Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 134


__ADS_3

Dengan perasaan bahagia, Naina pergi meninggalkan rumah besar Ahmad. Bertiga dengan Khadijah yang akan menunjukkan ke mana mereka harus pergi.


"Kalian pasti akan suka dengan design bajunya, apalagi sama perancangnya. Dia masih sangat belia, masih kecil gitu, tapi rancangannya ... emh! Menakjubkan!" puji Khadijah membayangkan sosok perancang cilik yang ia temui.


"Beneran, Kak? Nanti aneh lagi rancangannya," sahut Alfin melirik sang kakak dari kaca spion tengah.


Bugh!


Satu pukulan mendarat di bahu laki-laki itu. Khadijah cemberut kesal karena menurut penilaiannya, rancangan untuk gaun pengantin Naina amatlah menarik dan berbeda dengan yang lain.


"Kalian pasti akan takjub apalagi kalo lihat perancangnya. Sekarang boleh bilang aneh, tapi coba lihat nanti." Khadijah membanting tubuhnya pada sandaran kursi sembari melipat kedua tangan di perut.


Diam-diam ia mengirim pesan pada seseorang di butik untuk menyiapkan pakaian yang akan dicoba Naina. Bibirnya tersenyum membayangkan gaun itu melekat di tubuh sang adik ipar. Senyum yang menyiratkan kebanggaan entah pada siapa.


"Apapun itu, yang penting nyaman dipakainya. Aku nggak ada masalah, Kak. Apalagi kata Kakak perancangnya masih kecil. Aku pasti bangga nanti bisa memakai hasil rancangan luar biasa itu," timpal Naina tak ingin kakak iparnya itu kecewa karena ucapan Alfin.


Ia berbalik ke belakang tersenyum pada Khadijah. Bibir wanita itu kembali tertarik ke atas, membentuk kepuasan akan kalimat yang terlontar dari mulut Naina. Mereka kembali tenang dan damai, mobil melaju sesuai arahan yang ditunjukkan Khadijah.


"Lho, ini jalan ke sekolah Salma. Apa ada butik di dekat sini?" tanya Alfin teringat pada anak perempuan sulungnya yang sedang duduk di bangku kelas sepuluh.


"Di mana sekolah Salma?" tanya Khadijah tak tahu.


"Nah, itu. Di sebelah kiri, tahun ini dia baru masuk ke Aliyah." Alfin memberitahu mereka, menunjukkan sekolah madrasah Aliyah di sebelah kiri jalan.


"Hebat banget kamu bisa masukin Salma ke sekolah mahal itu. Itu, 'kan, sekolah swasta. Pasti bayarannya nggak murah," cetus Khadijah memicing pada adiknya.


Alfin terkekeh melihat ekspresi yang ditunjukkan wajah sang kakak.


"Aku cuma mau mereka mendapat pendidikan yang bagus. Soal bayaran, masing-masing dari mereka bawa rezeki. Itu rezeki Salma bisa sekolah di sana. Mudah-mudahan apa yang menjadi cita-citanya bisa tercapai," ucap Alfin diaminkan Naina juga Khadijah meski dengan lirih.


Wanita hamil itu menatap kagum pada sosok sang adik. Semakin bangga karena bisa menjadi saksi hidup dari perjalanan seorang Alfinza Akbar, adik kandungnya sendiri.


"Itu dia gedungnya, di samping gedung sekolah Salma," ucap Khadijah saat mobil Alfin mendekati sekolah anaknya.

__ADS_1


Hanya berjarak dua gedung saja dari sekolah sang anak, butik tersebut berada. Mereka turun dan segera digiring masuk oleh Khadijah.


"Assalamualaikum!" sapa Khadijah dengan ramah.


"Wa'alaikumussalaam! Masuk, Kak Dijah. Maa syaa Allah, sudah ditunggu dari tadi. Mau langsung apa istirahat dulu?" sambut sang pemilik dengan ramah. Dia tidak berhijab, tapi berpakaian sopan.


Wajahnya lembut dan pandangannya teduh. Tipe wanita penyayang terutama pada anak-anak.


"Langsung aja kali, biar abis itu baru istirahat," sahut Khadijah disetujui Naina dan Alfin.


"Oh, ini pengantinnya?" Wanita seusia Khadijah itu melirik Naina dan Alfin yang berdiri berdampingan.


"Iya. Cocok, 'kan, sama wajah mereka pakaiannya?" puji Khadijah yang mendapat anggukan kepala dari wanita tersebut.


"Mari! Silahkan!" Ia menggiring keduanya untuk memasuki sebuah ruangan khusus di mana pakaian yang akan mereka kenakan tergantung di dalamnya.


