Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 31


__ADS_3

"Naina!"


"Naina!"


Panggilan yang terjadi secara bersamaan dilakukan dua orang laki-laki berbeda profesi. Sang manager berdiri di ambang pintu toko, sedangkan marbot masjid itu tersenyum padanya di seberang jalan.


Naina terpaku di tepi jalan, baru saja kakinya hendak menyeberang menemui sang paman. Akan tetapi, panggilan kedua orang itu membuatnya bergeming. Tak tahu harus pergi ke arah siapa?


"Ada apa?" tanyanya berdiri di antara dua kaki-kaki itu.


Pandangannya mengarah pada sebuah pohon tanjung yang tumbuh di pinggir jalan. Ada banyak bunga berguguran di bawahnya, Naina menghela napas. Secara mendadak, debar jantungnya tak lagi normal.


Alfin mengalah, ia bergeming di tepi jalan ketika sang manager melangkah lebih dulu mendekati Naina. Melihat Alfin yang diam di tempat, Naina menundukkan kepala. Tanpa bersaing pun, ia telah memenangkan hati Naina.


Gadis berhijab itu berbalik, tatapan matanya hampa mengarah pada sang atasan.


"Kenapa, Pak?" tanya Naina sembari menekan rasa malas dan jengah yang bersarang di hatinya. Astaghfirullah al-'adhiim!


Laki-laki itu melirik Alfin yang memperhatikan mereka, dalam hati dendam semakin bergolak melihat keadaan pemuda itu yang baik-baik saja. Ia menurunkan pandangan, menatap wajah penuh pesona di depannya.


"Mmm ... nanti malam kamu ada acara nggak?" tanya sang manager berbasa-basi.


"Ada, Pak. Kenapa?" Naina balik bertanya, padahal ia hanya malas meladeni atasannya itu.


"Wah, berarti saya terlambat. Apa sama laki-laki itu?" tanyanya lagi melirik sinis kepada Alfin.


"Oh, bukan, tapi sama bibi di rumah. Aku ada perlu sama Bibi," jawab Naina berkilah.


Laki-laki itu menghela napas, sedikit kecewa karena Naina masih saja menolaknya. Namun, ia sedikit lega, Naina tidak pergi bersama rivalnya.


"Ya udah, kalo gitu saya duluan, Pak. Saya mau ke tempat paman bekerja," ucap Naina seraya berbalik menyebrangi jalan.

__ADS_1


Oleh karena Alfin berdiri di seberang jalan, Anton mengira Naina akan menghampirinya. Ditambah Alfin yang tersenyum, seraya mengiringi langkah Naina.


"Kurang ajar! Rupa-rupanya dia menipuku. Awas kamu, Naina. Kamu pasti nyesel," geram sang manager seraya pergi meninggalkan depan toko dan masuk kembali ke dalam.


Naina sendiri tidak tahu jika ia diperhatikan. Langkahnya beriringan dengan milik Alfin yang menautkan tangan di belakang tubuh.


"Kamu ada acara nanti malam?" tanya Alfin di sela-sela langkah mereka.


"Nggak ada, sih. Emangnya kenapa?" Naina mengangkat wajah, menatap Alfin yang tersenyum mendengar jawabannya.


"Aku mau ajak kamu ketemu sama orang tuaku. Apa kamu udah siap? Kak Dijah juga ada di sana," ucap Alfin diam-diam mencuri pandang pada gadis di sampingnya.


keduanya tertunduk menatap ujung sepatu yang dikenakan masing-masing kaki. Lucu rasanya, berjalan santai sambil berbincang tanpa peduli pada pandangan orang. Mereka tak melakukan apapun, bahkan meski bersisian Alfin tetap mengambil jarak dengannya.


"Insya Allah, tapi aku takut mereka nggak bisa terima aku kayak kak Dijah. Terus kalo begitu, apa yang mau kamu lakukan?" ujar Naina bertanya tentang kemungkinan yang bisa saja terjadi saat pertemuan nanti.


"Nggak ada yang bisa aku lakukan, hanya menunggu waktu sampai mereka bisa mengerti. Mungkin aku nggak akan menyerah untuk meyakinkan mereka. Yah, mudah-mudahan nggak kendala yang nggak bisa kita hadapi. Selama itu masih bisa dicari solusinya, maka kita akan cari sama-sama," ujar Alfin tak dapat menjanjikan apa-apa.


