Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 58


__ADS_3

Di tengah malam, Alfin beranjak dari duduknya di samping ranjang Naina. Ditatapnya wajah gadis itu yang terlihat damai. Beberapa jam yang lalu, Khadijah meminta Asep dan Sumiyati untuk pulang, dan mereka berdua yang menunggu Naina.


"Kak, menurut Kakak apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Alfin tanpa mengalihkan pandangan dari wajah gadis yang ia cintai.


Khadijah menghela napas, mengangkat pandangan dari ponsel yang sedang ia gunakan untuk membalas pesan suaminya.


"Tanya aja sama hati kamu, karena pendapat orang lain akan jadi percuma kalo bertentangan dengan hati kamu. Kamu butuh menenangkan diri, Alfin. Kalo mau ke masjid, pergi aja. Di sana ada Ustadz Hasan yang akan membantu kamu," ujar Khadijah betapa mengerti perasaan adik laki-lakinya itu.


Alfin mendesah, rasanya enggan memutus pandangan dari wajah sang kekasih hati. Pun dengan hati yang tak ingin meninggalkannya. Akan tetapi, saran dari Khadijah ada benarnya. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri.


"Kalo gitu aku mau ke masjid dulu. Kalo Naina bangun nanti, sampaikan salamku sama dia, Kak." Alfin memutar kepala menatap sang Kakak.


Khadijah tersenyum, lantas mengangguk kecil untuk izin adiknya itu. Alfin mengusap kepala Naina yang dibalut kerudung sebelum meninggalkan gadis itu di ruangannya. Ia pergi ke masjid, hatinya ingin mendengar nasihat dari lisan lembut di sana.


Khadijah menghela napas, menatap pada daun pintu yang baru saja menelan sang adik. Pandangannya beralih pada ranjang pesakitan, di mana Naina terbaring lemah. Rasa kantuk mulai datang menggelayuti kelopak matanya.


Ia berbaring di sofa, beruntung suami dan anak-anaknya mengerti kondisi yang terjadi. Khadijah tak tega melihat paman dan bibi Naina yang sudah sepuh menginap di rumah sakit. Terlebih saat melihat wajah Sumiyati yang memutih pucat.


Semoga besok semuanya baik-baik saja. Aamiin.


Hati Khadijah bergumam, menggantung asa di puncak malam yang sepi.


****


Di sebuah rumah besar di tengah kota, seorang laki-laki paruh baya berperawakan tinggi besar, duduk termenung menatap langit kelam setelah menurunkan hujannya. Sang rembulan muncul malu-malu, kemudian tenggelam lagi oleh awan hitam yang melintas.


"Siapa gadis itu? Kenapa rasanya nggak asing?" gumam laki-laki itu sembari mengusap wajah menepis gambar seorang gadis yang terus menghantuinya.


"Apa aku harus mencari tahunya? Aku ingin memastikan apakah dia yang aku cari selama ini?" Dia bermonolog, bertanya pada dirinya sendiri.


Larut dalam lamunan, membuatnya tak sadar bahwa ada seseorang yang berdiri tak jauh darinya. Seorang wanita yang usianya tak jauh beda dengan laki-laki itu.


"Pah? Kenapa ngelamun aja?" tegur wanita tersebut sembari berjalan menghampiri.

__ADS_1


"Ah!" Laki-laki itu tersentak, membuka kedua tangannya yang menutupi wajah, "Mah? Sejak kapan di situ? Sini!" Ia menepuk-nepuk sofa di sampingnya meminta sang istri untuk duduk di sana.


Wanita itu menurut, duduk berdampingan dengan suaminya yang terlihat kusut.


"Kok, muka Papah kusut banget. Ada apa? Ada yang mengganggu pikiran Papah?" tanya wanita tersebut sambil mengusap-usap dadanya.


Laki-laki itu menghela napas, mengusap rambut sang istri seraya mendaratkan kecupan di pelipisnya.


"Papah ketemu seorang gadis tadi di toko. Dia karyawan di sana, tapi udah berhenti. Coba Mamah lihat," jawab laki-laki tersebut seraya mengeluarkan sebuah foto dari dalam dompetnya.


Wanita itu menerima, menatap dengan lekat gambar seorang gadis yang sedang tersenyum.


