
Sudah hampir seharian Naina menemani anak-anak Alfin di asrama. Banyak hal yang mereka lakukan, bermain, belajar, bahkan tidur siang bersama ibu mereka. Alfin menggelengkan kepala melihat tubuh kecil sang istri yang diapit lima orang anak.
Sementara lima sisanya, membantu pekerjaan tukang membangun rumah Alfin. Itu sudah biasa mereka lakukan disaat tidak ada kegiatan yang lain. Alasannya hanya satu, "Supaya Ayah sama Ibu bisa cepat menempatinya".
Ia berjongkok tepat di ujung kaki Naina, terkekeh sendiri dengan sebuah ide yang muncul dalam otak kecil Alfin. Ia menggelitik telapak kaki Naina, kemudian tertawa sendiri disaat tubuh itu menggeliat kegelian.
Naina melenguh, kelopak indah itu terbuka mencari orang iseng yang menggelitik kakinya. Ia tak dapat bangun karena tangan Halwa melingkar di perutnya.
"Nai, pindah, yuk! Jangan di sini. Anak-anak udah tidur," bisik Alfin, matanya awas memindai anak-anak khawatir akan terbangun.
"Pindah ke mana?" tanya Naina dengan suara yang parau.
"Ke kamar aku." Alfin mengangguk mengajaknya untuk pergi.
Namun, lingkaran tangan Halwa semakin erat ketika Naina bergerak sedikit saja. Jari telunjuknya menunjuk tangan kecil itu, memberitahu Alfin bahwa tubuhnya terkunci.
Alfin mengambil inisiatif, mengangkat tangan Halwa dan menarik tangan Naina untuk beranjak. Ia menggantikannya dengan bantal guling sebagai pelukan disaat terlelap.
Alfin menutup pintu perlahan, membawa Naina pergi ke kamarnya.
"Ini jam berapa?" tanya Naina sembari menutup mulut yang terbuka karena menguap.
"Jam tiga, sebentar lagi ashar," sahut Alfin tanpa menjeda langkah.
"Aku cuci muka dulu." Naina melengos ke kamar mandi masjid, mencuci muka untuk menghilangkan kantuk dan menjernihkan pandangan.
"Cepat!" Alfin memeluk Naina dari belakang, mengangkat tubuh kecil itu dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Naina memekik, tapi ditahannya dengan kuat. Terlalu malu karena di dalam masjid sudah ada Ustadz Hasan yang duduk berdzikir menunggu waktu. Meski kamar Alfin sedikit jauh dari letak masjid, ia tetap merasa sungkan.
"Usil banget, sih. Gimana kalo ada yang lihat coba." Naina mengerucutkan bibir merasa gemas dengan tingkah suaminya yang tak sabaran.
Alfin terkekeh, menutup pintu dan menghampiri Naina yang berdiri di dekat lemari. Ia mengurung tubuh wanita itu di dinding. Sebelah tangannya menekan dinding, sebelah lagi membelai pipi kiri Naina dengan lembut sambil tersenyum merayu.
"Aku kangen, Nai," bisik Alfin, menelusupkan wajahnya di ceruk leher Naina. "Sejak kita menikah, melihat rambut kamu saja aku belum melakukannya," lanjutnya lirih dan bergetar.
Naina menggigit bibir bawahnya ketika sebuah rasa menggeliat di dalam diri. Tanpa sadar tangannya telah berada di pinggang Alfin, mencengkeram erat koko yang dikenakannya. Perlahan melingkar dan menjatuhkan diri ke dalam pelukan laki-laki itu.
__ADS_1
Sadar akan kewajiban sebagai seorang istri, Naina berserah diri pada laki-laki yang telah mengambil alih tanggung jawab ayahnya. Ia menjauhkan wajah dari dada sang suami, memandang manik sendu Alfin yang seketika menghujam jantungnya.
"Aku cinta kamu, Naina. Aku nggak bisa jauh dari kamu. Kalo bisa, aku mau menyulap bangunan itu supaya secepatnya bisa jadi rumah kita. Nggak perlu lagi berjauhan," Alfin meneguk ludah, menahan gejolak yang membuncah.
Dia benar-benar berada di puncak keinginan tertinggi. Sesuatu merangsek, memaksa Alfin untuk memagut bibir yang sejak tadi hanya diam tak bergerak. Tangannya merayap menekan tengkuk Naina, yang lain berada di pinggang wanita itu.
Napas Naina menderu, Alfin melakukannya sangat dalam kali ini. Lembut dan penuh penekanan seolah-olah meminta Naina untuk menyambut dan membalas apa yang dilakukannya.
Terbawa suasana, tangan Naina merayap melingkar di leher Alfin. Terbuai permainan yang memabukkan, hanyut dalam sentuhan lembut sang lelaki. Alfin melepas pagutan, perlahan membuka penutup kepala Naina, dan meletakkannya di atas lemari.
