
Naina melenguh, membuka mata perlahan. Melirik jam yang menggantung di dinding. Untuk kemudian melepaskan diri dari kungkungan tangan Alfin. Ia melirik piyama yang semalam dikenakannya, meringis karena tampak berserakan di lantai.
Naina beringsut turun tanpa melepas selimut, memunguti pakaian tersebut dan mengenakannya sebelum masuk ke kamar mandi. Menyambar handuk, berjalan tertatih karena rasa perih yang masih terasa di bagian bawahnya.
Naina berdiri di depan cermin, menggosok gigi dan mencuci muka sebelum mengguyur tubuhnya dengan air. Ia menautkan alis ketika sesuatu menyita perhatian. Sebuah tanda kebiruan yang terlihat menyembul dari kerah piyama miliknya.
"Apa ini?" Tangan Naina membuka bagian bahu kiri untuk dapat melihat tanda apa yang terdapat di permukaan kulitnya.
Ia meringis, dibukanya kancing piyama untuk dapat melihat dengan jelas. Ada banyak tanda yang sama di bagian dadanya. Naina menutup kembali, termenung memikirkan hal yang bukan-bukan. Tanda itu tampak tak asing untuknya, untuk seumur hidup ia belum pernah melihat melihat tanda tersebut di leher.
"Apa aku membentur sesuatu? Ranjang? Nakas? Atau apa?" Naina bergumam, kembali menilik tanda tersebut. Kekhawatiran mulai datang, merundung hatinya.
Ia berlari keluar mendekati ranjang. Memandang ragu pada Alfin yang masih terlelap dalam buaian. Naina berjongkok di depan wajah laki-laki itu, menggigit ujung kukunya bimbang.
"Mas!" Tangan Naina mengguncang lembut tubuh Alfin, membangunkannya hanya untuk sekedar bertanya.
"Mas, bangun!" panggilnya lagi, tapi laki-laki itu masih bergeming. Mungkin terlalu lelah akibat pertempuran semalam.
Alfin melenguh sebelum membuka mata. Rasa panik langsung terlihat di wajah kuyu Alfin tatkala melihat wajah cemas sang istri. Ia duduk dengan cepat, membangunkan Naina dari berjongkok. Dadanya yang bidang tanpa tertutup sehelai benang, membuat Naina meneguk saliva dalam-dalam.
Alfin menarik tubuh sang istri untuk duduk di sampingnya.
"Kenapa? Kamu kelihatan takut begitu?" Alfin mengusap pipi Naina, mengangkat dagu wanita itu agar berhadapan dengannya.
Bola mata Alfin berputar ke kanan dan kiri, menelisik sesuatu yang terjadi pada istrinya. Naina bungkam, ketakutan yang mulai datang menimbulkan genangan di kedua sudut matanya.
"Hei! Kenapa, sayang? Apa yang mengganggu kamu?" tanya Alfin mengusap kedua pipi wanita itu.
"Mas! Apa aku ini sakit?"
Alfin berjengit, menaikkan alisnya bingung. "Maksud kamu?"
Naina membuka piyama, menunjukan tanda-tanda kebiruan di bagian leher juga dadanya.
"Biasanya tanda ini muncul kalo aku membentur sesuatu, tapi aku nggak ingat ada benturan di sini," katanya membiarkan Alfin melihat bagian tubuh atas tersebut.
Laki-laki itu meneguk ludah, yang menggantung di sana membuatnya mabuk kepayang semalaman. Dia ingin mereguknya lagi, menyentuhnya, serta menelusupkan wajah padanya.
__ADS_1
"Mas! Kok, malah ngelamun?" tegur Naina membuat Alfin salah tingkah.
"Sebelumnya, waktu aku tidur sendiri tanda ini nggak pernah ada. Baru pagi ini aku lihat, mana banyak lagi," keluhnya sambil menatap dada sendiri.
Alfin kembali meneguk ludah, kemudian tertawa gemas.
"Mas! Kenapa kamu malah ketawa?" Naina menutup bagian dadanya, memukul dada Alfin yang tak terhalang apapun.
"Mulai sekarang tanda itu akan selalu ada. Nggak akan pernah hilang dari tubuh kamu," ujar Alfin membuat Naina membelalak.
"Kenapa? Terus gimana kalo mamah sama papah lihat? Apa aku kasih tahu mereka aja, ya. Mungkin mereka tahu ini apa?" ucap Naina tanpa melihat ekspresi Alfin yang memucat.
