
Naina dan Alfin yang merasa takjub dengan rancangan tangan seorang yang berbakat itu, segera saja menoleh ke arah pintu di mana sang pemilik datang dan memberitahukan tentang kedatangan sosok perancang tersebut.
Mereka menunggu tak sabar, sosok bayangan yang muncul secara perlahan di ambang pintu. Alfin memicingkan mata, memiringkan kepala demi dapat segera melihat sosok tersebut. Sementara Naina bergeming tak berkedip.
Tap-tap-tap!
Suara derap langkah semakin nyata terdengar, tubuh keduanya menegang.
"Tada!" Khadijah muncul memberi kejutan, dengan wajahnya yang ceria, senyum terpasang lebar, kedua tangan membentang seolah-olah menunjukkan bahwa dialah yang mereka tunggu.
"Kakak?!" pekik keduanya berbarengan. Rasa tak percaya bahwa perancang itu adalah kakaknya sendiri. "Jadi, Kakak perancangnya?" Alfin melanjutkan dengan kedua mata menjegil lebar.
Khadijah terkekeh sambil menutup mulutnya.
"Kakak bilang perancangnya masih anak-anak. Apa iya Kakak ini anak-anak? Bentar lagi juga jadi nenek-nenek," ejek Alfin sembari mencibirkan bibirnya.
Khadijah berkacak pinggang kesal, wajahnya cemberut dan tidak terima Alfin mengatainya.
__ADS_1
"Assalamualaikum!"
Suara seseorang yang tak lagi asing di telinga Alfin dan Naina, membuat keduanya tercenung beberapa saat. Saling tertegun, saling menatap, sebelum berpaling bersamaan ke arah munculnya suara itu.
"Wa'alaikumussalaam!" Khadijah merangkul bahu seorang gadis remaja.
Alfin dan Naina ternganga, sosok itu nyata ada di hadapan mereka. Berjalan tertunduk untuk kemudian mendongak menatap keduanya dengan senyum yang menunjukkan lesung pipi miliknya. Di dada, sebuah buku ia dekap, masih mengenakan seragam putih abu-abu yang pas melekat. Kerudung putih bersih, menambah keceriaan wajahnya.
"Ayah, Ibu!" sapanya disaat kedua orang itu justru mematung tak melakukan apapun. "Ayah dan Ibu suka hadiah dari Salma? Semoga nggak bikin Ayah sama Ibu kecewa." Dia kembali tersenyum, sebuah senyuman yang berhasil meruntuhkan air dari mata keduanya.
"Salma? Ya Allah!" Naina beranjak, melangkah tertatih mendekati sosok belia tersebut. Kejutan luar biasa itu membuat tubuhnya membeku tak dapat digerakkan.
Alfin tersadar, mengusap wajah dengan segera. Berpaling beberapa saat, menepis rasa haru yang selalu membuatnya cengeng. Ia beranjak dari sofa, berjalan tanpa mengalihkan pandangan dari sosok dalam pelukan Naina itu.
"Salma?" panggil Alfin bergetar sembari mengusap kepala yang terbalut kerudung putih itu. Naina melepas pelukan, memberikan ruang kepada Alfin untuk meluapkan kebanggaannya.
Gadis itu tersenyum, mendongak demi dapat bertatapan dengan laki-laki hebat yang telah merawatnya selama lebih dari lima tahun.
__ADS_1
"Ayah?" Suaranya bergetar memanggil Alfin. Ada yang ingin dia ucapkan, tapi terlalu berat lisan tergerak.
"Apa kamu yang merancang pakaian itu, Nak?" tanya Alfin sembari menahan keharuan yang menyeruak ke permukaan.
Salma tersenyum, mengangguk pelan menjawab pertanyaan sang ayah. "Iya, Ayah. Mudah-mudahan Ayah suka. Selama dua bulan ini Salma merancang pakaian itu. Meski gagal berkali-kali dan akhirnya jadi juga. Salma mau jadi perancang, Ayah, dan Salma ingin orang yang pertama memakai rancangan Salma adalah Ayah."
Ia tersenyum lagi, kedua matanya berembun.
"Itu sebagai hadiah karena Ayah sudah merawat Salma dengan ikhlas. Juga hadiah untuk pernikahan Ayah." Ia mendekati Alfin, dan tak segan berlabuh dalam pelukan laki-laki itu.
"Ayah ... nggak ada kata yang bisa Salma ucapkan selain kata terima kasih meski Salma tahu itu nggak akan cukup mengganti semua pengorbanan yang Ayah lakukan. Waktu, materi, tenaga, kasih sayang, dan cinta yang Ayah kasih nggak akan pernah bisa Salma balas. Satu-satunya yang Salma bisa lakukan, Salma harus sukses supaya pengorbanan Ayah nggak sia-sia."
Ungkapan hati gadis remaja itu meluluhkan hati Alfin. Ia menangis, mendekap erat tubuh anak sulungnya. Menciumi ubun-ubunnya, menjadi kebanggan tersendiri karena memiliki anak hebat seperti Salma.
"Kamu nggak perlu membalasnya, sayang. Cukup belajar yang baik dan buktikan pada dunia bahwa kamu anak yang berbakat. Manusia berguna, bukan sampah seperti yang suka merasa bilang. Jadi apapun kamu kelak, Ayah tetap bangga sama kamu. Satu pesan Ayah, jangan pernah lupakan dari mana kita berasal."
Isi hati keduanya benar-benar meruntuhkan pertahanan ketiga wanita dalam ruangan itu. Mereka ikut terhanyut dalam rasa haru yang dirasakan Alfin. Terlalu banyak kejutan untuk laki-laki itu.
__ADS_1
Nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan, Alfin! Nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan! Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kau dustakan!
Hati Alfin bergumam, tak henti mengulang-ulang kalimat itu.