Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 38


__ADS_3

"Tapi Naina itu, 'kan, anak diluar nikah."


Sebuah suara yang terdengar lirih menyita pendengaran mereka. Semuanya tertuju pada satu orang yang tubuhnya menegang setelah mengucapkan kalimat tadi secara spontan.


"Apa maksud kamu?" tanya sang ayah sembari melirik pada semua orang.


Nadia gugup, memainkan jemarinya yang tiba-tiba terasa lembab sambil terus membuat kepalanya tertunduk. Ia menghindari tatap semua orang, yang tertuju padanya.


"Bu-bukan apa-apa, Pah," ucapnya terbata.


Keluarga Alfin menatap tak senang, terutama Fahmi dan ibunya. Mereka sebenarnya tertarik pada gadis itu, dan ingin mengenalnya lebih jauh. Akan tetapi, lisan yang tak terjaga dengan baik menjadi awal kehancuran untuk seseorang.


"Kamu bilang, cuma kenal gitu aja. Kok, bisa tahu yang kayak gitu? Tahu dari mana kamu kalau Naina anak diluar nikah?" selidik Khadijah memulai interogasinya.


Nadia seperti seorang terdakwa yang sedang berhadapan dengan para hakim. Ahmad, Aminah, Busyro dan istrinya, juga Fahmi bersama ibunya. Mereka semua menunggu jawaban gadis itu atas pertanyaan Khadijah.


"Naina itu dulu tinggal di Jakarta, dia pindah ke sini lantaran ibunya meninggal. Bukannya kamu kuliah di Mesir? Terus ketemu Naina di mana? Kenal di sini atau di tempat lain?" cecar Khadijah tak berniat melepaskan mangsa.


Nadia semakin gugup, pandangan semua orang menajam ke arahnya. Ditambah sederet pertanyaan dari Khadijah yang membuatnya merasa terpojok.


"A-aku ... aku ...." Kelu lidah Nadia, tak mampu mengucapkan kata.


Hati Aminah merasa teriris ada seseorang yang membongkar aib saudaranya sendiri. Dia sudah menyaksikan bagaimana Naina menjaganya sehingga hanya orang-orang tertentulah yang mengetahui itu semua.


Namun, gadis di depan mereka, gadis yang terkenal akan ilmu agamanya, dengan sangat mudah membuka semua yang ia tahu. Satu pemikiran Aminah, jika dia hanya mengenal Naina begitu saja tak akan mengetahui rahasia besar itu.


"Jujur aja, Nadia. Kejujuran itu lebih baik daripada segala hal. Kamu kenal Naina di mana?" tanya Amaliah dengan lemah lembut.


Nadia mengigit bibirnya, mengumpati diri sendiri di dalam hati.


Sial! Kenapa bisa keceplosan segala sih? Tapi mereka juga harus tahu, 'kan? Supaya nggak nyesel nantinya.

__ADS_1


"Mmm ... Naina pernah cerita sama aku. Kami ketemu di bandara waktu itu, waktu aku mau berangkat ke Mesir. Iya, begitu," jawabnya disambut helaan napas kecewa oleh sang ibu.


Begitu pula dengan Khadijah, ia menjatuhkan punggung pada sandaran kursi. Membuang napas kecewa. Sementara ayah Nadia, tersenyum gugup tanpa tahu harus berkata apa untuk membela putrinya.


"Kayaknya kamu dekat sama Naina, ya? Nggak mungkin Naina asal cerita gitu aja sama sembarangan orang. Itu aib, lho," ujar Khadijah seperti seorang penyidik yang sedang bertugas.


"Ya-ya. A-aku juga nggak tahu. Tiba-tiba dia cerita kayak gitu," sahut Nadia semakin terpojok.


Khadijah menggelengkan kepala, matanya melirik Fahmi yang terlihat kecewa.


"Nak, kalo seseorang menceritakan sesuatu padamu, apalagi itu sebuah aib. Jangan kamu sebarkan pada orang lain meski tanpa ada niat buruk sekalipun. Itu nggak baik, Nak. Kamu sendiri nggak mau, 'kan, aib kamu dibicarakan orang lain?" tutur Aminah sembari menyentuh lembut tangan Nadia.


