
Suara orang yang mengeluarkan isi perut di subuh buta begitu nyaring terdengar. Alfin mengernyit dalam tidur, sengaja menepuk tempat kosong di sisinya mencari sang istri. Kerutan di dahi laki-laki itu semakin nyata terlihat ketika tidak menyentuh apapun dan hanya ruang kosong semata.
"Yang!" Ia memanggil, tapi tak ada sahutan. Suara seseorang yang menuntaskan isi perut masih sesekali terdengar.
Alfin membuka mata, dan langsung tersadar siapa pemilik suara tersebut. Bergegas ia beranjak dan masuk ke kamar mandi.
"Humairah!" Alfin berhambur masuk dan membantu Naina dengan memberikan pijatan lembut pada tengkuknya.
"Gimana, udah enakan?" tanya Alfin saat tangan Naina menghentikan pijatannya.
Wanita itu mengangguk sambil berpegangan pada wastafel. Menarik napas pendek-pendek, mengurai rasa sakit yang mendera tenggorokan.
"Sayang?" Alfin memanggil cemas, menyentuh bahu Naina sambil memiringkan kepala untuk dapat melihat wajah sang istri.
"Ya Allah!" Ia menarik tubuh Naina ke dalam dekapan, tak tega rasanya melihat wajah pucat itu. Naina yang lemas, terkulai di pelukan suaminya. Ia sedang berjuang melawan rasa mual yang mendera.
"Kamu beneran baik-baik aja?" bisik Alfin lirih di telinga Naina.
"Mual, Mas." Naina menyahut lirih dan bergetar. Melingkarkan kedua tangan di pinggang suaminya mencari kenyamanan.
Alfin mengangkat tubuh itu dan membawanya kembali ke kasur. Membaringkannya dengan hati-hati dan penuh perhatian. Alfin duduk di tepi ranjang, mengusap-usap perut Naina dengan lembut sambil membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
"Gimana sekarang?" Alfin bertanya lagi.
Naina menganggukkan kepala tanpa membuka mata.
"Mending, Mas." Ia berkata lirih. Rasa mual yang hebat perlahan pergi dan berganti dengan rasa nyaman.
Adzan subuh berkumandang, Alfin lekas beranjak dan membantu Naina pula. Keduanya menunaikan ibadah dua raka'at di kamar mereka.
"Kamu yakin mau masak? Nggak mual atau enek gitu?" Alfin mengekor di belakang istrinya menuruni anak tangga menuju lantai satu rumah dan masuk ke dapur.
"Sayang, biarin Bibi yang masak, ya. Selama kamu lagi kayak gini, nanti nyium-nyium bumbu kamu mual lagi," sergah Alfin terus mengikuti Naina tak ingin istrinya itu mengalami mual lagi.
"Iya, Nak. Tadi Umi denger kamu muntah-muntah di kamar. Udah nggak apa-apa, biar Bibi aja yang masak. Lagian kata dokter kamu itu harus banyak istirahat," timpal Aminah dari lantai satu rumah.
__ADS_1
"Tapi, Umi-"
"Udah ada Salma yang bantu Bibi. Udah kamu duduk aja, jangan kerja berat-berat. Jangan terlalu capek." Aminah menarik tangan Naina dan membawanya duduk di teras menikmati udara pagi yang sejuk.
Ada Ahmad di sana yang tengah menikmati secangkir teh hangat. Alfin tersenyum, duduk bersimpuh di dekat sang istri.
"Mas, duduk di sini aja." Naina tak enak hati melihatnya.
"Di sini aja, Mas pengen dekat-dekat sama anak kita." Alfin mencium perut rata Naina tanpa segan.
Sementara wanita itu menahan malu setengah mati hingga kedua pipinya merona merah.
"Umi sama Abi masuk dulu. Mau siap-siap pergi ke pengajian," pamit Aminah seraya mengajak Ahmad untuk masuk ke dalam meninggalkan mereka berdua.
Naina beranjak turun dari kursi, ikut duduk di lantai teras bersama suaminya.
"Kamu mau makan apa? Biasanya orang hamil muda itu suka tiba-tiba pengen makan apa gitu," tanya Alfin sedikit heran karena Naina tidak banyak permintaan seperti yang dikatakan teman-temannya di toko.
