
Semilir angin sore hari, menerbangkan ujung hijab yang dikenakan gadis itu. Di tepi danau buatan, tepatnya bekas galian pasir yang ditinggalkan, ia berdiri menatap air beriak di bawah sana.
Ada banyak jenis bunga tumbuh di sana, pohon-pohon pun berdiri kokoh menjadi tempat berteduh sejoli yang tengah di mabuk cinta. Ada banyak pasangan muda duduk di bangku taman bermesraan. Ada pula sepasang ibu dan ayah yang membawa anak-anak mereka bermain.
Termasuk di dalamnya Naina, sore itu demi menghilangkan rasa traumanya, Alfin mengajak Naina juga semua anak bermain di taman baru tersebut.
Ada banyak anak-anak lain yang bermain di sana. Sebuah taman bermain khusus anak-anak yang disediakan pemelihara tempat tersebut.
"Naina!"
Suara memekik seorang gadis membuat Alfin menoleh pada calon istrinya itu. Ia mengernyit melihat seorang gadis tak berhijab menghampiri Naina. Niat ingin mengajaknya bergabung, ia urungkan karena kedatangan gadis itu.
"Ayah, ayo ajak Ibu main ke sini. Halwa mau main itu sama Ibu," rengek gadis kecil Alfin sambil menunjuk permainan ayunan. Alfin berjongkok mengusap bahu Halwa dengan pelan.
"Ibu lagi kedatangan temannya. Sama Ayah aja, ya," ucap Alfin yang disetujui Halwa meskipun enggan. Dia ingin seperti anak lainnya yang bermain bersama ibu mereka.
Dari jarak cukup jauh tersebut, Alfin bisa leluasa mengawasi kedua gadis yang sedang bercengkerama itu.
"Naina emang nggak bohong, mereka begitu dekat kelihatannya. Apa mungkin dia juga berbohong soal kuliahnya?" Alfin menghela napas, ada banyak orang seperti itu yang dia jumpai di dunia ini. Tak hanya satu, Alfin sering bertemu mereka. Orang-orang yang bermuka dua.
"Tiwi!"
Naina berbalik tersenyum melihat sahabatnya datang. Mereka berjingkrak dan saling memeluk satu sama lain.
"Kamu ngapain di sini? Sendirian?" tanya Tiwi begitu senangnya bertemu dengan Naina.
"Nggak lagi ngapa-ngapain. Cuma pengen nongkrong aja di sini denger kata orang ada taman baru," jawab Naina sembari mengajak Tiwi untuk duduk di bangku pinggir danau.
"Kamu sendiri gimana?" Giliran Naina bertanya sambil menelisik penampilannya yang sangat jauh berbeda seperti pada waktu malam itu.
__ADS_1
"Yah, kalo aku emang sering dateng ke sini. Kalo lagi bete di rumah, aku dateng ke sini," jawab Tiwi sambil menghela napas.
Naina terdiam, pandangannya menatap ke depan pada sekelompok anak-anak yang sedang bermain bola. Tak ia dapati ayah mereka, tapi biarlah.
"Kamu nggak lanjutin kuliah kamu lagi, Nai?" tanya Tiwi melirik Naina yang baru. Naina yang terbalut kerudung, Naina yang semakin dewasa dan kalem. Tak seperti dirinya yang masih ingin menghabiskan waktu muda dengan segala kesenangan.
"Nggak, Wi. Aku kerja buat bantuin paman sama bibi. Kasihan mereka udah tua juga. Kamu sendiri gimana? Kuliah kamu di Jakarta?" Naina balik bertanya.
Tiwi menghela napas berat, berbalik menjatuhkan punggung pada sandaran kursi seraya melipat kedua tangan di perut.
"Aku lagi galau, Nai. Papah aku minta supaya aku melanjutkan kuliah di Timur Tengah sana. Buat apa coba? Aku nggak mau kuliah jauh-jauh sampai ke sana, di negeri sendiri aja banyak tempat kuliah," ucap Tiwi sembari mengerucutkan bibirnya ke depan.
Naina terkekeh, seandainya dia yang ditawari maka Naina sudah pasti tak akan menolak. Apalagi jika ada yang menanggung semua biayanya, sudah pasti akan ia jalani dengan sepenuh hati.
"Emangnya kenapa kamu nggak mau kuliah di sana?" tanya Naina.
Tiwi melirik ke arahnya, ia menghela napas kagum dengan perubahan drastis sahabatnya itu.
Naina kembali tertawa merasa lucu dengan ekspresi wajah Tiwi yang cemberut.
