
Hari berganti, malam bertukar siang. Semangat baru menyambut sosok baru yang dilahirkan kembali. Naina mengenakan kerudung yang sesuai dengan dunia kerjanya. Belajar sedikit demi sedikit menyempurnakan agama.
Ia menatap pantulan dirinya di dalam cermin, menelisik penampilan dan disesuaikan dengan syariat. Tak ada lagi celana jeans yang ia kenakan, Naina lebih memilih memakai celana berbahan biasa yang longgar.
Puas memandangi dirinya, ia menyambar tas keluar kamar. Menemui Asep dan Sumiyati yang bersiap untuk sarapan.
"Alhamdulillah. Udah bisa pakenya?" tanya sang bibi ketika melihat Naina memasuki dapur.
"Alhamdulillah, udah bisa, Bi. Makasih, ya, Bi." Naina menjawab sembari menarik kursi dan duduk untuk sarapan.
"Maa syaa Allah, walhamdulilah! Keponakan saya pake kerudung, cantik banget!" seru Asep dengan begitu senangnya.
****
Gadis itu duduk anteng di atas motor, menikmati sepoi angin yang menerpa wajahnya. Sesekali akan terpejam untuk menghindar dari terpaan sinar mentari pagi. Bibirnya tersenyum, menyambut hari dengan penuh semangat baru.
"Assalamu'alaikum!" sapa Naina sembari membuka pintu toko yang masih sedikit tertutup.
"Wa'alaikumussalaam ... wah! Siapa ini?" pekik seorang teman sembari memandangi tubuh Naina yang aneh menurutnya.
"Naina?" pekik yang lain dengan rasa tak percaya di hatinya. Jadilah mereka berkerumun di sekitar Naina.
"Kamu berubah, ya? Padahal cuma libur sehari, apalagi kalo sampe berminggu-minggu," celetuk salah satu dari mereka sambil membubarkan diri.
"Alhamdulillah. Kemarin aku ketemu sama orang baik, terus belajar sedikit menutup aurat. Doanya aja mudah-mudahan aku nggak plin-plan, ya," ucap Naina sambil memasuki gudang untuk meletakkan tas yang dibawanya.
"Aamiin!"
Mereka melakukan tugas bersama di pagi hari sebelum briefing dimulai dan toko siap menerima pelanggan. Hidup Naina menjadi tenang setelah beberapa hari sang manager digantikan oleh orang lain untuk sementara waktu.
__ADS_1
Beramai-ramai membersihkan toko, merapikan rak-rak, mengepel lantai, menyapu, membersihkan kaca. Semua itu mereka lakukan secara gotong royong.
"Kayaknya semenjak deket sama marbot masjid itu, Naina jadi lebih kalem, ya?" celetuk salah satu teman yang sengaja memperhatikan Naina.
"Biasa aja, sih. Emang apanya yang berubah? Aku cuma pake kerudung aja, kok," sahut Naina sama sekali tidak merasa berubah.
Tanpa mereka sadari, di pintu masuk seseorang tengah menguping. Ia urung hendak membuka pintu toko, dan memilih mendengarkan pembicaraan mereka lebih dulu.
"Eh, Nai. Tahu nggak kamu, kata adikku waktu kapan gitu dia kena begal. Nggak tanggung-tanggung katanya tiga orang bawa senjata. Ngeri, ya," beritahu salah seorang pekerja laki-laki yang adiknya ikut mengaji di masjid Alfin.
"Tahu dari mana?" sambar yang lain penasaran.
Naina terdiam mendengarkan cerita mereka. Sambil memegang kemoceng di tangan, ia membayangkan kejadian yang menimpa Alfin saat kembali dari mengantarnya pulang.
"Katanya pak ustadz di sana yang cerita, beliau memberitahukan kepada anak-anak semuanya buat kasih peringatan sama orang-orang di rumah mereka," jawabnya mengulang kembali yang dikatakan sang adik.
Naina menghela napas, bersyukur Alfin bisa melawan mereka dan pulang dalam keadaan baik. Ia melanjutkan pekerjaannya membersihkan rak-rak dari debu.
"Alhamdulillah. Dia nggak apa-apa, kok. Kemarin juga udah ada di masjid ikut bagi-bagi di kajian. Malahan kalo kata pamanku, begalnya itu yang kalah dan babak belur sama Alfin. Dia sendiri sehat wal'aafiyat," jawab Naina membuat lega rekannya itu.
