
Brak!
Pintu yang dibanting cukup keras itu menyentak kedua orang yang berada di dalam ruangan. Serentak mereka menoleh dengan dahi yang berkerut.
"Siapa itu Irwan?!" sentak Alfin dengan wajah yang memerah marah, sebelah tangannya yang menggenggam bunga terus menguat hingga tangkainya menjadi patah.
"Bi, siapa orang itu? Kenapa masuk ke ruanganku dengan kasar kayak gitu?" tanya gadis muda di dalam ruangan, ia terlihat ketakutan terlebih tak mengenal siapa laki-laki yang berdiri di ambang pintu itu.
Mendengar itu Alfin menurunkan emosi, menilik lebih teliti siapa yang berada di dalam ruangan. Ia membelalak, malu rasanya.
"Hei, siapa kamu? Kenapa masuk ke ruangan orang dengan kasar kayak gitu? Emang gedung ini punya nenek moyang kamu apa? Sembarangan!" hardik wanita paruh baya yang dikira Alfin adalah Sumiyati itu.
Ia meringis malu, benar-benar malu. Tak tahu harus apa Alfin kebingungan sendiri.
"Ma-maaf, sa-saya salah kamar. Saya kira ini ruangan calon istri saya. Maaf sekali lagi," ucap Alfin dengan gugup.
Ia memasukkan sebelah kakinya ke dalam, menarik tuas pintu dan menutupnya secara perlahan. Alfin menganggukkan kepala sebelum pintu tersebut benar-benar tertutup. Tak enak rasanya, dia sudah melakukan perbuatan yang kasar terhadap seseorang yang tak dikenalinya.
"Bukan Naina. Terus ke mana Naina?" gumam Alfin sembari menekan rasa malu yang terus membesar.
Dipandanginya bunga di tangan, rusak dan patah. Ia menghela napas, melempar bunga tersebut ke dalam tong sampah. Alfin berjalan gontai menghampiri meja informasi sekedar bertanya tentang gadis bernama Naina.
"Dia sudah pulang sejak kemarin, Pak."
Alfin tercenung, siapa yang membayar biaya perawatan Naina? Apakah Sumiyati? Benarkah?
"Terima kasih, Sus," katanya, kemudian berbalik dan pergi meninggalkan rumah sakit dengan hati yang hampa.
Langkah kaki terasa lamban, kedua bahu melorot jauh. Helaan napas berat dan panjang. Ia terlambat? Tidak! Alfin bergegas meninggalkan lantai empat rumah sakit, menaiki lift dan turun ke lantai dasar.
"Rumah mang Asep!" gumamnya lirih, semakin mempercepat laju kedua kaki.
__ADS_1
"Dia pasti di sana, nggak mungkin balik ke Jakarta, 'kan?" Alfin menyemangati diri sendiri, menarik gas dan semakin cepat melaju.
Rasa cemas segera datang merundung jiwa, menciptakan ragu pada keyakinannya sendiri. Rasa kecewa, juga sesal berlomba memenuhi relung hati, perlahan membentuk rasa putus asa akan perjalanan hidup yang baru dimulainya.
Jantung Alfin berdebar ketika motor tiba di gang yang menuju rumah Sumiyati. Semakin kalut, ketika tiba meja jualan yang biasa terpampang di depan rumah, saat itu tersusun rapi di pojok teras.
Alfin memarkir motor, turun dengan segera dan mengetuk pintu rumah Sumiyati.
Tok-tok-tok!
"Assalamu'alaikum! Naina!"
Ia mengintip lewat celah jendela yang sedikit terbuka tirainya. Memastikan keadaan dalam rumah Sumiyati yang nampak sepi.
"Kok, sepi? Pada ke mana, ya?" Ia bergumam, sekali lagi mencoba untuk mengetuk.
Namun, tetap saja hening, tak ada jawaban dari pemilik rumah. Alfin mendesah, membenturkan kepala pada papan pintu rumah tersebut, menyesali keterlambatannya.
Alfin yang terpejam, membuka mata dengan cepat. Ia berbalik dan menghampiri warga tersebut untuk bertanya tentang Sumiyati dan yang lainnya.
"Bu, maaf. Apa Ibu tahu ke mana pemilik rumah ini pergi?" tanyanya terlihat putus asa.
