
Pagi itu, Alfin tengah fokus menghadiri rapat di sekolah Halwa. Meski gadis kecil itu sempat merajuk karena Naina tidak datang, tapi Alfin berhasil merayunya.
Ponselnya bergetar, membuat fokus Alfin teralihkan. Sebuah panggilan masuk dari Khadijah yang sengaja tak ia angkat.
Alfin sedang rapat, Kak. Ada apa? Gimana sama umi?
Ia mengirim pesan singkat kepada kakaknya. Kemudian kembali mendengarkan isi rapat sambil menunggu pesan balasan dari Khadijah. Yang ditunggu pun datang, Alfin segera membukanya.
Umi udah di rumah, kamu ke rumah sekarang. Semua keluarga menunggu.
Alfin bersyukur merasa lega dengan kabar yang diterimanya itu.
Alhamdulillah. Nanti, Kak, kalo udah pulang dari sekolah Halwa. Aku lagi rapat.
Alfin tersenyum lega, berucap syukur dalam hati karena Aminah telah kembali ke rumah. Rapat selesai di pukul sebelas siang, Alfin menggendong Halwa yang tertidur. Keluar meninggalkan ruangan.
"Sayang, bangun! Kita mau pulang." Alfin mengguncang tubuh Halwa, membangunkannya dari tidur.
Gadis kecil itu mengangkat kepala, mengucek mata, menatap sekitar.
"Ngantuk, Yah." Ia menjatuhkan kepala lagi di pundak Alfin.
"Iya, nanti datang di rumah kamu bisa lanjutin tidur. Sekarang bangun dulu," ucap Alfin diangguki Halwa.
"Kita ke rumah nenek dulu," ucap Alfin, seraya duduk di motor dengan Halwa di depannya.
Perjalanan penuh kebahagiaan, untuk kali ini Alfin benar-benar meresa bahagia mengunjungi rumah orang tuanya.
"Ayah, janji mau ke rumah ibu?" Halwa memastikan sesuatu yang dijanjikan Alfin.
"Iya, sayang. Setelah pulang dari rumah nenek, kita ke rumah ibu," jawab Alfin sambil mengusap kepala Halwa dan menciumnya.
Bibir mungil Halwa tersenyum, selalu senang bila akan bertemu Naina. Motor berhenti di halaman rumah Ahmad yang terbuka lebar. Terdapat tiga buah mobil terparkir di sana, dan ada banyak sandal di teras.
"Ayah, ini rumah nenek? Besar banget," seloroh Halwa memandang takjub rumah besar di hadapannya.
"Iya, sayang. Ayo!" Alfin mengusap kepala Halwa, mengajaknya masuk ke dalam. Suara banyak orang yang berbincang, membuat langkah Halwa menjadi berat.
Namun, Alfin menggendongnya, mengira ia masih mengantuk.
__ADS_1
"Assalamualaikum!" ucap Alfin seraya melangkah memasuki rumah.
"Wa'alaikumussalaam!" sahut mereka serentak.
"Ini dia pengantinnya!" Fahmi beranjak berdiri, menjabat tangan Alfin sambil menepuk-nepuknya gemas.
"Kamu kapan nyusul?" ejek Alfin melengos dan menghampiri Ahmad yang duduk berdampingan dengan Aminah. Ia menurunkan Halwa, dan menyalami keduanya. Fahmi berdecak.
"Gimana kabar Umi? Udah sehat?" tanyanya menatap lembut wajah sang ibu.
"Alhamdulillah, Umi udah sangat sehat." Aminah tersenyum, mengusap kepala putra bungsunya, kemudian mencium dahi Alfin.
"Nenek udah sehat? Kata Ayah, Nenek sakit," tanya Halwa yang sedari tadi memperhatikan keadaan wanita tua itu.
Mendengar suara mungil itu, semua orang menoleh kepada Halwa. Gadis kecil Alfin menatap gugup melihat semua mata tertuju padanya.
"Sayang. Sini! Nenek udah sehat, kamu baru pulang sekolah?" Aminah menarik tangan Halwa dan mendudukkannya di pangkuan. Mengecup pipi gembil gadis kecil itu, penuh cinta dan kasih.
Halwa menganggukkan kepala tanpa menjawab dengan kata. Ia menatap tiga orang anak kecil yang tak berkedip ke arahnya. Alfin beranjak duduk di samping Ahmad tatkala laki-laki bersorban itu bergeser memintanya untuk duduk.
