
Duka menyelimuti rumah besar Ustadz Ahmad, Aminah tak henti-henti menangisi kepergian Alfin bersama dua orang polisi. Ia sadar betul anak bungsunya itu harus mempertanggungjawabkan perbuatan yang sudah dilakukannya.
Terlepas dari itu, hati Aminah hancur. Dia percaya pada Alfin, tapi harus menerima perpisahan itu.
"Alfin nggak bersalah. Anakku nggak salah, dia nggak mungkin melakukan itu tanpa sebab," racau Aminah untuk ke sekian kalinya.
Matanya tak sanggup lagi terbuka, bibirnya tak henti memanggil-manggil nama Alfin. Tubuhnya lunglai di sofa, dipeluk Ahmad yang juga menangisi kejadian siang itu.
"Sabar, Mi. Allah Maha Tahu, DIA yang akan menyelesaikan masalah Alfin dengan cara-Nya sendiri. Tenangkan hati Umi, kita doakan sama-sama semoga Alfin kuat menjalani semuanya," ucap Ahmad dengan hati yang perih.
Air mata Aminah terus berjatuhan, tangisnya perlahan mereda, semakin lemah tubuh tua itu dan pada akhirnya tak sadarkan diri.
"Umi!"
"Umi!"
Jeritan Khadijah dan Amaliah menggema di ruang tamu rumah. Keduanya panik seketika, ingin rasanya mengeluh, tapi semua yang terjadi belumlah seberapa.
"Mi! Umi, ya Allah! Bangun, Mi!" Ahmad menepuk-nepuk lembut pipi Aminah, tapi wanita tua itu tak kunjung membuka matanya.
"Abi, kita bawa aja Umi ke rumah sakit. Dijah takut Umi kenapa-napa," saran Khadijah yang segera dilaksanakan oleh Ahmad.
Kedua wanita itu menghubungi suami mereka memberitahu tentang Aminah yang dilarikan ke rumah sakit. Bergegas Khadijah mengambil alih kemudi, melajukan mobil menuju rumah sakit.
****
"Umi!" Jantung Alfin berdetak lebih kencang ketika teringat pada ibunya.
Ia menekan dada kiri dan meremasnya sedikit kuat untuk mengurangi rasa sesak yang mendera. Alfin berada di ruangan yang berbeda dengan tahanan lain. Dia tidak disamakan seperti para pelaku kejahatan yang ada di dalam sel.
"Kenapa sama umi, ya Allah? Lindungi keluarga hamba dari segala marabahaya. Lindungi Umi, ya Allah." Alfin menutupi wajahnya, jatuh tersungkur di atas sajadah yang ia minta dari pihak lapas.
__ADS_1
Tangisnya menggetarkan bumi yang dipijak, mengguncang langit yang diselimuti awan mendung. Guntur menyambar, petir berkilatan di langit. Beriringan dengan turunnya hujan. Cuaca dingin semakin menusuk hingga ke tulang sumsum, tapi tidak bagi Alfin.
Ia masih tersungkur dalam sujud yang dalam, menangisi perjalanan hijrah yang dipenuhi ujian. Tempaan yang diterima Alfin sungguh amat berat, tapi ia sadar semua itu hanyalah sementara dan Sang Kuasa pastilah memiliki rencana untuk semua ujian yang menimpa padanya.
Tok-tok-tok!
"Alfin!"
Panggilan dari luar ruangan menyudahi tangis Alfin dalam sujud. Ia bangkit, mengusap air mata dan melipat sajadah sebelum menyahut panggilan tersebut.
"Ya!"
"Ada yang mau ketemu sama kamu," ucap laki-laki yang menjemput Alfin ke rumahnya.
"Ya," sahut laki-laki di dalam ruangan singkat-singkat.
Pintu dibukanya, Alfin menunggu dengan tenang di kursi. Ia membawa masuk seorang wanita dewasa yang menuntun seorang anak seusia dengan Halwa.
"Silahkan!"
Alfin bergeming, menelisik kedua sosok yang perlahan duduk bersebrangan dengannya. Ia tetap bungkam merasa tak mengenali wanita itu.
"Kamu lihat anak ini! Dia masih terlalu kecil untuk kehilangan seorang ayah," tutur wanita itu bergetar karena menahan air mata.
Alfin mengerti, wanita itu mungkin istri dari salah satu laki-laki yang ia bunuh.
