Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 99


__ADS_3

"Mereka nikah, Umi," tutur Amaliah setelah melihat video yang dikirimkan suaminya.


Video pernikahan Alfin dengan Naina di masjid, dengan disaksikan oleh Habsoh, paman dan bibi Naina, juga karyawan toko milik Adrian.


Hati Aminah bergetar, tapi ia tak dapat melakukan apapun selain hanya diam dan menerima. Takdir sudah berkehendak, siapa yang dapat mencegah. Air matanya berjatuhan, merasa tak dianggap oleh anak bungsunya. Namun, kembali lagi pada inti masalah, semua terjadi karena dirinya yang begitu keras.


Aminah tergugu sembari menutupi wajah, tak ada yang harus dia lakukan. Seharusnya dia ada di sana, hadir untuk menyaksikan pernikahan anak bungsunya.


"Seharusnya Umi di sana, bukan di sini. Kenapa Alfin nggak ngomong dulu sama Umi kalo mau nikah?" ratap Aminah sungguh merasa kecewa terhadap putra bungsunya.


"Nggak perlu melimpahkan kesalahan sama orang lain lagi, Umi. Sudah waktunya kita introspeksi diri kita, menyadari kesalahan yang kita lakukan. Bukan malah menyalahkan orang lain." Ahmad melangkah masuk diikuti Khadijah.


Wajah sedihnya raib, berganti dengan perasaan lega yang terlihat mendominasi. Aminah mengangkat wajah, memandang suaminya dengan mata yang basah.


"Kenapa dia nggak minta izin Umi dulu? Apa dia udah nggak nganggep Umi sebagai ibunya?" tutur Aminah perih.


Ahmad menggelengkan kepala, duduk di tepi ranjang sang istri. Digenggamnya tangan wanita tua itu dengan hangat dan lembut. Menyalurkan ketenangan pada hatinya yang tengah gelisah.


"Abi yang menyuruh Alfin untuk langsung menikahi Naina. Kita nggak bisa melarang mereka untuk saling mencintai, Umi. Alfin akan bahagia kalo menikah dengan Naina, bukan yang lain. Sebagai orang tua, kita hanya harus mendoakan mereka agar dapat membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Apa lagi? Jangan pernah mendoakan anak dengan keburukan," ucap Ahmad sembari memberikan tekanan pada genggaman tangan mereka.


Air mata Aminah bercucuran, sedikit menyadari kesalahan yang ia lakukan. Namun, hatinya masih belum bisa menerima, merasa dipunggungi Alfin sebagai wanita yang telah melahirkannya.


"Umi cuma merasa nggak dianggap, Bi. Harusnya Alfin bilang dulu sama Umi," ucap Aminah yang serta merta melabuhkan kepala pada pundak suaminya.


Ahmad mengerti, disapunya punggung sang istri untuk menyalurkan kedamaian pada hatinya.


"Kalo semisalnya Alfin meminta izin dulu sama Umi, apa Umi yakin nggak akan mempersulit semuanya?" tanya Ahmad yang cukup menohok hati Aminah.


Tangis wanita tua itu tiba-tiba saja terhenti, ia juga menjauhkan kepala dari tempat nyaman tersebut. Menatap dalam-dalam suaminya yang tersenyum lembut. Tak ada kebencian yang memancar dari kedua matanya, hanya ada cinta dan kasih sayang besar sama seperti dulu.


Aminah kembali menangis, yang dipertanyakan Ahmad memanglah benar. Tidak menutup kemungkinan dia akan mempersulit Alfin untuk menikahi Naina.


"Persiapkan saja hati Umi untuk menyambut kedatangan menantu baru kita di rumah. Mungkin saja Alfin akan tinggal beberapa hari di sana bersama istrinya. Hilangkan keegoisan Umi, terima takdir yang digariskan Tuhan untuk mereka." Ahmad tetap melayangkan tatapan lembut penuh kasih pada istrinya itu.

__ADS_1


Aminah hanya perlu dinasehati dan dibimbing untuk dapat menerima semua yang telah terjadi. Sedikit menyimpang dari jalur, adalah manusiawi karena notabenenya adalah manusia tak akan terlepas dari khilaf dan dosa.


Khadijah dan Amaliah duduk saling berpelukan, keduanya merasa lega karena satu masalah dapat terselesaikan. Namun, masih bertanya-tanya bagaimana mereka bisa menikah?


****


Sebelum pernikahan, Ustadz Hasan dan Busyro duduk bersama Adrian di dalam masjid, sedangkan Alfin dan Naina mereka diizinkan untuk berbicara berdua di serambi masjid yang masih dapat mereka lihat dengan jelas meski tak dapat mendengar.


"Saya serahkan perwaliannya kepada Ustadz karena saya sadar, saya nggak berhak menjadi wali Naina," ujar Adrian dengan hati yang perih.


Sakit bagai disayat sembilu tajam meski tak berdarah. Dia ingin seperti ayah-ayah yang lain, yang dapat menikahkan anak gadisnya sendiri. Berjabat tangan dengan calon menantu sambil mengucapkan kalimat ijab. Mengayunkan tangan menegaskan pada pengantin laki-laki bahwa dia benar-benar menyerahkan tanggung jawab sang anak kepadanya.


Namun, Adrian harus merelakan impian itu, cukup baginya diakui dan dapat menyaksikan pernikahan mereka. Meski tak dapat ia pungkiri rasa sakit akibat penyesalan mendalam itu terus mendera.


