Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 74


__ADS_3

"Dia bisa membantu dirinya sendiri."


Bukan alunan kebencian yang terdengar di telinga polisi muda itu, tapi alunan kekecewaan hati yang tak dapat tersalurkan. Dia kecewa, tapi tak tahu harus apa. Bas menyusul langkahnya, dengan cepat mencekal tangan Naina.


"Tunggu!"


Gadis itu menghempaskan tangan Bas dengan sengit. Ia berbalik dan menatap tajam padanya, bahkan pancaran mata itu menyiratkan perasaan kecewa yang mendalam. Tak ada kebencian, hanya ada rindu terbalut luka.


"Ma-maaf." Bas gugup.


Naina kembali berbalik melanjutkan langkahnya menemui Adrian di tepi jalan lain.


"Ah, Alfin dipenjara. Dia membutuhkan dirimu untuk sekedar meringankan hukuman atau membebaskannya dari sana," ucap Bas secepat kilat meski dengan nada tertahan.


Langkah Naina berhenti, mematung tubuhnya di atas aspal. Degup jantungnya kembali tidak normal, tanpa sadar jemari meremas tali tas cukup kuat. Teringat tragedi malam itu, Naina yakin Alfin dipenjara karena kasus pembunuhan.


"Dia memang nggak mau kamu membantu kebebasannya, tapi anak-anak itu membutuhkan ayah mereka. Setidaknya lihatlah Alfin di sana, dia sudah mencari kamu ka rumah sakit, tapi kamu nggak ada. Jangan pikirkan Alfin kalo kamu nggak mau, tapi pikirkan anak-anak itu yang setiap hari bertanya padaku di mana ayah?" cetus Bas masih dengan nada yang sama mengalun perih di telinga Naina.


Gemetar kedua kaki gadis itu, bersamaan dengan hatinya yang berguncang. Air mata luruh menjatuhi aspal, dia sudah salah sangka. Alfin dipenjara karena membela kehormatannya. Bagaimana bisa dia hanya berdiam diri dan membiarkan laki-laki itu bertanggungjawab sendirian.


Ia berbalik, menatap wajah Bas yang menunggu jawabannya. Mereka saling menatap satu lain, menghujam perasaan masing-masing.


"Tunggu di sini!" ucap Naina pada akhirnya. Ia berbalik lagi dan menyebrang menemui Adrian.


Bas melihatnya berbicara dengan laki-laki itu, mereka tampak akrab. Adrian yang terlihat dewasa, gagah dan tampan, seketika mengundang pikiran lain dalam diri polisi muda itu.


Mungkin dia sudah menikah.


"Ada apa, sayang?" tanya Adrian sambil mengusap kepalanya.


"Pah, Nai boleh pergi sebentar. Ada urusan yang harus Nai selesaikan. Nai janji akan pulang tepat waktu." Naina meminta izin untuk pergi melihat Alfin di penjara.


Adrian menghela napas, melirik polisi muda yang berdiri menunggu di seberang jalan. Mengingat pelecahan yang hampir terjadi pada anaknya, Adrian merasa cemas. Berpikir akan menyuruh beberapa orang pekerjanya untuk membuntuti.


"Kamu harus hati-hati. Papah ingin mengantar, tapi hari ini adalah jadwal Mamah untuk kontrol ke rumah sakit dan Papah hampir lupa," ucap Adrian diakhiri dengan mendesah.


Dahi Naina mengernyit, tak tahu jika wanita di dalam sana yang terlihat sehat ternyata sedang berjuang melawan sakit.

__ADS_1


"Mamah sakit?" tanya Naina tak percaya.


"Iya, sayang. Nanti Papah ceritakan. Sekarang, pergilah. Hati-hati!" ucap Adrian mengingatkan.


"Iya, Pah." Naina menyalami sang papah, tak lupa pada wanita di dalam mobil itu. Adrian yang terbawa perasaan cemas, menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukan. Mengecup ubun-ubunnya, dan melepasnya dengan berat.


"Nai pergi, Pah. Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalaam!" Adrian melambaikan tangan melepas kepergian putrinya untuk pertama kali sejak mereka bertemu.


Gadis itu kembali menyebrang di bawah tatapan awas mata Adrian. Bas mengangguk sopan, meminta izin dari kejauhan. Tatapan tajam Adrian terus mengikuti Naina pergi sampai gadis itu duduk dengan gelisah di atas motor si Pemuda.


Adrian merogoh saku, menghubungi seseorang untuk mengawasi Naina dari kejauhan. Setelah itu, ia masuk dan pergi mengantar istrinya.


"Siapa yang melaporkan Alfin?" tanya Naina setelah motor melaju dengan kecepatan sedang.


"Istri salah satu dari korban," jawab Bas.


