Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 56


__ADS_3

"Naina!" pekik Alfin ketika melihat sebuah sepeda motor terguling di jalan.


Ia memacu kedua kaki untuk segera memeriksa motor tersebut. Jantungnya semakin berdegup, hingga membuat dada terasa sesak dan sakit.


"Naina!" panggilnya lagi, tapi tak ada sahutan.


Hujan masih turun mengguyur, Alfin mengambil tas milik Naina dan memeriksa isinya. Semuanya masih utuh, tak ada yang hilang. Ia membangunkan sepeda motor tersebut dan menuntunnya ke tepi, menyatukan dengan motor miliknya.


"Ini punya Naina, tapi di mana dia sekarang. Ya Allah!" Alfin bergumam sembari melilau ke sekitar.


Tak ada siapapun di jalanan tersebut, hanya suara hujan yang turun dengan cukup deras yang terdengar. Alfin menaruh tas Naina ke dalam jok, dia kembali berjalan menerobos hujan mencari gadis tersebut.


"Naina!" teriak Alfin memanggil namanya.


Hening. Tak ada sahutan yang terdengar. Ia terus melangkah sambil melihat ke segala arah. Berharap menemukan petunjuk yang menuntunnya pada sang pujaan hati.


"Naina!" Suaranya lebih ditinggikan, tapi masih tak ada sahutan.


"Ya Allah! Tuntun hamba untuk menemukannya, ya Allah," mohon Alfin terus berjalan menembus hujan.


Sementara Naina, masih bersembunyi di dalam sebuah tong sampah. Ia menahan napas karena bau tak sedap yang menusuk hidung. Ditambah genangan air di dalam yang mengubur setengah kakinya.


Ia membelalak ketika samar-samar mendengar suara Alfin. Ingin menyahut, tapi kedua penjahat itu akan tahu keberadaannya.


"Sial! Di mana gadis sialan itu? Kenapa perginya cepat banget?" Suara itu membuat Naina membekap mulutnya sendiri.


"Aku yakin dia masih di sekitar sini, nggak mungkin dia pergi jauh." Yang lain menimpali semakin meluruhkan air mata gadis itu.


Naina menangis tanpa suara, meringis sambil terpejam saat merasakan denyutan di kepalanya. Naina meremas kepalanya sendiri, menekannya untuk mengurangi rasa sakit yang hadir.


Ya Allah, Alfin. Aku di sini, tolong aku! batin Naina menangis pilu. Ia mengumpat di dalam hati karena kedua penjahat itu tidak kunjung meninggalkannya.


Di jalan, Alfin masih mencari sambil berteriak memanggil nama Naina. Setiap gang dikelilinginya perumahan tersebut, setiap tempat yang menghalangi digulingkan, setiap apa yang menutupi disibak, tempat-tempat berpotensi untuk dijadikan tempat sembunyi.


Namun, Naina tak kunjung ia temukan. Alfin bertolak pinggang, memutar pandangan memastikan tak ada tempat yang dilewatinya.


"Ya Allah!" geramnya menjambak rambut sendiri.


Alfin melanjutkan pencarian menyusuri jalanan komplek yang tak begitu besar itu.


"Naina! Di mana kamu?" Suaranya menggema dalam hujan, redam karena gemericik airnya yang menjatuhi bumi.


Naina yang berada di dalam tong sampah, hampir kehabisan udara untuk mengisi paru-paru. Wajahnya semakin pucat, udara kian menipis, dada sesak dan nyeri. Namun, ia tak dapat meninggalkan tempat itu. Di sanalah satu-satunya tempat yang aman untuk saat ini.


Ya Allah!


Naina memejamkan mata geram, ingin berdiri dan menjawab panggilan Alfin, ia tak mampu membawa diri berlari karena kedua lutut terasa lemas tak bertenaga.

__ADS_1


Sampai tiba-tiba penutup tong tersebut terbuka, Naina mendongak dengan cepat. Kedua matanya seketika melotot, air mata kembali jatuh dengan sangat deras.


"Ini dia! Rupanya di sini kamu, ya," katanya seraya mengulurkan tangan ke dalam tong meraih tangan Naina.


"Nggak! Tolong, jangan! Jangan lakukan itu sama aku. Aku mohon. Aku mohon!" pinta Naina dengan kedua tangan menangkup di dada.


Namun, kedua laki-laki yang tak sadar karena pengaruh minuman keras itu, tak menggubris permohonan Naina. Mereka menarik tubuh kecil itu keluar dari tong, menyeretnya ke sebuah tempat.


"Tolong!" Naina menjerit keras.


"Alfin! Tolong a ... mph ...." Salah satu penjahat membekap mulut Naina.


"Diam!" katanya menekan semakin kuat tangannya.


Sakit dan perih, kepalanya semakin berdenyut. Mereka terus menyeret Naina meninggalkan gang tersebut.


Suara teriakan Naina yang terbawa angin, samar tertangkap telinga Alfin. Tubuh pemuda itu menegang, telinganya awas mendengar. Matanya menatap dengan tajam, merasakan keberadaan gadis itu.


"Naina!" Suara Alfin memantul, hujan tak lagi lebat. Menyisakan gerimis yang tak tahu kapan akan reda.


Alfin berbalik arah, tanpa sadar ia berjalan menjauh dari posisi keberadaan Naina. Berlari sekuat mungkin, mengikuti arah angin yang seolah-olah menuntunnya.


