianya berhambur mendekati mereka. Memeluk Khadijah dengan manja.


"Siapa ini, Umi?" tanya anak tersebut sambil menatap Naina yang diam-diam meliriknya.


"Oh, nanti kalian juga tahu. Sekarang kita bawa Kakak cantik ini ke nenek sama kakek," jawab Khadijah membuat keduanya semakin penasaran.


Naina dibawanya ke hadapan kedua orang tua mereka. Yang tak disangka-sangka olehnya adalah, kedua paruh baya itu berdiri menyambutnya.


"Siapa gadis cantik ini, Dijah?" tanya suara lembut mengalun syahdu.


"Ini, Umi, Abi. Ini calon istri Alfin, tapi dia ragu mau masuk ke rumah. Makanya agak,? ucap Khadijah memperkenalkan Naina kepada orang tuanya.


"Maa syaa Allah! Kenapa kamu ragu, sayang? Apa kami menakutkan?" ujar wanita itu seraya mendekati Naina dan memeluknya.


Hati gadis itu menghangat. Air mata jatuh dengan sendirinya, bahunya terguncang ringan karena menahan tangisan.


Ibu ... Ibu lihat, 'kan? Ibu ....

__ADS_1


__ADS_2