Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 53


__ADS_3

Sore hari di rumah Sumiyati, celoteh dua orang wanita di ruang tengah sedikit menghibur hati tuanya. Dua mangkuk seblak disuguhkan untuk mereka, penghabisan katanya. Warung telah tutup lebih awal karena harus mempersiapkan diri pergi kondangan bersama Asep selepas Maghrib nanti.


Ia tersenyum melihat Naina yang begitu akrab dengan kakak Alfin itu. Khadijah terlihat menyayangi Naina dan gadis itupun menghormatinya.


"Jadi, kapan kamu mau mulai kerja?" tanya Khadijah.


"Nggak tahu. Kalo besok, gimana? Aku bosan di rumah, Kak," jawab Naina mengeluh.


"Boleh. Nanti Kakak jemput besok pagi," ujar Khadijah.


Naina mengangguk bersemangat, melanjutkan makan seblak yang masih tersisa.


Di luar seorang laki-laki dewasa memasuki teras rumah Sumiyati. Pintu rumah yang terbuka membuatnya dapat melihat isi di dalam. Ia tertegun melihat kakak Alfin ada di sana sedang duduk bersama Naina.


"Assalamu'alaikum!" sapanya menyentak Naina yang baru saja menyuapkan seblak.


Uhuk-uhuk!


Ia berlari ke dapur, menuangkan air ke dalam gelas dan menenggaknya. Tersedak saking terkejutnya mendengar suara sang mantan atasan.


"Wa'alaikumussalaam!"


Khadijah bangkit, berjalan menghampirinya di ambang pintu. Ia menilik atasan Naina dengan ketus.


"Ada apa, ya?" tanya Khadijah tak senang melihat kedatangannya.


"Aku mau ketemu Naina. Ada hal yang harus aku bicarakan sama dia," ucap Anton balas tak suka dengan Khadijah.


"Masalah pekerjaan? Aku rasa nggak perlu, Naina udah memutuskan berhenti dari toko itu. Dia bahkan sudah bekerja di tempat lain. Jadi, aku harap kamu nggak maksa Naina buat kerja di tempat kamu lagi." Khadijah menegaskan.


"Saya tahu, tapi saya tetap mau ketemu sama Naina." Anton keukeuh pada tujuannya datang.


Kedua pasang mata itu saling menatap satu sama lain, mendengar cerita orang tuanya Khadijah tak rela mempertemukan mereka.


"Ada apa lagi, Pak?" Suara Naina menyusul kemudian. Ia muncul dari dapur tanpa senyuman.


Rasa sakit itu masih terasa seolah-olah baru saja terjadi. Lisan memang bisa memaafkan, tapi hati dan pikiran sulit untuk melupakan. Naina menyadari satu hal setelah kejadian itu, ia memaklumi sikap Seira yang dulu menolak permintaan maaf ibunya.


"Naina. Saya mau kamu kembali bekerja di toko, kita kekurangan orang, Nai. Mau, ya," ucap Anton.

__ADS_1


Khadijah bereaksi, padahal sudah diberi penjelasan masih saja ngotot meminta Naina untuk bekerja.


"Maaf, Pak. Keponakan saya nggak akan pernah kerja di sana lagi. Sudah-sudahlah, Pak. Naina sudah memutuskan untuk berhenti bekerja. Dia juga sudah dapat kerjaan baru. Tolong, jangan ganggu keponakan saya lagi," tegas Sumiyati yang ikut muncul ke hadapan Anton.


Laki-laki itu mendesah, tiga orang lawan satu tak akan ia memenangkan perdebatan. Dia memang harus mengalah dan berhenti mengejar Naina.


"Baiklah, maafkan aku karena sudah memaksa Naina. Aku berjanji nggak akan mengganggu Naina lagi. Permisi, assalamualaikum!" ucap Anton pada akhirnya.


"Wa'alaikumussalaam!" sahut mereka bertiga secara serentak.


Anton berlalu lagi-lagi harus menelan pahitnya rasa kecewa. Dia tak akan lagi datang mengganggu gadis itu, dan memulai kehidupannya yang baru.


"Kalo gitu, Kakak juga pulang, ya. Besok nanti kakak jemput," pamit Khadijah setelah memastikan laki-laki itu benar-benar pergi.


Naina memeluk sang bibi yang telah membelanya. Sumiyati juga merasa sakit mendengar cerita Naina tentang atasannya itu. Beruntung, Naina memutuskan untuk berhenti, dia langsung menyetujui.


****


Hari esok yang ditunggu pun tiba, Naina bersemangat diantar Khadijah menuju butik yang dia maksud. Naina bekerja dengan telaten di hari pertamanya, perkenalkan pertama bahkan sudah membuat pemilik terkesan terhadapnya. Sepanjang hari memperhatikan gadis itu bekerja, dia menyukainya.


