Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 73


__ADS_3

"Halwa! Berhenti di sana!" teriak Naina ketika melihat sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi.


Gadis kecil itu terus berlari tak peduli apa yang akan terjadi di depannya. Naina panik, plastik makanan yang dibawanya ia lempar dan berlari untuk menyelamatkan Halwa.


TIIN!


Bunyi klakson truk yang menggema beriringan dengan suara decitan rem yang diinjak dengan paksa, membuat Naina semakin dilanda kepanikan.


"Halwa! Jangan berlari!"


"Ibu!"


Gadis kecil itu tersenyum ketika Naina ikut berlari ke arahnya. Namun, truk yang tak dapat berhenti secara mendadak, terus membelah keduanya. Benda besar itu berhenti di antara Naina dan Halwa.


"HALWA!" Naina menjerit, air matanya tumpah ruah tak dapat ia tahan.


"HALWA!" Semua anak-anak di masjid turut berteriak, ketika bus melindas ....


"Kamu nggak apa-apa?"


Halwa menggelengkan kepala, tapi ia segera menoleh ke arah Naina. Badan besar truk amat menghalangi, ia berniat menghampiri ibunya.


"Kamu mau ke mana?" sergah seseorang yang menolongnya.


"Ibu. Ibu ada di sana, Halwa mau ke ibu," jawabnya dengan lirih.


"Ibu?" Kening laki-laki yang tak lain adalah Bas itu mengernyit mendengar Halwa menyebut kata ibu.


"Iya, Ibu. Halwa mau ke Ibu," katanya lagi tak sabar.


"Halwa!"


"Halwa!"


Naina tiba di balik badan truk bersamaan dengan anak-anak di masjid.


"Ibu!" Gadis kecil itu berlari dan memeluk Naina.


Luruh tubuh Naina, seluruh ototnya terasa lemas tak bertenaga. Ia menangis sambil mendekap erat tubuh Halwa. Jantungnya yang berdegup-degup dan membuat sesak, membuat tangis Naina terdengar histeris dan pilu.


Ke semua anak-anak Alfin, menatap haru pertemuan itu. Mereka saling berpelukan, teringin juga memeluk dan dipeluk Naina. Bas tersenyum, merasa lega karena gadis kecil Alfin dapat ia selamatkan tepat waktu. Jika tidak, apa yang akan ia katakan kepada ayahnya itu?


"Ibu!" panggil semua anak-anak penuh kerinduan.


Naina masih menangis, tak dapat menahan histeris di hatinya. Ia mengangkat wajah dengan air mata berderai. Sesak semakin merebak melihat semua anak-anak itu. Lidahnya kelu, hanya dapat membentang kedua tangan sebagai isyarat untuk mereka mendekat dan memeluknya.


"Ibu!"

__ADS_1


Tangis keharuan tak terbendung, ada banyak mata menyaksikan kejadian tersebut. Sungguh, mereka ikut terhanyut dalam pertemuan itu.


Bas berpikir, sembari menatap lekat-lekat wajah Naina.


Apa dia gadis yang dimaksud Alfin? Aku lupa bertanya namanya.


Dia bergumam dalam hati, menggigit bibirnya sendiri. Berpikir dalam-dalam tentang gadis yang mereka panggil ibu.


"Ibu, jangan nangis kayak gini. Halwa udah nggak apa-apa," ucap salah satu anak sambil mengusap air mata Naina, tapi tangis gadis itu tak jua berhenti. Justru semakin menjadi hingga membuat tubuhnya lemas dan lunglai.


"Astaghfirullah al-'adhiim!" Ustad Hasan yang kebetulan ada di sana, mengusap dada melihat Naina yang histeris. Dibantu polisi itu, mereka meninggalkan pinggir jalan dan duduk di teras masjid.


Istri Adrian yang merasa cemas, segera masuk ke dalam toko memberitahu suaminya.


"Pah, Naina ...."


"Kenapa?" Adrian bangkit, dan tanpa bertanya-tanya segera keluar dari toko.


"Apa yang terjadi?" tanyanya pada sang istri.


"Tadi ada anak kecil yang mau nyebrang sambil manggil-manggil Ibu. Terus Naina mau menolongnya, tapi kayaknya nggak apa-apa, sih." Keduanya menatap kerumunan di masjid, tak ada yang terjadi dan Naina terlihat baik-baik saja.


"Siapa anak-anak itu?" tanya Adrian.


"Mamah nggak tahu, tadi Naina pamit mau ketemu sama mereka," jawab sang istri.


Di teras itu, Naina dikelilingi semua anak-anak. Di pangkuannya, duduk Halwa sambil menyandarkan kepala di pundak Naina. Mereka tersenyum, binar-binar bahagia bermunculan di semua manik kecil itu.


Kecuali Bas, menatap lekat-lekat wajah Naina memastikan tebakannya. Merasa semua baik-baik saja, Adrian dan istrinya kembali ke toko memberikan waktu untuk Naina berkumpul bersama anak-anak itu.


"Ibu. Ibu ke mana aja? Halwa kangen sama Ibu," tanya gadis kecil itu membenamkan wajahnya pada dada Naina.


