Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 48


__ADS_3

Kedua gadis itu masih duduk di sana, asik bercengkrama melepas rindu. Sampai senja datang memayungi langit, mereka tetap larut dalam obrolan. Naina tidak mempersalahkan Tiwi yang pernah dijodohkan dengan Alfin karena pada hakikatnya perjodohan itu tak pernah terjadi.


Kedua gadis itu menatap hamparan air danau yang tenang, ada perahu yang disewakan bagi siapa saja yang ingin mengelilingi danau tersebut. Kebanyakan dari mereka, pasangan muda yang dimabuk asmara.


"Kamu mau menikah sama Alfin?" tanya Tiwi setelah beberapa saat membiarkan hening menyelimuti.


Naina menghela napas, ia sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi esok. Karena disaat manusia berencana, Allah pun berencana, dan rencana Allah sebaik-baik rencana.


"Insya Allah. Doanya aja, ya. Kamu sendiri gimana? Aku lihat sepupu Alfin jauh lebih alim, dia calon suami idaman. Yang pastinya mampu membimbing istri kelak," ujar Naina menilai Fahmi meski hanya sekilas saja melihat.


Giliran Tiwi yang mengangkat bahu tak tahu. Sejak pertemuan itu, belum ada lagi pembahasan masalah perjodohan. Baik dari keluarga Fahmi, maupun keluarganya sendiri. Akhir-akhir ini bahkan sang papah sibuk mencari tahu tentang Alfin.


"Aku belum tahu. Kamu bener, tapi mungkin nggak cocok buat aku," cetus Tiwi merasa kurang percaya diri setelah berbicara dengan Naina.


Gadis di sampingnya mengernyit, menatap Tiwi heran.


"Kenapa kamu bilang begitu? Kalian itu belum menjalani hubungan, 'kan? Kenapa nggak dicoba dulu berkenalan lebih jauh. Aku dengar, Fahmi itu pimpinan pondok. Bolehlah, kamu sekali-kali datang melihat-lihat tempatnya itu. Tunjukkan bahwa kamu tertarik untuk membantunya membangun pesantren," saran Naina yang disambut hendikan bahu oleh Tiwi.


"Aku nggak tahu." Tiwi mendesah, menatap kedua kakinya yang saling bertaut satu sama lain.


"Setidaknya kamu udah berusaha. Biasanya seorang laki-laki akan suka kalo perempuan yang dipilihnya mendukung apa yang dia lakukan. Buat dia tertarik sama kamu, kenali lebih dalam sifat dan karakternya. Cari tahu apa yang suka dia lakukan, dan tidak. Semua itu nggak ada yang nggak mungkin, Wi. Kalo Allah berkehendak, DIA hanya tinggal mengucap 'KUN'. Jadilah, maka jadilah," ujar Naina memberi dukungan pada sahabatnya itu.


Tiwi tersenyum, semakin kagum hatinya pada Naina. Dia berubah jauh, dari yang tak tahu soal agama, sekarang memberinya petuah berharga.


"Iya, Ustadzah." Tiwi mengejek sambil tertawa.


"Apa, sih!" Naina yang malu memukul bahu sahabatnya itu dengan pelan.


Di kejauhan Alfin diam-diam tersenyum, keduanya terlihat akrab dan akur. Saling menyayangi, saling menasihati satu sama lain.


"Kamu berubah, ya. Aku salut sama kamu," ucap Tiwi mengungkap apa yang ada di hatinya.

__ADS_1


Naina tersenyum, menunduk sebentar kemudian menatapnya lagi.


"Cuma beberapa bulan aja, lho, kita pisah. Kamu udah kayak gini aja. Benar-benar. Apa karena Alfin?" goda Tiwi sengaja.


Naina memukulnya lagi, terkekeh menyembunyikan rasa malu yang tiba-tiba muncul.


"Mungkin salah satunya. Lewat wasilah pertemuan kami, aku mendapatkan hidayah. Aku nggak menampik itu. Ketertarikanku terhadap kerudung karena aku sering membantu Alfin berbagi dengan anak-anak yatim di masjid. Aku malu kalo berkumpul bersama mereka nggak pake kerudung. Jadilah, aku belajar," papar Naina dengan jujur.


