Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 161


__ADS_3

"Alfin!"


"Hei, ada apa?" tegur salah seorang berpenampilan anak punk pada salah seorang anggota perempuan yang berteriak.


"Alfin, aku lihat Alfin. Dia tadi ada di sini," ucapnya panik dan terburu-buru.


"Alfin? Beneran kamu nggak salah lihat?" Mereka menatap penuh tanya pada sosok perempuan berkulit kumal itu. Anting-anting memenuhi daun telinga, beberapa bagian di wajahnya pun terdapat tindikan.


"Sumpah! Aku nggak salah lihat, dia emang Alfin," katanya menegaskan.


"Di mana kamu lihat dia?" Seorang laki-laki bertubuh kekar berjalan mendekat membelah kerumunan orang-orang itu.


"Tadi aku lihat dia keluar dari restoran itu." Perempuan bertindik itu menunjuk restoran di mana Alfin baru saja keluar.


"Cepat ikuti! Mungkin belum jauh, kamu pasti tahu mobilnya, 'kan?" titah laki-laki yang tak memiliki senyum di wajahnya itu.


Perempuan tadi mengangguk, mengingat-ingat mobil yang digunakan Alfin. Mereka menaiki sebuah pickup, beberapa menggunakan motor yang sudah dimodifikasi. Mengejar laju mobil Alfin yang mungkin saja belum jauh dari lokasi mereka.


"Ada banyak mobil di depan, kamu ingat nggak yang mana?" tanya pengemudi yang membawa perempuan tadi.


"Tunggu dulu, aku agak lupa. Yang mana, ya?" Matanya menatap setiap mobil yang melintas juga yang di hadapan. Mencari-cari mobil yang baru dilihatnya.


Sementara Alfin, masih fokus mengemudi. Tenang sambil sesekali mencium tangan Naina yang digenggamnya. Dia ada di antara mobil-mobil itu, terselip dan tak terlihat karena terhalang kendaraan lain.


"Astaghfirullah al-'adhiim!" Alfin bergumam saat melihat rombongan teman-temannya dulu melintas mendahului. Sebagian ia kenali, tapi lebih banyak tidak.


"Kenapa, Mas?" tanya Naina bingung.


"Kencangkan sabun pengaman kamu, sayang. Kemungkinan akan terjadi sesuatu." Alfin memperingatkan Naina, ia menoleh ke kanan dan kiri mencari celah untuk dapat pergi dari jalanan itu.


Matanya melirik spion tengah, di kejauhan dapat ia lihat mobil itu. Alfin memohon perlindungan kepada Allah, untuk dijauhkan dari mereka.


"Ada apa, sih, Mas? Jangan bikin tegang. Aku takut." Naina hampir menangis karenanya. Ia menoleh ke belakang, tak ada apapun di sana. Semua terlihat normal seperti biasanya.


"Kamu lihat motor-motor itu! Anak-anak punk itu. Sebagian dari mereka dulunya adalah teman-teman Mas. Kita nggak bisa menyapa mereka, sayang. Maka lebih baik kita menjauh dulu dari sini." Alfin menunjukkan kepada Naina keberadaan anak-anak itu.

__ADS_1


Di kanan dan kiri jalan mereka semua ada, juga di belakang meski jauh. Mereka terkepung, tapi Alfin masih berusaha untuk bersikap tenang. Perbatasan sebentar lagi akan tiba, Alfin akan mengikuti arah mobil lainnya saat melaju.


"Kalo mereka itu emang teman kamu, mereka nggak akan nyakitin kita, 'kan?" ucap Naina menatap takut pada rombongan itu.


Tangannya meremas paha Alfin, menghantarkan ketakutan di dalam hatinya. Laki-laki itu meraih tangan Naina, menggenggamnya dengan erat.


"Nggak usah takut, sayang. Selama kita nggak keluar dari jalur, mereka nggak akan nemuin kita. Di depan sana, perbatasan udah kelihatan. Mudah-mudahan ada mobil yang masuk ke sana." Alfin tak tahu harus seperti apa menenangkan Naina.


Mungkin karena dia terlalu panik, ataukah memang ada masalah yang membuatnya panik. Naina memejamkan mata, mencoba untuk bersikap lebih tenang. Hatinya tak henti berdoa agar sesuatu yang buruk dijauhkan Allah.


Alfin memutar kemudi mengikuti mobil-mobil yang di depannya. Ia bernapas lega ketika rombongan itu terus maju ke depan.


