
Di rumah Alfin, ruang tamu besar itu kembali penuh terisi manusia-manusia dengan berbagai macam karakter. Fahmi duduk berdampingan dengan sang ibu, Nadia diapit ayah dan ibunya. Gadis itu menundukkan kepala seperti saat dipertemukan dengan Alfin tempo hari.
Mereka berbincang ringan, penuh senyum dan canda tawa. Khadijah fokus pada gadis berhijab lebar itu, menatapnya dalam diam, menyelidik sosok asli dibalik balutan hijab itu.
"Yang tadi itu siapa?" tanya ibu Fahmi yang tak sempat berkenalan dengan Naina.
"Oh, yang tadi itu Naina namanya, calon istri Alfin. Gadis yang pemalu, nggak banyak bicara," jawab Aminah sembari tersenyum membayangkan Naina yang berada di tengah-tengah mereka tadi.
"Calon istri Alfin?" ulang ayah Nadia sedikit terkejut dengan kabar tentang Alfin dan calon istrinya.
Nadia pun sedikit tersentak, kejutan lainnya dari seorang Naina yang ia kenal sebagai gadis tak bernasab.
Untung banget Naina dapetin Alfin. Anak seorang ustadz dan terpandang lagi, tapi ngomong-ngomong mereka tahu nggak kalo Naina anak diluar nikah? Hmmm ....
Yang tak ia sadari, Khadijah tengah mengawasinya. Matanya fokus menyoroti setiap ekspresi Nadia.
"Iya, Ustadz. Mohon maaf, kemarin itu bukannya Alfin nggak mau dijodohkan sama Nak Nadia. Kami nggak tahu kalo dia udah ada pilihan sendiri, makanya saya sarankan buat Nak Nadia ta'aruf sama Fahmi," jawab Ahmad sedikit menyesal karena pertemuan tempo hari.
"Ah ... nggak apa-apa, Ustadz. Ya, kita nggak bisa maksa kalo emang Alfin udah punya pilihan sendiri. Mudah-mudahan bahagia," sahut ayah Nadia bersyukur mengingat pekerjaan Alfin hanyalah seorang marbot dan Fahmi tentu saja jauh lebih baik darinya.
"Iya, Ustadz. Nak Fahmi ini lulusan Mesir, dia sekarang dosen di sekolah tinggi agama di kota kita. Selain itu, Fahmi juga memimpin pondok pesantren peninggalan ayahnya. Sayangnya, dia belum punya pendamping. Makanya, mengingat Nadia itu lulusan Mesir juga, saya berniat mempertemukan mereka dengan niat yang baik. Kalo mereka bersatu, bukannya bisa sama-sama mensyiarkan dakwah agama Islam? Gimana, Ustadz?" ungkap Ahmad sambil menepuk bahu keponakannya.
Nadia menegang, tangannya sibuk memainkan ujung kerudung untuk mengusir gelisah. Semua itu tak luput dari pantauan Khadijah.
"Ah, iya. Ustadz benar." Ayah Nadia melirik sang anak, sedangkan ibunya menunduk malu dan sedih, sekaligus kecewa karena kebohongan suami juga anaknya.
"Yah, kalo saya, sih, terserah anaknya aja. Kalo mereka mau dan suka ... ya udah tunggu apa lagi. Langsung aja kita nikahkan," ucap ayah Nadia tak sabar ingin melihat anaknya menikah.
"Paling nanti nyusul abis Alfin," ujar Aminah.
"Emangnya Alfin kapan, Bu?" Ibu Nadia turut bertanya. Ia lebih setuju Nadia menikah dengan Alfin, karena meskipun hanya seorang marbot itu pekerjaan mulia.
__ADS_1
"Insya Allah bulan besok. Nggak baik juga nunda-nunda kebaikan terlalu lama," jawab Aminah sambil tersenyum. Ia terlihat bahagia saat menceritakan tentang calon menantunya itu.
"Mmm ... siapa tadi namanya?" Wanita itu belum terlalu jelas mendengar nama Naina.
"Naina, Ustadzah. Namanya Naina," ulang Aminah tak lupa senyum terus tersemat di bibirnya.
"Saya rasa Nadia juga kenal sama calon istri Alfin. Iya, 'kan, Nad?" tanya Khadijah menatap Nadia dengan lekat.
Tubuh Nadia tersengat, seketika langsung menegang karena pertanyaan dari Khadijah tersebut.
"Lho, iya gitu? Kenal di mana? Naina itu baru tinggal di sini. Ya, sekitar baru dua bulanan ini. Ngomong-ngomong Nak Nadia kenal di mana?" tanya ibu Alfin.
Nadia terhenyak sungguh tak menduga pertemuannya dengan Naina akan dibahas.
"Mereka akrab, Umi. Kayaknya udah lama." Khadijah tersenyum ketika ayah Nadia menatap ke arahnya .
"Ah, nggak juga. Kita cuma kenal gitu aja, nggak sengaja ketemu aja," ucap Nadia dengan kepala tetap tertunduk.
Kebohongan demi kebohongan akan terus bermunculan untuk menutupi kebohongan lainnya. Tiada berkesudahan.
