
Dan malam itu, pesta pun berlangsung. Anton bersama karyawan toko asik bernyanyi dan bergembira. Dia bahkan memerintahkan semua pekerja untuk menutup toko lebih awal. Di ruangan itu, tak peduli masalah apa yang sedang menimpa. Yang mereka tahu hanya bernyanyi dan menari, juga bersenang-senang.
"Kamu cantik banget malam ini," rayu Anton sembari memainkan rambut Vita dan sesekali menciumnya.
Wanita itu tersipu, berpaling karena malu. Bunga-bunga terus bertaburan di dalam hatinya. Ia menggigit bibir menahan gejolak yang membuncah.
Di dalam hiruk-pikuk suara-suara rekannya yang bernyanyi, Vita tengah diburu api asmara. Rayuan maut Anton berhasil mengantarkannya di atas sebuah ruangan khusus di lantai dua gedung.
Ia duduk dengan gugup, hati dan otaknya terus berpikir benarkah yang dia lakukan saat ini? Vita memainkan jemarinya yang saling bertaut, meremas dengan pelan, sesekali mengepalkan tangan sambil menggigit bibir kuat-kuat.
Wajahnya berkali-kali melihat ke arah pintu, di mana Anton baru saja berpamitan keluar. Apa yang sedang ditunggu Vita sebenarnya? Dia sendiri tidak tahu. Seperti terhipnotis, tubuhnya bergerak mengikuti tarikan tangan laki-laki itu.
"Kenapa aku ikutin dia ke sini?" gumam Vita mulai menyadari ada yang salah.
Ia berdecak, kesal dengan kelemahannya yang tak dapat menolak ajakan Anton. Vita beranjak dari sofa, berjalan mendekati pintu hendak keluar. Namun, alangkah terkejutnya ia saat pintu tersebut tiba-tiba terbuka dengan sendirinya.
Tubuh Vita termundur ketika Anton mendesaknya untuk menjauh dari pintu. Di tangan laki-laki itu menggenggam sebotol minuman, seringainya muncul teramat mengerikan. Anton menutup pintu dan menguncinya. Lalu, menyimpan kunci tersebut ke dalam saku celana.
"Kamu mau ke mana, sayang? Bersenang-senanglah malam ini. Kita habiskan malam ini dengan penuh kenikmatan," ucap Anton sambil tersenyum lembut dengan pancaran mata penuh cinta.
Vita mematung, kembali terhipnotis oleh tatapan mata Anton. Ia berpaling menghindari tatapannya. Memejamkan mata, menahan gejolak yang merayunya untuk mengikuti alur.
Tanpa sadar, Anton telah berdiri di hadapannya. Menyimpan botol tersebut di atas nakas, dan membelai lembut rambut Vita.
"Kita akan menikah. Aku berjanji akan menikahi kamu, Vita. Besok aku akan ke rumah orang tua kamu buat melamar." Rayuan Anton yang terdengar lirih, cukup menggelitik telinga Vita hingga membuat darahnya berdesir hebat.
Vita menggigit bibir menahan desis yang hampir saja keluar dari mulut ketika hidung Anton menyentuh ceruk lehernya. Kedua tangan Vita meremas ujung gaun yang dia kenakan malam itu. Ingin menolak, tapi hati menginginkannya.
Untuk kedua kalinya, bibir mereka bertemu dalam pagutan mesra penuh cinta. Anton melakukannya dengan lembut, sembari menjamah setiap bagian tubuh wanita itu.
Pagutan mereka terlepas, keduanya saling memburu udara dengan rakus. Dada Vita yang kembang-kempis, semakin membuat Anton menggila sehingga tak dapat menahan dirinya lagi.
__ADS_1
Disambarnya tubuh Vita dijatuhkannya ke atas sofa. Permainan Anton mulai terasa liar, membuat Vita kesulitan untuk mengimbangi.
****
"Benar, ini mobilnya!" seru seorang laki-laki berjaket kulit hitam pada rekannya.
"Kalian berpencar, awasi setiap kepala yang ada di dalam sana. Jangan sampai membuat keributan," sahut yang lain memerintah.
Mereka berpencar, masuk ke dalam tempat karoke dan berbaur dengan para pengunjung di dalam gedung tersebut. Mata mereka tajam mengawasi, memperhatikan setiap kepala yang mereka jumpai.
