
Beberapa saat setelah Adrian meninggalkan ruangan Aminah. Berkali-kali menelpon, tapi ponsel gadis itu belum juga bisa dihubungi. Adrian berdecak, bukan kesal, tapi karena mencemaskan keadaan sang anak.
Ia berhenti di sebuah pilar, mengubah kontak ponsel menghubungi Habsoh.
"Mah, Naina udah pulang ke rumah? Papah jemput ke rumah sakit katanya udah pulang," tanya Adrian segera begitu sambungan terangkat.
"Seingat Mamah belum ada yang datang ke rumah. Naina belum pulang, Pah. Pintu kamarnya aja kebuka," jawab Habsoh di seberang sana.
Adrian meringis, itulah kenapa dia tidak membiarkan Naina pergi seorang diri.
"Ya udah, Mah. Papah mau cari Naina dulu," pamit Adrian seraya menutup sambungannya.
Ia melirik ponsel beberapa saat, kemudian menatap langit yang tak secerah biasanya, tapi juga tidak mendung. Tubuhnya berputar sambil mengusap wajah, berdoa untuk keselamatan Naina.
Alis Adrian bertautan ketika mata tak sengaja melihat sekelompok orang duduk di sebuah bangunan kecil.
"Alfin? Itu kayaknya Alfin? Dia udah bebas. Coba aku datangi siapa tahu mereka melihat Naina," gumam Adrian, kemudian memulai langkah menghampiri kelompok Ahmad itu.
Lamat-lamat telinganya mendengar obrolan mereka, juga suara isak tangis Ahmad dan Khadijah. Sungguh Adrian tak pernah menduga. Niatnya hanya ingin bertanya kepada Alfin, tapi kenyataan pahit yang ia dengar tanpa sengaja dari lisan sang pemuda.
"Apa yang dibilang Kakak itu bener, Abi? Apa Umi yang menyebabkan Naina pergi ke penjara dan menggantikan aku?"
Deg!
Napas Adrian tercekat, jantungnya berontak hebat, bahkan tubuhnya secara reflek mematung diikuti wajahnya yang pucat pasih nyaris seperti mayat. Obrolan mereka semakin membuat Adrian naik darah. Ia mengepalkan kedua tangan, menahan segala amarah yang memuncak.
Tulang rahangnya mengeras, gigi merapat dan saling berbenturan satu sama lain. Jangan lupakan kilatan matanya yang memerah, memancarkan api amarah yang menjilat-jilat.
__ADS_1
Ahmad terdiam, terisak dalam penyesalan yang mengurung jiwanya.
"Kak Dijah, tolong jangan menyembunyikan apapun." Busyro memelas kepada kakaknya.
"Umi bilang yang seharusnya ada di penjara itu Naina, bukan Alfin. Mungkin Naina mendengar itu, Kakak nggak tahu." Khadijah menunduk sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tangisnya semakin menjadi, kedua tangan menutup wajah sedih.
"Astaghfirullah al-'adhiim!" Ahmad dan Busyro berucap secara bersamaan, sedangkan Alfin mengepalkan tangan menahan emosi yang kian membuncah.
Tak jauh dari mereka, wajah Adrian kian menghitam. Semakin lama mendengar obrolan mereka, semakin membuat dada laki-laki itu bergemuruh hebat hingga ia tak kuasa menahan dirinya.
"Jadi seperti itu? Seperti itu kalian memperlakukan anakku?!" sentak Adrian sembari menahan diri agar tidak berlebihan.
Mendengar suara dingin dan bergetar itu, semua kepala di sana menoleh. Kedua mata Alfin dan Khadijah membelalak sempurna, terlebih ketika sorot mata tajam Adrian menghujam kedua manik mereka. Alfin meneguk ludah sendiri yang terasa menyayat. Sementara kedua orang lainnya, tercenung menatap sosok asing itu.
Mereka semua diam, Khadijah menunduk, kedua bahunya semakin berat berguncang. Naik dan turun dengan cepat, seiring tangis yang terus meningkat.
"Apa orang-orang taat dan beragama seperti kalian ini boleh dengan bebas merendahkan orang lain? Anakku nggak tahu apa-apa, dia korban dan kalian semua tahu itu! Tapi kenapa dia begitu tega melimpahkan semua kesalahan pada Naina? KENAPA? Kalo aku tahu ... seandainya aku tahu ...." Telunjuk Adrian berhenti di udara, menuding sosok Alfin yang bergeming dengan air mata berjatuhan.
