
(Sebelum kedatangan Alfin ke rumah sakit)
"Jangan gila, Naina! Nggak seharusnya kamu berkorban sampai kayak gini!" bentak Bas tidak terima dengan pengakuan Naina yang ia dengar dengan tegas dan penuh keyakinan.
"Bukannya pihak kepolisian menemukan dua sidik jari di balok kayu itu?" tanya Naina menatap tegas pada kedua laki-laki yang menanyainya.
"Benar. Salah satunya adalah-"
"Punyaku," tukas Naina dengan cepat.
Ketua penyidik itu mengangguk-anggukan kepala membenarkan yang diucapkan Naina, tapi tidak meyakini bahwa Naina adalah pembunuh kedua penjahat itu.
"Tapi itu nggak membuat kamu menjadi tersangkanya, Naina. Kamu nggak usah berkorban sejauh ini, Alfin juga pastinya nggak akan suka. Walaupun kamu bersumpah mengakui itu, aku tetap nggak akan percaya," tegas Bas menolak dengan pasti pengakuan Naina.
Polisi muda itu memang belum lama mengenal Naina, tapi pertemuan singkat mereka cukup membuatnya yakin bahwa Naina adalah gadis yang baik, bahkan terlalu baik sehingga begitu mudah orang memanfaatkannya.
Tubuh Naina bergetar, hatinya terguncang. Apa yang harus dia lakukan agar semua orang percaya kepadanya bahwa dia pun tak ingin semua itu terjadi.
"Benar, Nak. Semua ini ujian yang harus kalian jalani. Alfin sudah mengakui semuanya, dia juga nggak keberatan menerima hukuman. Biarlah semua ini berjalan sesuai jalurnya. Kamu nggak perlu berkorban hanya untuk membuat mereka percaya," tutur laki-laki paruh baya yang menjadi ketua penyidik itu.
Runtuh pertahanan Naina, tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah ruah. Ia menunduk, terisak dalam-dalam. Entah apa yang harus dilakukan agar semua orang percaya dan menyenanginya.
"Aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan? Kalian semua nggak ngerti gimana perasaan aku. Kalian nggak tahu gimana tersiksanya jadi aku. Seorang anak yang nggak pernah diterima di tempat manapun. Manusia yang cuma punya Tuhan sebagai sandaran dan paling dipercaya."
Bas dan ketua itu saling menatap satu sama lain. Mendengar isi hati Naina, mereka bisa merasakan kesedihan mendalam di hati gadis tersebut. Sungguh, betapa pilu terdengar, isak tangisnya mengguncang hati mereka. Beberapa saat hanya diam menyaksikan Naina menumpahkan kesedihan.
Sampai tangis Naina berangsur-angsur mereda, pelan-pelan mengangkat wajahnya yang basah dan memandang mereka dengan penuh permohonan.
"Tolong aku ... tolong aku supaya bisa bebas dari rasa bersalah ini. Tolong aku supaya bisa membuat mereka percaya. Bebaskan Alfin, dan biarkan aku menggantikannya. Aku yang akan menjadi jaminan kebebasannya. Tolong, biarkan Alfin pulang dan kembali ke rumahnya. Ibunya sakit keras, dia butuh Alfin. Tolong, Pak! Aku mohon!"
Naina menangkupkan kedua tangan di depan wajahnya yang tertunduk. Bas berpaling sambil melipat bibir menahan diri agar tidak terbawa perasaan. Begitu pula dengan ketua penyidik itu, mematung setelah mendengar permohonan Naina.
Hening. Hanya terdengar suara isak tangis Naina yang lirih dan menggetarkan. Langit dan bumi tahu, betapa mulianya hati gadis itu. Naina mengangkat wajah, sekali lagi menatap laki-laki paruh baya di depannya.
"Semua ini terjadi karena aku, Pak. Alfin lepas kendali karena menolongku, dan sekarang ibunya sakit parah. Cuma Alfin yang dia butuhkan sebagai obat. Tolong pulangkan Alfin dan biarkan aku menggantikan tempatnya. Pak, kumohon!" Naina menggenggam tangan ketua itu, terasa bergetar hingga mengguncang seluruh rasa dalam jiwanya.
Air mata Naina yang tumpah, meluluh-lantakkan kekuasaannya. Sungguh tak tega, melihat gadis itu memohon terus menerus.
"Demi gadis piatu ini, biarkan Alfin kembali pada ibunya. Aku sudah pernah merasakan kehilangan sosok ibu, kehilangan sandaran hidup untuk selamanya. Aku ditinggalkan sebatang kara dengan segala kelemahan yang aku punya. Aku nggak mau Alfin menyesal ... biarkan dia pulang, Pak. Aku mohon!" ujar Naina semakin membuat dadanya bergemuruh.
__ADS_1
Bas terisak, air matanya tumpah hanya karena mendengar permohonan Naina. Tangannya cekatan mengusap kedua mata, tapi air terus saja jatuh menghujani pipinya.
Bodoh! Kamu itu terlalu baik, Naina. Alfin sangat beruntung ketemu sama kamu. Kalo itu orang lain, mungkin mereka nggak akan pernah mau peduli.
Bas bergumam dalam hati, entah pujian ataukah cibiran. Ia sendiri tidak tahu. Yang pasti, hatinya tak rela jika gadis semurni Naina menggantikan tempat Alfin.
Sang ketua menghela napas, ia balas menggenggam tangan Naina dengan lembut. Menatapnya haru, mengulas senyum penuh makna.
"Kamu tahu apa yang kamu lakukan?" tanyanya memastikan keputusan Naina.
Gadis itu mengangguk, menggigit bibir menahan gejolak hatinya.