"Alhamdulillah, ya Allah." Ia menoleh kepada Naina, tersenyum kala


wajah itu pun menoleh padanya. Dikecupnya tangan Naina yang ia genggam, Alfin merasa aman ketika sudah berada di daerah sendiri.


"Emangnya kenapa, sih, Mas? Bikin tegang tahu. Aku takut banget, apa mereka itu jahat sama kamu?" tanya Naina setelah tidak merasakan ketegangan lagi.


"Nanti sampe rumah Mas cerita. Mereka nggak akan bisa masuk ke sini, kecuali mengganti penampilan." Alfin meyakinkan Naina, menenangkan istrinya itu dari rasa gelisah.


"Kita ke rumah papah dulu, ya. Jemput anak-anak," ujar Alfin seraya berbelok ke jalan menuju rumah Adrian.


Klakson dibunyikan Alfin ketika tiba di depan gerbang rumah. Sigap penjaga gerbang membukanya, membiarkan Alfin masuk sambil menganggukkan kepala sopan. Anak-anak berada di teras, sebagian lagi masih berada di sekolah.


Mereka menoleh dengan alis saling bertautan, menatap bingung mobil yang baru saja memasuki halaman.


"Ayah! Ibu!" teriak mereka seraya berhamburan mendekati Alfin dan Naina yang baru saja turun dari mobil.


"Assalamu'alaikum!" ucap Alfin sambil meraih tubuh anak-anak itu.


"Wa'alaikumussalaam! Seneng, deh, Ayah sama Ibu udah pulang. Bawa adik nggak? Kata Nenek Sum, Ayah sama Ibu nanti pulang bawa adik," celetuk Halwa menggemaskan.


Mereka tertawa termasuk para orang tua di teras yang segera datang menyambut begitu mendengar teriakan anak-anak.


"Nanti kita cek, ya. Udah ada adik belum," ujar Alfin diangguki Halwa dengan polos.

__ADS_1


Mereka berjalan ke teras, menyalami para orang tua. Mengingat janji yang dibuatnya, Alfin tak dapat berlama-lama di sana.


"Mas langsung ke toko, ya. Kamu istirahat aja di sini, nanti sore Mas jemput sekalian kita pulang ke rumah." Alfin berpamitan kepada Naina.


"Hati-hati, Mas." Naina meraih tangan suaminya, mencium dengan takzim. Berlanjut pada semua orang tua, Habsoh, Sumiyati dan Asep.


"Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalaam!"


Alfin kembali masuk ke dalam mobil, meninggalkan halaman rumah. Karena insiden tadi, ia sedikit terlambat.


"Ibu, kenapa Ayah pergi lagi?" tanya Halwa ketika Naina mengajaknya masuk.


"Ayah ada janji, sayang. Nanti sore jemput kita." Naina mencubit pipi Halwa dengan gemas.


"Kamu udah makan siang, Nak?" tanya Habsoh sembari mengusap punggung Naina.


"Udah, Mah, di jalan. Mamah baik-baik aja, 'kan? Istirahat yang cukup, Mah. Jangan sampe sakit," ucap Naina penuh perhatian.


Habsoh terkekeh, hatinya terenyuh mendapat perhatian dari anak itu. Dia tidak berubah meskipun dari makam ibunya.


"Iya, sayang. Mamah juga nggak mau sakit, pengen lihat cucu Mamah dulu." Naina bersemu, berpaling karena malu.


"Gimana? Udah ada tanda-tanda ngisi belum?" tanya Sumiyati ketika mereka duduk di ruang keluarga.


"Nggak tahu, Bi, tapi dari menikah itu Nai belum haid lagi. Kata Mas Alfin mungkin udah ngisi."


"Alhamdulillah. Aamiin. Mudah-mudahan emang bener udah ngisi," sahut ketiganya serentak.


Mereka antusias menyambut kehadiran si jabang bayi. Keduanya memang sangat merindukan sosok mungil itu hadir di tengah-tengah rumah mereka. Rumah itu akan semakin ramai, apalagi setiap malam akan terdengar suara tangisan bayi.


"Nanti kalo lahiran di sini aja. Biar Bibi sama Bu Habsoh yang ngurus kamu sama anak kamu," pinta Sumiyati bersungguh-sungguh.


"Ya, Bi. Nanti gimana mas Alfin aja, tapi Nai maunya di sini, sih. Takut nggak bisa mandiin bayi, ngeri." Naina meringis membayangkan tubuh mungil dengan tulang-tulangnya yang lunak itu.

__ADS_1


"Iya, nanti diomongin aja sama Alfin." Naina mengangguk setuju.


__ADS_2