"Bukannya dia mirip dengan Lita? Mungkin dia yang kita cari. Mamah tahu, 'kan, udah lama Papah cari mereka," tanya laki-laki itu melirik sang istri.


Wanita tersebut menurunkan bahu, ketakutan jelas terpancar dari wajahnya yang seketika berubah sendu.


"Terus kalo Papah udah ketemu mereka, apa Papah akan mengajak mereka tinggal di sini? Gimana sama aku? Sama pernikahan kita? Apa Papah mau ninggalin Mamah?" cecarnya bergetar.


Ia menatap sang suami dengan matanya yang berkaca. Dipeluk wanita itu dan mengecup dahinya.


"Hei!" Laki-laki itu menangkup wajah sang istri, mengusap air mata di pipinya. Ia pandangi wajah sendu itu, tersenyum saat melihat ketakutan di wajahnya.


"Siapa yang mau ninggalin Mamah? Papah nggak akan ninggalin Mamah. Papah cuma mau mastiin aja apa anak itu adalah anak Papah? Udah gitu aja," ucap sang lelaki meyakinkan istrinya itu.


"Terus kalo dia anak Papah, Papah mau apa?" tanyanya sambil sesenggukan.


"Papah cuma akan berterimakasih padanya, dan mungkin harus bertanggungjawab untuk memenuhi semua kebutuhan anak itu. Mamah nggak keberatan, 'kan?" ujar sang lelaki mengusap-usap kepala istrinya.


Wanita itu menggelengkan kepala, memandang manik suaminya dengan cemas.


"Mamah nggak keberatan sama sekali. Kalo dia mau tinggal di sini juga, Mamah nggak apa-apa. Mamah malah senang karena akhirnya bisa merasakan punya anak," jawab wanita tersebut menyudahi isak tangisnya.


"Mamah yakin?" Memekik tak percaya laki-laki itu.

__ADS_1


Ia mengangguk sambil tersenyum, melihat itu sang suami menarik tubuhnya ke dalam dekapan.


"Makasih, ya," tuturnya lembur.


Ia mengangguk seraya bertanya, "Kapan kamu menemukan itu?"


Laki-laki tersebut menghela napas, mengingat kedatangannya ke toko baru siang tadi untuk melakukan pemeriksaan. Sebagai seorang direktur utama, ia ingin tahu perkembangan toko baru itu.


Flashback.


Sore hari sebelum kejadian malam naas itu, toko tempat Naina bekerja kedatangan atasan mereka. Semua karyawan dibuat sibuk untuk menyambut kedatangannya. Ia bersama sang asisten melakukan sidak secara mendadak.


Laki-laki tersebut memeriksa setiap data karyawan yang bekerja di toko barunya.Ia membolak-balik satu per satu berkas di atas meja, Sampai selesai dia pada akhirnya ia rapikan kembali.


Tanpa sengaja satu berkas terjatuh dan berserakan di lantai, berkerut dahi laki-laki itu saat melihat foto pada berkas tersebut. Ia memungutnya, menatapnya lebih jelas. Dibacanya berkas tersebut dengan teliti.


"Naina? Jadi, namanya Naina? Kenapa dia sedikit mirip sama Lita, ya?" Ia bergumam sendiri terus membaca tulisan tangan Naina sampai tuntas.


"Mungkin aku harus mendatangi rumahnya. Yah, aku akan ke sana."


****


"Yah, tadi siang waktu aku datang ke toko untuk melihat perkembangan toko baru itu," jawab laki-laki tadi setelah mengingat kapan dia menemukan Naina.


"Mmm ... sekarang dia masih kerja di sana?" lanjut sang istri bertanya.


"Kata karyawan di sana, udah berhenti bekerja beberapa hari lalu. Nggak tahu alasannya apa?" Laki-laki itu menatap sang istri dalam-dalam.


Ada kerinduan yang memancar di wajahnya, rindu pada si buah hati yang ia titip di rahim Lita.


"Papah tahu di mana alamatnya?" tanya sang istri pula.


"Yah, Papah akan coba ke sana. Nanti kalo boleh, Papah akan ajak ke sini buat ketemu sama Mamah," ucap laki-laki tersebut yang sukses menerbitkan senyum di bibir istrinya.

__ADS_1


"Makasih, Pah."


__ADS_2