Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 78


__ADS_3

Alfin masih berdiri di sana, mematung menatap pintu yang baru saja terbuka. Sakit rasa hati, serasa dicabik-cabik sembilu. Tubuhnya lunglai kembali, terbanting di atas bangku. Tertunduk lesu, apakah dia sudah kalah?


"Siapa laki-laki itu?" lirihnya bergetar, "apa dia yang udah bawa Naina pergi menjauh dari aku?" lanjutnya semakin terguncang.


Di luar, Naina terus mencoba menjelaskan siapa Alfin, tapi Adrian seperti tak mendengar. Bas yang melihat, merasa tak tega.


"Pah, tunggu! Lepasin tangan Nai dulu!" pinta Naina sembari mencoba menarik tangannya, ketika mereka hampir tiba di parkiran.


"Pah!" Adrian tersentak, langkahnya terus berhenti ketika suara Naina meninggi.


Ia silap, mematung tubuh laki-laki itu saat menyadari tindakannya yang terlalu kasar dan keterlaluan. Dilepasnya tangan Naina, lisannya bergumam lirih mengucap kata istighfar.


"Astaghfirullah al-'adhiim!" Adrian mengusap wajahnya, dan memandang Naina penuh penyesalan.


"Maafin Papah. Ya Allah, Papah nggak sadar udah narik kamu dengan kasar," ucap Adrian menyesal.


Melihat kedua manik hitam di depannya yang seketika sendu, Naina menurunkan emosi. Gadis itu menghela napas, membuang jauh-jauh amarah yang datang mengurung hati. Naina melangkah, menatap Adrian dengan lembut.


"Papah tahu pemuda yang di dalam itu siapa?" tanya Naina bergeming kedua matanya menghujam manik Adrian.


Laki-laki itu mematung, lisannya gemetaran seperti hati yang terus berguncang. Ia menggelengkan kepala, tak tahu.


"Dia bukan seorang kriminal, Pah. Dia calon suami Nai, dia yang sudah menyelamatkan Nai dari pelecahan malam itu. Dia dipenjara karena menolong Nai, Pah. Nggak sengaja membunuh kedua laki-laki jahat itu," ungkap Naina bergetar, air matanya jatuh mengingat nasib Alfin yang harus mendekam dibalik jeruji besi nan dingin itu.


Adrian mematung, tubuhnya menegang. Cerita Sumiyati dan Asep tentang pelecehan melibatkan seorang pemuda yang menyelamatkan Naina. Ia tak mendengar adanya insiden pembunuhan, mungkin saja mereka tak tahu perkara itu.


"Jadi, dia pemuda yang dibilang paman sama bibi?" tanya Adrian terbata.


Pandangan mata Naina semakin menghujam kedua manik Adrian, kepalanya mengangguk pelan, menjawab keragu-raguan hati sang papah.


"Iya, Pah. Dia pemuda itu, dia laki-laki yang Nai ceritakan kemarin. Dia calon suami Nai, Pah." Tangis Naina semakin histeris, tak tega membayangkan Alfin di dalam sana sendirian.


"Maaf, maafin Papah. Papah nggak tahu soal itu," ucap Adrian menyesali tindakan juga ucapannya yang kasar.

__ADS_1


"Papah harus minta maaf sama dia, mungkin aja dia sakit hati karena dibilang kriminal. Padahal pemuda itu telah menyelamatkan anak Papah, dia bahkan rela bertaruh nyawa demi putri Papah ini," ucap Naina menegaskan kalimatnya.


"Astaghfirullah al-'adhiim!" Adrian lagi-lagi mengusap wajah, menyesali tindakannya.


"Kalo gitu kita kembali ke dalam, Papah harus minta maaf sama dia," ucap Adrian disambut senyum lega oleh bibir Naina.


Sementara di dalam sana, Bas yang tak tega dengan temannya menghampiri Alfin berharap laki-laki itu akan sedikit terhibur.


"Alfin!" tegurnya ketika melihat Alfin yang tak berkedip menatap pintu, kedua mata pemuda itu telah basah dan air terus berderai dari tahtanya.


"Siapa dia, Bas?" tanya Alfin lirih.


Bas menghela napas, memilih tempat duduk di samping temannya. Dipandangi wajah Alfin yang sendu, tersirat kesedihan mendalam juga rasa kecewa yang tak bertepi.


"Maaf, aku nggak tahu. Dia laki-laki yang aku lihat di toko seberang masjid bersama gadis itu tadi, tapi aku nggak tahu siapa dia?" ucap Bas sambil menggelengkan kepala.