"Ikhlas, Pak. Semuanya sudah diatur secara hukum dan harus berjalan sesuai syari'at. Jika keduanya dapat menerima satu sama lain, kita lanjutkan sesuai tuntunan. Sebagai orang tua, kita hanya harus mendukung apapun yang menjadi kebaikan untuk mereka," ujar sang ustadz, betapa mengerti perasaan Adrian sebagai seorang ayah.


Laki-laki itu mengangguk-anggukkan kepala, mengerti seperti apa jalan takdir yang harus ia lalui. Duduk bersama Ustadz Hasan juga Busyro, membuat hati Adrian menemukan kedamaian. Rupanya seperti itu, ketika duduk bersama orang-orang soleh mengerti ilmu agama.


Beberapa saat kemudian, Habsoh bersama Sumiyati dan asep datang menyusul. Mereka tak ingin tertinggal acara sakral itu.


"Wa'alaikumussalaam!"


"Lho, Mang Asep?" Dahi Ustadz Hasan mengernyit melihat laki-laki tua itu.


"Ustadz, maa syaa Allah!" Mang Asep menyalami tangan Ustadz Hasan, tak segan mencium punggung tangan tersebut meski usia jauh lebih tua dirinya.


Habsoh duduk di samping Adrian, kemudian disusul Sumiyati barulah Asep. Mereka duduk membentuk huruf L, di mana Busyro dan Ustadz Hasan berada di depan tempat imam.


"Gimana kabar Mang Asep? Jadi, Naina itu keponakan Mamang? Maa syaa Allah!" Ustadz Hasan tersenyum, dia memang seseorang yang ramah. Semua yang datang diterimanya dengan baik.


"Alhamdulillah, Ustadz. Saya baik, cuma sedikit kaget aja pas Habsoh kasih tahu kalo Naina mau nikah sekarang juga. Saya sampe gemetaran, Ustadz," ucap Asep menunjukan tangannya yang masih gemetar.


Melihat itu, mereka semua tertawa kecil. Binar-binar kebahagiaan jelas terpancar di wajah mereka. Terlebih, kedua orang sepuh yang sudah menganggap Naina sebagai anaknya. Tinggal bersama selama beberapa bulan, membuat hati tua mereka merasa bahagia.

__ADS_1


"Yah, saya juga sempat jantungan tadi pas Alfin tiba-tiba bilang mau nikahin Naina sekarang juga. Itulah takdir. Kita berencana, Allah juga berencana, tapi sebaik-baik rencana adalah milik Allah. Betul, Ustadz?" Ustadz Hasan memiringkan kepala menatap Busyro, manggut-manggut kepala kakak Alfin itu membenarkan yang diucapkan beliau.


"Di mana calon pengantinnya, Ustadz?" Sumiyati celingukan kian kemari mencari-cari sepasang kekasih itu.


"Mereka di samping ... itu. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi nggak apa-apa. Biar mereka menuntaskan masalah dulu supaya ke depannya nggak ada kesalahpahaman lagi," ucap Ustadz Hasan menunjuk keduanya yang terlihat berbicara serius.


Hati tua Sumiyati merasa bahagia, bergumam memanggil nama Lita. Memberitahunya bahwa gadis yang dia lahirkan akan menempuh kehidupan baru sebagai seorang istri.


Ia menahan tangisan sekuat yang dia bisa. Rasa haru terus saja memenuhi relung jiwa, membuatnya menjatuhkan air mata dalam diam.


Mereka beranjak dari sana, dua orang karyawan toko yang dapat dipercaya dihadirkan Adrian untuk menjadi saksi pernikahan mereka agar terhindar dari fitnah. Keduanya duduk di hadapan Ustadz Hasan dan Busyro, Naina menunduk menahan gugup.


"Gimana? Apa Naina sudah mengambil keputusan?" tanya sang ustadz menatap dalam-dalam gadis di depannya.


"Insya Allah sudah, Ustadz." Jawaban itu menggetarkan hati Alfin.


"Jadi, sudah siap menjadi istri Alfin mulai hari ini?" Pertanyaan selanjutnya disambut helaan napas panjang oleh Naina.


"Insya Allah, Ustadz."


Ustadz Hasan mengangguk-anggukkan kepala, sekali lagi bertanya, "Gimana? Apa kalian berdua sudah sama-sama ridho dengan apa yang kalian bicarakan? Sebelum kita memulai akad ini, sebaiknya kita sama-sama melepaskan diri dari semua prasangka."


Ia menatap keduanya, tahu ada hal yang tak mudah mereka lalui dalam pembicaraan tadi. Alfin dan Naina serentak menganggukkan kepala dengan yakin.


"Insya Allah, Ustadz. Kami ridho," sahut Alfin.


Ustadz Hasan mempersilahkan Busyro sebagai basa-basi, yang kemudian diserahkan kembali kepadanya sebagai orang yang paling berhak menikahkan. Selain Ustadz dan imam di masjid Alfin, ia juga merangkap sebagai seorang penghulu.


"Baik, karena perwalian diserahkan kepada saya, dan memang sudah tugas saya sebagai wali hakim untuk menjadi wali nikah Naina. Kita akan melangsungkan pernikahan ini. Saya harap apa-apa yang kalian lihat sebagai aib hendaknya kalian simpan sendiri." Ustadz Hasan menatap semua saksi yang hadir memastikan orang-orang tersebut dapat dipercaya untuk menyimpan semua yang mereka ketahui.


"Insya Allah, Ustadz."


Pernikahan pun berlangsung tanpa gangguan.

__ADS_1


Baarakallaah lahumaa.


__ADS_2