Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 89 Pengorbanan Naina I


__ADS_3

(Sebelum kedatangan Alfin ke rumah sakit)


Di bawah pohon ketapang, di bangku pinggir jalan, ia duduk tertunduk sambil sesekali tangannya mengusap wajah. Tepatnya, air yang terus menerus berjatuhan dari kedua kelopak mata.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Kenapa aku selalu membuat orang merasa sedih? Kenapa aku selalu membuat hidup orang lain susah? Kenapa?" Naina bergumam lirih, betapa perih hatinya setiap kali kalimat Aminah mengiang di telinga.


Siang hari itu, matahari tidak terlalu terik. Ada banyak anak-anak bermain di pinggir jalan, tapi tak membuat hati Naina terhibur. Ia larut dalam rasa pedih yang mendera jiwanya.


"Kenapa aku harus ketemu Alfin kalo akhirnya kayak gini?" Isak tangis Naina semakin pilu, kedua bahunya terguncang hebat.


Ia mengusap wajah, mengangkatnya untuk dapat melihat arah mana yang harus ia tuju. Naina menggigit bibir, hatinya resah berbalut gelisah. Situasi tersebut membuatnya bingung, dan tak dapat menentukan pilihan.


"Argh!"


Seorang gadis kecil yang memekik karena jatuh, menyita perhatiannya. Mengapa tiba-tiba hujan? Padahal matahari jelas menggantung di langit. Hal tersebut sekali lagi membingungkan Naina.


Gadis kecil itu beranjak, dan terus memacu kaki ringkihnya menerjang hujan juga lumpur yang basah. Berkali-kali ia hendak terpeleset, tapi dia tidak menyerah. Di bawah guyuran hujan deras, air mata bercampur air dari langit. Berbaur menjadi satu, menyatu dalam harapan yang dibawa hati gadis kecil itu.


"Ibu! Bu, Nai datang mau memohon sama Ibu."


Suara rengekan gadis kecil di depan sebuah toko, menyentak lamunan Naina. Ia menatap sekeliling, keadaan telah berbeda. Naina tertarik ke masa kecilnya, di mana ia pernah berjuang untuk dapat menerima maaf dari Seira.


"Bu, tolong maafin ibu Nai. Ampuni kalo ibu punya salah, Nai nggak mau kehilangan ibu. Nai nggak mau ibu ninggalin Nai. Tolong maafin ibu Nai, Bu."


"Tolong maafin ibu Nai, Bu. Udah beberapa hari ini ibu nggak mau makan, badannya juga panas. Ibu nggak berhenti minta maaf sama Ibu Seira. Ibu terus minta maaf, cuma itu yang keluar dari mulut ibu. Nai mohon, Bu. Maafin Ibu."


"Nai nggak tahu kesalahan apa yang udah ibu buat, tapi Nai nggak mau kehilangan ibu. Nai nggak mau ibu ninggalin Nai. Mungkin kalo Ibu terima maafnya, ibu Nai mau makan dan sehat lagi. Maafin ibu, maafin ibu."

__ADS_1


Tubuh Naina ambruk, terduduk di atas tanah. Bayangan masa kecilnya kembali melintas. Saat Lita sakit, saat dia harus berlari di bawah hujan, saat kaki kecilnya terpeleset dan jatuh, saat air matanya tumpah bercampur air hujan, saat ia mengiba kepada Seira untuk maaf Lita.


Bukankah dia gadis yang kuat? Bertubi-tubi bahu kecilnya dihantam beban yang berat, tapi ia tetap berdiri dan tetap bertahan di atas kedua kaki kecil nan ringkih itu.


Kerinduan yang terpendam, kian membuncah. Rindu sosok seorang ibu yang selalu memeluknya ketika sedih. Rindu pada tutur kata Lita yang selalu menasihatinya untuk menjadi gadis yang baik, yang taat pada agama, yang hanya berpasrah kepada Allah.


Naina tergugu, kedua tangan meremas rumput hingga tanah mengisi kuku-kuku jarinya. Keadaan yang sebenarnya tidaklah hujan, Naina tergugu di pinggir jalan. Tak peduli menjadi tontonan.


"Ibu! Kenapa Ibu tinggalin Nai sendirian? Kenapa Ibu harus pergi lebih dulu dari Nai, Bu? Tolong Nai, Ibu. Nai butuh Ibu!" Tangisannya menyayat hati.