"Alfin, kami semua sudah sepakat kalo nanti malam mau ke rumah Naina. Semua persiapan sudah selesai, kita tinggal berangkat saja," ungkap Ahmad diangguki semua orang.
"Kenapa mendadak, Bi? Nggak besok atau lusa?" tanya Alfin mengingat tamu di rumah yang Naina rindukan.
"Lebih cepat itu lebih baik. Kalian juga udah punya buku nikah, 'kan? Abi tahu dari Busyro," sahut Ahmad tak ingin menunda-nunda lebih lama lagi.
Alfin tersenyum dan mengangguk, dia bahkan sudah menghalalkan Naina menjadi miliknya secara utuh.
"Alfin akan bawa anak-anak. Nanti Alfin berangkat dari masjid saja," ucap Alfin tak ingin meninggalkan anak-anaknya.
"Yah, nanti kami jemput ke sana. Biar kita bisa berangkat sama-sama," sahut Ahmad setuju.
"Itu anak kamu, Fin? Kenapa nggak mirip sama kamu?" ejek Fahmi seraya terkekeh, padahal dia tahu kalo Alfin hanya ayah asuh mereka.
"Tapi kami sama. Sama-sama menyayangi ibu," timpal Alfin sembari memainkan alis saat melihat Halwa.
"Iya, kami menyayangi ibu. Ibu adalah pelita hidup kami." Halwa tersenyum, manis dan menggemaskan. Menghipnotis semua orang yang ada.
Sebuah penuturan yang tulus dari lisan seorang anak yang belum mengenal dosa. Fahmi menatap iri pada laki-laki itu, apalagi saat Halwa beranjak turun dari pangkuan Aminah dan memilih duduk di kaki Alfin. Lalu, memeluknya.
__ADS_1
"Kamu beruntung, Alfin. Aku jadi iri," gumamnya dengan wajah cemberut.
Semua orang tertawa bahagia, tak terkecuali Aminah. Hatinya tak sabar ingin bertemu Naina, memeluk menantu barunya itu sambil membisikkan kata maaf di telinganya.
Alfin benar-benar membuat iri semua orang, dia beruntung di kelilingi anak-anak yang baik. Juga beruntung mendapatkan pasangan hidup yang luar biasa seperti Naina. Padahal, dulu semua keluarga memandangnya remeh karena dianggap sebagai berandal jalanan.
Selepas dzuhur, Alfin berpamitan untuk kembali ke masjid sekalian membawakan makan siang untuk anak-anaknya.
"Mau makan apa, sayang?" tanya Alfin pada Halwa yang duduk di depan.
"Mmm ... Halwa mau chicken, Ayah. Kita beli itu aja, ya." Ia menoleh ke belakang, Alfin mengangguk. Dibelikannya semua anak makanan yang sama. Termasuk dirinya.
"Assalamualaikum!" Suara Alfin dan Halwa menyentak semua anak yang tengah bermain di depan asrama.
"Wa'alaikumussalaam! Ayah!" Mereka berhambur, memeluk Alfin dan menyalami tangannya.
"Udah sholat?" tanya Alfin pada mereka.
"Udah, ya!"
Mereka duduk di gazebo, masing-masing mendapatkan satu porsi makanan. Mereka makan dengan lahap dan penuh syukur. Tak sabar menunggu rumah Alfin selesai dan mereka akan tinggal berdekatan.
Alfin mengirimi Naina pesan memberitahu istrinya itu tentang rencana kedatangan keluarganya.
Sayang. Malam nanti aku dan keluargaku mau ke rumah. Jangan nunggu aku, ya. Aku pulang sama keluarga juga anak-anak.
****
"Papah! Mamah!" Suara Naina terdengar nyaring dan lantang memanggil Adrian juga Habsoh.
Ia berlari dari belakang rumah sambil menahan sedikit nyeri di bagian bawah tubuhnya.
"Ugh!" Naina mengeluh sakit tatkala rasa perih terasa dengan kuat. Ia berdiri di dekat tangga sambil berpegangan. Membungkuk menahan perih, mengatur napas yang tersengal-sengal.
"Sayang? Ada apa? Kenapa teriak-teriak?" tanya Habsoh yang muncul berbarengan dengan Seira.
"Mamah, Ibu. Keluarga Alfin mau datang ke rumah nanti malam." Naina memekik sembari memegangi tangan Habsoh.
Kepanikan jelas terlihat di wajahnya, bingung pun melanda hati sebab tak ada persiapan sama sekali.
__ADS_1
"Aduh, gimana ini?"