Naina berpikir, tapi memang rasanya biasa saja. Apapun yang ada itu yang dia makan.
"Nggak ada, sih, Mas. Hmmm ... tapi boleh, deh, nanti kalo Mas pulas beliin rujak jambu yang di dekat toko itu. Dimakan siang-siang kayaknya seger banget." Air liurnya berkumpul membayangkan makanan itu ada di depan matanya.
****
Alfin membantu karyawannya mengangkut barang-barang ke sebuah mobil yang terparkir di depan halaman toko.
"Udah, Bos. Duduk aja, ada kami yang ngerjain," sergah mereka meminta Alfin tidak membantu.
Namun, laki-laki itu tak acuh terus bolak-balik mengangkut barang-barang di atas pundaknya hingga selesai.
"Udah beres." Alfin duduk di depan toko sambil mengibas-ngibaskan tangannya menghilangkan rasa panas dan keringat.
Berselang, sebuah mobil berhenti di depan toko. Mobil yang begitu Alfin kenal. Dua orang anak kecil berhambur keluar dan menyerbu laki-laki itu.
"Om!"
__ADS_1
"Lho, kalian mau ke mana? Kok, bisa ada di sini?" tanya Alfin sambil mengusap kepala mereka.
"Assalamualaikum!" Khadijah dan suaminya turut muncul, mendatangi tempat Alfin duduk.
"Wa'alaikumussalaam, Kakak!" Laki-laki itu beranjak, menyalami keduanya.
"Kakak denger bahan bangunan di sini punya kualitas yang bagus." Khadijah melongok ke dalam melihat-lihat isi toko tersebut.
"Yah, Kakak bisa lihat aja sendiri ke dalam. Pilih sendiri, nanti aku yang antar ke rumah," ucap Alfin kembali duduk di bangku karena lelah.
"Minum, Bos!" Seorang karyawan memberikan sebotol air kepada Alfin.
Khadijah tersenyum mendengar itu, adik bungsunya itu tak dapat lagi mengelak.
"Jadi, kamu bosnya di sini?" tanyanya berpura-pura.
"Bukan, Kak. Yusuf sama Hamka, aku cuma sesekali aja datang ke sini." Alfin masih berkilah, tapi tatapan Khadijah seolah-olah menguliti rahasia yang dia pendam selama ini.
Alfin meneguk ludah, menggaruk kepalanya yang tak gatal salah tingkah. Tidak kehabisan ide, Khadijah memanggil salah seorang karyawan Alfin yang membantu suaminya memilih bahan bangunan.
"Aku mau ketemu langsung sama bos kamu? Apa dia ada di sini?" pinta Khadijah membuat napas Alfin seketika tercekat di tenggorokan.
"Ini bos kami, Bu. Silahkan!" ucapnya sambil menunjuk Alfin dengan sopan.
Bibir wanita itu membentuk bulatan sempurna, kemudian berterimakasih dan lanjut menggoda Alfin.
"Sekarang mau ngomong apa lagi? Dia bilang kamu bosnya. Kenapa, sih, masih ngelak aja? Kakak ini Kakak kamu, pake main rahasia-rahasiaan segala." Khadijah menepuk bahu Alfin dengan gemas.
Entah harus bagaimana lagi? Sepandai-pandainya dia menyimpan rahasia, pada akhirnya semua akan tahu juga siapa Alfin.
"Gimana kabar Naina? Udah ngisi belum?" tanya Khadijah setelah mendaratkan bokong di kursi samping kursi Alfin.
Laki-laki itu melirik perut sang kakak yang sudah membesar. Tersenyum mengingat sebentar lagi ia akan melihat itu pada istrinya.
"Alhamdulillah, Kak. Kami sementara tinggal di rumah umi, karena asrama anak-anak dipakai para musafir. Alhamdulillah juga Naina udah hamil, Kak. Baru tiga Minggu," jawab Alfin malu-malu.
__ADS_1
"Alhamdulillah! Tokcer juga adik aku ini. Maa syaa Allah! Cepet jadinya, hebatlah." Khadijah memukul-mukul bangga lengan Alfin.
Entahlah, dia selalu merasa gemas bila berdekatan dengan adik bungsunya itu. Adik yang pernah jauh dari rumah, adik yang pernah hilang dari pandangan mata. Kini muncul menjadi kebanggan keluarga.