"Jadi, kalian mau langsung saya nikahkan? Atau gimana?" ujar Ahmad menyerahkan keputusan pada dua orang yang akan menjalani pernikahan.
Fahmi tersenyum mengatakan keputusannya, "Maaf, Paman. Bukannya Fahmi menolak, tapi Fahmi belum memikirkan soal menikah. Jadi, gimana kalo kita biar kenal dulu aja," ujar Fahmi.
Semua orang tua di dalam ruangan itu tersenyum, menganggukkan kepala menyetujui usul Fahmi. Di tengah perbincangan, sosok Naina benar-benar menjadi pengganggu dalam pikiran ibunya Nadia. Keberuntungan yang seharusnya menjadi milik Nadia itu, kini menjadi milik orang lain.
Ia hanya bisa menghela napas, melirik Fahmi yang sama alimnya seperti Alfin. Tak mengapa, dua pemuda itu sama-sama memiliki ilmu agama dan pastinya bisa membimbing istri.
"Oya, Kak. Saya nggak nyangka Alfin bisa sesukses itu. Dia membangun tempat usaha untuk membantu para ayah menghidupi anak-anaknya. Benar-benar ... maa syaa Allah!" puji ibu Fahmi cukup mengejutkan Nadia dan keluarganya.
Terutama laki-laki itu, matanya memicing mendengar tentang sosok Alfin. Ia memperhatikan obrolan mereka penasaran ada apa dengan Alfin. Laki-laki yang ditolak anaknya.
__ADS_1
"Ya, alhamdulilah walaupun katanya cuma usaha kecil-kecilan aja. Kamu udah pernah ke sana?" tanya Ahmad pada adiknya itu.
"Saya yang udah ke sana, Paman. Nggak tahu kalo itu punya Alfin. Pantes setiap beli bahan bangunan selalu ada potongan harga. Taunya punya sodara sendiri," ucap Fahmi sembari tersenyum mengingat Alfin yang begitu misterius.
Pemuda yang memiliki segudang rahasia yang hanya dia dan Tuhannya saja yang tahu. Selebihnya, tangan kiri tak perlu tahu ketika tangan kanan memberi.
"Ngomong-ngomong toko matrial yang di mana punya Alfin? Soalnya saya juga sering beli bahan bangunan buat masjid dan lain-lain," tanya ayah Nadia yang tertarik mencari tahu rahasia si Marbot masjid.
Khadijah melirik curiga, terutama dengan reaksi Nadia yang tampak tak nyaman dengan apa yang dikenakannya.
"Yang di kota itu, Ustadz. Saya juga lupa apa namanya. Sebelum tahu itu punya anak saya, saya juga sering beli di sana karena dari segi harga lebih murah dan pengiriman cepat. Pelayanannya juga memuaskan, nggak bikin kapok pelanggan," ujar Ahmad memuji kinerja semua pegawai toko Alfin.
"Al-Barokah, Paman. Nama tokonya, Al-Barokah," sambar Fahmi.
"Al-Barokah?" Ayah Nadia meneguk saliva, sungguh tak dinyana pemuda yang dianggapnya pemalas itu ternyata seorang pengusaha sukses. Tidak tanggung-tanggung toko matrial Al-Barokah adalah toko matrial terbesar di kota itu.
"Iya. Ada apa, Ustadz?" tanya Khadijah curiga.
"Ah, nggak apa-apa. Itu, sih, bukan toko kecil lagi. Itu toko besar, yang saya tahu toko matrial terbesar di kota kita ini. Kenapa dibilang kecil?"
Coba tahu dari kemarin-kemarin kalo Alfin pemilik toko besar itu, aku akan pertahankan dia. Sekarang, udah terlambat Alfin juga udah mau nikah.
Ia mengeluh dalam hati, menyesali keputusannya karena mengikuti kemauan sang anak. Nadia menatap Fahmi, pemuda itu tersenyum aneh sambil melengos menghindari tatapannya.
Ibu Nadia menunduk, bukan karena menyesal, tapi lebih kepada bersyukur anaknya tidak jadi dijodohkan dengan Alfin. Jika tidak, sifat serakahnya sudah pasti merajalela. Ia menghela napas lega.
"Apa calon istri Alfin tahu dia punya usaha besar?" tanya Busyro teringat pada Naina.
"Nggak, dia cuma tahu Alfin itu marbot. Itu aja, tapi hebat, 'kan? Dia bahkan nggak mempermasalahkan pekerjaan. Kaya atau nggak, mapan atau belum? Itulah Naina," sahut Khadijah yang membuat semua orang semakin mengagumi sosok gadis itu.
"Lucunya lagi, dia nggak mau turun dari mobil dan terus menangis ketakutan pas tahu ini rumah orang tua Alfin. Coba, bisa bayangin nggak bingungnya jadi Alfin? Sampai-sampai dia minta bantuan Kakak buat bujuk Naina." Khadijah berdecak setelah menceritakan bagaimana reaksi Naina saat di depan tadi.
__ADS_1
"Sampai segitunya, ya? Alfin benar-benar beruntung," sahut Amaliah.
"Tapi Naina itu, 'kan, anak diluar nikah."