Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 151


__ADS_3

"Hati-hati, anak-anak! Mas!" Naina melambaikan tangan melepas kepergian Alfin beserta anak-anaknya.


Ia kembali ke dapur untuk membantu Bibi membereskan bekas sarapan mereka.


"Nggak apa-apa, Non. Biar kami aja yang ngerjain," ucap Bibi tak enak hati.


Naina tersenyum, tangan yang sudah terbiasa bekerja rasanya tak bisa untuk diam. Selalu ingin mengerjakan ini dan itu, membereskan apa saja yang terlihat berantakan.


"Nggak apa-apa, Bi. Aku nggak betah soalnya kalo cuma diem aja. Kayak gatel gitu," sahut Naina sembari membawa piring-piring kotor ke wastafel dan mencucinya.


Bibi terenyuh, Naina selalu membantu mereka meskipun semua pelayan menolak. Dengan berbagai macam alasan dia selalu berhasil membuat mereka diam. Bila Adrian muncul, laki-laki itupun tidak pernah mempermasalahkannya.


Biya muncul sambil menguap lebar, setelah berbincang dengan Salma ia kembali mendengkur.


"Tante mau sarapan?" tanya Naina sambil meletakkan piring yang dicucinya ke tempat penyimpanan.


"Iya. Maaf, ya. Tante kesiangan, abis sholat subuh tadi Tante tidur lagi," ucap Biya sambil membuka tutup saji untuk santap pagi, sedangkan Fatih dan Seira sudah lebih dulu sarapan.


"Mau ditemenin? Bu Sei dan semuanya udah sarapan," tawar Naina sembari menarik kursi dan duduk menemani biya.


"Boleh." Biya memulai sarapannya. Ditemani Naina, sesekali akan berbincang hal remeh tentang apa saja.


"Apa pekerjaan Alfin?" tanya Biya di sela-sela mengunyah makanannya.


"Ah ... apa, ya? Nggak kerja, sih, Tante. Cuma ada usaha aja," ucap Naina serba salah. Ia tersenyum canggung terlihat tak nyaman.


"Usaha? Usaha apa?" Biya semakin menyelidik.


Naina menghela napas, sambil tersenyum dia menjawab, "Cuma toko matrial aja, Tante."


Biya mengangguk-anggukkan kepalanya, melanjutkan makan dengan lahap terlihat lapar. Terjeda gerakan tangannya, tatkala Biya teringat tentang Salma.


"Nai, kamu tahu Salma? Remaja yang merancang gaun pengantin kamu?" tanya Biya tiba-tiba.

__ADS_1


Dahi Naina mengernyit, bertanya-tanya dalam hati. Pertanyaan itu menyiratkan maksud lain selain bertanya tentang Salma.


"Ya, kenapa? Tante udah ketemu sama dia? Dia hebat, 'kan?" Naina antusias, ia bahkan mencondongkan tubuh mendekati Biya.


"Ya. Hebat, sangat hebat, tapi sayang pendidikannya nggak sesuai. Coba kalo ke Jakarta, di sana ada sekolah khusus." Biya menyeruput teh yang dibuatkan Bibi.


Naina tidak mengerti, kerutan di dahinya semakin menumpuk. "Maksud Tante?"


"Begini, dia itu udah punya bakat yang luar biasa. Kalo dikembangkan akan semakin menakjubkan. Tante berniat mengajaknya bergabung di butik Tante, tapi dia ingin melanjutkan sekolahnya dulu sampai lulus. Padahal di sana dia bisa tinggal sama Tante dan sekolah supaya bakatnya semakin berkembang," jelas Biya membuat Naina mengerti.


Sebagai orang tua, dia sadar harus mendukung segala cita dan harapan anaknya. Mungkin nanti Naina akan membahasnya dengan Alfin. Ia mengangguk-anggukkan kepala, mengerti yang diucapkan Biya.


"Kamu tahu nggak siapa orang tuanya? Dia bilang nggak mau bikin kecewa ayah dan ibunya. Dia juga bilang nggak mau ninggalin ayah. Dia anak yang patuh, ya. Orang tuanya sangat beruntung punya anak baik kayak Salma. Kalo kamu tahu siapa orang tuanya, Tante mau ketemu sama mereka, mau ngomong soal Salma," ucap Biya bersungguh-sungguh.


Naina terhenyak. Orang tau Salma? Ingin berbicara? Sedangkan dia sedang berbicara dengan salah satunya.


"Ekehm." Naina berdehem. "Tante mau ngomong apa? Nanti aku sampaikan sama ayah Salma," ucap Naina sambil tersenyum.


