
Kumandang adzan subuh menggema di seantero jagat raya. Mengguncang jiwa-jiwa yang terlelap dalam buai alam mimpi. Membangunkan setiap napas yang terhenti. Termasuk dia, yang baru saja terlelap karena hampir semalaman mata tak dapat dipejamkan.
Rasa rindu yang membuncah, rindu akan pelukan sang belahan jiwa. Sayup-sayup telinganya mendengar gema takbir seseorang di dalam ruangan tersebut. Alfin membuka mata perlahan, lamat-lamat melihat sesosok berjubah putih tengah menunaikan sholat subuh diikuti wanita yang berada di atas ranjang.
"Astaghfirullah al-'adhiim!" Ia mengusap wajah seraya beranjak turun dari sofa. Membawa serta pakaian ganti yang dibawanya dari masjid.
Alfin membersihkan diri di dalam kamar mandi, mengguyur tubuhnya yang terasa kaku. Mengambil wudhu untuk kemudian menunaikan sholat sendirian.
Ia mendatangi Ahmad yang duduk di sofa, menyalami laki-laki tua itu.
"Makanya jangan sms-an mulu. Kesiangan, 'kan," ejek Ahmad yang diam-diam memperhatikan Alfin semalam.
Laki-laki itu menggaruk kepalanya yang tak gatal, mau bagaimana? Dia memang tak dapat tidur semalam karena gejolak rindu pada sang istri.
Bener kata kak Busyro, rindu sama istri itu beda.
Dia tertawa kecil dan beralih pandangan pada Aminah. Senyumnya menghilang ketika beradu tatap dengan manik tua yang terlihat sendu lagi sembab di sana. Alfin mengalihkan pandangan lagi kepada Ahmad, anggukan kepala dari laki-laki itu memintanya untuk mendatangi Aminah.
Alfin mengulas senyum, mencoba untuk bersikap biasa dan baik-baik saja. Seolah-olah tak ada permasalahan yang terjadi di antara mereka. Ia melangkah mendekati ranjang, setiap langkanya berhasil menjatuhkan air mata Aminah.
Alfin meraih tangan wanita itu dan menciumnya dengan takzim. Pesan Naina selalu terngiang di telinga, dia tidak boleh marah kepada ibunya.
"Gimana keadaan Umi? Udah lebih baik?" Alfin tersenyum, tak berharap balasan. Ia kembali melanjutkan, "Alfin udah nikah sama Naina, Mi. Tadi malam, Ustadz Hasan yang menjadi walinya. Maafin Alfin karena nggak minta izin dulu sama Umi. Alfin harap Umi bisa ngerti."
Ungkapan maaf yang terdengar tulus dari anaknya, mengalun bagai nyanyian surgawi. Menenangkan hati Aminah yang sejak semalam dilanda gelisah. Alfin tetap bersikap lembut setelah kejadian kemarin.
Aminah tak dapat berkata-kata, tangisnya semakin meronta. Ia menarik tubuh Alfin dan membawanya ke dalam dekapan. Menumpahkan kerinduan pada putra bungsunya itu.
"Maaf, maafin Umi. Maafin Umi, Alfin. Kalian menderita karena Umi. Umi bener-bener menyesal, Umi mohon maaf sama kamu juga Naina," ungkap Aminah dipenuhi getaran lisannya.
Alfin tersenyum, menatap Ahmad penuh kebahagiaan. Laki-laki tua itu menganggukkan kepala sambil berkedip mata. Bersyukur karena Aminah telah menyadari semuanya.
Alfin melepas pelukan, mengusap air mata di pipi wanita itu. Mengecup dahinya penuh kasih dan cinta, betapa dia mencintai Aminah.
"Alfin udah maafin semua kesalahan Umi tanpa Umi meminta maaf, tapi masalahnya bukan pada Alfin seharusnya Umi minta maaf. Pada Naina, dialah yang paling menderita dari kejadian kemarin itu." Alfin menatap lekat-lekat manik berkabut milik Aminah, sungguh wanita itu telah tua, keriput di wajahnya menjelaskan semua.
Aminah menganggukkan kepala, berniat di dalam hati akan meminta maaf pada menantu barunya itu.
"Umi pengen ketemu sama Naina," ucapnya lirih. Ia menunduk menyembunyikan tangisan dari mata sang anak.
"Nanti Alfin bawa Naina ke sini-"
"Nggak! Jangan, biar Umi yang pergi ke sana. Keluarga kita yang seharusnya mendatangi rumah mereka dan membawakan segala seserahan. Kita akan pergi ke sana," sela Aminah membuat Alfin tertegun.
__ADS_1
Rasa bahagia datang dengan sendirinya, dalam dekapan wanita itu Alfin bersyukur. Tak henti hatinya mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Sang Maha Cinta.
"Makasih, Umi. makasih."
Ahmad mengusap sudut mata, terharu melihat keduanya akur kembali. Keluarga kembali harmonis, tidak ada lagi kesalahpahaman di antara mereka.
"Assalamu'alaikum!" Khadijah muncul sambil menenteng sebuah tas bekal di tangan.
"Wa'alaikumussalaam!"
Ia mengulas senyum melihat orang-orang di dalam ruangan tersebut tampak akrab. Ada binar-binar kebahagiaan yang terpancar di manik mereka, senyum mereka terlihat tulus dan ceria.
