Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 156


__ADS_3

"Al-Ummu madrasatul ula, idzaa a'dadtahaa a'dadta sya'ban thayyibal a'raq.


Ibu adalah madrasah (Sekolah) pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya."


****


Kata-kata Alfin bagai lantunan syair yang dahsyat mengguncang jiwa Naina. Bukan ia tak ingin melanjutkan pendidikan, ataupun merasa cukup. Hanya saja, dia ingin fokus mendalami ilmu agama sebagai bekal untuknya dalam membina rumah tangga.


Sebagaimana sebuah syair, istri adalah simpanan ilmu yang akan kekal untuk diwariskan. Dunia akhirat harus seimbang, tapi pondasi agama haruslah kokoh dari dasar.


Mereka duduk melingkar di makam Lita, Alfin sendiri yang memimpin doa sebagai menantu dari wanita yang telah melahirkan seorang putri yang hebat. Wanita yang dianggap hina dan rendah, juga merusak kehormatan wanita itu sendiri. Nyatanya, dia sukses dalam taubat dan lewat tangannya tumbuh seorang gadis yang sempurna secara akhlak.


"Ibu, apa ini kuburan nenek?" tanya Halwa sambil membaca nama yang tertera di batu nisan dengan mengeja hurufnya satu per satu.


"Iya, sayang." Suara Naina tercekat di tenggorokan, pilu karena sang ibu tak dapat menyaksikan kebahagiaan yang dia rasakan kini.


Sumiyati terisak, sebagai kakak dia tak tahu seperti apa kehidupan yang dijalani Lita selama ini. Menyesal karena hingga akhir hayatnya, dia tak pernah berbincang kembali dengan sang adik sejak kepergiannya dulu.


Asep mengusap-usap bahu sang istri, betapa mengerti dengan kesedihan yang dirasakannya.


"Udah, atuh, Bu. Lita udah tenang di alam sana. Jangan ditangisi," bisik Asep tak membuat kesedihan Sumiyati sirna. Wanita itu justru menjatuhkan kepala di pundak suaminya, menelusupkan wajah di sana.


Yang paling merasa sedih dan tentunya sangat amat menyesal adalah Adrian. Kesulitan hidup yang dialami Lita semua disebabkan olehnya.


Maafin aku, Lita. Seandainya aku jujur lebih awal, mungkin kamu nggak akan kesusahan. Aku benar-benar menyesal, Lita. Maafin aku.


Adrian mengusap air matanya, cinta yang tak sampai hingga detik itu masih ada. Nama Lita masih bersemayam di hatinya.


Sebagai orang yang pernah merusak kebahagiaanku, dulu aku sangat membenci kamu, tapi aku sudah memaafkan kamu. Terima kasih karena kamu memberikan hadiah yang luar biasa kepadaku. Seorang anak yang sholehah, anak yang baik yang sayang kepadaku. Maafkan aku karena mengambil posisi kamu sebagai ibunya.


Habsoh menyesal karena pernah membenci Lita, padahal semua kesalahan bersumber dari suaminya yang tidak berkata jujur kepada gadis itu.


"Mari! Sudah cukup, jangan terlalu larut dalam kesedihan. Itu nggak baik," ujar Ahmad mengakhiri kesedihan semua orang.


Mereka beranjak, meninggalkan pemakaman dengan hati yang lega. Melanjutkan perjalanan untuk singgah ke tempat Seira. Sesuai arahan dari Naina, mereka tiba saat sore hari.


Di depan restoran, Seira dan keluarganya telah berdiri menyambut kedatangan keluarga Naina. Rayan dan Fathya tentunya antusias dalam memberikan sambutan.

__ADS_1


"Selamat datang kembali, sayang. Ibu senang kamu bisa berkunjung ke sini," sambut Seira seraya memeluk Naina yang berubah banyak.


"Alhamdulillah, makasih, Bu. Nai juga seneng bisa datang ke sini lagi," sahut Naina membalas pelukannya.


"Selamat datang, Pak! Maa syaa Allah! Akhirnya sampe juga di sini, mari!" Fatih menyambut Adrian dan yang lainnya. Mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam restoran mewah miliknya.


"Nggak nyangka, restoran Pak Fatih luar biasa. Ini pastilah sering digunakan orang-orang berduit untuk berpesta di akhir pekan," sanjung Adrian berlebihan.


"Ah, Pak Adrian bisa aja. Silahkan!" Ia telah menyiapkan satu meja makan untuk mereka tempati, dilayani dengan baik layaknya tamu VIP yang menyewa tempat.


Ada yang tertinggal, seseorang yang berdiri di pintu restoran, menatap mobil-mobil yang baru saja memasuki parkiran. Menunggu kemunculan seseorang, untuk melepas rindu yang membelenggu.