"Jangan, sayang!" Alfin meraih tangan Naina dan menggenggamnya, "nggak usah kasih siapapun. Aku tahu itu kenapa? Mau aku tunjukkan bagaimana tanda itu tercipta?"
Naina mengangguk polos, membiarkan Alfin membuka piyamanya dan meraba bagian tersebut.
"Eh, kamu mau apa?" Naina menjauh tatkala Alfin mendekatkan bibirnya di sana.
Laki-laki itu mendengus, menatap sendu pada sang istri.
"Katanya mau tahu gimana munculnya tanda itu. Diem dulu, aku tunjukkan caranya," ucap Alfin mendongak pada istrinya.
Darah Naina berdesir, ia mengigit bibir menahan lenguhan yang nyaris menguar darinya. Tangan wanita itu mencengkram erat bahu Alfin, rasa aneh terus menjalar di seluruh urat tubuhnya.
Alfin menjauhkan kepala dan tanda baru terbentuk di sana. Ia mengecup bibir Naina yang masih memejamkan mata.
"Kenapa kamu menggigit kulitku?" Naina memukul manja bahu suaminya. Alfin terkekeh puas.
"Aku bukan menggigit, Humairah. Aku membuat tanda baru di sana. Lihat, jangan menunjukkan tanda itu pada siapapun. Dia akan hilang dengan sendirinya," ujar Alfin sembari mengusap permukaan kulit Naina menunjukkan pada wanita itu hasil karyanya yang indah.
"Oh, jadi ini bukan penyakit?" tanya Naina polos.
Alfin terkekeh, menarik kepala Naina dan membenamkannya di dada dengan gemas.
"Itu penyakit, penyakit candu untuk aku." Alfin menjatuhkan diri bersama sang istri yang berada di atas tubuhnya.
"Kamu mau lagi, Mas? Masih perih." Naina meringis, memandang Alfin sambil bertumpu pada kedua tangan.
__ADS_1
Laki-laki itu tersenyum, menangkup wajah sang istri dengan kedua tangan. Menyibak rambutnya ke belakang kepala, memagut bibir ranum milik Naina. Singkat saja karena kata-kata perih yang diucapkan Naina berdengung hebat di telinganya.
"Mandi?"
Naina mengangguk pelan. Alfin beranjak duduk dengan Naina yang berada di pangkuan. Kedua tangan wanita itu melingkar di leher suaminya, sementara milik Alfin, merayap menjamah tubuhnya. Menyibak piyama yang tak dikaitkan, membenamkan kepala di antara kedua benda tersebut.
Rasa hangat menyentuh relung kalbu keduanya, mengumpulkan rasa cinta yang kian tumbuh subur. Naina menunduk, mengecup kepala Alfin dengan mesra. Mengusap-usap rambutnya, mendekap erat kepala laki-laki itu.
"Kayaknya aku nggak mau kerja dulu hari ini. Aku mau seharian sama kamu, sayang. Kita di rumah aja, ya," pinta Alfin dengan suaranya yang parau. Sang renjana kembali hadir membakar gejolak rasa dalam jiwa.
"Itu terserah kamu, Mas, tapi gimana sama anak-anak? Kasihan mereka nggak ada yang ngurusin." Naina menjatuhkan dagu di atas kepala suaminya. Membayangkan wajah-wajah polos mereka yang mengharapkan kasih dan sayang.
"Mmm ... kamu bener." Alfin mengangkat kepala tanpa menjauhkannya dari dada Naina.
"Nginep di hotel, yuk?" ajaknya.
Naina mengangkat sebelah alisnya. "Buat apa? Tidur di rumah emangnya kenapa? 'Kan, nggak apa-apa," sahutnya merasa konyol dengan permintaan suaminya.
Alfin tak mengalihkan pandangan, menciptakan rona merah di pipi Naina. Dia salah tingkah.
"Jangan lihatin aku kayak gitu. Malu tahu." Naina menutup kedua mata Alfin menolak untuk ditatap.
Laki-laki itu terkekeh, kembali membenamkan kepala di tempat nyaman tersebut. Sesekali menyesapnya, menggigit lembut dan memainkannya.
"Nanti malam kita nginep di hotel." Alfin menegaskan.
Naina menghela napas pasrah, terserah pada laki-laki itu.
"Ayo, mandi. Sebentar lagi subuh."
"Lagi?"
"Masih perih."
"Nggak akan. Aku pelan-pelan aja."
"Janji?"
__ADS_1
"Janji."