Tubuh Alfin menegang, mendengar laki-laki dan toko pikirannya langsung tertuju pada satu orang yang pernah menjadi atasan Naina, yaitu Anton. Alfin mengingat-ingat kembali wajah atasan Naina itu, juga laki-laki yang menyeret calon istrinya tadi.


Kepala polisi muda itu mengangguk, membenarkan.


"Tapi kalo dia atasan Naina, mukanya sangat berbeda jauh. Dia nggak kelihatan kayak mantan atasan Naina," ungkap Alfin sembari menerka-nerka siapa laki-laki tadi.


"Atasan Naina? Siapa dia? Kamu kenal sama dia?" tanya Bas, membuka kemungkinan untuk kasus Alfin.


"Dia laki-laki yang mengejar-ngejar Naina dulu. Dia sering mengancam aku, Bas, buat jauhin Naina. Dia juga pernah nyuruh orang buat nyelakain aku ... ah, apa mungkin ...." Alfin tercenung, kalimatnya terputus saat berkisah tentang laki-laki itu.


Kedua pasang mata mereka saling bersitatap, satu yang melintas dalam benak keduanya adalah, kemungkinan Anton terlibat dalam kasus malam itu.


"Apa mungkin-"


Brak!


Pintu yang terbuka secara tiba-tiba menghentikan obrolan mereka. Naina muncul dengan senyum di bibir, melangkah pasti mendekati tempat pemuda itu. Menyusul Adrian yang tak lama masuk setelah anaknya.

__ADS_1


Bas yang melihat segera beranjak dan berdiri tak jauh dari mereka. Naina duduk di tempatnya semula, sedangkan Adrian di seberang mereka. Naina memberi isyarat kepada sang papah untuk mengutarakan niatnya masuk kembali ke dalam.


Adrian menghela nafas, memandang Alfin yang tertunduk dengan hati yang perih.


"Maafkan aku, Nak. Aku nggak tahu kalo kamu adalah pemuda itu. Pemuda yang sudah menyelamatkan anakku dari pelecahan laki-laki bejat. Aku haturkan terima kasih atas semua yang sudah kamu lakukan," ungkap Adrian penuh penyesalan.


Mendengar kata 'anakku' yang dilontarkan lisan Adrian, Alfin mengangkat wajahnya. Memandang mereka berdua secara bergantian.


"Anak?" ulang Alfin sembari mengangkat kedua alisnya bingung.


Naina tersenyum, memandang wajah sang calon suami dengan perasaan lega.


"Yah, Alfin. Dia papah aku. Papah yang bawa aku keluar dari rumah sakit, dan sejak hari itu aku sama paman dan bibi tinggal di rumah Papah," ungkap Naina menjelaskan siapa laki-laki yang membuat hati Alfin ketar-ketir takut kehilangan.


Ia tersenyum lega, dalam hati menertawakan dirinya sendiri yang terbakar cemburu. Namun, mengingat status mereka, pantaslah Alfin merasa cemburu. Mereka bukan mahram, selayaknya ayah dan anak.


"Papah?" ulang Alfin lagi masih sedikit tak percaya.


"Iya, Nak. Maafkan tindakan aku yang ceroboh tadi, juga ucapan yang spontan keluar. Aku minta maaf," ucap Adrian bersungguh-sungguh.


Alfin kemudian tersenyum, memaklumi tindakan laki-laki yang mengaku sebagai ayah Naina. Siapapun akan melakukan hal yang sama ketika tak tahu apa perkara yang sesungguhnya.


"Iya, nggak apa-apa, Pak. Saya maklumi. Maaf karena saya sempat su'udzon, saya pikir Bapak tadi mantan atasan Naina di toko karena teman saya bilang dia melihat Bapak bersama Naina di depan toko," ungkap Alfin sedikit merasa lega setelah mengetahui fakta tentang laki-laki yang menyeret Naina tadi.


Ia tersenyum, menghela napas kemudian.


"Atasan Naina? Anton?" tanya Adrian dengan kerutan di dahi. Kedua bola matanya berputar menatap dua sejoli di hadapan.


"Iya, Pak. Bapak kenal?" tanya Alfin.


"Kenapa sama dia? Dia bawahan saya," jawab Adrian dengan pasti dan sedikit menggeram.


Alfin dan Naina saling menatap satu sama lain, bertanya apakah mereka harus memberitahu Adrian perihal perbuatan Anton.

__ADS_1


__ADS_2