Rasanya sangat berbeda, jika dulu ia bersikap biasa saja meski orang-orang melihat rambutnya. Kini, di hadapan Alfin yang notabene adalah suaminya, Naina merasa malu. Alfin mengangkat wajah tertunduk itu, memagut bibirnya kembali. Melanjutkan sesuatu yang ingin dia lakukan.
Beberapa saat saling mencecap rasa masing-masing, sebelum akhirnya Alfin melepas pagutan. Menjatuhkan kepala di bahu Naina. Menyesap kulit wanita itu hingga meninggalkan jejak kebiruan di sana. Jejak yang cukup besar dan mencolok.
"Alfin!" Naina melirih, berdesis menahan getaran di dalam hati.
Alfin semakin menggebu mendengar suara lirih sang istri. Tangannya dengan berani menelusup ke dalam kemeja bagian belakang milik Naina. Merabanya dan hampir saja membuka ikatan penutup bagian dalam milik Naina ketika sebuah suara menghentikan aksinya.
"Ibu! Ibu di mana?" Halwa memanggil-manggil Naina, sembari mengusap matanya yang masih merasa ngantuk.
Gadis kecil itu melihat dua pasang sandal milik mereka. Berbelok menuju kamar Alfin dan mengetuk pintunya.
Alfin mendesah, tangannya turun secara otomatis. Kepalanya jatuh di bahu Naina dengan lesu. Merasa tidak memiliki kesempatan untuk memadu kasih dengan sang istri.
"Gagal," lirihnya di telinga Naina.
Wanita itu terkekeh geli, melepas pelukan dan tanpa diduga melayangkan kecupan di bibir Alfin yang cemberut.
"Masih banyak waktu dan kesempatan. Jangan sedih, mungkin Halwa masih ngantuk. Kita keluar dulu," ucap Naina menangkup wajah suaminya dengan kedua tangan.
Alfin tersenyum, kepalanya kembali mendekat melahap bibir ranum Naina yang telah menjadi candu untuknya.
"Nanti malam pulang ke rumah, ya." Naina berbisik setelah pagutan mereka terlepas.
Alfin menggelengkan kepala, mengusap bibir Naina mesra.
"Nanti malam pengajian rutin bersama masyarakat. Aku nggak bisa pulang. Mungkin besok. Nggak apa-apa, 'kan?" Alfin mengusap-usap pipi Naina.
__ADS_1
Mengambil kerudung dan memakaikannya pada kepala Naina.
"Nggak apa-apa, tapi kalo selesainya masih sore pulang, ya." Naina memeluk Alfin singkat sebelum akhirnya menjauh.
"Ibu!"
"Ya, sayang!" Ia membuka pintu dan mengajak gadis kecil itu menuju gazebo depan asrama.
Disusul Alfin selepas membasahi wajahnya dengan air wudhu. Ia tersenyum melihat Halwa yang berbaring di pangkuan wanita itu. Duduk di samping Naina, di tangannya memegang sesuatu yang akan ia berikan pada sang istri.
"Nai!"
Wanita itu menoleh, menyambut panggilan Alfin. "Kenapa?"
"Ini tabungan aku, mulai sekarang kamu yang simpan. Pakai uang ini untuk memenuhi semua kebutuhan kamu. Jangan minta lagi sama Papah, karena kamu tanggung jawab aku mulai sekarang," ucap Alfin sembari menyerahkan sebuah kartu ATM kepada Naina.
"Apa nggak apa-apa ini aku yang pegang? Gimana kalo habis?" tanya Naina sembari menerima kartu tersebut.
Alfin terkekeh, "Tinggal cari lagi. Mau kamu habiskan juga nggak apa-apa. Nggak masalah buat aku ... karena uang aku, uang kamu."
Alfin menilik wajah sang istri, senyum menyambut tatapannya.
"Dan ini, mulai sekarang kamu juga yang pegang," ucap Alfin kembali menyerahkan kartu lainnya.
"Apa ini?" Naina menerima dan menelisik setiap sisinya.
"Itu tabungan anak-anak. Dulu, aku yang pegang dan aku yang belanjakan. Sekarang, kamu yang pegang dan kamu yang belanjakan."
Naina tercenung, menatap bergantian kedua kartu tersebut.
"Kamu percaya sama aku?" Pandangannya terangkat menatap Alfin lekat-lekat.
"Seratus persen. Nggak kurang," sahut Alfin yakin.
"Ini uang sumbangan?" Naina mengangkat kartu tabungan anak-anak. Dia harus berhati-hati dalam membelanjakan uang tersebut.
"Bukan, itu uangku sendiri. Uang sumbangan dikelola DKM masjid, Ustadz Hasan ketuanya," jawab Alfin semakin membuat Naina tercengang.
__ADS_1
"Maa syaa Allah! Ternyata aku punya suami yang luar biasa. Makasih karena kamu udah percaya sama aku," ucap Naina dengan mata yang berembun karena terharu.