Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 84


__ADS_3

"Pak! Tolong, Pak. Saya nggak bersalah, saya nggak tahu apa-apa soal gadis itu. Gadis siapa? Saya nggak tahu, Pak!" Anton terus berkilah di sepanjang perjalanan menuju kantor polisi.


Namun, tak satu pun dari polisi yang membawanya, menanggapi ocehan Anton. Mereka memilih tetap bungkam seolah-olah mendengar semua ocehannya.


"PAK!"


"CUKUP! Anda bisa melihat bukti itu sendiri nanti. Sekarang, diam atau hukuman Anda akan aku tambah," bentak sang komandan polisi jengah mendengar ocehan Anton yang tiada hentinya.


Laki-laki beranak satu itu, terus diam tak lagi mengoceh.


Sial! Ini pasti gara-gara perempuan itu ... dasar perempuan nggak tahu diri. Awas aja kamu, aku nggak akan pernah biarin hidup kamu tenang.


Hati Anton menggeram, mengancam rekan wanita yang ikut menjalankan rencananya. Laki-laki itu tidak akan tinggal diam meski dia berada di dalam penjara. Keadaan mobil menjadi lebih tenang setelah Anton diam tak bersuara.


Sampai tiba di depan kantor polisi, Anton digiring layaknya penjahat kelas kakap dari dalam mobil. Mereka mendorong Anton agar sesegera mungkin melangkah memasuki kantor. Di sana, di depan meja penyidik, duduk seorang wanita berhijab sambil menunduk. Kedua tangannya diikat borgol sama persis seperti dirinya.


Dia sesekali mengangguk, sesekali menggelengkan kepala saat seorang laki-laki di balik meja tersebut menanyainya. Anton menggeram, dari balik tubuh ia mengepalkan kedua tangan dengan rahang yang ikut mengeras.


"Duduk!"


Seorang polisi mendorong punggung Anton hingga menabrak kursi yang tak jauh dari tempat wanita itu duduk. Ia menoleh, pandang mereka beradu dengan tajam, berkilat-kilat penuh dendam. Sungguh tak menduga, malam itu telah berubah menjadi malam tersial di dalam hidup mereka.


Dimulailah investigasi untuk keduanya. Di mana jawaban Anton dan wanita itu kerap berbeda dan tak seiras. Sang wanita lebih bisa bersikap kooperatif daripada Anton sendiri. Dia terus berkilah dan mengaku tidak mengenal Naina.


"Saya nggak kenal sama gadis itu, Pa. Tolong, saya nggak tahu apa-apa. Saya nggak bersalah, Pak. Dia udah menjebak saya, Pak. Dia menjebak saya," cerocos Anton membela diri.


Wanita di samping itu melirik dengan tajam, tak senang karena Anton justru menyudutkannya, padahal dialah yang mempunyai rencana dan meminta bantuannya untuk dapat menjalankan rencana tersebut.


Ia menghela napas, menunduk kemudian memutuskan pandangan dari laki-laki pecundang itu. Dia pengecut, berani berbuat tidak berani mempertanggungjawabkannya.


"Coba Bapak lihat, dia nggak bisa mengelak. Dia cuma diem karena ngerasa, Pak. Jadi, tangkap aja dia dan bebaskan saya, Pak. Saya nggak bersalah," rengek Anton membuat polisi yang menanyainya menggelengkan kepala.

__ADS_1


Wanita tersebut mengepalkan tangannya di belakang tubuh, memejamkan mata tak bisa lagi menahan diri untuk tidak mengatakan semuanya.


"Pak, saya tahu. Saya sudah bersalah dan saya menerima hukumannya, tapi yang mau saya katakan di sini, dialah dalang dibalik semua rencana itu. Hari itu dia datang kepada saya dan meminta bantuan dari saya untuk menyuruh gadis itu pergi ke lokasi yang dia tentukan. Dengan alasan mengantarkan pesanan, ditambah saat itu pekerja saya sedang mengantar pesanan juga. Padahal, bisa saja saya menyuruh yang lain dan bukan Naina." Wanita yang tak lain adalah pemilik butik tempat di mana Naina bekerja membeberkan semuanya.


Fakta menarik lainnya yang mungkin semakin memberatkan hukuman Anton yang terus berkilah dan mengelak dari semua kejahatan yang dia rencanakan.


"Bisa Anda ceritakan bagaimana dia waktu itu meminta bantuan Anda?" pinta polisi terhadap wanita itu.