"Apa kamu akan mengambil keputusan? Bukan apa-apa, aku cuma mau siap-siap aja. Supaya nanti sakitnya nggak mendalam," tutur Naina sambil tersenyum getir.


Ia sudah menyiapkan hatinya untuk menerima kenyataan sepahit apapun. Tak akan mungkin seorang anak membangkang orang tuanya hanya untuk seorang perempuan yang dianggap hina oleh kebanyakan orang. Untuk itulah Naina tidak ingin terlalu berharap.


"Kita lihat aja nanti apa yang akan terjadi. Karena kata-kata tak dapat dibuktikan, tapi tindakan adalah bentuk nyata dari apa yang tidak tertuang secara lisan," ujar Alfin penuh misteri.


Takdir siapa yang tahu? Semua itu rahasia Allah yang tak dapat dirubah oleh pemikiran manusia. Semua yang terjadi merupakan ujian yang harus dihadapi oleh masing-masing kepala.


Keduanya berhenti tak jauh dari tempat kerja Asep, menunggu laki-laki paruh baya itu selesai mengganti pakaian.


"Aku jemput nanti jam delapan, ya. Ba'da sholat isya biar tenang," ucap Alfin memutuskan. Lebih cepat bertemu lebih baik, dan dia akan merasa tenang setelah mempertemukan keduanya.


Naina mengangguk, kali ini ia tak dapat berkilah setelah bertemu dengan Khadijah. Keduanya duduk di sebuah bangku pinggir jalan, menatap kendaraan yang berlalu-lalang tiada henti.

__ADS_1


"Apa kak Dijah masih ada di rumah kamu?" tanya Naina. Terbersit keinginan untuk bertemu kembali dengan wanita yang sedang mengandung anak ketiganya itu.


"Masih. Ada anaknya juga di rumah, kamu bisa berkenalan sama mereka. Mereka berdua asik diajak main, kamu pasti senang berkenalan sama mereka," jawab Alfin menceritakan soal dua keponakannya yang begitu pandai bermain.


"Aamiin."


Keduanya kembali menghening, diam tak berbicara. Desiran angin juga tiupan kendaraan yang melintas menerbangkan debu-debu halus menerpa wajah mereka. Namun, sepasang kekasih itu, tetap duduk di sana menikmati kebersamaan.


"Nai, udah di sini?" tanya Asep begitu keluar wilayah proyek melihat Naina yang duduk di pinggir jalan.


Dua orang itu gegas berdiri, Alfin lekas berpamitan kepada Asep untuk kembali ke masjid. Dibonceng pamannya, Naina pulang ke rumah. Di jendela toko, sang manager mengintip. Ia menghela napas lega karena bukan Alfin yang mengantar Naina.


Anton tersenyum-senyum sendiri, mendesah lega setelah mengumpati Naina. Dia pikir Naina menolaknya karena janji dengan Alfin, nyatanya ia pergi dengan laki-laki lain yang diduga Anton adalah paman Naina. Ia berbalik meninggalkan jendela, kembali ke ruangannya dengan perasaan yang sedikit lega.


"Paman, nanti malam Alfin ajak aku ke rumah orang tuanya. Katanya mereka mau ketemu sama aku," ucap Naina sengaja memberitahu pamannya perihal ajakan Alfin nanti malam.


"Paman, mah, terserah kamu aja. Yang penting kamu bisa jaga diri kamu baik-baik. Jangan sampe lengah," ucap Asep dengan bijaksana.


Naina tersenyum, ia terus meyakinkan hati bahwa semuanya akan baik-baik saja.


****


Malam datang begitu cepat, Naina berdiri di depan cermin besar yang memantulkan gambar dirinya secara utuh. Setelah pergulatan batin, Naina memutuskan mengenakan gamis yang dibelikan oleh Khadijah.


Ia tersenyum, memakai gamis tidaklah buruk. Kerudung syar'i seperti yang dikenakan Khadijah kemarin, kini melekat di tubuh Naina.


"Bismillahirrahmanirrahim!"


****


Maaf Kakak-kakak semuanya, lambat update dikarenakan kehabisan paket data. Terima kasih sudah menunggu.

__ADS_1


__ADS_2