"Mmm ... apa aku melewatkan sesuatu?" tanyanya entah pada siapa.
Mereka menggeleng kompak, karena memang tak ada apapun yang terjadi. Khadijah menghela napas, meletakkan tas bekal di atas nakas.
"Fin, kamu nggak kerja? Mau dikasih makan apa istri kamu nanti? Sana pergi, biar Kakak yang jaga Umi." Khadijah mendorong tubuh adiknya agar turun dari ranjang, dan menggantikan tempat Alfin di sana.
Laki-laki itu mendengus, memalingkan wajah kesal.
"Aku ini bosnya, kerjaanku cuma ngontrol aja," gumam Alfin nyaris tak terdengar.
Khadijah mendekatkan telinganya pada bibir sang adik.
Alfin meringis sambil mendorong jauh wajah Khadijah. Melotot lebar, seraya membanting diri di sofa.
"Benar, Nak. Pulang ke rumah Naina, Umi udah nggak apa-apa. Mudah-mudahan bisa cepet pulang," sahut Aminah dengan rela hati.
"Nanti malam aja, Mi. Sekarang Alfin mau di sini dulu," ucap Alfin bersungguh-sungguh.
Namun, sebuah notifikasi pesan, membuatnya terlonjak.
Aku sendirian di masjid, mau ikut sama Mamah nggak boleh. Kamu pulang ke sini nggak?
Pesan dari Naina membuat hatinya berbunga. Ia beranjak, memakai jaketnya sambil tersenyum-senyum.
"Eh, mau ke mana? Pake senyum-senyum segala. Katanya mau di sini." Khadijah mencibirkan bibir, mengejek adiknya.
"Nggak jadi, Kak. Alfin mau ke masjid," sahut Alfin sambil tersenyum balas mengejek.
"Lho, kok, ke masjid? Nggak ke rumah Naina?" tanya Ahmad disaat Alfin menyalami dirinya.
"Nggak, Bi. Ke masjid aja. Sekalian mau lihat-lihat bangunan." Alfin melengos secepat kilat, menyalami Aminah dan Khadijah.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalaam!"
****
Di masjid, Naina duduk di teras menunggu kedatangan Alfin. Ia sengaja ikut bersama Asep untuk mengurusi anak-anak di pagi hari. Sementara laki-laki itu pergi menengok rumah lamanya.
Di halaman asrama, rekan Alfin yang sama-sama marbot di masjid tersebut memperhatikan Naina sambil menyapu daun-daun kering dan mengumpulkannya.
Diam-diam mengagumi sosok berhijab itu karena sering mendengar cerita dari anak-anak Alfin. Naina beranjak, melangkah ke tepi jalan tak sabar menunggu kedatangan suaminya.
Beberapa saat menunggu di dekat gerbang, sebuah motor berhenti tepat di depan dirinya. Alfin membuka helm, tersenyum melihat sang istri. Naina tersipu, melangkah pelan menghampiri. Ia menyalami Alfin dengan malu-malu.
"Udah lama?" tanya Alfin seraya merangkul bahu Naina dan membawanya masuk ke area masjid.
"Lumayan, dari anak-anak berangkat sekolah tadi. Gimana kabar Umi? Udah baikan?" Naina melirik suaminya, perban di dahi laki-laki itu telah berganti menjadi plester.
"Yah, Alhamdulillah. Udah mendingan, beliau mau ketemu sama kamu," ujar Alfin sembari menilik wajah Naina yang menunduk.
Ia mengangkat wajah, melihat Alfin dengan saksama.
"Apa Umi udah nggak marah sama aku?" tanyanya.
Alfin menghentikan langkah, membalik tubuh Naina menjadi berhadapan. Ia menghela napas, mengusap hijab istrinya dengan lembut. Pandangannya berakhir tepat di bibir Naina yang dipoles lipstik natural. Cukup menggugah keinginan Alfin.
Laki-laki itu meneguk ludah tanpa sadar, sesuatu dalam dirinya bangkit. Sebagai laki-laki normal, tentu dia menginginkannya. Alfin mendesah sambil berpaling, berucap istighfar dalam hati berulang kali.
"Kenapa?" Naina memegang tangan Alfin yang masih menempel di pipinya.
"Nggak apa-apa. Umi udah nggak marah sama kita. Nanti kalo udah sehat, keluargaku mau datang ke rumah. Nggak apa-apa, 'kan?" Alfin memandang wajah Naina. Senyum itu yang ia rindukan.
"Nggak apa-apa."
Alfin tersenyum getir, harus menahan gejolak di dalam dirinya. Ia mengajak Naina ke belakang masjid, di mana kamarnya berada. Tak jauh dari kamar mandi, dan juga dapur masjid. Tempat biasa masyarakat memasak saat ada acara besar di rumah Allah itu.
"Ini tempat siapa?" tanya Naina ketika mereka berdiri di depan sebuah pintu.
"Ini kamarku." Alfin membuka pintu tersebut, langsung disambut lemari kecil dan sebuah kasur singel. Laki-laki itu menggaruk kepalanya, membiarkan Naina masuk ke dalam.
"Kamu pasti nyaman tidur di sini," celetuk Naina. Ia meletakkan tasnya di atas lemari kecil itu, dan duduk di kasur tempat Alfin tidur.
Naina menepuk kasur di sampingnya, meminta Alfin untuk duduk di sana juga.
__ADS_1