Namun, sudah lima menit dia berdiri di sana, sosok Yusuf yang ditunggunya tak kunjung muncul.


"Mas Yusuf nggak ikut, Tante. Kangen, ya?" goda Naina yang sengaja menghampiri Biya di pintu.


"Kenapa? Kalian nggak ngajak dia?" tanya Biya.


"Bukan, tapi mas Yusuf sendiri yang nggak mau. Katanya nanti kalo semuanya udah siap dia akan ke sini buat ngelamar Tante," jawab Naina sambil tersenyum penuh arti.


Bersemu pipi Biya, ia menahan senyum agar tidak mencuat ke permukaan. Lalu, mengajak Naina untuk bergabung dengan yang lain.


"Makasih, Pak. Maa syaa Allah, Alhamdulillah. Kita mendapatkan kenikmatan yang tak disangka-sangka ini. Mari, silahkan makan. Akan lebih nikmat kalo kita makan bersama-sama," sahut Ahmad penuh syukur.


"Ayo, anak-anak, makan!" Rayan mempersilahkan anak-anak itu untuk makan. Ia melirik Halwa yang berada di samping Naina, disuapi oleh wanita itu.


Melihat keduanya seperti ibu dan anak kandung. Naina begitu perhatian pada gadis kecil itu.


"Menginap saja di sini, gantian," pinta Fatih pada mereka.


Sayang, kegiatan setelah akhir pekan tidak mengizinkan mereka.


"Sebenarnya kami juga mau, Pak, tapi anak-anak besok harus sekolah. Mungkin lain waktu saat pernikahan di sini digelar," ujar Alfin menyindir Biya.


Gadis itu bersemu, menunduk sambil melanjutkan makannya.


"Yah, mau gimana lagi?" Fatih tersenyum mengerti.

__ADS_1


Biya melirik Salma yang duduk di sampingnya, sesekali melihat ke arah gadis itu berharap akan ditanya soal sekolah.


"Salma, kamu udah bilang sama ayah ibu?" bisik Biya.


Gadis remaja itu mengangguk, sambil menoleh padanya.


"Gimana katanya?" Bertanya antusias.


"Boleh, Tante, tapi tunggu semesteran dulu. Terus kata Ayah, nanti semua biayanya Ayah yang tanggung. Jangan Tante," jawab Salma sesuai yang diucapkan Alfin.


Biya tersenyum senang, dia begitu bahagia jika ada anak muda yang berbakat dan mau mengembangkan bakatnya.


"Iya, Alhamdulillah. Nggak apa-apa, Tante seneng banget dengernya. Nanti kamu tinggal sama Tante, ya." Biya menggenggam tangan Salma, remaja itu mengangguk setuju. Melirik Alfin yang tengah memperhatikan dirinya.


Laki-laki itu tersenyum penuh arti, memejamkan mata meyakinkan Salma untuk mengejar cita-cita. Remaja itu tersenyum, lega hati karena Alfin berjanji akan sering-sering menjenguknya.


****


Fathya memeluk erat Naina, ia rindu masa-masa dulu di mana sering tidur bersama saat menginap untuk menuangkan isi hati.


"Aku kangen tidur sama Kakak, tapi sekarang Kakak udah punya suami," ucap Fathya tak rela Naina pergi malam itu juga.


"Iya, nanti kamu juga akan menikah. Pemuda seperti apa yang kamu suka?" Naina bertanya untuk menghibur hati Fathya.


Mata gadis remaja itu berkeliling mencari satu sosok yang membuatnya kagum sejak menghadiri acara pengajian malam itu. Ia tersipu, dan tertawa kecil tanpa memberitahu Naina.


"Ada, deh," katanya misterius.


"Wah, kenapa kamu celingukan? Hayo, cari siapa? Wildan atau Hamdan?" guraunya membuat pipi Fathia semakin bersemu.


"Apa, sih, Kak?"


Naina tertawa, menebak pasti salah satu anak Alfin yang berhasil memikat hati Fathya.


Malam itu, mereka kembali berpisah. Sesuai rencana, Alfin dan Naina pergi untuk menghabiskan waktu berdua. Mereka bertukar mobil dengan Adrian, dan selama itu anak-anak akan tinggal bersama mereka.


"Wildan, ada salam dari Fathya. Lihat, gadis cantik yang di sana!" goda Naina sambil menepuk bahu remaja laki-laki yang terlihat begitu pendiam.

__ADS_1


"Kakak!" Fathya merengek, ditertawakan semua orang.


Wildan melirik, tak ada ekspresi yang ditampilkannya. Hanya menatap Fathya beberapa saat, kemudian berbalik menyusul saudaranya.


__ADS_2