Namun, tidak dengan dirinya, sosok yang menguping diluar toko itu mengepalkan tangannya erat. Mendengar Alfin baik-baik saja, hatinya tak senang dan tidak terima.
Sialan! Berarti aku ditipu mereka. Awas aja kalo ketemu, aku seret langsung mereka ke penjara.
Dia adalah Anton, manager toko yang beberapa hari setelah kejadian menghilang dari keramaian. Anton melirik masjid yang berdiri gagah di seberang tokonya. Tanpa sengaja melihat Alfin dan anak-anak yang sedang menyapu halaman rumah Allah itu.
Kurang ajar! Ternyata benar dia masih hidup dan baik-baik aja. Dia bahkan terlihat sehat dan nggak pucat sama sekali. Mereka benar-benar nipu aku.
Hatinya diliputi amarah, semakin kuat kepalan tangan yang dilakukannya. Merasa tertipu oleh tiga preman yang diperintahkannya untuk menghabisi nyawa Alfin.
__ADS_1
"Wah, hebat juga, ya. Bisa ngalahin tiga begal sekaligus. Sendirian lagi," puji mereka benar-benar merasa takjub dengan kisah Alfin yang melawan tiga orang begal sekaligus.
"Yah, apapun bisa kita lakukan kalo lagi terdesak. Mungkin Alfin punya bekal bela diri, juga mendapat perlindungan dari Allah. Makanya dia mampu melawan tiga begal itu. Kalo nggak ada turut campur tangan Allah, rasanya mustahil Alfin mampu melakukannya. Ini bukan di film," ujar Naina yang seketika membuat keadaan menjadi sepi.
Mereka semakin mengagumi gadis Lita itu, pesonanya semakin memancar dan menarik para kumbang untuk meneguk manis madunya. Namun, mereka semua enggan mendekati, lantaran kini Naina lebih tertutup. Oleh karena itulah, sang manager rela melakukan apa saja demi bisa mendapatkan Naina.
Anton masih menatap ke arah masjid, pada sosok Alfin yang tengah mengumpulkan daun-daun kering ke dalam kantong plastik untuk dibuang. Sampai laki-laki itu beranjak dan melangkah ke tepi jalan, pandangan keduanya bertemu. Alfin tahu siapa yang menyuruh tiga orang itu untuk membunuhnya.
Namun, ia lebih memilih diam, tidak berniat membalas perbuatan manager Naina tersebut. Alfin tersenyum, mengangguk ramah sambil terus melangkah keluar untuk membuang sampah.
Anton semakin geram dengan sikap sok ramah yang ditujukan Alfin padanya. Ia berbalik dan membuka pintu cukup kuat. Pintu yang terbuka dengan kasar tersebut, membuat semua karyawan di dalamnya mengalihkan perhatian.
"Selamat pagi, Pak!" sapa mereka serentak, kecuali Naina seorang yang menunduk menghindari tatapannya.
"Pagi! Kerja yang bener, jangan bikin gosip melulu," ketusnya kesal.
Ia melengos masuk ke dalam ruangan, terus mengurung diri di sana. Hingga toko mulai dibuka untuk pelanggan, laki-laki itu masih di dalam ruangan dan tidak melakukan briefing seperti biasanya.
Hari pertama masuk setelah cuti beberapa hari karena satu alasan, disambut hal yang tak mengenakan hatinya.
"Kenapa si Bos nggak keluar-keluar, ya?" celetuk salah satu dari mereka keheranan.
"Nggak tahu, lagi galau kali," sahut yang lain menimpali.
Mereka tidak terlalu menghiraukan, lanjut melakukan pekerjaan masing-masing melayani para pelanggan yang mulai berdatangan untuk berbelanja.
Asik melakukan tugas masing-masing, sampai sang manager keluar dari ruangannya dan mengatakan hal yang tak pantas untuk dikatakan seorang atasan.
"Sebaiknya kalo kerja itu nggak pake kerudung. Bikin ribet, kerja kamu juga jadi nggak maksimal. Nanti malah bikin toko rugi!" ketusnya, seraya kembali masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
Naina tertegun, sadar sindiran itu ditujukan padanya. Akan tetapi, ia tidak menanggapi dan lanjut melayani pembeli.