Anton meradang, melirik penuh api amarah yang berkobar.


"Jangan percaya sama dia, Pak. Dia berbohong! Bapak jangan mempercayai ceritanya, Pak!" serbu Anton semakin merapatkan kedua rahangnya.


"DIAM! Jika Anda tidak bisa diam, maka kami akan langsung menjebloskan Anda ke dalam penjara!" hardik polisi tersebut yang seketika membuat Anton bungkam sambil memburu udara dengan cepat.


Matanya tak terlepas dari rekan wanita yang membantunya, hati Anton terus mengancam akan membuat hidupnya tidak pernah tenang.


"Silahkan!" Polisi tersebut memberikan waktu kepada sang pemilik butik untuk menceritakan rencana Anton sebelum kejadian.


"Waktu itu ...."


****


Sebuah pesan masuk ke ponsel Santi, pemilik butik di mana Naina bekerja. Kening wanita berhijab itu mengernyit, sedikit heran pasalnya Anton tak pernah menemuinya sekian lama.


Di mana?


Pesan balasan terkirim, Santi berpikir tak ada salahnya membantu teman lama yang mungkin saja sedang dalam kesulitan.


Cafe dekat butik kamu. Bisa, ya. Aku tunggu di sana.


Santi menghela napas, menyetujui pertemuan tersebut. Ia berpamitan pada sang asisten dan memastikan semua barang pesanan siap dikirim saat itu juga.

__ADS_1


Mereka bertemu di sebuah cafe tak jauh dari butik juga toko matrial Alfin. Duduk berhadapan dengan segelas kopi di depan masing-masing.


"Kamu butuh bantuan apa dariku?" tanya Santi sembari menilik wajah Anton yang tampak bersinar.


"Aku mau minta tolong sama kamu. Aku mau melamar seorang gadis ... kamu tahu, 'kan, kalo aku sudah lama menduda. Jadi, tolongin aku," rengek Anton mengiba lewat sorotan mata.


Santi menilik wajah Anton, menelisik keseriusan dalam kedua matanya. Ia mendesah, kemudian menganggukkan kepala.


"Ya udah. Kamu mau aku ngelakuin apa buat dia?"


Anton tersenyum senang.


"Aku dengar dia kerja di tempat kamu. Pinta dia buat antar pesanan apa aja ke rumah adik aku. Di sana aku mau ngasih kejutan sama dia. Bisa, ya?" ucap Anton memulai skenario yang telah ia susun.


"Kerja di butik aku? Siapa?" Alis Santi bertaut satu sama lain. Terlihat bingung dengan ucapan temannya itu.


"Iya. Namanya Naina. Ada, 'kan? Dia gadis yang mau aku lamar," beritahu Anton antusias.


Santi sedikit terkejut, pasalnya Naina datang bersama Khadijah dan yang dia tahu gadis itu dekat Alfin.


"Tapi setahu aku Naina itu dekat sama Alfin. Dia sering datang ke butik buat jemput. Kenapa kamu tiba-tiba bilang mau ngelamar dia?" Sedikit curiga Santi dengan permintaan Anton.


Laki-laki itu terlihat gugup, berkali-kali melipat bibir dan memainkan jemari juga kedua bola matanya mencari-cari alasan yang tepat untuk menghilangkan keragu-raguan Santi.


"Nah itu dia. Aku takut Naina berpaling sama pemuda itu. Aku udah sayang banget sama dia, San. Please! Kali ini aja. Aku pengen ngelamar dia, San." Anton memelas membuat wajahnya terlihat menyedihkan sehingga Santi tidak dapat menolak.


"Ya udah, tapi sekali ini aja, ya. Aku cuma bantuin kamu aja karena kamu teman aku. Sebenarnya aku nggak enak juga sama Khadijah. Inget, Anton. Kamu jangan maksa kalo dia nggak mau," ucap Santi yang pada akhirnya setuju membantu Anton.


Laki-laki itu tersenyum lebih lebar, ia mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepadanya sambil memberikan sejumlah uang sebagai pelengkap.


****

__ADS_1


"Saya pikir dia beneran cuma mau melamar Naina. Saya nggak pernah berpikir ke sana, makanya saya mau bantu dia. Ternyata, dia sudah merencanakan kejahatan itu untuk Naina," pungkas Santi dengan penuh penyesalan.


Anton tak dapat berkilah lagi, semua bukti dan saksi mengarah kepadanya. Ia tertunduk, pasrah pada nasibnya.


__ADS_2