
Jika dunia adalah gambaran kebahagiaan, tak akan kita menangis sewaktu dilahirkan.
****
Adrian memasuki kantor polisi dengan tergesa, tak lagi berbasa-basi ia mendatangi ruangan tim penyidik dan langsung memberikan uang jaminan untuk kebebasan Naina.
"Kami mohon maaf, Pak. Semua ini karena desakan dari putri Anda sendiri. Kami nggak bisa melakukan apa-apa waktu dia memaksa," ujar ketua tim penyidik penuh sesal pada Adrian.
Laki-laki itu menghela napas, dia mengerti. Terkadang cinta memang rumit dan sulit untuk dimengerti. Seperti yang dilakukan Naina, dia rela mengorbankan kebebasannya untuk laki-laki yang dicintai.
"Saya mengerti. Cinta mereka begitu besar, tapi ujian yang harus mereka hadapi juga lebih besar." Adrian mengulas senyum penuh arti, teringat pada kisah cintanya yang kandas bersama Lita.
"Anda benar, Pak. Mereka orang-orang pilihan, orang-orang yang kuat dalam menghadapi ujian." Sahutan dari ketua tim penyidik itu membuat Adrian terkenang masa lalu.
Masa di mana Habsoh harus menerima semua dosa yang ia lakukan. Tahun terburuk untuk rumah tangganya. Ujian terberat untuk hati mereka, untuk cinta dan ketulusan Adrian menerima wanita itu setelah semua yang terjadi.
Ia tersenyum getir, sumber dari kekacauan ini adalah dirinya yang tak dapat menahan hawa nafsu.
"Saya permisi." Ia beranjak dan keluar menuju ruangan Naina bersama Bas.
Adrian menghela napas usai tangan polisi muda itu mempersilahkan dirinya untuk masuk. Ia membuka pintu dengan hati-hati, menatap miris anaknya yang duduk di sudut ruangan dengan kedua bahu terguncang.
Adrian menggelengkan kepala, melangkah pelan mendekati sosok menyedihkan itu. Sesosok tubuh yang ringkih, tapi harus kuat menerima beban ujian dalam perjalanan hidupnya. Ia mengepalkan tangan, menggigit bibir menahan tangis yang menguar. Bergetar seluruh tubuh, bergetar pula hatinya.
"Sayang!" panggilnya pelan dan lirih.
Mendengar suara berat dan menenangkan itu, bahu Naina berhenti berguncang. Dengan cepat kepalanya menoleh, jatuh air mata melihat sosok laki-laki itu di sana.
"Papah!" adunya seraya beranjak dari lantai dan berhambur memeluk Adrian. "Papah!" Tangis Naina semakin menjadi dalam pelukan hangatnya. Pelukan yang tak akan pernah memberikan luka.
"Papah!" Hanya itu yang mampu ia ucapkan melalui lisan, padahal banyak yang ingin diluapkannya kepada Adrian. Namun, tak mampu, lisannya terlalu kelu untuk mengungkap semuanya.
__ADS_1
"Sstt!" Adrian mengusap kepala Naina hingga ke punggungnya. Mengecup ubun-ubun gadis itu sambil berderai air mata.
Beberapa menit lamanya, mereka hanya saling berpelukan berbagi rasa sakit dan kecewa yang mendera jiwa masing-masing. Pelukan yang ia rindukan dari sosok seorang ibu, digantikan oleh sosok Adrian.
"Kenapa? Kenapa kamu sampai begini, sayang? Kamu punya Papah, kamu punya mamah Habsoh. Seharusnya kamu datang sama Papah dan Mamah, ceritakan semuanya. Supaya kita bisa mencari solusi bersama-sama. Jangan mengambil tindakan yang kamu sendiri nggak tahu kebaikannya untuk siapa," ucap Adrian sambil menahan getar di lisannya.
Naina tak mampu menjawab, hanya menangis yang dapat ia lakukan. Dalam dekapan hangat laki-laki itu, ia temukan kedamaian, ketenangan, juga rasa aman dan terlindungi.
Naina melepas pelukan, tapi membiarkan kedua tangannya melingkar di tubuh tegap laki-laki itu. Ia mendongak, menatap lekat manik hitam milik Adrian.
"Dari mana Papah tahu kalo Nai di sini?" tanyanya berlomba dengan sedu-sedan yang masih ingin keluar.
Adrian mengusap kepala gadis itu, menghela napas menahan getir di dada. Kenapa harus Naina yang menanggung semua beban itu?
"Papah datang ke rumah sakit mau jemput kamu, tapi kata mereka kamu udah pulang. Di sana Papah lihat Alfin, dan nggak sengaja denger kalo kamu menggantikan dia di sini. Kenapa, Naina? Kenapa, sayang?" Adrian mengusap pipi anaknya dengan lembut. Sekeras apapun dia menghapus kesedihan, air mata Naina tetap jatuh berderai.