Sungguh ia pun tak ingin semua ini terjadi. Entah siapa yang salah, tapi Adrian menuding mereka semua.
"Tunggu, Pak. Anda jangan salah-"
"Salah faham? Apa yang aku dengar kurang jelas? Dia mengatakan kalo Naina datang ke penjara dan menggantikan tempatnya. Apa aku salah mendengar? Kamu pikir aku bodoh dan bisa dibodohi?! Kalo bukan karena ucapan dari wanita yang ingin dijenguknya, Naina nggak akan pergi ke sana. Dia sedang berusaha mencari cara supaya pemuda ini dapat terbebas dari penjara. Siang gelisah, malam nggak tidur, makan nggak enak. Kalian pikir Naina hidup tenang? Naina senang-senang?" Adrian meradang.
Ahmad menunduk dalam, menangisi ketidakmampuannya sebagai pemimpin. Busyro yang disela ucapannya, tertegun sambil meneguk saliva. Ada kegetiran, kesedihan, penderitaan, kekecewaan, penyesalan, dari nada bicara yang dituangkan laki-laki asing itu.
__ADS_1
Adrian menatap mereka satu per satu, memastikan wajah-wajah yang memuakkan baginya itu. Menyimpan mereka di dalam memori ingatan, untuk seumur hidup tak akan pernah bisa ia lupakan.
Bola matanya terpaku pada sosok Alfin yang tertunduk dengan punggung berguncang. Ia tahu, pemuda itu tengah menangis, tapi percuma.
"Naina nggak tahu apa-apa, dia nggak harus menanggung semua dosa. Semua ini karena kesalahan aku dan ibunya. Dia juga nggak bisa memilih dari rahim siapa dia dilahirkan. Naina nggak seberuntung gadis lainnya yang dilahirkan dalam keluarga utuh. Dia ada karena kesilapan aku yang nggak bisa menahan diri. Jangan merendahkannya lagi, dia sudah banyak menderita. Jangan menambah penderitaannya lagi."
Jatuh air mata Adrian mengingat perjalanan hidup Naina yang dipenuhi duri. Ia melipat bibir, menguatkan hati membuat keputusan. Menatap tegas manik Alfin yang terangkat padanya.
"Kalo kamu dan keluarga kamu nggak bisa nerima anakku, lepaskan dia. Naina berhak bahagia, Naina pantas mendapatkan laki-laki yang bisa mencintai dan menerima dia apa adanya. Bukan laki-laki yang memandangnya rendah, atau mencintainya setengah-setengah." Adrian menggelengkan kepala.
Pupil Alfin membesar, mulutnya terbuka lebar. Ia menggelengkan kepala sambil berderai air mata. Tak hanya pemuda itu, tapi ketiga kepala lainnya juga sontak memandang Adrian. Seolah-olah tidak menerima keputusan laki-laki itu.
"Jangan pernah mencari anakku lagi. Carilah gadis yang sepadan dengan keluarga kamu, dan tinggalkan Naina untuk selamanya. Kupikir orang-orang yang taat beribadah seperti kalian, akan lebih berhati-hati dalam berucap. Pikiran kalian lebih jernih daripada aku yang selalu memikirkan dunia. Ternyata ...."
Adrian menggeleng-gelengkan kepala lagi, bibirnya mencibir, pandangannya tak lagi sama.
"Ingat ucapanku, jangan pernah cari Naina lagi. Cukup sudah kamu beri dia penderitaan, cukup sudah dia berkorban semuanya buat kamu. Pengorbanan yang nggak ada harganya di mata orang-orang mulia seperti kalian." Adrian memburu udara, mengurai sesak yang diciptakan rasa marah.
Dia berbalik membawa hatinya yang sakit tercabik, dunianya hancur karena penderitaan yang dialami si buah hati.
"Pak! Aku nggak akan pernah ninggalin Naina. Sekalipun Bapak membawa Naina pergi ke ujung dunia, aku akan mencarinya. Aku akan menemukan dia!" tegas Alfin yang berhasil menyurutkan langkah Adrian, pemuda itu berdiri dengan tekad yang memancar di kedua maniknya.
Adrian melirik tanpa memutar tubuh, tersenyum sinis mencibir pemuda itu.
"Silahkan saja kalo kamu mempunyai nyali dan kekuatan! Kamu lemah, terlalu lemah untuk gadis setangguh anakku!" Adrian melanjutkan langkah meninggalkan Alfin yang jatuh di lantai.
Lemah! Kamu terlalu lemah, Alfin! Sangat lemah!
__ADS_1