Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 138


__ADS_3

Tok-tok-tok!


"Assalamualaikum!"


Suara salam yang terdengar di malam hari, membingungkan seisi rumah Fatih yang tidak sedang menunggu seorang tamu pun.


"Biar Mamah buka." Seira beranjak dari sofa dan berjalan menuju teras. Mereka tengah berkumpul di ruang keluarga membahas tentang persiapan untuk acara resepsi Naina.


"Wa'alaikumussalaam!" Seira membuka pintu disambut senyum manis dari seorang gadis berperawakan tinggi langsing di teras.


"Ibu. Gimana kabarnya? Kak Rayan ada?" sapa Rani sembari menyalami Seira. Di tangannya membawa sebuah tas belanja yang masih tersegel.


"Alhamdulillah, sehat. Mari, Rayan ada di dalam." Seira mengajak gadis Jago itu untuk masuk ke dalam rumah.


Penampilannya tampak berbeda, tak seperti biasanya yang sering dijumpai Rayan. Ia memakai setelan rok dengan hijab melekat di kepalanya.


"Kak, ada Rani." Seira menggoda Rayan ketika pemuda itu menoleh tak berkedip mata melihat sang pujaan hati.


Rani menyalami semua orang, termasuk Biya dan ibunya juga bi Sari yang sudah tampak sepuh. Rayan beranjak berpamitan pada semua orang untuk mengajak Rani berbincang di teras.


"Kenapa malam-malam ke rumah? Sama siapa? Sendiri?" cecar Rayan di perjalanan menuju teras.


Gadis itu tertunduk, senyum-senyum sendiri. Bersemu pipinya setiap kali Rayan merasa cemas.


"Iya. Aku bawa mobil, kok. Nggak usah khawatir gitu," jawab Rani sembari menjatuhkan bokong di kursi teras.

__ADS_1


Tak lama, seorang asisten rumah tangga membawakan mereka minuman juga kudapan untuk teman mengobrol.


"Jangan mentang-mentang kamu jago bela diri, bisa seenaknya pergi-pergi malam sendiri. Minta antar sama siapa gitu," cerocos Rayan khawatir Rani akan mengalami bahaya saat di jalan.


Gadis itu terkekeh, selama ini dia selalu baik-baik saja, tapi Rayan tak pernah membiarkannya pergi seorang diri di malam hari.


"Siapa? Bapak udah nggak bisa lihat jalan, nggak ada lagi yang bisa nenemin aku. Aku nggak apa-apa, kok. Kalo ada apa-apa, 'kan, aku bisa telpon Kakak." Rani tersenyum manis, merayu Rayan agar tidak merasa kesal lagi padanya.


"Pulangnya aku yang antar."


Selalu seperti itu, dan Rani hanya bisa menganggukkan kepala patuh.


"Iya, iya. Udah nggak usah kesal begitu. Jelek tahu." Rani masih merayunya.


"Kalo pergi-pergi sendiri pake celana, jangan pake rok kayak gitu." Rayan melirik kaki Rani yang terbalut rok.


"Aku pake celana, Kak. Nih, lihat!" Rani menyingkap rok dan celana panjang melapisi kakinya.


Rayan menganggukkan kepala puas, ingin rasanya segera menyelesaikan pendidikan dan mempersunting dokter tersebut. Rayan kerap mendapati rekan Rani yang sering menatap gadis itu. Ia tak suka, dan ingin mencungkil saja matanya yang liar.


"Kenapa sampai nekad datang ke rumah malam-malam?" tanya Rayan menurunkan intonasi suaranya menjadi lebih lembut.


Rani tersenyum mengangkat tas belanja di tangan dan memberikannya kepada Rayan.


"Tadi sore aku nggak sengaja lihat ini dipajang di toko. Pake, ya. Biar kita cople-an ke resepsi kak Naina," pintanya seraya menggigit bibir malu-malu. Kedua pipinya merona membayangkan Rayan menerima dan memakai pemberiannya.

__ADS_1


Pemuda itu membuka segel tas dan mengeluarkan isi di dalamnya. Bunga-bunga cinta yang bertabur di hati, mencuat lewat senyum di bibir. Kedua pipinya merona, bahagia tak terkira.


"Iya, nanti aku pakai. Ada lagi selain ini?" tanya Rayan kembali memasukkan baju tersebut ke dalam tas.


Rani mengernyit, hanya itu yang ingin dia berikan, tak ada lagi. Rayan berdecak, memang apa yang kamu mau, Rayan?


"Apa aja, Ran. Entah itu kamu kangen sama aku, atau pengen lihat aku gitu. Kayaknya emang cuma aku yang cinta sama kamu karena rasanya aku pengen ketemu kamu terus tiap hari, tapi kamu ...." Rayan menghela napas sembari berpaling muka. Berpura-pura kecewa, padahal berbunga.


Rani mengernyit semakin dalam. Ucapan Rayan terdengar ngawur dan tidak jelas.


"Apaan, sih, Kak. Jangan ngawur, deh. Masa begitu," kilah Rani dengan perasaan malu-malu.


"Ya, gimana? Coba aku tanya, kamu cinta nggak sama aku?"


Pertanyaan itu semakin membuat pipi Rani merona. Ada-ada saja pemuda di hadapannya itu.


"Nggak bisa jawab, 'kan? Maharani Putri anaknya bapak Jago. Kamu cinta nggak sama aku?" ulang Rayan yang sebenarnya menggoda sang kekasih.


"Dih! Apaan, sih. Kakak mau tahu jawabannya?" Rayan mengangguk. "Udah dari kecil aku mengagumi sosok seorang Rayan, tapi aku malu mau bilang kalo aku suka sama Kakak karena rasanya nggak mungkin. Aku ini cuma anak satpam ayahnya, dan dia anak majikan. Aku seperti pipit dan dia merak kahyangan. Level kami berbeda. Jadi, apa aku masih pantas mendapatkan balasan cintamu, wahai sang pemuda?" Rani berkedip.


Ucapannya bukan sekedar gurauan, tapi sebuah ungkapan isi hati yang selama ini ia pendam. Rayan tercenung, menatap dalam-dalam manik itu.


"Kita nikah, yuk!"


"Apa?!"

__ADS_1


__ADS_2