Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 167


__ADS_3

"Assalamu'alaikum! Umi, Abi!" panggil Alfin di depan rumah Ahmad.


"Wa'alaikumussalaam!" Sahutan suara Aminah yang tergesa sekaligus senang mendengar suara anaknya berkunjung. Wanita itu membukakan pintu, seketika membelalak senang.


"Alfin! Naina, anak-anak! Maa syaa Allah! Akhirnya kalian main juga ke rumah Umi." Aminah memeluk sang menantu sebelum Naina sempat mencium tangannya. Senang bukan main karena dikunjungi mereka.


"Umi sehat? Maaf, baru bisa datang ke rumah Umi sekarang." Naina menyalami ibu mertuanya dengan takzim.


"Alhamdulillah Umi sehat. Nggak apa-apa, Umi seneng banget kalian datang. Ayo, masuk!" Aminah antusias merangkul bahu Naina, setelah Alfin dan anak-anaknya bersalaman.


"Abi! Ada Alfin sama Naina, sama anak-anaknya juga," panggil Aminah sembari menggiring mereka ke ruang tamu.


Ahmad muncul dari atas tangga, tersenyum melihat anak bungsunya berdiri di bawah.


"Abi! Gimana keadaan Abi? Sehat?" tanya Alfin sambil mencium tangan laki-laki itu.


"Alhamdulillah, Abi sehat. Mau nginep di sini?" Pertanyaan langsung itu diangguki Alfin. "Alhamdulillah, ayo!" Ahmad menepuk punggung putranya dan bergabung bersama yang lain.


"Kakek!" Mereka berhamburan menyalami Ahmad, ramai sudah rumah besar itu.


"Abi, Umi, mungkin beberapa Minggu ke depan kami akan menginap di sini karena asrama sedang digunakan para musafir untuk menimba ilmu," ungkap Alfin tanpa berbasa-basi mengutarakan maksud dan tujuannya datang.


"Alhamdulillah. Abi sama Umi seneng dengernya, rumah ini nggak sepi lagi. Mau selama apapun menginap di sini, Abi sama Umi nggak akan keberatan," sahut Aminah sambil tersenyum senang.


Di pangkuannya Halwa duduk anteng. Di manapun, gadis kecil itu selalu menjadi primadona. Kesayangan para orang tua karena selain usianya yang masih sangat kecil, dia diurus Alfin sejak bayi.


Alfin tersenyum getir, memandang wajah keduanya yang sudah sangat tua. Kerutan di wajah mereka sudah terlihat, juga rambut mereka yang sudah memutih hampir semuanya.


Tak seharusnya mereka tinggal sendiri tanpa ada yang merawat. Dia akan mengunakan waktu menginap dengan sebaik mungkin untuk mengurus keduanya. Sudah banyak kesedihan yang Alfin torehan, ada banyak kekecewaan yang ia hadiahkan pada hati rapuh mereka. Kini, Alfin tak akan menyia-nyiakan keduanya.


Membuat bahagia keluarga adalah tujuan Alfin saat ini.


****

__ADS_1


"Humairah!" Alfin memanggil istrinya yang tengah berdiri di pembatas balkon kamar.


Naina menoleh sambil tersenyum, berbalik dan bersandar menunggu suaminya datang. Alfin mendekat, mendekap pinggang sang istri. Naina pula mengalungkan kedua tangan di leher suaminya itu.


"Kenapa rasanya kamu makin cantik tiap hari, ya? Jadinya aku jatuh cinta terus sama kamu," gombal Alfin sembari mengusap pipi Naina.


Ia tersipu, menunduk sambil menahan senyum malu-malu. Lalu, menengadah kembali menatap wajah tampan suaminya.


"Mas juga tampan. Kayaknya cuma suami aku yang tampan di dunia ini. Ngalahin artis-artis top di Jakarta." Naina menyambar pipi Alfin semakin merona kedua pipinya.


"Mas mau di sini, nggak cuma di sini." Alfin memajukan bibirnya, menunjukkan pada Naina letak yang ingin disentuh.


Secepat kilat Naina menyambar, tapi Alfin sudah sangat bersiap dan tak membiarkan sentuhan itu hanya sekejap. Kecupan menjadi dalam, semakin dalam dan menghanyutkan. Sampai napas keduanya tersengal, sesak karena rasa yang bergelora.


"Mas sayang kamu, Naina. Malam ini tepat satu bulan pernikahan kita, Mas punya sesuatu buat kamu." Alfin menjauhkan dahi mereka, mengeluarkan hadiah yang sudah ia siapkan dari kemarin.


"Apa ini, Mas?" Naina menerima kotak tersebut, menilik setiap sisinya, berdegup dengan isinya.


