
Pagi itu, Alfin melangkah dengan penuh keyakinan. Mengemudi pun tanpa ragu pergi ke rumah orang tuanya untuk memberitahu keputusan yang telah ia ambil. Secara kebetulan, semua keluarga sedang berkumpul di rumah itu.
Mobil Khadijah juga Busyro terparkir rapi di halaman, ditambah sepeda motor Alfin di belakang kendaraan besar itu. Ia turun dari motor, membuka helm, dan membenarkan letak pecinya.
Alfin menghela napas, meniti jalan untuk kehidupan baru yang akan ia rajut. Jantungnya berdegup normal, detaknya terasa begitu dalam. Teringat akan mimpinya semalam, Alfin tak ingin mengambil langkah yang salah lagi.
"Assalamu'alaikum!" sapanya pada semua orang.
"Wa'alaikumussalaam!" Semua yang ada di ruang tengah rumah menoleh serentak pada pintu utama.
Alfin melangkah, mendekati perkumpulan keluarganya. Menyalami satu per satu dari anggota keluarga, seraya duduk di samping sang kakak, Busyro.
"Dari kemarin ditunggu-tunggu, baru muncul sekarang." Busyro menepuk bahu Alfin seraya mengelusnya lembut. Ia tahu seperti apa perasaan Alfin saat ini.
"Gimana kabar kamu, Nak?" tanya Ahmad menatap putra bungsunya yang tampak sendu.
Alfin melirik Khadijah, lewat sorot mata ia bertanya tentang keadaan Naina. Khadijah menghela napas, balas menatap Alfin dengan pasti.
"Dia baik-baik aja, cuma kelelahan," ucap Khadijah.
Ahmad dan Aminah menatap putri sulung mereka dengan kerutan di dahi. Untuk kemudian mengerti apa yang dibicarakannya. Alfin menundukkan kepala sejenak, menarik udara bersiap mengatakan keputusannya.
Pandangannya jatuh pada laki-laki paling tua di perkumpulan itu.
"Alhamdulillah, Alfin baik, Bi. Cuma anak-anak Alfin yang nggak baik. Halwa selalu bertanya tentang ibunya, dan yang lain juga. Mereka semua ingin ketemu ibu mereka, Abi," tutur Alfin.
Ahmad terhenyak, sedekat itukah Naina dengan mereka semua?
Lelaki bersorban merah itu menghembuskan napas, seketika hatinya menjadi gamang. Akan tetapi, berbeda dengan Aminah. Ia bisa mengerti seperti apa perasaan gadis kecil di asrama itu. Dia masih sangat kecil dan masih sangat membutuhkan kasih sayang orang tua. Kehadiran Naina di tengah-tengah mereka, memberikan harapan baru bagi hati mereka yang tulus itu.
"Terus apa keputusan kamu? Semuanya kami serahkan kepada kamu. Kamu yang akan menjalaninya kelak." Ahmad mematri pandangan pada kedua manik Alfin yang dipenuhi tekad dan keyakinan. Tak sedikitpun terlihat keragu-raguan di sana, keputusan Alfin benar-benar sudah matang.
__ADS_1
"Alfin akan menikahi Naina secepatnya, Abi. Nggak mau lagi nunda-nunda," ucap Alfin dengan pasti.
Ahmad manggut-manggut mengerti, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menerima semua keputusan Alfin.
"Yah, apa kamu yakin? Maksud Abi, kamu udah mikirin semuanya matang-matang?" tanya Ahmad menegaskan keputusan anaknya.
Alfin menghela napas sambil memejamkan mata, meyakinkan hatinya akan apa yang sudah dia putuskan.
"Alfin yakin, Abi. Alfin sudah memikirkan semuanya dengan baik, semua resiko akan Alfin tanggung sendiri." Tegas dan penuh keyakinan, Alfin menjawab pertanyaan Ahmad.
Khadijah dan Aminah juga Amaliah tersenyum mendengar jawaban Alfin. Ahmad memandang lekat-lekat wajah sang putra bungsu, memastikan lisannya selaras dengan hatinya. Ia mendesah, menunduk beberapa saat sebelum menganggukkan kepala.
"Yah. Kalo begitu kita persiapkan semua keperluannya. Sekarang, kamu harus memberitahu gadis itu juga keluarganya," ucap Ahmad menerima keputusan Alfin dengan lapang dada.
Alfin tersenyum, hatinya merasa tenang. Segera ia akan mendatangi Naina juga paman dan bibinya untuk membicarakan masalah lamaran.
