Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 67


__ADS_3

"Assalamu'alaikum!" Suara salam yang terdengar di luar rumah menyita perhatian mereka. Kedua wanita itu saling memandang satu sama lain, sebelum akhirnya Khadijah beranjak.


"Wa'alaikumussalaam!" jawabnya seraya membukakan pintu rumah.


Khadijah terhenyak, napasnya tercekat, tak mengira jika yang datang adalah dua orang laki-laki yang amat dikenal oleh keluarganya.


"I-iya? Ada apa?" Khadijah terbata, lidahnya kelu. Perasaan was-was terus saja menyambangi hatinya, membuat gelisah.


"Maaf, Kak. Bisa kami ketemu sama Abi?" tanya salah seorang laki-laki sambil tersenyum kepada Khadijah.


Dahi wanita itu mengernyit, jika mereka datang, pastilah ada sesuatu yang salah.


"Perasaanku bilang, ada yang nggak beres. Ada apa?" selidik wanita hamil itu dengan kedua mata yang memicing.


Mereka terkekeh, sudah mengira bahwa kakak sulung Alfin itu tak akan pernah bisa dikelabui.


"Nanti Kakak juga tahu, kami ingin bertemu dengan Abi dulu. Kami rasa, akan lebih baik membicarakannya bersama-sama dengan beliau," ujar mereka dengan sopan.


Khadijah bergeming, hati terus bertanya-tanya maksud dari kedatangan dua laki-laki itu. Sambil menahan rasa penasaran, ia membuka pintu dengan lebar. Membiarkan keduanya masuk dan menggiring mereka ke ruang tamu.


"Tunggu di sini, ya. Kakak panggilkan dulu," ucap Khadijah diangguki keduanya.


Ia berbalik dan pergi ke halaman belakang di mana kedua orang sepuh itu berada. Duduk di tepi kolam, memandangi ikan-ikan yang tak henti berlalu-lalang. Entah apa yang mereka cari? Seolah-olah tak lelah terus berenang kian kemari.


"Abi!" panggil Khadijah mengalihkan perhatian keduanya.


"Ada apa?" tanya Ahmad menatap sendu wajah putri sulungnya.


Khadijah mendekat pada keduanya, berbisik lirih memberitahu kedatangan dua laki-laki ke rumah mereka. Mata Ahmad membelalak, jantungnya seketika tak tenang. Pun dengan Aminah, entah mengapa mendengar keduanya datang selalu membuat mereka was-was.


"Kalo mereka udah dateng ke rumah, pasti ada yang salah. Apa Alfin ada di rumah? Dia udah pulang?" Ahmad menatap Khadijah setelah menundukkan kepalanya.


"Tadi udah, Bi. Basah kuyup, hujan-hujanan. Nggak tahu kenapa lagi?" Khadijah mendesah berat, memikirkan tentang Alfin rasanya tak ada habisnya.


"Ya sudah. Ayo, kita ke depan. Mungkin ada yang ingin mereka sampaikan," ucap Ahmad seraya berdiri dari kursi dibantu Khadijah.


Ketiganya berjalan masuk ke rumah, terus menuju ruang tamu mendatangi kedua pemuda itu.


"Assalamu'alaikum!" sapa Ahmad begitu tiba di ruang tamu.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalaam!" Kedua laki-laki itu lekas berdiri, menyalami Ahmad dengan sopan. Tak lupa pada tata krama meski sudah memiliki jabatan.


"Silahkan duduk!" Ahmad menjulurkan tangan pada sofa. Ia duduk bersama Aminah berhadapan dengan dua utusan itu, sedangkan Khadijah pergi ke dapur membuatkan mereka teh hangat untuk mendinginkan tubuh dari terpaan rasa dingin akibat hujan.


"Jadi, apa yang membawa kalian ke sini?" tanya Ahmad setelah mereka duduk kembali.


"Maafkan kami, Bi. Bukannya kami nggak menghormati Abi sebagai pemuka agama di kota ini. Ataupun keluarga Abi yang terpandang. Kami hanya utusan, membawa surat dari kantor," ucap salah satu dari kedua laki-laki itu.


"Surat dari kantor?" Kedua alis Ahmad saling bertaut satu sama lain, ia memandang anak dan istrinya yang juga tampak bingung.


Khadijah berdiri di sampingnya, baru saja ia meletakkan sebuah nampan di hadapan mereka.


"Iya, Bi. Ini surat penangkapan Alfin." Ia menyerahkan sebuah surat dari kepolisian.


Tangan Ahmad bergetar menerimanya, hatinya berkabut membaca tulisan pada kertas tersebut. Menelaah deretan huruf yang tertera di atas kertas itu. Jatuh air matanya, tercekat napas di tenggorokan.


"Kenapa, Bi?" Aminah bertanya cemas.


Khadijah dengan cepat mengambil kertas tersebut, matanya bergulir ke kanan dan kiri membaca dengan teliti setiap huruf di sana. Dada Khadijah bergemuruh, bertalu-talu hebat.


"Apa surat ini nggak salah?" tanya Ahmad mempersiapkan hatinya untuk semua kemungkinan yang akan ia terima.