Korban? Naina tercenung, dialah korban sesungguhnya. Pandangannya jatuh pada punggung tegap Bas, bertanya-tanya dalam hati.


"Maaf, tapi kamu siapa?" Naina penasaran dengan pemuda yang tak terlihat biasa itu. Auranya berbeda, tampak lebih gagah dan berwibawa.


Naina tercengang, tebakannya tak salah. Dia memang bukan orang biasa.


"Alfin nggak sepenuhnya bersalah, dia cuma menolong aku dari perbuatan keji kedua laki-laki itu. Apa aku bisa membebaskan dia dari hukuman?" ungkap Naina berharap kehadirannya dapat memberikan Alfin kebebasan.


"Kalo kamu punya bukti pasti bisa," jawab Bas.


"Apa hasil visum dari dokter bisa? Aku nggak punya bukti apa-apa selain itu dan juga mungkin kesaksian aku bisa berguna," ucap Naina berharap.


"Pasti bisa," sahut Bas dengan yakin.


Jika keterangan mereka sama dan cocok, Alfin dapat terbebas dari hukuman. Naina juga akan melibatkan paman dan bibinya sebagai saksi.


Motor Bas berhenti di depan kantor polisi, Naina menghela napas. Untuk seumur hidup dia tak pernah ingin menginjakkan kaki di tempat itu.


"Mari! Kamu bisa bertemu dengan tim penyidik dan mengatakan yang sebenarnya terjadi," ucap Bas mengajak Naina untuk masuk.

__ADS_1


Alih-alih bertemu dengan Alfin, Naina memilih mengikuti Bas ke ruang penyidik untuk menceritakan kronologis pembunuhan itu terjadi. Mulai dari butik di mana sang atasan meminta Naina untuk mengantarkan pesanan. Dia terlupa, ada bukti pesan di ponselnya.


Kemudian terjadilah peristiwa malam itu, di mana kedua laki-laki yang dibunuh Alfin hendak melecehkannya. Sesuai dengan keterangan Alfin, kesaksian Naina tak jauh beda. Hanya saja, yang diceritakan Naina lebih lengkap dan detail karena dialah korban sesungguhnya.


"Saya bersumpah, Alfin nggak berniat membunuh mereka. Dia cuma terbawa emosi karena melihat mereka yang hendak melecehkan saya. Malam itu hujan deras, nggak ada orang sama sekali. Sekuat apapun saya berteriak, warga di sekitar nggak ada yang dengar. Pak, Alfin nggak bersalah," pungkas Naina mengakhiri pernyataannya.


Ia menyusut air mata, betapa hatinya perih mendapati sebuah kenyataan orang yang mati-matian membelanya harus menjalani hukuman di dalam penjara.


"Maaf, Anda siapanya tersangka? Kenapa tersangka sampai melakukan hal berani itu hanya untuk membela Anda?" tanya tim penyidik.


Naina gugup, dia meragukan hatinya. Apakah Alfin masih menganggapnya sama seperti sebelum kejadian itu? Ataukah sudah berubah.


"Sa-saya ... saya calon istrinya Alfin, Pak. Sebulan lagi kami akan melangsungkan pernikahan, tapi mungkin bisa tertunda karena kejadian ini." Naina menunduk, meragukan jawabannya sendiri. Ia hanya takut jika Alfin sudah tidak mengakuinya lagi sebagai calon istri.


"Baik. Terima kasih atas kerjasama Anda."


Naina mengangguk, kemudian beranjak dari duduknya dan pergi bersama Bas menuju ruangan Alfin.


"Dia di dalam sana." Bas menunjuk ke dalam ruangan tersebut.


Hati Naina mencelos nyeri, tapi ia ragu untuk masuk. Hanya takut jika Alfin sudah tak ingin bertemu dengannya.


"Jangan takut, dia juga mau ketemu sama kamu."


Naina mengangkat wajah, memandang polisi muda itu. Terlihat rumit dan sulit diartikan.


"Kamu yakin dia mau ketemu sama aku?" tanya Naina ragu. Ia malu ketika masuk nanti, Alfin justru menolaknya.


"Yah. Masuk aja. Kedatangan kamu sedikit menghibur hati Alfin yang rapuh," ucap Bas meyakinkan.


Naina menghela napas, memandang pintu ruangan Alfin dengan perasaan yang tak menentu.


"Alfin! Ada yang mau ketemu sama kamu." Bas mengetuk pintu ruangan tersebut.


"Ya."


Pintu terbuka, hati Naina berdegup semakin kencang. Di dalam sana, pemuda itu tengah duduk dengan kepala tertunduk. Sakit rasanya, air mata Naina jatuh tak tertahankan.

__ADS_1


"Alfin!"


__ADS_2