"Oh, Mak Sum? Saya denger dia ikut Naina menginap beberapa hari ... di mana gitu? Saya juga nggak tahu," jawab warga tersebut tak memberi keterangan pasti ke mana mereka pergi.
"Ke mana, Bu?" kejar Alfin tak sabar.
"Aduh, saya, teh, lupa. Maklum udah tua. Yang saya denger mereka cuma pergi sebentar, nanti juga balik lagi," jawabnya membuat Alfin menghela napas pasrah.
"Ya udah, Bu. Makasih banyak," ucapnya seraya menundukkan kepala dan berjalan gontai menaiki motornya.
Warga tersebut menggelengkan kepala, berdecak merasa iba melihat Alfin yang muram.
__ADS_1
"Astaghfirullah al-'adhiim! Ke mana Naina, ya Allah? Kenapa Engkau jauhkan dia dari hamba?" keluh Alfin meringis sedih di atas motornya.
"Naina! Apa kamu kecewa sama aku karena aku nggak datang ke rumah sakit? Tapi kenapa kamu nggak kasih kabar aku? Aku harus ke mana cari kamu, Naina?" Lisan Alfin bergetar, meracau tentang Naina yang pergi entah ke mana.
Benarlah mimpinya semalam, Naina pergi meninggalkannya yang memberikan harapan hampa. Air mata Alfin jatuh membasahi kedua pipi, bersamaan dengan rintik hujan yang turun dari langit.
Langit cerah seketika berubah mendung, awan-awan hitam berkumpul membentuk gumpalan yang menghalangi sinar matahari. Alfin tidak peduli, untuk kedua kalinya dia harus menerjang hujan demi Naina.
"Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rohim, Ya 'Aziz, Ya Waduud. Pertemukan kami dalam keadaan yang lebih baik, aku yakin kalo Naina pasti akan kembali. Beri aku petunjuk, Ya Allah. Beri aku petunjuk," gumam Alfin terus melaju di bawah derasnya hujan.
Hatinya perih teriris, rasa rindu menyeruak datang kembali. Mengisi ruang hampa di hati. Ia merindukan Naina, menyesal karena tak mempercayainya.
Air matanya semakin menganak sungai kala teringat anak-anak asuhnya di asrama yang ia janjikan akan menjenguk Naina. Ketika mereka bertanya nanti, bagaimana caranya menjawab? Mereka semua pasti kecewa, terutama Halwa yang sejak kemarin sudah terlihat murung.
"Oh, ya Allah! Anak-anak pasti kecewa dan mengira aku bohong. Apa yang harus aku lakukan?" Alfin mengeluh, kepada Sang Pemilik Kehidupan, yang di tangan-Nya semua nyawa manusia berada.
Takdir berliku yang harus di jalaninya, terasa begitu berat. Alfin bertekad untuk mencari Naina, sampai bertemu dengan gadis itu. Ia tidak kembali ke masjid, melainkan ke rumah orang tuanya. Tempat yang dirasa sangat tepat untuk mencurahkan isi hati. Di sana ada ketiga wanita yang akan mengerti perasaannya.
"Lho, Alfin? Kenapa basah-basahan kayak gini?" pekik Amaliah, sang kakak ipar yang baik hati lagi lemah lembut.
Tanpa menyahut pertanyaan dari wanita itu, Alfin terus masuk ke dalam dengan keadaannya yang basah kuyup. Air menetes di sepanjang lantai rumah yang dilewatinya. Amaliah menggelengkan kepala, merasa heran dengan pemuda itu.
"Kenapa Alfin, Mel?" tanya Khadijah, melirik sosok Alfin yang menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Nggak tahu, Kak. Aku tanya juga dia diem aja," jawab Amaliah sembari menghendikan bahu.
Khadijah menghela napas, kali ini apa lagi? Bukankah dia pergi untuk bertemu Naina dan membahas soal lamaran? Tidak mungkin Naina menolaknya.
"Kenapa lagi, ya?" Ia bergumam sembari menatap punggung Alfin di lantai dua.
Mereka menunggu, duduk-duduk di ruang tengah rumah Ahmad. Suara mobil menderu, menyita perhatian mereka. Khadijah bangkit untuk menyambut ditemani oleh Amaliah.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum!"