"Kamu yakin mau melakukannya? Maksud saya, apa kamu sudah memikirkan ini dalam-dalam?" ujarnya lagi.
Naina kembali menganggukkan kepala, tak ada keragu-raguan yang terlihat di kedua manik indah itu. Perangainya yang indah, sesuai dengan paras yang dipahat Tuhan untuknya. Gadis yang sempurna secara fisik juga secara akhlak. Siapapun kelak yang akan memilikinya, dia sangat beruntung.
"Sekali lagi saya tanya dan kamu harus menjawabnya dengan tegas. Apa kamu yakin mau melakukan ini?" tandas sang ketua sembari mengeratkan genggaman tangannya.
"Saya yakin, Pak. Saya yakin seyakin-yakinnya, dan nggak akan pernah menyesal," jawab Naina tegas dan penuh keyakinan.
Laki-laki paruh baya itu menghela napas sembari melepas genggaman tangannya. Ia menyusut kedua mata, sambil membuka sebuah dokumen.
"Pergi dan bebaskan pemuda itu. Dia sangat beruntung karena memiliki gadis seperti Naina." Dia memberikan perintah kepada Bas, tapi polisi muda itu enggan melakukannya.
Laki-laki itu menghela napas lagi, mengusap wajah sedikit kasar. Dia sendiri tidak tega membiarkan Naina menggantikan pemuda itu. Jika bisa, dia ingin memboyong Naina sebagai menantu ke rumahnya jika saja masih memiliki anak laki-laki.
"Tapi gadis ini yang menginginkannya sendiri. Berikan dia tempat khusus, perlakukan dia dengan baik. Pergi, Bas! Biarkan dia kembali pulang pada keluarganya," titah sang atasan tanpa ingin dibantah.
Bas masih ingin mengatakan keberatannya, tapi tangan sang atasan mengibas tak ingin mendengar. Terpaksa ia pergi, sambil berdecak kesal menuju ruangan Alfin. Laki-laki yang sedang terpekur di dalam ruangan itu tersentak ketika kunci ruangannya terbuka.
"Bas!" panggilnya lirih begitu ia menoleh ke arah pintu.
"Kamu bebas hari ini, Alfin. Pulang dan kembali pada ibu kamu!" ucap Bas sembari berpaling muka menyembunyikan tangis kesedihannya.
Alfin ternganga tak percaya, dia beranjak pelan-pelan dan tertatih menghampiri temannya itu.
"Ka-kamu nggak bercanda, 'kan? Aku beneran bebas?" tanya Alfin terbata dan ragu.
"Ya. Kamu bebas dan cepatlah pulang sebelum aku berubah pikiran," ketus Bas tanpa melihat ke arah pemuda itu.
__ADS_1
Naina, kamu dengar! Aku bebas. Aku bebas, aku akan segera menikahi kamu, Naina.
Hati Alfin senang bukan kepalang. Satu hal yang dia inginkan dari kebebasan adalah menikahi Naina. Ia keluar dari ruangan dengan bibir yang mengulas senyum.
"Tapi kenapa? Kenapa aku tiba-tiba dibebaskan?" Alfin menoleh pada temannya itu. Menilik wajah Bas yang terlihat lain.
Mata Bas menatap tajam pemuda di depannya. Ia terlihat tidak ramah seperti biasa.
"Kamu itu manusia paling beruntung, Alfin. Dicintai dengan tulus dan cinta yang besar olehnya. Kamu jangan menyia-nyiakan kebebasan kamu, dia mau kamu pulang dan ketemu sama umi," cetus Bas seraya membuang wajah darinya.
Alfin menautkan alis, bingung dengan ucapan Bas yang terdengar ambigu. Bibirnya terbuka hendak mengucapkan sesuatu, tapi urung ketika ia melihat sosok Naina yang digiring menuju ke sebuah ruangan.
"Naina! A-apa ...."
"Yah, dia menyerahkan kebebasannya demi kamu."
"Nggak! Jangan Naina!" Kaki Alfin berderap dengan sendirinya menghampiri gadis itu.
"Naina! Naina!"
Gadis itu tetap berjalan, tak berniat berbicara dengan Alfin. Jika bisa, setelah semua ini berakhir, dia akan pergi sejauh-jauhnya.
"Naina, tunggu!" Alfin memapak langkah gadis itu. Ia menelisik wajah yang selalu membuatnya rindu dalam-dalam. Naina enggan bersitatap dengan pemuda itu.
"Kenapa?" Bergetar lisannya, terguncang hatinya.
"Pulanglah, Alfin. Ibu kamu sakit dan butuh kamu. Jangan pernah bertanya tentang alasan karena aku nggak akan pernah menjawabnya," ujar Naina seraya melanjutkan langkah dan masuk ke dalam salah satu ruangan yang telah disiapkan untuknya.
Alfin tidak menyerah, dia menghampiri ruangan tersebut dan berdiri di pintunya.
"Naina! Jangan, Naina. Kenapa kamu tega melakukan ini? Kenapa kamu melakukan semua ini?" Alfin meratap, menangis sambil memandang Naina yang memunggunginya.
Gadis itu bergeming, tak tergerak untuk menoleh ke arahnya.
"Naina, jangan bilang semua ini karena umi. Kamu rela berkorban karena mereka. Bilang, Naina. Kamu nggak harus kayak gini. Kamu nggak harus ngelakuin ini! Naina!" rengek Alfin masih menangis histeris.
"Pergi, Alfin. Jangan pernah temuin aku lagi!" Suara ketus Naina menggetarkan hati Alfin.
Pasti ada yang salah, dan dia menduga ulah keluarganya.
__ADS_1
****
Alfin mendesah setelah mengakhiri ceritanya.