Tiga hari sudah Naina bekerja dibawah pengawasan sang pemilik butik. Perlahan mulai dipercaya dan mendapatkan simpati. Hari itu ada pesanan yang harus diantar, sedangkan karyawan yang bertugas mengantar pesanan sedang menjalankan tugasnya.


"Naina!" panggil pemilik butik yang biasa dipanggil umi.


"Ya, Mi. Saya!" sahut Naina secepat kilat.


"Kamu bisa bantu saya?" pinta sang majikan sambil tersenyum penuh harap.


"Bantu apa, Mi? Sekiranya saya mampu, saya pasti bantu," jawab Naina dengan pasti.


Wanita seusia Khadijah itu tersenyum, membelai kepala Naina dengan lembut.


"Ada pesanan yang lupa dibawa tadi, sedangkan pemesannya minta diantar hari ini juga. Kamu bisa, ya, antar ke rumahnya?" pinta wanita tersebut memohon pada Naina.


"Mmm ... tapi saya nggak tahu daerah sini, Umi. Saya masih baru dan belum pernah ke mana-mana," ucap Naina khawatir tersesat karena belum menghafal jalan dengan benar. Lagipula hari sudah sore.


"Ada alamatnya, kok. Nanti saya kasih sekalian sama nomor teleponnya. Kamu bisa minta dia untuk share lokasi kalo takut tersesat," saran sang majikan yang terpaksa diangguki Naina.


"Iya, Mi. Saya siap-siap dulu," sahut Naina seraya berbalik dan menuju ruang ganti untuk mengambil tas serta ponsel. Ia kembali ke depan, menerima sebuah bungkusan berisi pakaian.

__ADS_1


"Kamu hati-hati, ya. Kalo ada apa-apa, telpon saya aja." Ia menepuk-nepuk tangan Naina sambil mendoakannya agar selamat sampai tujuan dan sampai kembali pulang lagi.


"Iya, Mi." Naina mengangguk.


"Ini kuncinya, pake motor yang di garasi. Yang matic itu, ya," titahnya sambil memberikan kunci motor kepada Naina.


Dengan berat hati diterima gadis itu, dan berlalu pergi menuju garasi butik. Semakin mendekati motor, semakin berdebar jantung Naina hingga degupnya membuat sesak rongga dada.


"Ya Allah, kenapa ini? Kok, dadaku sesak banget," gumam Naina sembari memegangi dadanya yang terus bertalu-talu.


"Tenang, Nai. Jangan gugup, ini mungkin tugas pertama kamu dari Umi. Jangan kecewakan beliau." Ia menyemangati dirinya sendiri.


Menaruh plastik pesanan di cantolan motor, seraya menghidupkan mesinnya.


"Bismillahirrahmanirrahim!" Naina menjalankan motor keluar garasi, semakin menjauh dari butik semakin berdebar jantungnya.


Naina melantunkan kalimat-kalimat thoyibah di sepanjang perjalanan di dalam hatinya. Mengharap perlindungan dari Allah agar menjaganya di perjalanan. Naina mengetik alamat tersebut di ponselnya, mengikuti arahan dari suara seorang wanita yang terus berbicara menuntun arah.


Hari semakin sore, lembayung senja sudah menghampar memayungi bumi. Akan tetapi, Naina masih di perjalanan belum tiba di daerah yang dimaksud.


"Ya Allah. Alhamdulillah!" ucap Naina sesaat setelah mendengar lantunan suara adzan di surau-surau.


Naina memutuskan untuk berhenti di mushola, menunaikan sholat maghrib sebelum melanjutkan perjalanan.


****


"Bu, maaf. Tahu alamat rumah ini nggak?" tanya Naina pada seorang wanita setelah menyelesaikan shalat berjamaah di mushola.


"Oh, ini udah deket, Neng. Tinggal lurus aja nanti ada rumah paling besar. Nah itu rumahnya," jawab wanita tersebut yang diangguki Naina.


"Makasih, Bu."


Ia beranjak menaiki motor, telepon dari Alfin masuk sesaat ia hendak menyalakan motor.


"Assalamu'alaikum! Ya, aku di jalan," sapa Naina setelah mengangkat sambungan.


"Wa'alaikumussalaam. Di jalan mana? Kirim lokasi kamu sekarang. Aku akan menyusul!" titah Alfin seraya mematikan sambungan telepon.


Naina mengirimkan lokasinya, dan melaju menuju tempat tujuan sambil berharap Alfin akan cepat datang menyusul.

__ADS_1


Malam itu terasa berbeda, padahal masih terlalu sore untuk disebut malam.


__ADS_2