Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 157


__ADS_3

Pagi yang cerah menyambut kedua insan yang tengah bergelut dengan kemesraan di sebuah kamar hotel berbintang. Duduk di tepi ranjang sambil menikmati indahnya pemandangan lautan. Ombak berdeburan menjadi backsound yang menghanyutkan.


Kedua insan itu tengah berpelukan dengan mesra. Naina hanya mengenakan lingerie, dan Alfin mengenakan kolor tanpa busana atas. Menikmati waktu berdua tanpa gangguan dari pihak mana pun.


"Kamu bahagia?" Alfin mengecup pipi Naina, mengetatkan lingkaran tangan di pinggang sang istri dengan penuh cinta.


"Siapa yang nggak bahagia diperlakukan kayak ratu gini. Aku bahagia, Mas," sahut Naina ikut menyentuh lingkaran tangan Alfin.


Ia menoleh, bertemu muka dengan sang suami. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Alfin menyambar bibir Naina yang sudah terlihat pucat dan kering akibat perbuatannya semalam.


Tok-tok-tok!


"Room servis!"


Suara ketukan menyusul seorang pekerja hotel yang mengantar sarapan pagi, mengusik keduanya. Alfin melepas pagutan, beranjak sambil mengenakan kaos oblong dan sarung. Kemudian membuka pintu menerima sarapan yang diantar pihak hotel.


Alfin mendorong troli masuk ke dalam kamar, tak membiarkan pelayan laki-laki untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


"Sarapan, sayang!" ucapnya saat tiba di tepi ranjang.


Naina berbalik, pakaiannya yang begitu terbuka amat menggoda kelelakian Alfin. Bukan sarapan makanan yang dia inginkan, tapi sesuatu dari sang istri.


"Mas! Sarapannya ada di depan sini!" Naina mengangkat kepala Alfin yang tiba-tiba menempel di ceruk lehernya.


Laki-laki itu tertawa, bersemu pipi kedua insan itu. Seperti itulah rasanya dimabuk cinta. Berpacaran setelah menikah, bebas melakukan apa saja.


"Mau main di pantai?" tawar Alfin saat hari beranjak siang. "Sekalian nyari makan siang. Katanya seafood di sini segar dan enak," lanjut Alfin usai melaksanakan hajatnya yang sempat tertunda karena sarapan tadi.


"Boleh, tapi rasanya badanku sakit semua. Apa Mas nggak capek?" tanya Naina sedikit mengeluhkan rasa pegal di tubuhnya.


"Nanti Mas pijitin, ya," katanya antusias.


"Eh ... nggak usah, Mas. Aku mau mandi dulu," sergah Naina ketika tangan Alfin hendak menyentuh bagian tubuhnya.


Dia tertawa, sebegitu takutnya Naina untuk dipijat. Lalu, membiarkan sang istri untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Sementara dia menunggu, memandang lautan dari balik jendela kaca yang besar. Bersemu pipinya mengingat setiap pergulatan yang mereka lakukan.

__ADS_1


Namun, malam tadi sungguh berbeda saat Naina yang melakukannya. Alfin terkekeh, lain waktu dia akan meminta Naina untuk melakukannya lagi.


Naina keluar hanya dengan mengenakan handuk saja, mencari pakaian yang pas untuk ia kenakan berjalan-jalan di tepi pantai. Giliran Alfin yang membersihkan diri. Tak perlu waktu lama, laki-laki itu keluar dengan handuk yang melilit tubuh.


Keduanya menggelar sajadah, sholat Dzuhur berjamaah dengan khusyuk dan penuh syukur.


"Robbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyaatinaa qurrota a'yun. Waj'alnaa lilmuttaqiina imaamaa."


"Aamiin!"


Alfin melangitkan doa mengharap dzurriyat yang baik untuk mereka. Yang sejuk bila dipandang mata, yang cerdas saat menimba ilmu agama. Ia berbalik, uluran tangan Naina menyambut. Dikecupnya punggung tangan Alfin penuh takzim. Diraihnya kepala Naina menciumi setiap bagiannya.


Keduanya beranjak, dan keluar hotel untuk pertama kalinya setelah sehari semalam menginap. Berjalan-jalan di tepi pantai sambil bergandengan tangan dengan mesra.


****


"Naina!"

__ADS_1


****


Pagi ini sedikit dulu, ya, Kakak-kakak. Si bungsu lagi kurang sehat. Mohon doanya. Terima kasih banyak.


__ADS_2