Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 164


__ADS_3

"Kamu bisa nggak buka ini? Aku yakin, sih, mereka tadi masuk ke sini?" Mereka kembali berdiskusi.


"Nanti gimana kalo kita dituduh maling atau apa gitu? Kita bukan penjahat, ya. Kita cuma mau ketemu sama Alfin." Yang lain memberi kemungkinan terburuk yang akan terjadi.


"Terus gimana? Aku penasaran banget soalnya." Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Bingung harus bagaimana, memanjat pun tak mungkin rasanya. Pagar itu terlalu tinggi.


"Coba aja, kayaknya buka ini gampang." Ia mengangkat gembok yang mengunci pagar gerbang tersebut.


Mencari-cari cara untuk membuka, tapi tetap tidak merusaknya. Terlalu mudah, hanya menggunakan sebuah kawat mereka dapat membuka gembok itu.


"Ibu!" Halwa dan dua anak lainnya memeluk Naina.


"Mas, ada orang asing masuk ke asrama. Mereka buka paksa gemboknya," lapor Naina kepada Alfin lewat sambungan telepon.


"Mas lagi di jalan sama Bas, sayang. Kamu tetap di rumah." Jawaban dari Alfin sedikit membuat lega hati Naina.


Setidaknya jika mereka tetap di rumah, dua orang itu tidak akan menemukannya. Berselang, sesosok berjubah putih dengan sorban menyampir di bahu kanan muncul menegur keduanya.


"Assalamu'alaikum! Maaf, anak berdua ini cari siapa?" tegur ustadz Hasan ketika keduanya baru saja memasuki gerbang asrama.


Mereka bukanlah penjahat, dan tentu saja tahu harus bersikap. Keduanya menoleh, dan tersenyum dengan tubuh sedikit dibungkukkan.


"Wa'alaikumussalaam, Pak Ustadz. Maaf, kami nggak bermaksud jahat. Kami cuma cari teman kami yang udah lama nggak ketemu," ucap salah satu dari mereka, kedua tangan laki-laki itu berpaut di depan.


Ustadz Hasan memperhatikan, memindai penampilan mereka dari atas hingga bawah. Seketika ia tahu, siapa mereka.


"Kalo kalian emang nggak bermaksud jahat, kenapa kalian buka paksa gembok itu? Kalian membuat takut orang-orang di sini. Lihat, di sekitar sini ada CCTV. Mudah saja bagi kami melaporkan aksi kalian kepada pihak berwajib, tapi kalo kalian emang nggak bermaksud jahat ikut saya ke masjid." Ustadz Hasan menunjukkan keberadaan kamera tersembunyi, seketika wajah mereka memucat.


Saling menoleh, dan saling senggol satu sama lain dengan gugup.


"Sumpah, Pak Ustadz, kami nggak bermaksud jahat. Tadi kami lihat perempuan yang kemarin bersama teman kami. Jadi kami ikutin, tapi nggak tahu hilang ke mana. Sumpah, Pak! Kami bukan penjahat." Keduanya mengangkat dua jari sebagai penegasan bahwa apa yang mereka katakan adalah benar.


"Ya, Baik. Silahkan ke masjid, kita ngobrol di sana," ajak ustadz Hasan dengan sopan.


Namun, tubuh mereka bergeming. Tetap berdiri di sana. Ada sesuatu yang menyebabkan mereka tak bergerak dan seolah-olah takut memasuki masjid.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya ustadz Hasan bingung.


Mereka saling senggol, malu untuk mengatakan alasannya.


"Ka-kami takut, Pak Ustadz. Katanya orang-orang kayak kami ini dilarang masuk ke masjid," ucap mereka terbata dengan kepala tertunduk dalam-dalam.


"Kata siapa?" Alfin muncul dan berkata sambil tersenyum. "Rumah Allah selalu terbuka untuk hamba-NYA yang ingin mendekatkan diri. Masuklah!"


Kedua orang itu mendongak, membelalak melihat sosok Alfin yang tetap ramah pada mereka.


"Alfin!"


Suami Naina itu menganggukkan kepala, mendekat tanpa ragu pada keduanya. Lalu, memeluk mereka akrab.


"Apa kabar saudaraku?" Ia menepuk punggung mereka setiap kali berpelukan.


"Kamu masih baik aja sama kamu, Fin. Padahal dulu kami cuma manfaatin kamu aja," ucap mereka dengan perasaan malu


Alfin terkekeh, dia tahu itu semua. Akan tetapi, Alfin membiarkan sambil berharap mereka akan kembali ke jalan yang benar.