Tiwi tersenyum, satu hal lainnya yang ia kagumi dari Naina. Yaitu, dia berani jujur mengungkap asal-usulnya kepada keluarga Alfin yang notabene keluarga terpandang dan dihormati banyak kalangan.


"Aku juga pengen kayak kamu, Nai. Bisa jujur sama semua orang terutama sama diri aku sendiri," tutur Tiwi sambil menundukkan kepala.


Naina menoleh, memperhatikan raut wajah sahabatnya itu.


"Emangnya aku kenapa?" tanya Naina belum mengerti.


Tiwi menggelengkan kepala, menyembunyikan fakta bahwa malam itu rasa iri menjadi dengki di hatinya hingga tanpa sadar membuka aib Naina di hadapan semua anggota keluarga Alfin.


Naina menatapnya iba, jika bukan karena masa lalu yang pahit akibat penolakan itu, mungkin Naina juga tak akan pernah membahasnya.


"Pasrah. Pengalaman pahit yang pernah aku alami sebanyak dua kali, mengajarkan aku tentang sikap pasrah. Pasrah pada kenyataan kalo aku akan ditolak lagi. Hatiku telah siap menerima itu semua, Wi, tapi aku yakin pasti akan ada satu kesempatan untukku bisa menjalani hidup tanpa rasa takut dan trauma. Kamu bisa, Wi. Aku yakin kamu juga bisa." Naina mengusap bahu gadis itu. Memberinya dukungan penuh untuk melawan rasa takutnya.


Tiwi terenyuh, tersenyum haru menatap sahabatnya itu.


"Gimana caraku memulainya?" tanyanya.


"Jujur itu emang nggak mudah. Kamu harus menyiapkan mental sebelum melakukannya. Saranku, coba sholat tengah malam minta petunjuk sama Allah. Lakukan berulang sampai hati kamu merasa yakin dan siap," ujar Naina dengan sepenuh hati.


Tiwi berpaling darinya, menghela napas panjang mengurangi sesak yang menjadi beban. Selama ini, tuntutan sang papah menjadi beban berat di pundaknya. Ia tak mampu melawan, dan hanya diam berpasrah.


"Lakukan kalo hati kamu udah siap, tapi jangan lama-lama takutnya malah terlambat. Nanti Fahmi disambar orang, barulah nyesel terus nangis-nangis di pojokan kamar." Naina tertawa saat Tiwi memukulnya manja.

__ADS_1


Mereka tampak bahagia, berbincang tak kenal waktu tak sadar bahwa hari sebentar lagi menjadi gelap.


Seorang gadis kecil berlari mendekati keduanya, memberitahu mereka bahwa senja akan berakhir.


"Ibu! Apa Ibu masih lama?" tanya Halwa berdiri di samping bangku Naina.


Tiwi mengernyit mendengar panggilan anak itu untuk Naina.


"Iya, sayang. Bentar, ya." Naina mengusap rambutnya.


"Ibu?" lirih Tiwi tak percaya.


Naina menoleh padanya, tersenyum sambil menarik Halwa ke depan tubuhnya.


"Ini anak asuh Alfin, dia yang paling kecil di antara yang lain. Namanya Halwa," jelas Naina memperkenalkan gadis kecil itu pada Tiwi.


Tiwi membulatkan bibir, menganggukkan kepala seraya tersenyum kepada Halwa.


"Hallo, anak cantik. Nama Kakak Tiwi, senang bisa kenalan sama kamu," ucap Tiwi sembari mengulurkan tangan hendak berjabat dengannya.


"Hallo, Kakak. Aku Halwa. Boleh Halwa bawa Ibu pulang? Ini udah mau maghrib, kami harus cepat pulang," ucap gadis kecil itu menggemaskan.


Tiwi memandang Naina, keduanya lantas tertawa gemas dengan aksi si kecil Halwa.


"Yah, bawa aja. Karena kalo nggak cepet dibawa, Kakak yang akan membawanya pulang," cetus Tiwi membuat Halwa memeluk Naina posesif.


Gadis itu tertawa lagi, mencubit pipi gembil Halwa dengan gemas.


"Kamu gemesin banget, sih. Ya udah, pulang sana. Nanti ayah kalian nyariin."


Naina tersenyum, berdiri dari bangku dan berpamitan padanya. Keduanya berpisah setelah puas bercengkerama.

__ADS_1


__ADS_2