Salah seorang di antara mereka bertanya tentang pemilik gedung tersebut. Ia mengeluarkan sebuah kartu identitas dari saku dalam jaket kulit yang ia kenakan. Menunjukkannya kepada sang pemilik tempat karoke bahwa mereka sedang dalam tugas.
"Kami dari kepolisian, ada seseorang yang kami cari di sini. Kami harap Anda bisa bekerjasama dengan kami," ungkap laki-laki tersebut, kemudian menyimpan kembali kartu identitasnya.
Sang pemilik tempat hiburan itu terhenyak, kedua mata membelalak. Mulut terbuka, tapi napasnya tertahan di tenggorokan.
"I-iya, Pak. Si-silahkan!" ucapnya terbata, seraya mengusap keringat yang bermunculan di sekitar wajah.
"Apa dia salah satu pengunjung di sini malam ini?" tanyanya sembari memperhatikan raut wajah si Pemilik yang terlihat pucat dan gelisah.
"I-iya, Pak. Di-dia a-ada di ka-kamar di lantai dua, Pak," jawab sang pemilik tempat berpeluh-peluh wajah serta punggungnya.
Ia menggerakkan jari telunjuk, memerintah setiap orang yang ikut bersamanya dalam misi. Mereka semua menyebar, memeriksa kamar demi kamar di lantai satu. Sebagian pergi ke lantai dua, di mana tersedia kamar-kamar lain sebagai ruangan khusus untuk orang-orang penting.
Dibukanya pintu tersebut satu per satu, sampai pada pintu yang paling ujung. Di dalam alunan musik menggema cukup keras. Tangan polisi tersebut menggerakkan handle pintu, sayang terkunci. Ia memberi isyarat kepada rekannya untuk mendobrak pintu tersebut.
Brak!
Pintu terbuka dengan paksa dan terbanting sangat keras. Kedua insan yang tengah dimabuk cinta itu, tersentak. Mereka tengah bergumul di atas sofa dalam keadaan nyaris tak berbusana.
"Si-siapa kalian? Kenapa kalian masuk tanpa izin?" bentak Anton dengan jantung yang bergemuruh. Kemeja yang terbuka memperlihatkan dengan jelas dadanya yang naik dan turun. Tangan laki-laki itu sibuk membernarkan resleting celana yang sudah terbuka.
__ADS_1
"Angkat tangan!" seru polisi tersebut sembari menodongkan senjata ke arah Anton.
"Saudara Anton, Anda ditangkap karena kasus perencanaan kejahatan terhadap seorang gadis yang berstatus bawahan Anda!" ujar polisi tersebut, membuat tubuh Anton bergetar hebat.
Vita yang tengah memperbaiki pakaiannya, tersentak. Ia menatap tak percaya pada Anton yang tengah mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke atas.
"Tunggu, Pak! Ini salah faham. Saya nggak melakukan apa-apa, Pak!" kilah Anton menolak ketika seorang polisi hendak memborgol tangannya.
"Anda bisa menjelaskannya di kantor nanti!" Polisi mendorong tubuh Anton untuk berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Jatuh air mata Vita, beruntung semuanya belum sempat terjadi. Ia mendekap tubuhnya sendiri menyesal. Penangkapan Anton di tempat karoke tersebut menimbulkan keributan di antara pengunjung termasuk semua rekan Vita.
"Pak Anton?" pekik mereka ketika melihat sang atasan diboyong polisi dengan kedua tangan diborgol.
"Vita? Di mana Vita? Dia ikut pak Anton tadi."
"Astaga!"
Mereka berlarian ke lantai dua mencari Vita. Memanggil-manggil nama wanita itu berharap akan cepat menemukannya.
"Vita!"
Wajah Vita terangkat mendengar suara teman-temannya. Ia terlalu malu untuk menampakkan diri di hadapan mereka. Namun, meraka tetap bisa menemukan dirinya, duduk meringkuk memeluk lutut sendiri.
"Vita! Ya Allah!" Mereka berhamburan masuk ke ruangan tersebut. Mengerubungi Vita yang tak berani mengangkat wajahnya.
"Teman-teman!" Vita menangis histeris, rekan sesama wanitanya memeluk, memberinya ketenangan.
"Pak Anton kenapa, Vit? Kenapa dia ditangkap polisi?" tanya mereka penasaran.
Vita menceritakan semuanya, membuat tubuh mereka semua menegang. Sungguh tak menduga memiliki atasan seorang penjahat.
__ADS_1
"Aku nggak nyangka. Benar-benar nggak nyangka."