"Benar, Abi. Ada laporan masuk ke kantor tentang pembunuhan tiga malam yang lalu. Korbannya dua orang, mati dengan mengenaskan. Sesuai yang disampaikan pelapor dan banyak orang yang melihat, bahwa Alfin pelaku pembunuhan itu," jawab salah satu dari mereka dengan pasti.


"Nggak mungkin, Abi! Alfin nggak mungkin membunuh orang," lirih Aminah bergetar. Hatinya tidak terima sang anak dituduh membunuh.


Ahmad ternganga, tak dapat berkata-kata untuk beberapa saat lamanya. Begitu pula dengan Khadijah, si Sulung membekap mulutnya sendiri. Air mata luruh tak terkendali.


"Apa kalian sudah mendatangi lokasi kejadian? Atau bertanya pada warga di sana? Mungkin aja mereka salah," cecar Khadijah tidak terima. Alfin memang nakal, tapi dia tak akan mungkin membunuh orang jika tak ada sebab.


Kedua laki-laki itu saling menatap satu sama lain, sebelum mereka menoleh pada kakak Alfin.


"Menurut warga, Alfin malam itu membawa seorang gadis yang diperkirakan korban lainnya. Mungkin dia bisa menjadi saksi di pengadilan nanti untuk meringankan hukuman Alfin ataupun membebaskannya," ucap salah satu dari dua orang polisi yang datang tanpa mengenakan seragam itu.


Keduanya berpakaian biasa, demi menjaga nama baik keluarga Ustadz Ahmad.


"Naina?" gumam Khadijah. Hanya gadis itu yang bisa menolong Alfin dari jerat hukum.


"Yah, cuma Naina yang bisa nolong Alfin." Khadijah melirik lantai dua rumahnya, di sana Alfin berdiri dan mendengar semua.

__ADS_1


"Alfin?"


Mendengar gumaman Khadijah, sontak semua orang menoleh pada arah pandangnya. Alfin menuruni anak tangga, menghampiri mereka di ruang tamu.


"Alfin-"


"Itu benar, Umi. Alfin nggak bisa ngendaliin diri malam itu. Alfin nggak sadar melakukannya, Umi. Alfin mohon maaf." Alfin jatuh bersimpuh di kaki Aminah.


Menangis penuh sesal karena selama hidup belum jua bisa membahagiakan hati tua mereka. Yang ada hanya menyusahkan dan selalu membuat mereka bersedih.


"Alfin mohon ampun, Umi. Ampuni, Alfin." Tangis dan pengakuannya membuat hati Aminah remuk redam. Ia meluruh, memeluk putranya.


Perasaannya sebagai seorang ibu mengatakan bahwa Alfin tak sepenuhnya bersalah.


"Alfin harus ikut mereka, Umi. Alfin harus menebus kesalahan Alfin," ucap pemuda itu lagi dalam pelukan Aminah.


"Umi yakin, kamu sebenarnya nggak salah. Entah kenapa, hati umi sangat yakin," sahut Aminah sambil menciumi kepala anak bungsunya.


"Biarkan dia ikut sama mereka, Mi. Biar Alfin belajar bertanggungjawab atas kesalahan yang dia perbuat." Suara Ahmad yang dipenuhi dengan penekanan membuat tangis Aminah semakin menjadi.


Wanita sepuh itu menggelengkan kepala, menolak kepergian anaknya.


"Ini pasti salah faham, Alfin nggak mungkin asal membunuh orang," tolak Aminah mengeratkan pelukan pada tubuh anaknya.


"Naina! Cuma dia yang bisa menjelaskan kejadiannya pada pihak kepolisian. Kita masih punya harapan untuk kebebasan Alfin," sambar Khadijah mencegah Ahmad yang hendak meledak.


"Alfin, Kakak akan mendatangi Naina dan memintanya untuk menjadi saksi," ucap Khadijah dengan yakinnya.


Alfin melepaskan pelukan, menggelengkan kepala seraya menatap sang kakak.


"Dia udah nggak ada, Kak. Dia udah pergi, paman sama bibinya juga pergi. Rumah mereka kosong," ucap Alfin penuh penyesalan.


Tubuh Khadijah lemas, terjatuh di lantai sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Allahu Akbar! Laa haula walaa quwwata illaa billaah." Ahmad mengusap wajah, bukannya ia tak cemas, tapi mau bagaimana lagi? Alfin sudah berulah, dan dia harus bertanggungjawab.


Alfin beranjak dan membantu Aminah pula. Ia mengusap air mata sang ibu, tersenyum tegar menerima semuanya.


"Abi sama Umi jangan datang ke kantor polisi. Jangan sampai orang lain tahu kalo anak kalian masuk penjara. Mereka datang dengan baik-baik, bahkan mereka nggak datang ke masjid karena mungkin nggak mau kalo anak-anak Alfin sampai tahu. Di rumah aja, insya Allah Alfin mampu menjalani semuanya," pinta Alfin sebelum berjalan menghampiri kedua utusan itu.

__ADS_1


"Makasih, karena kalian nggak jemput aku di masjid." Alfin tersenyum pada keduanya.


Mereka menganggukkan kepala dan berjalan berdampingan dengan Alfin. Pemuda itu menoleh ke belakang, menatap wajah tua orang tuanya yang berderai air mata.


__ADS_2