"Tolong!"


"JANGAN!"


"ALFIN, TOLONG AKU!" Suara teriakan Naina semakin samar terdengar.


Gadis itu melemah, tak memiliki tenaga. Menyusul suara tawa menggelegak, juga tangis yang lirih menguar.


Alfin tiba di tempat, dan menyaksikan hal yang tak pernah ingin dia lihat.


"BIADAB!" geramnya mengepalkan kedua tangan dengan kuat.


Tawa mereka berhenti, keduanya beranjak dari atas tubuh Naina yang tak berdaya. Gadis itu tersenyum, menangis kemudian.


"Naina?" Air mata Alfin jatuh melihat kondisi Naina.


Ia mengambil balok kayu, menggenggamnya erat. Berjalan penuh emosi, sudah tak terkendali lagi. Kedua penjahat di sana mematung, kemudian mencibir Alfin. Mereka tak takut apapun, justru tertawa terbahak-bahak.


Alfin berlari melompat sambil mengayunkan balok kayu tersebut menghantam kepala si Pelaku. Dia terhuyung, jatuh terjungkal ke belakang, darah merembes dari kepalanya. Lalu, terkapar tak sadarkan diri. Aksi Alfin yang tidak main-main, membuat waspada penjahat lainnya. Dia bersiap menerima serangan, tak ingin berakhir seperti temannya.


Baku hantam pun tak terelakkan lagi, Alfin menyerang secara membabi-buta tak terkendali. Naina yang melihat, menangis tak berdaya. Menggelengkan kepala ingin mencegah Alfin agar tidak melampaui batas.


"Alfin!" lirihnya pelan nyaris tanpa suara.


Ia menatap Alfin dengan pandangan yang semakin memburam. Pemuda itu berhasil mengalahkan penjahat terakhir. Ia berdiri di atas tubuhnya yang terbaring di tanah. Dadanya naik dan turun seiring udara yang ia buru.

__ADS_1


"A-ampun! To-tolong jangan bunuh saya!" mohonnya merapatkan kedua tangan di dada.


Naina meringis, menangis mengingat mereka pun tak mendengar permohonannya. Ia berpaling muka tak ingin melihat Alfin yang murka.


"Aku nggak sudi memaafkan perbuatan kalian. Aku nggak sudi! AKU NGGAK SUDI!"


"AARRGGH!"


Alfin mengangkat tinggi-tinggi balok kayu tersebut, mengayunkannya ke arah kepala penjahat itu. Lalu ....


BAM!


Crash!


"ALFIN, JANGAN!" teriak Naina terlambat.


Balok kayu di tangan Alfin sudah menghantam kepala si Penjahat, darah merembes terbawa air hujan. Balok kayu yang patah sepadan dengan hancurnya tengkorak laki-laki itu hingga isi kepalanya berhamburan keluar.


Alfin memburu udara, menatap tanpa penyesalan pada jasad di bawah kakinya. Naina mencoba menggerakkan tubuh, mendekati Alfin yang masih menginjak laki-laki itu. Ia memegang balok kayu tersebut, mendongak dengan pandangan yang semakin mengabur.


"Al-"


Naina ambruk, jatuh tak sadarkan diri.


"Naina!" Alfin beranjak, membuang balok kayu di tangan dengan cepat. Ia berjongkok di dekat tubuh calon isterinya, membuka sarung untuk membalut tubuh Naina. Pemuda itu mendekapnya dalam tangis penyesalan.


"Naina! Naina! Buka mata kamu, Naina! Naina!" Alfin menepuk-nepuk pipi gadis itu, tapi ia tak kunjung terbangun.


"Maafin aku, Naina. Maafin aku," ucap Alfin mendekap erat tubuh lunglai Naina. Ia menangis, menyesali keterlambatannya datang.


"Maafin aku, NAINA!" Alfin menjerit kuat, mengusik ketenangan malam.


Kepalanya berputar mencari kain kerudung milikinya. Ia meremas kain tersebut, memakaikannya dengan tangan bergetar. Hujan yang telah reda tak lagi meredam teriakan Alfin. Beberapa warga mulai keluar untuk dapat melihat apa yang telah terjadi.


Alfin tidak peduli, ia mengangkat tubuh Naina. Membawanya menjauh dari tempat terkutuk itu menuju motornya. Pandangannya kosong dan hampa, berjalan tanpa harapan. Beberapa warga bahkan menegurnya, tapi Alfin tak peduli.


"Alfin!" panggil suara pemilik butik yang datang ke lokasi karena mencemaskan Naina.


Alfin tidak menyahut, terus berjalan bagai sebuah robot yang dikendalikan. Tidak memiliki ekspresi, datar dan dingin.


"Cepat bawa ke mobil saya! Maafkan saya, semua ini salah saya," ucapnya menyesal.


Tanpa menyahut, Alfin masuk ke dalam mobil pemilik butik. Membawa Naina ke rumah sakit. Ia mendekap tubuh itu di sepanjang perjalanan sambil menangis. Bibirnya tak henti meracau meminta maaf atas semua yang terjadi.


****


Hayo, jangan salah faham dulu. Nanti nyesel nggak lanjut baca. Kita lanjut bagian dua dari novel ini, ya. Terima kasih sudah sabar menunggu mereka halal.

__ADS_1


__ADS_2