Gadis itu membungkam mulutnya sendiri, bibirnya gemetar hebat. Ingin dia bicara, tapi tak mampu. Naina kembali menghambur ke dalam pelukan Adrian, menelusupkan kesedihan pada kehangatan sentuhan laki-laki itu.
"Nggak apa-apa, nggak apa-apa. Udah, jangan nangis. Papah nggak akan maksa kamu buat bicara." Adrian menjauhkan kepala gadis itu lagi, mengusap kedua pipinya yang basah.
Ia tersenyum, memberi ketenangan pada hati rapuh Naina. Mata mereka saling menatap satu sama lain, saling menghantarkan kekuatan pada jiwa masing-masing.
"Sekarang, kita pulang. Polisi setuju menerima uang jaminan dari Papah. Mamah dari tadi terus telpon Papah, dia cemas sama kamu." Adrian kembali mengusap wajah Naina, wajah yang selalu mengingatkannya pada cinta yang hilang.
Naina menganggukkan kepala, dia lupa saat ini telah memiliki keluarga. Sebuah keluarga yang utuh meskipun bukan kandung. Mereka menyayanginya seperti anak sendiri, bahkan wanita di rumah itu, selalu memperhatikan setiap kebutuhannya.
Dengan dirangkul Adrian, keduanya meninggalkan ruangan berjalan melewati jeruji-jeruji besi lainnya. Anton yang tengah meratapi nasib kini, mendongak dan tanpa sengaja melihat Adrian, sang atasan.
Terbersit harapan, kedua matanya menatap berbinar-binar. Tertatih ia berdiri dan memegangi jeruji besi.
"Pak! Pak Adrian! Ini saya, Pak. Anton. Tolong saya, Pak! Saya difitnah," seru Anton memanggil Adrian yang baru saja melalui depan selnya.
__ADS_1
Langkah kaki mereka terhenti, kesedihan Naina berubah menjadi api amarah yang berkobar-kobar. Sembari menghela napas panjang, Adrian berbalik menghadap Anton. Sementara Naina, enggan berpaling ke arahnya.
"Pak! Tolong saya, Pak! Ada yang memfitnah saya, Pak. Saya di sini cuma jadi kambing hitam, saya nggak tahu apa-apa, Pak. Tolong saya, Pak!" rengek Anton, berderai air mata buayanya dengan deras.
Adrian berpura-pura terkejut melihat bawahannya. Ia melangkah pelan menghampiri, menelisik penampilan Anton yang sudah mengenakan pakaian tahanan.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" Adrian berpura-pura.
"Saya juga nggak tahu, Pak. Saya cuma difitnah di sini, Pak. Tolong saya. Cuma Bapak yang bisa nolong saya," pinta Anton lagi sembari menangkupkan kedua tangan di luar jeruji.
Adrian bergeming, padahal hatinya tengah bergejolak. Jika hukum negara membolehkan bermain hakim sendiri, ingin rasanya ia patah seluruh tulang dalam tubuh laki-laki bajingan itu. Adrian tersenyum, sebuah senyum yang menggetarkan hati Anton.
"Sayang, apa kita perlu membebaskan mantan atasan kamu ini?" tanya Adrian tanpa menoleh ke belakang tubuhnya.
Anton menganga, mencoba mencari tahu pada siapa Adrian bertanya. Kedua matanya menjegil, terkejut bukan main. Sekelip mata saja, wajah Anton berubah pucat pasi.
"Biarkan dia membusuk di dalam sana, Papah. Aku nggak mau ada korban lainnya. Cukup aku," tegas Naina seraya memalingkan wajah pada Anton.
Kilatan mata Naina begitu tajam, meruntuhkan keangkuhan seorang Anton. Bergetar tubuh laki-laki itu, secara reflek ia termundur menjauhi jeruji. Adrian meradang, mencekal tangan Anton yang belum sempat ditariknya ke dalam. Ia meronta, tapi percuma.
"Kamu tahu siapa gadis yang kamu permainkan? Dia anakku! Dengar sekali lagi, dia anakku. Apa kamu pikir aku akan membebaskan kamu begitu saja setelah apa yang kamu lakukan padanya?" Adrian menggelengkan kepala sembari mencibirnya.
"Nggak akan! Bahkan yang aku inginkan, selamanya kamu membusuk di dalam sini. Nikmati hukuman kamu!" Adrian menghempaskan tangan Anton hingga membentur jeruji besi.
Ia melengos, merangkul bahu Naina dan pergi dengan perasaan puas. Puas melihat wajah pias Anton. Laki-laki itu jatuh di lantai, jantungnya berdegup kencang, terasa sakit meronta-ronta.
"Nggak mungkin! Nggak mungkin!" Ingin tak percaya, tapi itulah kenyataannya.
Adrian membawa Naina ke parkiran, tapi sebuah seruan menghentikan gerakan tangannya yang hendak membuka pintu mobil.
"Tolong jangan bawa Naina!"
__ADS_1