"Buka aja. Mas nggak tahu selera kamu, tapi mudah-mudahan kamu suka," ucap Alfin meletakkan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri tubuh Naina peregangan pada pembatas balkon.


"Maa syaa Allah! Ini cantik banget, Mas! Aku suka," pekik Naina sambil mengeluarkan kalung dari kotak tersebut.


"Kamu beneran suka?" tanya Alfin dengan kedua pipi merona merah.


Naina mendongak, mengangguk dengan senang.


"Ini cantik. Makasih, Mas." Naina memeluk suaminya, bersyukur karena dianugerahi pasangan yang begitu menyayangi dan memperhatikannya.


"Mas pakaikan." Naina melepas pelukan, memberikan kalung tersebut kepada suaminya. Ia berbalik, membuka sedikit hijabnya agar Alfin dapat memasangkan benda itu.


Alfin memeluknya dari belakang, menaburkan cinta di hatinya untuk Naina. Hanya untuk wanita itu seorang. Entah seperti apa menerjemahkan perasaannya saat ini yang pasti Naina merasa seperti melayang di atas awan.


"Aku juga punya sesuatu buat Mas, tapi Mas harus tutup mata jangan mengintip." Naina menoleh, karena jarak yang begitu dekat bibir mereka hampir bersentuhan.

__ADS_1


"Mmm ... apa itu? Kamu bikin Mas penasaran," ucap Alfin sambil memejamkan mata menurut tanpa melepaskan lingkaran tangannya di pinggang sang istri.


Naina terus memastikan kedua mata Alfin terpejam sambil tangannya merogoh ke dalam saku mengambil sesuatu darinya. Ia mendekatkan benda itu di hadapan wajah sang suami, tersenyum membayangkan reaksi terkejutnya.


"Sekarang, Mas boleh buka mata." Naina menggigit bibir, menunggu reaksi suaminya.


Sengaja perlahan Alfin melakukannya, kemudian mengintip mewanti-wanti apa kejutan dari istrinya itu. Kedua mata Alfin terbelalak ketika menangkap sebuah benda kecil yang panjang bergaris dua di hadapannya.


"Maa syaa Allah! Apa ini ... ka-kamu hamil?" Terbata laki-laki itu berucap, jantungnya berdebar-debar tak karuan. Berpacu dengan cepat, berlomba dengan rasa bahagia.


"Iya, Mas. Aku hamil, Mas akan jadi seorang ayah dari anak kandung Mas sendiri," jawab Naina dengan senyum berbinar penuh rasa bahagia.


Lingkaran Alfin di pinggang istrinya terlepas, tercekat udara di tenggorokan, kemudian memburu berat dan sesak.


"Umi! Abi! Aku jadi Ayah!" teriaknya hampir membangunkan seluruh penghuni rumah.


Ia mengangkat tubuh Naina, membawanya berputar-putar bahagia. Senyum terkembang di bibir mereka, lengkap sudah kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga keduanya.


"Aku jadi Ayah! Aku jadi Ayah! Alhamdulillah, ya Allah! Alhamdulillah!" pekik Alfin seraya menurunkan tubuh Naina dan melayangkan kecupan di seluruh wajahnya.


Naina tertawa geli, tapi tidak menolak. Membiarkan Alfin meluapkan rasa di hatinya sampai tuntas.


"Ternyata dugaan Mas emang bener, kalo kamu itu hamil. Alhamdulillah, ya Allah! Mas seneng banget, sayang. Ya Allah!" Alfin memeluk Naina kembali, menciumi wajah itu lagi.


"Alfin! Naina! Ada apa, Nak? Kenapa teriak-teriak?" Suara Aminah terdengar panik diikuti ketukan pada pintu yang berulang-ulang.


Keduanya terkekeh, kemudian mendekati pintu dan membukanya. Alfin menggaruk kepalanya yang tak gatal ketika wajah berat kedua orang tua itu menyambut.


"Ada apa? Suara kamu itu kedengaran sampai ke lantai bawah, lho." Aminah menatap keduanya, melongo ke dalam memeriksa keadaan kamar mereka.


"Nggak apa-apa, Umi, Abi. Alfin cuma lagi seneng aja karena Naina lagi hamil," ucap Alfin malu-malu.


Aminah mengedip-ngedipkan mata, mencerna dengan lambat kalimat anaknya. Sampai Alfin menyerahkan alat tes kehamilan Naina, barulah kedua lansia itu mengerti.

__ADS_1


"Maa syaa Allah! Alhamdulillah, ya Allah! Selamat, ya, sayang. Umi seneng banget dengernya. Besok kalian periksa ke dokter supaya tahu berapa usia kandungannya." Aminah memeluk Naina, serasa sempurna kebahagiaan yang ia rasakan di penghujung usianya.


"Iya, Umi."


__ADS_2