Biya mengangkat sebelah alisnya, menjatuhkan punggung pada sandaran sambil bersedekap dada. Menatap wanita di depannya yang masih menunggu jawaban.


Manggut-manggut Naina mengerti. Ia menghela napas bersiap membuat terkejut untuk Biya.


"Aku ibunya, Tante, dan Mas Alfin ayahnya. Jadi, ngomong aja," ucap Naina sambil tersenyum.


Napas Biya tercekat beberapa saat, mengedip-ngedipkan mata tak percaya, mereka barulah menikah sudah memiliki anak sebesar Salma. Ia menggelengkan kepala, menolak sambil mencibirkan bibir.


"Nggak percaya." Biya tetap menggelengkan kepala.


"Salma memang anak kami, Tante." Naina tidak tersinggung sama sekali.


"Bukannya kalian baru nikah? Kok, udah punya anak segede Salma?" Biya terpekik tak percaya. Pikiran kotor pun turut berdatangan, mencampuradukan dengan masa lalu Naina.


"Mereka anak asuh mas Alfin. Semuanya berjumlah sepuluh, dan Salma adalah yang paling besar di antara mereka semua," jelas Naina.

__ADS_1


Reaksi Biya perlahan mengendur, dia malu terhadap pemikirannya sendiri yang sudah berburuk sangka pada Naina. Ia membulatkan bibir, mengangguk mengerti.


"Oh, gitu. Anak asuh. Hhmm ... ya." Biya tak dapat berkata-kata, semakin kagum pada wanita di depannya.


"Kalo masalah tawaran Tante tadi, nanti saya omongin sama ayah anak-anak. Dia pasti ngerti, kok. Mas Alfin buka tipe orang yang suka memaksakan kehendak, kami orang tua yang ingin melihat anaknya sukses. Jadi, sabar dulu, Tante. Nanti aku ngomong dulu sama mas Alfin," ujar Naina memperjelas ucapannya.


Biya tersenyum puas, dia setuju dan menunggu hasil dari perbincangan mereka. Teringat pada janjinya kepada Yusuf, Biya berpamitan untuk pergi. Tinggallah Naina merenungi ucapan Biya tentang sekolah Salma.


****


Biya dan keluarganya berpamitan kepada Adrian dan yang lain. Mereka akan kembali ke Jakarta hari itu juga, dengan Biya yang diantar Yusuf untuk mengambil mobilnya di bengkel.


"Tolong nanti antar Biya sampai perbatasan," pinta Fatih kepada pemuda yang dikenalnya semalam.


"Insya Allah, Kak." Yusuf mengangguk, Fatih menepuk-nepuk bahu pemuda itu sebelum memasuki mobilnya dan pergi meninggalkan halaman rumah Adrian.


"Mampir ke tempat kerja aku dulu, ya. Mau kasih laporan pembukuan sama si Bos," ucap Yusuf diangguki Biya karena ia pun ingin tahu tentang pekerjaan pemuda itu.


Biya duduk di jok belakang dengan tetap menjaga jarak. Tersenyum menatap punggung Yusuf yang tak lagi tergagap saat berhadapan dengannya.


Mengingat Alfin adalah seorang bos dan Naina mengatakan bahwa suaminya itu mempunyai sebuah toko matrial, Biya semakin penasaran seperti apa toko yang dimiliki Alfin.


Dahi gadis itu membentuk kerutan saat motor Yusuf berbelok pada toko matrial besar. Berpikir mungkin saja itu adalah toko pusat dan Alfin menginduk padanya.


"Toko matrial ini ada di beberapa bagian kota Jakarta, tapi nggak segede ini. Apa ini pusat?" tanya Biya kebingungan.


"Iya, ini pusatnya. Yang di Jakarta itu cabang," beritahu Yusuf sembari menurunkan standar motornya.


"Apa toko suami Naina cabang dari sini juga?" tanya Biya selanjutnya.


"Bos Alfin?" Pertanyaan Yusuf diangguki Biya. "Justru beliau pemilik tempat ini. Toko matrial ini punya bos Alfin," jawab Yusuf menganga mulut Biya.


Yusuf memintanya untuk menunggu, sedangkan dia masuk ke dalam toko untuk menyerahkan buku laporan kepada Alfin.

__ADS_1


"Ternyata dia seorang pengusaha hebat dibalik gelar marbotnya," puji Biya tanpa sadar.


Berselang, Yusuf kembali mendatangi Biya dan melanjutkan perjalanan mengambil mobil. Pemuda itu memutuskan untuk mengikuti Biya menggunakan motornya, sampai mobil tersebut memasuki area jalan tol. Biya terenyuh, hatinya semakin yakin untuk segera menikah dengan Yusuf.


__ADS_2