"Wi, kamu itu cantik tahu kalo pake kerudung kayak kemarin itu. Serius, aku aja sampe pangling nggak bisa ngenalin kamu langsung," ucap Naina menyampaikan apa yang terdetik dalam hatinya.
Lagi-lagi helaan napas mengawali jawaban Tiwi.
"Itu karena papah sama mamah aku yang nyuruh. Aku nggak biasa pake kerudung, Nai. Mereka minta aku buat pake terus, tapi gimana kalo aku belum mau pake." Tiwi menghendikan bahu.
Sekeras apapun orang tuanya meminta supaya dia menutup aurat, tapi hatinya belum ingin menyempurnakan penampilan. Jiwa muda Tiwi belum mengizinkannya untuk melakukan itu.
Naina menanggapi dengan senyuman, soal hijab seseorang tidak bisa dipaksa untuk menggunakannya. Mungkin bila hidayah datang merasuk ke dalam hati, barulah ada keinginan untuk menyempurnakan diri. Seperti halnya Naina, yang pagi itu hanya ingin mencoba-coba saja.
__ADS_1
"Kamu sendiri gimana? Itu kerudung kamu pake terus? Atau kalo kerja kamu copot?" Tiwi menyentuh kerudung Naina. Terasa lembut dan enak dipakai. Melihat Naina seperti nyaman saja memakainya.
Gadis itu tersenyum, tak sengaja matanya menangkap sosok Alfin yang tengah mengawasi di kejauhan. Bersama Halwa yang tampak asik bermain ayunan.
"Insya Allah, aku pake terus. Aku inget sama ibu, Wi. Dia minta aku buat pake kerudung. Tadinya aku juga nggak nyaman, tapi lama kelamaan jadi kebiasaan dan udah nyaman-nyaman aja sekarang. Jadi nggak gerah lagi. doain, ya, semoga aku istiqamah pake kerudung," jawab Naina seraya menggenggam tangan Tiwi yang diletakkan di bangku.
Tiwi mendelik, tak sadar dirinya jika ada Alfin yang terus memperhatikan. Dia kira Naina sendirian di danau tersebut. Jika tahu ada Alfin, mungkin dia akan merasa malu.
"Ya, aku doain." Dengan malas dia menyahut.
"Eh, Nai. Ngomong-ngomong kemarin kamu ngapain ada di rumah ustadz Ahmad?" selidik Tiwi teringat pertemuan mereka malam itu di rumah Alfin.
Naina tersenyum, malam itu adalah untuk pertama kalinya dia diterima oleh keluarga laki-laki sebagai calon menantu di rumah mereka. Ia juga merasakan kehangatan sebuah keluarga di sana. Keharmonisan, kasih sayang juga cinta yang tulus tanpa pandang bulu. Dia yang kerap mendapat cemoohan, malam itu bisa mereguk kebahagiaan.
"Aku diajak ke rumah itu buat ketemu sama orang tuanya." Naina tersenyum, Tiwi sedikit iri melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah gadis itu.
"Diajak siapa? Setahu aku anak ustadz Ahmad yang dua udah nikah. Tinggal yang bungsu aja belum, tapi dia nggak kerja. Katanya jadi marbot di masjid ngasuh anak-anak yatim. Apa itu dia maksud kamu?" Semakin dalam Tiwi memperhatikan wajah Naina.
Ia mengernyit saat senyum Naina terus terbit, ia pikir Naina terkejut dengan kabar tersebut.
"Yah, dia. Marbot masjid di seberang tempat aku bekerja." Naina menoleh pada Tiwi. Aura kebahagiaan jelas terlihat di pancaran kedua matanya.
"Kamu nggak apa-apa, Nai, nikah sama marbot masjid itu? Uangnya nggak jelas dapetnya berapa, lho. Kamu nggak takut apa hidup susah nantinya," kejar Tiwi mencari keyakinan Naina.
Gadis berkerudung merah muda itu tersenyum, kemudian menggelengkan kepala.
"Hidup susah itu aku udah biasa. Masalah rezeki udah ada yang ngatur, jadi kalo cuma buat makan insya Allah ada. Aku suka sama kepribadiannya, Wi. Dia penyayang, apalagi sama anak-anak asuhnya itu. Itu yang bikin aku jatuh hati sama dia," ungkap Naina sejujurnya.
Deg!
__ADS_1
Jantung Tiwi tiba-tiba berdegup. Sikap tulus Naina benar-benar menohok hatinya. Cinta memang tidak memandangi kasta. Berlabuh di mana yang dia suka.