"Ada tiga pakaian yang dirancang designer kami untuk resepsi pernikahan kalian. Silahkan, di sini. Ini terobosan baru menurut saya karena di sini, dia memadukan khas China dan Indonesia. Coba lihat! Cantik, 'kan? Meski ada unsur dari negeri Tiongkok, tapi tidak meninggalkan Indonesia. Saya suka dan menurut saya kalian juga pasti suka," papar wanita tersebut menunjukkan satu buah gaun yang terlihat seperti hanfu, tapi dengan corak Indonesia.


Naina merasa takjub, menyentuh setiap bagiannya dengan perasaan kagum. Tak ada taburan mutiara yang biasa digunakan untuk memperindah gaun pengantin.


"Ini, malah kayak setelan yang dipakai aktor Jet Li. Yang ini Doni Yen." Alfin terkekeh, meski tampak sedikit berbeda. Seperti jasko, jas koko yang sering ia kenakan juga. Hanya saja di dalamnya terdapat kemeja putih sebagai lapisan dalam.


"Kamu benar, Kak. Dia bilang, menyukai kedua aktor laga itu. Makanya dari sekian kostum yang dipakai, dua kostum itu dia rancang untuk menjadi pakaian pengantin pria. Yang terakhir itu, terinspirasi dari aktor Jackie Chan, tuxedo. Kakak bisa mencobanya satu-satu. Silahkan di dalam ruangan sini," jelas sang pemilik butik terdengar aneh di telinga Alfin.


Ini yang bikin perempuan apa laki, sih? Kenapa artis China semua. Apa makhluk setengah-setengah?


Alfin terkekeh dengan pemikirannya sendiri. Ia membawa ketiga setelan itu masuk ke dalam ruangan, bersamaan dengan Naina yang ditemani sang pemilik untuk mencoba pakaiannya.


Di luar, Khadijah sudah mempersiapkan seorang fotografer untuk memotret mereka. Alfin keluar lebih dulu, mengenakan setelan berwarna hitam. Ia melirik dirinya sendiri, merasa gagah layaknya seorang aktor di televisi.


"Maa syaa Allah! Adik aku ganteng banget, ya Allah!" seru Khadijah memuji berlebihan.


"Cocok nggak, Kak? Mirip Jet Li nggak?" Alfin memperagakan sebuah gerakan yang menjadi ciri khas dari aktor terkenal itu.

__ADS_1


Kang foto dengan sigap memotret. Pengantin wanita keluar mengenakan gaunnya. Mata Alfin tak berkedip, mulutnya terbuka lebar, merasa pangling pada sang istri. Tak dinyana Naina melompat dan melakukan satu gerakan laga.


Tergelak semua orang, bahkan dia sendiri merasa geli.


"Aku merasa jadi pendekar perempuan dari China," katanya memandangi tubuh sendiri.


Pemotretan dilakukan, selayaknya sepasang pendekar mereka sedikit berlaga.


****


Alfin dan Naina membanting diri di sofa di sebuah ruangan khusus untuk beristirahat di butik itu.


"Capek juga, ya. Gerak-gerak kayak tadi," keluh Naina sambil menyandarkan kepala di bahu Alfin.


Laki-laki itu terkekeh, sungguh tak menduga sang istri bisa melakukan gerakan tersebut.


"Aku nggak nyangka ternyata kamu bisa kayak tadi, walaupun kaku banget," ejek Alfin merasa gemas dengan istrinya itu.


"Yah, karena aku nggak pernah ikut bela diri. Jadi, kaku terus pada sakit semua." Naina mengeluh, Alfin berbinar.


"Mas pijitin lagi, ya?"


Sontak kepalanya terangkat dari bahu Alfin, melotot tajam pada suaminya itu.


"Nggak! Nanti kayak tadi pagi, ujung-ujungnya itu." Naina mengerucutkan bibir, teringat pagi tadi setelah urusan piji-memijit selesai. Alfin meminta imbalan.


"Nggak mijit juga Mas tetap mau minta, kok." Ia menjatuhkan kepala pada sandaran sofa dengan kedua tangan terlipat di belakangnya.


"Yang, sekali-kali di atas. Coba hal baru."


Pukulan mesra bertubi-tubi mendarat di dada Alfin saat ia menggodanya. Gelak tawa dan canda menguar dari keduanya, mereka terlihat bahagia.


"Assalamualaikum! Perancangnya udah datang. Dia ingin bertemu kalian," sapa pemilik butik membawa sang perancang yang membuat Alfin penasaran.

__ADS_1


Kalo jadi-jadian geli aku.


__ADS_2