"Bukan cuma Halwa, kita juga kangen sama Ibu," sahut yang lain disambut sorakan semua anak.


Naina tersenyum, mengusap wajah beberapa anak penuh kerinduan. Ia pun sama rindunya seperti anak-anak itu.


"Ibu juga kangen sama kalian. Gimana? Kalian baik-baik aja, 'kan? Maafin Ibu, ya, karena beberapa hari nggak nengokin kalian," ucap Naina. Bibirnya tersenyum, tapi kedua mata berair.


"Nggak apa-apa, Bu, tapi bukan cuma kita yang kangen, ayah juga. Katanya ayah pergi mencari Ibu sampe sekarang belum pulang," ucap salah satu anak, mendesah cukup berat.


Naina mengangkat wajah, senyumnya surut dari bibir. Selama dua hari dia menunggu di rumah sakit, tapi laki-laki itu tak pernah datang lagi setelah berjanji tak akan meninggalkannya.


"Memangnya ayah pergi ke mana?" tanya Naina penasaran.


"Kami nggak tahu, Bu. Ayah bilang katanya mau ajak kami buat jenguk Ibu di rumah sakit, tapi nggak pulang-pulang sampe sekarang," keluh mereka, semua wajah itu tampak sendu terlihat.


Naina tidak mengerti ke mana Alfin pergi. Mungkin saja dia ingin menjauh darinya karena prasangka yang tertanam di hati pemuda itu.

__ADS_1


Kalo kamu nggak mau lihat aku lagi, setidaknya jangan tinggalin anak-anak kamu, Alfin. Mereka nggak salah, kamu malah menjadikan mereka korban dari perasaan kamu itu.


Naina tersenyum miris, merasa kasihan terhadap anak-anak yang ditinggal pergi oleh Alfin. Begitu isi pemikiran Naina.


Bas semakin mengerti setelah memperhatikan mereka dengan saksama. Gadis itu memanglah gadis yang dimaksud Alfin.


Kayaknya dia nggak tahu kalo Alfin di penjara. Aku harus berbicara sama dia. Dia harus tahu bahwa laki-laki yang membela kehormatannya kini membutuhkan bantuan.


"Ibu udah lama keluar dari rumah sakit, sekarang Ibu udah sehat," ucap Naina sambil tersenyum.


Rasanya sudah tak ingin lagi mengingat-ingat laki-laki itu. Dia akan meniti kehidupannya yang baru, bersama keluarga baru.


"Kami kira Ibu sama ayah udah nggak peduli lagi sama kita. Kalo Ibu sama ayah nggak peduli lagi, kita nanti sama siapa? Kita cuma punya Ibu sama ayah aja," ungkap mereka dengan perasaan yang sedih.


Naina menggelengkan kepala, semua yang mereka katakan tidaklah benar.


"Itu nggak bener, sayang. Ibu akan tetap peduli sama kalian sampai kapanpun. Kalo Ibu nggak datang jenguk kalian, itu artinya Ibu ada pekerjaan yang harus dilakukan. Kalian mengerti, ya." Naina menatap mereka satu per satu memastikan bahwa semua anak itu mengerti apa yang dia ucapkan.


"Oya, tadi Ibu beli makanan, tapi semuanya jatuh di sana karena Ibu panik tadi." Naina teringat pada belanjaannya yang ia jatuhkan secara sembarang.


"Yah, semuanya berantakan, Bu." Seorang anak yang berlari ke tepi jalan, melaporkan barang belanjaannya.


"Biar aku ambilkan," sergah Bas ketika Naina hendak beranjak.


Laki-laki itu pergi untuk memunguti belanjaan Naina, dan membawanya pada mereka.


"Dia siapa?" tanya Naina pada anak-anak itu.


"Dia Paman Bas, teman ayah. Sejak ayah pergi, Paman Bas yang selalu datang menjenguk kami."


Naina mencibir dalam hati, begitu piciknya pikiran Alfin. Dia menyerahkan tanggung jawab kepada orang lain, sedangkan dia sendiri pergi menghilang.


"Ini!" Bas memberikan belanjaan kepada Naina, tapi diterima anak-anak itu.


"Makasih," tutur Naina sopan.


Mereka duduk berdampingan dengan jarak yang terbentang. Memperhatikan semua anak-anak yang asik memakan camilan. Bas tersenyum, sudah beberapa hari dia tidak melihat senyum-senyum itu di wajah mereka. Dan hari itu, semua anak terlihat bahagia.


"Mmm ... maaf, aku ... apa kamu-"


"Sayang! Udah selesai belum?" Panggilan seorang laki-laki menghentikan ucapan Bas.


"Ah, maaf. Saya harus pergi, lain kali kita ngobrol lagi," ucap Naina seraya beranjak.


"Bentar!" Naina menyahut sambil mendekati semua anak-anak dan berpamitan kepada semuanya.


"Mmm ... hei, Alfin membutuhkan bantuan," ucap Bas terburu-buru.

__ADS_1


"Dia bisa membantu dirinya sendiri." Naina pergi tanpa ingin tahu urusan Alfin.


__ADS_2