
Beberapa saat sebelum tragedi.
"Suf, mau bareng pake mobil nggak ke acara si Bos?" tanya salah satu karyawan mengajak Yusuf yang tengah bersiap-siap di toko.
"Duluan aja, aku mau beres-beres pembukuan dulu. Tanggung sedikit lagi, nanti biar aku yang tutup tokonya," jawab Yusuf kembali duduk di mejanya dan melanjutkan pekerjaan.
Pagi itu toko memanglah tidak buka sesuai perintah Alfin. Namun, demi menyelesaikan laporan, mereka menginap dan menyelesaikan tugas sebelum pergi ke acara Alfin.
"Ya udah, kita duluan, ya. Bawa aja motor toko tuh, sekalian isi bensin. Kayaknya abis," pinta rekannya itu diacungi jempol olehnya.
Mereka pergi secara bersamaan menggunakan mobil toko yang dibelikan Alfin untuk keperluan semua karyawan. Tinggallah Yusuf seorang diri menyelesaikan laporan yang harus ditandatangani oleh Alfin. Sekitar setengah jam lamanya, ia menyelesaikan semua.
"Alhamdulillah, beres juga. Waktunya pergi, masih pagi ternyata." Ia bergumam seraya beranjak dan mengenakan jaketnya juga helm.
Berkendara mengunakan motor, mengantri di tempat pengisian bahan bakar. Baru kemudian pergi menuju alamat yang diberikan Alfin kepadanya. Sambil bersiul tanpa beban, seolah-olah terbawa suasana bahagia karena hari bahagia sang atasan.
Namun, di perjalanan, Yusuf memperhatikan seorang gadis yang sedang mengalami kesulitan. Ia menghentikan motornya, menelisik dengan saksama apa yang sedang dilakukan gadis di seberang jalan itu.
"Kayanya mobil perempuan itu mogok, deh. Samperin jangan, ya. Kalo disamperin nanti terlambat, tapi kalo nggak kasihan juga. Mana jalanan di sini sepi, gimana coba kalo ada orang yang iseng." Yusuf menimbang, memikirkan dalam-dalam tentang ketakutannya bila berada di dekat wanita.
__ADS_1
"Ayo, Suf! Demi rasa kemanusiaan!" Dia memberi semangat pada dirinya sendiri. Lalu, membawa motornya berbelok memutar arah ke jalan tempat gadis itu berada.
"Assalamualaikum! Maaf, Mbak, kenapa sama mobilnya? Boleh saya cek mobilnya?" sapa Yusuf belum berani untuk meninggalkan jok motornya.
Biya berjengit, mengernyit curiga. Matanya melilau ke segala arah mencari-cari pengendara lain. Sayangnya, jalanan tersebut memanglah sepi. Sangat jarang kendaraan melintas di setiap menitnya. Yusuf terkekeh, dia merasa lain berada di dekat gadis itu.
"Maaf, Mbak. Saya bukan mau menjahili Mbak. Saya cuma mau bantu, di sini jalanannya sepi. Bahaya buat Mbak ada di sini sendirian," ucap Yusuf menjelaskan tujuannya.
Biya gamang, meremas jemarinya yang lembab karena keringat. Ia menggigit bibir ragu, tapi menolak juga percuma karena tak ada siapapun lagi yang bisa membantunya.
"Boleh, Mbak?" tanya Yusuf lagi belum beranjak dari atas motornya.
Biya menganggukkan kepala, menyingkir dari dekat kap mobil memberi ruang kepada Yusuf untuk memeriksanya. Beberapa saat menunggu, sambil sesekali melongo melihat apa yang dilakukan pemuda itu pada mobilnya.
"Ini harus dibawa ke bengkel, Mbak. Saya nggak punya alatnya, gimana?" ujar Yusuf penuh sesal.
"Duh, bisa-bisa saya terlambat," gumam Biya sambil melirik jam di tangannya.
"Maaf, kalo boleh tahu Mbaknya ini mau ke mana? Biar saya antar. Biar nanti mobilnya dibawa ke bengkel sama teman saya," tawar Yusuf terdengar tulus, tapi Biya justru semakin curiga padanya.
__ADS_1
Jangan-jangan dia salah satu komplotan maling. Nggak! Aku nggak mau ikut dia.
Biya menggelengkan kepala menolak, dia bahkan menjaga jarak dari Yusuf khawatir laki-laki itu justru akan memaksanya untuk ikut.
"Sebentar saya telepon teman saya tukang bengkel resmi di dekat sini," izin Yusuf meski mendapat penolakan dari Biya, tapi ia tetap menelpon rekannya.
Beberapa saat menunggu, sebuah mobil derek datang bersama seseorang berseragam resmi dari bengkel. Biya bernapas lega, sekarang percaya kepada Yusuf dia bukanlah penjahat.
"Gimana? Mau ikut saya atau mau panggil ojek? Tapi di sini susah cari ojek," ucap Yusuf kembali menawarkan tumpangan.
"Aku mau tahu di mana bengkelnya," ucap Biya setuju.
Yusuf mengangguk, berbalik dan menghela napas sebelum menaiki motornya. Mereka mengikuti mobil derek yang membawa mobil Biya menuju bengkel resmi terdekat.
"Jadi, Mbaknya mau ke mana? Biar saya antar. Tadi katanya udah terlambat," tanya Yusuf.
Saya juga terlambat datang ke acara si Bos. Hati Yusuf bergumam.
"Saya mau ke rumah sodara saya, tapi nggak tahu alamatnya. Saya ketinggalan rombongan, mau telpon hp saya mati," jawab Biya sedih.
__ADS_1
Yusuf menghela napas, tak akan mungkin dia tinggalkan Biya di bengkel sendirian.
"Gini aja, Mbaknya ikut saya dulu ke rumah teman saya. Di sana Mbak bisa numpang ngisi batre hpnya. Kebetulan saya mau kondangan, teman saya nikahan sekalian aja nanti ikut makan siang. Muka Mbaknya pucet," usul Yusuf diangguki dengan pasrah oleh Biya.