Sebagian anak kecil menghentikan main mereka karena mendengar suara lirih itu. Mata-mata lain pun berpatri pada sosok menyedihkan di pinggir jalan yang mengais-ngais tanah dengan tangan.


Naina bahkan tidak peduli pada semua yang melintas di jalan yang memandang aneh ke arahnya. Dia wanita kuat, sudah sejak belasan tahun yang lalu, dia sudah digembleng dengan sejumlah penderitaan.


"Bangkit, Nak! Kamu wanita yang kuat." Sebuah suara mirip suara Lita mengiang di telinganya, suara yang timbul dari halusinasi karena kerinduan pada sosok ibu.


"Nai gadis yang kuat, Bu. Nai anak yang kuat. Ibu jangan khawatir, Nai pasti bisa menghadapi semua ini. Nai kangen sama Ibu," lirihnya yang kembali terisak sebelum pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Aku nggak boleh nyerah, aku nggak bisa berdiam diri. Alfin udah berkorban banyak buat aku. Sekarang, aku yang harus berkorban buat dia. Ya Allah, teguhkan hatiku. Kuatkan imanku, semoga apa yang aku lakukan ini mendapat ridho dari-Mu." Naina mengusap wajahnya yang masih ingin menurunkan tangisan.


"Sesungguhnya, hidupku, matiku, hanya untuk Allah. Aku berpasrah kepada-Mu, ya Allah. Jangan tinggalkan aku, Ya Rob. Sakit karena seluruh dunia pergi meninggalkan aku, tak akan sesakit jika Engkau pun menjauh dariku."


Naina memaksa rasa sedih untuk enyah dari hati, mengusir pemikiran yang membuatnya lemah. Dia berjalan sambil mengumpulkan keberanian juga keyakinan di dalam dirinya. Sebuah perjalanan yang tak akan mudah ia lalui, sebuah perjalanan yang akan memberinya banyak hikmah.


Ia menghentikan sebuah angkutan umum, menaikinya dan duduk dengan tenang. Hati Naina masih meraba-raba mencari kekuatan untuk meneguhkan keputusannya.


"Berhenti, Pak!" seru Naina ketika tiba di tempat tujuan.

__ADS_1


Ia turun dan membayar ongkos, setelah berbalik menghadap gedung yang ingin ditujunya. Naina menghela napas dalam, menepis segala keraguan yang muncul hendak mencegahnya. Kaki jenjang itu mulai melangkah, setapak demi setapak hingga hingga tiba di depan pintu yang selalu terbuka.


"Ada yang bisa kami bantu?" sapa dua orang berseragam yang bertugas duduk di depan, sebagai penerima tamu.


"Aku mau membesuk tahanan," jawab Naina dengan yakin.


"Oh, silahkan!"


Naina menganggukkan kepala, datang ke tempat itu bukannya mudah. Apalagi tujuan yang sebenarnya bukanlah ingin membesuk, tapi ....


"Naina!" tegur Bas yang secara kebetulan melihat gadis itu.


"Bas! Aku mau membuat sebuah pengakuan," katanya sembari menenangkan hati yang mulai memberontak.


"Pengakuan?" Dahi Bas mengernyit bingung. Naina sudah membuat pengakuan sebelumnya, menceritakan semua yang terjadi.


"Iya, semua yang sedang terjadi ini adalah sebuah kekeliruan, Bas. Kamu harus dengarkan aku dan percaya sama aku!" tegas Naina meski harus menahan getar di lisan. Ia tersenyum getir, air yang perlahan jatuh tak dapat ditahannya.


Bas menilik wajah sendu di hadapannya, mencoba mencari maksud dan tujuan Naina datang. Namun, tak ada apapun yang terlihat, apalagi terbaca dari ekspresi Naina yang serius.


Bas menghela napas, kemudian berucap, "Baiklah. Ayo, ke ruangan!" Ia membawa Naina ke ruangan penyidik.


Untuk kedua kalinya, gadis itu duduk berhadapan dengan tim penyidik kasus. Bas berdiri tak jauh dari mereka, menatap penuh keingintahuan akan apa yang dibawa Naina.


"Silahkan, apa yang ingin Anda sampaikan?" ujar laki-laki yang duduk berhadapan dengan Naina.


Gadis itu menunduk, menghela napas dalam-dalam. Terus meyakinkan hatinya bahwa apa yang dia putuskan adalah yang terbaik. Bas menunggu tak sabar, seperti para pembaca yang juga tidak sabar. Maafkan Author.

__ADS_1


__ADS_2