
"Kita nikah, yuk!"
"Apa?!"
"Astaghfirullah al-'adhiim!" Rayan terlonjak dari kursi sambil mengurut dada saat suara pekikan Seira berdengung di telinganya.
"Anak nakal! Apa yang kamu bilang sama Rani, hah? Kamu mau menghambat karirnya menjadi dokter? Begitu!" cerocos Seira sembari memukul-mukul pelan bahu sulungnya.
"Ampun, Mah! Ampun!" Rayan menjadikan kedua tangannya sebagai tameng untuk melindungi diri dari serangan sang mamah.
Rani meringis melihat kejadian itu, sedangkan Fathya justru tertawa geli. Mengejek Rayan karena kedapatan menggoda anak gadis orang.
"Mah, Mah! Udah, Mah! Sakit. Rayan cuma gemas sama Rani, Mah. Ampun!" mohon pemuda itu sembari merapatkan kesepuluh jarinya mengiba.
Seira mendengus, matanya yang dipenuhi gejolak emosi menatap Rani. Gadis itu tersenyum malu, tak enak rasanya padahal mereka hanya bergurau.
"Jangan dengerin ocehan pemuda ini, Rani. Terusin aja kuliah kamu. Kenapa Mamah jadi gemas sama kamu, sih. Kalian harus lulus dulu, kamu kerja dulu. Anak orang mau dikasih makan apa?" Seira menekan pundak Rayan dengan gemas, kedua rahangnya mengeras terlihat lucu di mata Fathya.
__ADS_1
"Iya, Mah. Nggak. Abisnya tadi Rani bilang yang macam-macam, sih. Jadi, Rayan ajakin aja dia nikah," kilah Rayan padahal dia yang berbicara mengada-ada.
Rani mengangkat alis tak percaya, mulutnya sedikit terbuka mendengar alasan Rayan yang mengada-ada. Pemuda itu berkedip padanya meminta kerjasama, tapi mata Seira sangat awas hingga melihat gelagat itu.
"Apa kedip-kedip!" Ia mengusap wajah anaknya, benar-benar gemas dengan tingkah pemuda itu.
"Wisuda aja belum, udah ngajak nikah anak orang." Seira mencubit lengan atas Rayan, disapunya dengan cepat sambil meringis-ringis.
Rayan beranjak, berdiri dari kursi. Mempersilahkan sang mamah untuk duduk.
"Duduk, Mah. Kata ustadz, kalo kamu marah dalam keadaan berdiri, duduklah! Duduk, mah." Rayan menjauh dari kursi dan berdiri di samping Fathya.
"Nggak usah dipikirin ajakan Rayan, ya. Selesain aja kuliah kamu sampai kamu mendapat gelar dokter. Menjadi kebanggan untuk bapak sama ibu kamu. Yang pasti, Ibu juga akan bangga punya menantu seorang dokter yang berjasa besar pada masyarakat." Seira tersenyum, sikapnya melembut ketika berbicara dengan Rani.
Gadis itu mengulas senyum, membalas genggaman tangan Seira. Bersyukur karena ayahnya, ia bisa bertemu dengan keluarga baik itu. Mengenal, bahkan dekat dengan mereka. Yang paling penting, akan diangkat menjadi menantu juga.
Terlalu banyak kebahagiaan yang dilimpahkan Tuhan pada hidupku. Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kau dustakan, Rani? Allah mengangkat derajatmu karena ilmu, dan memberikan keluarga yang sempurna.
__ADS_1
"Makasih, Ibu. Aku sangat beruntung bisa diterima dengan baik di keluarga ini. Kalo Bapak setuju aku menikah dekat-dekat ini, aku nggak masalah. Aku masih bisa lanjutin kuliah aku, dan pastinya nggak akan jadi fitnah kalo Kak Rayan nganter aku ke rumah malam-malam," ujar Rani tersenyum tulus dari lubuk hatinya.
Hati Rayan mencelos, begitu pula dengan Seira, bahkan Fathya yang belum mengerti merasakan keharuan di hatinya.
"Gimana ini, Rayan? Kamu harus tanggung jawab! Oh, Mamah merasa sudah tua karena sebentar lagi akan punya menantu," celoteh Seira sembari mengibas-ngibaskan tangan di dekat wajah karena rasa panas seketika menjalar di matanya.
Ia menangis, berdiri dan memeluk anak laki-lakinya. Memukul-mukul gemas karena ucapan pemuda itu yang sembarangan, membuatnya berada dalam kebimbangan. Yang dikatakan Rani adalah benar. Pernikahan dilaksanakan untuk menghindari fitnah.
"Dih, Mamah ... lebay. Orang Mamah udah punya menantu, kok. Itu ustadz Alfin, suami kak Naina." Fathya mendengus, melipat kedua tangan di perut.
Itu beda, Fathya. Rayan adalah anak yang Mamah kandung selama sembilan bulan dan Mamah lahirkan.
"Ya udah, setelah pulang dari resepsi Naina, kita langsung ke rumah Rani untuk melamarnya." Fatih datang dan langsung setuju setelah mendengar perdebatan mereka.
"Mas!" Seira mengangkat wajah menatap suaminya. Laki-laki itu tersenyum dan mengangguk, Bibir Seira ikut tertarik ke atas.
Sementara Rani meneguk ludah, wajahnya pucat pasi. Nggak Minggu ini juga kali!
__ADS_1
Ia melirik Rayan, pemuda itu memainkan alisnya naik dan turun.