"Alhamdulillah, terima kasih, Abi. Alfin nggak akan pernah lupa dengan semua ini. Kalo gitu, Alfin permisi mau ke rumah sakit." Pemuda itu beranjak dari duduk, menyalami semua orang.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalaam!"
Naina, tunggu aku. Aku nggak akan ninggalin kamu lagi.
Hati Alfin bergumam, bahagia bukan kepalang. Bibirnya tersenyum, tak sabar ingin segera bertemu. Jantung pemuda itu menggebu saat gedung yang ia tuju sudah nampak di depan mata. Semakin lebar bibirnya tersenyum, bertambah jua taburan bunga di hatinya.
"Naina!" Lisannya bergumam lirih, memarkir motor dengan cepat.
Setengah berlari Alfin menuju gedung rumah sakit di mana sang pujaan hati telah menunggunya datang kembali. Ia bahkan menyempatkan diri membeli seikat bunga dari penjual di jalan yang dijumpainya.
Kakinya memacu dengan cepat begitu pintu lift terbuka. Masuk dan menekan tombol empat di mana ruangan Naina berada. Tepukan jemari di pahanya menandakan kegugupan hati Alfin. Ia menggigit bibir tak sabar, mencium bunga di tangan. Membayangkan senyum manis Naina kala menyambut kedatangannya.
__ADS_1
Pintu lift terbuka, dengan mengambil langkah cepat Alfin keluar dan menuju ruangan Naina. Ia berhenti beberapa jengkal dari ruangan tersebut untuk menarik napas. Mempersiapkan hatinya untuk apa yang akan ia ucapkan saat di dalam nanti.
"Sayang, kamu cepat sembuh, ya. Biar bisa cepet pulang dari sini. Bibi kesepian nggak ada kamu di rumah, nggak ada temen ngobrol soalnya," ucap seorang wanita paruh baya dengan lemah lembut.
Alfin tersenyum, masih terpaku di depan pintu ruangan Naina. Mendengarkan dengan saksama, apa yang dibicarakan wanita di dalam sana.
"Aamiin. Bibi doain aja semoga dokter berbaik hati dan nyuruh kita pulang. Aku juga udah rindu rumah, Bi. Rindu masakan Bibi. Masakan rumah sakit rasanya hambar."
Dahi pemuda itu berkerut merasa ada yang berbeda, tapi kemudian Alfin terkekeh mendengar kalimat dari gadis di dalam sana. Kepalanya menggeleng sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Aku yang akan bawa kamu pulang, Nai," lirihnya berbisik pada diri sendiri. Ia mengigit bibir tak kuasa menahan gejolak yang membuncah.
"Oya, Bi. Kenapa paman masih bekerja? Padahal, beliau itu udah tua. Kasihan lihatnya kalo harus angkat-angkat berat gitu."
Alfin terdiam, membayangkan Asep yang harus mengangkat karung semen juga batu bata dengan keadaan umurnya yang sudah tua. Tenaga pasti berkurang.
"Tenang, Nai. Kalo kita udah nikah nanti, aku yang akan nanggung kebutuhan paman sama bibi kamu. Aku nggak akan biarin mang Asep kerja lagi," lirih Alfin lagi sambil bersiap membuka pintu ruangan.
"Yah, mau gimana lagi. Emang udah kerjaannya kayak gitu. Nanti kalo udah waktunya berhenti, pasti akan berhenti juga. Udah, nggak usah mikirin kehidupan paman sama bibi. Gimana hubungan kalian? Baik-baik aja, 'kan?"
Tubuh Alfin menegang ketika pertanyaan itu pada akhirnya terlontar. Ia urung membuka pintu demi dapat mendengar jawab dari Naina.
"Nggak tahu lah, Bi. Sampe sekarang dia nggak akan nengok ke rumah sakit, telpon nggak, kirim pesan juga nggak."
Hati Alfin mencelos nyeri, terus mengucapkan kalimat meminta maaf untuk kesalahannya yang satu itu. Ia menunduk sedih, menghela napas berat. Hal yang akan ia ucapkan untuk pertama kalinya adalah meminta maaf pada gadis itu.
"Yah, yang sabar aja. Mungkin Nak Irwan lagi sibuk sama kerjaannya. Nanti juga dia pasti datang jengukin kamu."
Napas Alfin tercekat, kedua mata membelalak ketika nama pemuda lain disebut. Hatinya memanas seketika, genggaman pada gagang pintu mengerat, terasa panas bergejolak. Baru dua hari ia tak datang, Naina sudah berpindah ke lain hati.
Brak!
__ADS_1
"Siapa itu Irwan?!"