
"Ibu!" Halwa berlari ketika Naina turun dari mobil dengan menenteng kantong plastik besar di kedua tangannya. Menyusul, anak-anak yang lain ikut berhambur memeluk Naina. Sigap anak-anak besar mengambil alih barang bawaan ibu mereka.
"Biar aku bawa, Bu."
Naina tersenyum, mereka anak-anak yang baik, anak-anak sholeh, dan sama sekali tidak merepotkan. Kelak, anak yang dilahirkannya akan persis seperti kakak-kakak itu. Mandiri, dan tanggap.
"Makasih, ya." Naina mengusap kepala mereka, seraya berjalan beriringan dengan anak-anak itu.
Tanpa perintah, semua berkumpul di gazebo membagikan jatah bulanan untuk masing-masing anak. Mulai dari keperluan mandi, dan keperluan lainnya.
Hati Naina bertambah bahagia, melihat senyum-senyum di bibir mereka yang merekah sempurna. Tak ada cacat, tak ada yang dibuat-buat, semuanya murni dan alami lahir dari hati.
"Ibu, di mana ayah?" tanya salah satu dari mereka.
"Ayah mau ke ustadz Hasan dulu. Ada perlu katanya," jawab Naina. Kelembutan sikap, keramahan serta ketulusan hatinya, membuat anak-anak itu merasa nyaman berada di dekatnya.
"Ibu, tolong dikupas. Ini susah." Naina suka ketika mereka meminta hal remeh seperti itu. Dengan senang hati membantu dan memberi solusi agar ke depan mereka bisa melakukannya sendiri.
"Ternyata mudah, cuma kurang tenaga aja," katanya sambil tersenyum menampakkan lesung pipi yang membuat manis wajah polos itu.
__ADS_1
"Assalamualaikum!" Alfin datang setelah berbincang dengan ustadz Hasan perihal syukuran untuk rumah mereka yang beberapa hari lagi rampung.
"Wa'alaikumussalaam, Ayah!" serbu mereka menyalami sang ayah.
"Udah pada mandi belum?" tanya Alfin menatap wajah mereka satu per satu.
"Udah, Yah."
Wajah-wajah penghilang lelah, pelipur lara dan duka. Pengobat hati yang merindu. Mereka adalah mutiara berharga yang tersembunyi dibalik luka. Kini, di tangan kedua orang itu mereka selalu tersenyum bahagia. Kelak, mereka akan menjelma menjadi orang-orang hebat dan berguna bagi nusa bangsa juga agama.
"Ayah, Ibu, nginep, ya. Halwa mau tidur sama Ibu lagi. Anget dipeluk Ibu." Halwa menjatuhkan kepala di pelukan Naina, mencari kenyamanan dari sosok ibu yang baru ia temukan.
"Sayang, nanti malam ibu Sei sama keluarganya mau pulang ke Jakarta. Ayah sama Ibu harus ikut mengantar mereka. Jadi, malam ini tidur sama Kakak-kakak dulu, ya. Sebentar lagi, 'kan, rumah Ayah selesai. Nanti bisa sering-sering nginep," ucap Naina sembari mengusap-usap punggung Halwa yang bersikap manja padanya.
"Iya, Dek. Kalo rumah Ayah sama Ibu udah jadi, kita bisa sering-sering tidur bareng. Sekarang, tidur sama Kakak-kakak aja dulu. Kakak akan peluk kamu sepanjang malam," timpal sang kakak merayu Halwa agar tidak memaksa Naina.
Gadis kecil itu beranjak, menoleh pada anak yang berbicara tadi.
"Janji?" pintanya.
__ADS_1
"Mm ... janji!" sambut sang kakak sambil mengangguk pasti. Halwa setuju dan tidak memaksa mereka untuk menginap.
Naina melirik Alfin, laki-laki itu tersenyum sumringah. Ia berpaling seketika rasa panas menjalar di wajahnya.
"Oya, bu Sei sama keluarganya ke mana? Mas nggak liat mereka hari ini," tanya Alfin seketika mengingat keluarga yang menginap di rumah ayah mertuanya.
"Mereka pergi liburan. Mumpung di sini, katanya. Sore ini pulang ke rumah, nanti malam pulang ke Jakarta. Kita pulang dulu, ya," ucap Naina diangguki Alfin.
Mengingat sosok Rayan yang rupawan, dengan sikapnya yang alim tak banyak bicara, mengingatkan pada saat dulu di mana Alfin selalu bersikap dingin terhadap semua wanita meski ada satu wanita yang mencoba mendekatinya.
"Anaknya bu Sei yang perempuan umur berapa?" Alfin teringat pada Fathya, gadis remaja yang beranjak dewasa.
"Masih sekolah. Kenapa?" Naina menelisik wajah sang suami yang tampak berpikir.
"Mas ingin mencarikan jodoh buat Yusuf. Umurnya sudah cukup dewasa untuk menikah. Lebih tua dari Mas, tapi kalo anaknya bu Sei masih sekolah kayaknya nggak cocok, ya." Ia tersenyum memandang Naina.
Wanita itu menghela napas, rupanya Alfin ingin menjadi mak comblang.
"Jangan sama Fathya, dia masih sekolah. Kalo mau sama tante Biya aja. Beliau juga sudah cukup usia untuk menikah. Sekarang merintis karir di dunia fashion. Buka butik kayak gitu," saran Naina teringat pada Biya, adik Fatih yang belum menikah.
__ADS_1
"Nah, boleh tuh. Bisa kita bicarakan sama pak Fatih nanti," ucap Alfin sumringah. Naina mengangguk, semoga mereka setuju.