"Barang siapa menutupi aib seseorang, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Hadist yang diriwayatkan oleh imam Muslim ini sangat jelas, ketika kita mencoba menutup aib saudara kita, maka Allah akan menutup aib kita tak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Nah kalo sebaliknya gimana? Saya rasa, Nak Nadia lebih mengerti soal itu karena masih hangat belajarnya. Ya," ucap Aminah lagi sambil mengulas senyum.


Nadia menghela napas, sungguh tak menduga jika respon keluarga Alfin sangat jauh berbeda dengan apa yang dia pikirkan.


"A-aku cuma nggak mau kalian menyesal nantinya. Karena aku pikir, keluarga Ustadz Ahmad adalah keluarga terpandang dan dihormati semua kalangan. Kalo sampai memiliki menantu yang statusnya anak diluar nikah, aku khawatir nama besar keluarga Ustadz akan tercemar," ungkap Nadia mencoba untuk membela diri.


Ahmad menghela napas, kedua matanya menyipit melihat anak dan ayah itu.


"Sebenarnya kami semua udah tahu, Naina sendiri yang mengatakannya secara langsung. Bukan dari lisan orang lain. Makanya kami sama sekali nggak terkejut mendengar itu, tapi lain kali kamu harus berpikir kalo mau membuka aib seseorang. Kita nggak tahu apakah dia ridho atau nggak bila itu terjadi? Sebaiknya selalu berhati-hati dalam menjaga lisan," ungkap Ahmad dengan sopan.


Merasa harus menghormati sahabatnya yang juga bergelar ustadz.


"Yah, silahkan kalian lanjut. Saya ... ada hal yang harus saya lakukan di belakang," ucap Ahmad berpamitan.


Ia mengajak serta Aminah untuk meninggalkan ruang tamu. Nadia tetap bungkam, menunduk tanpa berani mengangkat wajah.


"Jadi, gimana masalah Fahmi sama Nadia?" tanya ayah Nadia masih berharap.


Ibu Fahmi melirik anaknya, menyerahkan semua keputusan pada mereka berdua.

__ADS_1


"Saya terserah anak-anak saja karena yang menjalani mereka berdua bukan kita. Jadi, saya nggak bisa kasih keputusan. Biar anak-anak aja yang mutusin," jawab ibunya Fahmi mencoba menahan diri.


"Gimana, Nak Fahmi? Udah bisa mutusin?" Ia bertanya kepada Fahmi.


Pemuda itu menghela napas, menyiapkan hati dengan menundukkan kepalanya.


"Seperti yang saya bilang tadi, biarkan kami saling mengenal dulu," jawab Fahmi tidak berubah.


Ayah Nadia mengangguk-anggukkan kepala mengerti, ia melirik semua orang kemudian berpamitan untuk pulang.


"Kalo gitu, kami permisi pulang. Kayaknya udah malam juga," ujar laki-laki itu sambil melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul sembilan lebih empat puluh lima menit.


"Ayo, pamitan pada semua orang," titahnya pada Nadia dan ibunya.


"Nanti saya sampaikan sama Abi dan Umi," ucap Khadijah sembari menyalami kedua wanita itu.


"Maaf untuk semuanya, maafkan atas tindakan anak saya yang mungkin menyinggung keluarga ini. Maaf," ungkap ibu Nadia sambil menangis di hadapan Khadijah.


Kakak Alfin itu terenyuh, ia menggenggam tangan ibu Nadia sambil tersenyum penuh pengertian.


"Nggak apa-apa. Kami bisa ngerti, kok. Nggak usah diambil hati kejadian yang tadi, ya," sahut Khadijah dengan sikapnya yang selalu lemah lembut.


Ia memeluk ibu Nadia, menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut untuk menenangkan hati yang rapuh itu. Khadijah tahu dia tersiksa dengan sikap sang anak juga suaminya.


"Yang sabar, ya, Ustadzah. Semua ini ujian," ujarnya sembari menyentuh lembut kedua bahu wanita itu.


Mereka berpisah, tinggallah keluarga Alfin berkumpul di ruang tamu. Masing-masing dari mereka merenung, hanyut dalam alam pikiran.


"Gimana, Umi? Apa aku harus menerima Nadia?" tanya Fahmi untuk kemudian.


"Ya, dicoba dulu. Siapa tahu berubah. Umi lihat ibunya itu wanita yang baik," sahut sang ibu tak ingin anaknya menyesal kemudian.

__ADS_1


"Benar, coba aja siapa tahu berubah." Amaliah menyarankan, semata-mata untuk menghargai persahabatan ayah mereka.


__ADS_2