"Apa kamu tega melihatnya menjadi yatim di usia yang masih kecil? Aku meninggalkan dia di rumah sendirian karena harus bekerja menggantikan ayahnya, mencari uang buat kami makan. Setega itu kamu membunuh laki-laki yang masih memiliki tanggungan keluarga? Kenapa? Kenapa kamu melakukan itu? Kenapa kamu membunuh suami aku? Membuat hidupku semakin sulit, menjadikan anakku yatim?" sentak wanita itu dengan air mata yang bercucuran.
Alfin menunduk, tak tahu harus menjawab apa. Lidahnya kelu, tak mampu berkata-kata. Ingin menjelaskan semua yang terjadi, tapi dia tidak tega. Mungkin saja dalam pandangan wanita itu, laki-laki yang ia bunuh adalah sosok suami dan ayah yang baik di rumah.
"Maafkan aku," lirih Alfin sembari menahan getaran dalam jiwanya.
__ADS_1
"Maaf?" Suara wanita di depannya bergetar, mengguncang hati Alfin yang sudah porak-poranda.
"Kamu kelihatannya pemuda yang baik, tapi ternyata sama saja seperti anak-anak muda yang lain yang suka menghabiskan waktu dengan tawuran. Menunjukkan kegagahan pada semua orang sampai-sampai nggak peduli siapa yang menjadi korbannya!" cerocos perempuan itu terus menyudutkan Alfin.
Tak puas rasanya hanya melihat dia mendekam di dalam penjara, jika bisa dia ingin membunuh Alfin dengan tangannya sendiri.
"Kamu nggak bisa membela diri, 'kan? Sekarang kamu menyesal, besok kamu melakukannya lagi. Terus saja kayak gitu karena merasa diri masih muda dan gagah hingga bisa melakukan apa saja sekalipun merugikan orang lain," lanjutnya masih dengan emosi yang meluap-luap.
Alfin hanya diam mendengarkan, tidak membantah ataupun menyela ucapannya. Membiarkan wanita itu meluapkan emosi dengan terus memarahinya.
"Coba kamu bayangkan, gimana kalo istri kamu ada di posisi aku? Harus kehilangan tulang punggung, dan mengurus anak sendirian sambil bekerja. Menjadi ibu sekaligus ayah buat dia yang masih kecil." Dia menurunkan emosi, berbicara dengan pelan.
Mendengar itu, Alfin teringat pada Naina. Semua itu terjadi karena suaminya yang melecehkan Naina, calon istrinya. Alfin mengangkat kepala, memandang wajah yang dipenuhi emosi itu.
"Ada lagi yang mau Ibu katakan? Kalo belum puas, silahkan dilanjut. Saya akan mendengarkan dan menampung semuanya," ucap Alfin dengan tenang.
Wanita di depannya mengernyit, isaknya terasa pilu di hati Alfin. Ia diam, tak dapat menjawab ketenangan pemuda di depannya itu.
"Mohon maaf sebelumnya, saya aku harus mengatakan ini. Bukan sebagai pembelaan, ataupun tak ingin mengakui perbuatan saya, tapi perlu Ibu tahu, kalo suami Ibu dan temannya sudah melecehkan calon istri saya malam itu," ungkap Alfin pada akhirnya.
Wanita di depannya membelalak, kedua bibir terbelah. Menolak pernyataan Alfin.
"Nggak mungkin! Suamiku nggak mungkin ngelakuin itu, dia laki-laki yang baik dan bertanggungjawab. Nggak mungkin ngelakuin hal keji kayak gitu," tolaknya kembali berderai air mata.
Alfin menghela napas, masih mempertahankan ketenangan diri.
"Tapi kenyataannya emang begitu, Bu. Saya yang melihatnya nggak bisa menahan emosi. Saya lepas kendali sampai nggak sadar kalo udah membunuh mereka berdua. Ibu tahu, apa yang terjadi pada calon istri saya? Dia mengalami trauma," sahut Alfin membeberkan semuanya.
Wanita itu tetap menolak, menggelengkan kepala dengan yakin.
"Menurut Ibu ... kalo seandainya suami Ibu ada di posisi saya, apa yang akan dia lakukan untuk membela istrinya?"
__ADS_1
Wanita di depan Alfin tertegun, diam dengan air mata yang terus berjatuhan. Dia bangkit sambil mengusap air matanya, masih tak dapat menerima semua penjelasan Alfin.
"Aku nggak peduli!" Dia pergi sambil menyeret anaknya, Alfin mendesah pasrah.