"Nggak, Fin. Dia juga ada di sini." Mereka melirik Bas dengan seragam kepolisiannya.


Alfin tersenyum kecut, apa yang harus dia lakukan?


"Kita ngobrol di masjid. Nggak enak kalo ngobrol sambil berdiri. Ya, kalo dia nggak punya niat bikin rusuh, nggak apa-apa ajak aja ke sini." Alfin memasuki masjid bersama ustadz Hasan juga Bas.


Menunggu keduanya mengambil keputusan. Salah satu mengikuti Alfin masuk dan duduk di rumah Allah, yang lain memanggil semua kawanan agar datang ke masjid.


"Dia bilang kayak gitu?" tanya seorang laki-laki saat temannya datang melapor.


"Udahlah nggak apa-apa, Kak. Yang penting aku mau ketemu sama Alfin dulu." Seorang perempuan di antara mereka memaksa.


"Ya udah. Karena kamu yang maksa, kita ke sana." Mereka beranjak meninggalkan tempat persembunyian dan masuk ke halaman masjid.


Ada keraguan dalam langkah mereka ketika hendak memasuki rumah Allah itu. Orang-orang di sekitar selalu melarang kelompok itu untuk beribadah di dalam masjid dengan berbagai alasan. Tatto, bertindik, Kumal, lusuh, kotor, dan lain sebagainya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum!" ucap salah satu dari mereka meski terdengar asal-asalan.


"Wa'alaikumussalaam. Mari, silahkan duduk!" Ustadz Hasan menyambut, ketiganya sigap berdiri ketika orang-orang itu mulai melangkahkan kaki di masjid.


"Alfin!" Perempuan tersebut berlari dan hendak memeluk Alfin.


Namun, laki-laki itu sigap menghindar, menjauh dari jangkauannya.


"Duduk!" titah Alfin masih dingin seperti dulu.


Ia mematung, memandang sedih laki-laki yang tak pernah hengkang dari hatinya. Alfin duduk bersila bersama Bas dan ustadz Hasan, sedangkan wanita itu masih berdiri dengan tubuh yang berguncang hampir menangis sampai seseorang menariknya untuk ikut duduk.


Alfin menghela napas, mengangkat pandangan terarah pada satu titik. Sepasang mata tajam menghujamnya, pandangan yang dipenuhi kebencian juga dendam.


"Maaf, anak sekalian. Ada apa kalian mencari anak saya?" Ustadz Hasan mengawali diskusi. Sikapnya yang ramah juga nada suaranya yang lembut, menyentuh hati mereka.


"Saya datang mencari dia, Pak Ustadz. Saya mau dia bertanggungjawab terhadap adik saya ini," ucap salah seorang dari mereka sambil menunjuk Alfin juga perempuan di antara mereka.


Alfin menghela napas, menggelengkan kepalanya heran. Namun, ia masih belum berbicara, dan membiarkan ustadz Hasan yang menangani.


"Tanggung jawab? Memang apa yang dilakukan anak saya sampai dia harus bertanggungjawab?" tanya ustadz Hasan berkerut dahi.


"Dia udah bikin hidup adik saya menderita, Ustadz." Laki-laki itu berapi-api.


Alfin menautkan alisnya bingung, begitu pula dengan kedua laki-laki yang berada di sisinya.


"Menderita? Menderita seperti apa? Bisa anak jelaskan?" Alfin tidak pernah bercerita tentang itu.


"Adik saya ini udah ngelakuin apa aja buat dia, Ustadz, tapi pemuda itu nggak bisa ngehargain sama sekali. Sampe sekarang dia juga masih suka menangis, manggil-manggil nama Alfin. Adik saya ini cinta sama dia, tapi dia terus menolaknya, Ustadz. Saya sakit hati dan mau balas dendam sama dia, kecuali dia mau nikahin adik saya," tuding laki-laki itu pada Alfin.


Alfin tersenyum geli, begitu pula dengan ustadz Hasan. Akan tetapi, Bas bersikap waspada mewanti-wanti pergerakan mereka yang tak terduga.


"Gimana, Nak Alfin? Ada yang mau kamu sampaikan?" Ustadz Hasan menyerahkan perkara kepada Alfin.


"Kita tunggu seseorang dulu, Ustadz. Supaya semuanya jelas, nggak ada lagi salah faham," ujar Alfin diam-diam meminta Naina untuk datang ke masjid.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum!"


__ADS_2