
Naina menghela napas setelah melakukan transaksi dengan penghuni rumah besar tersebut. Ia berdiri di luar gerbang di samping motornya. Melilau ke segala arah, memastikan keadaan jalanan aman.
Malam belum larut, tapi keadaan mencekam membuat bulu kuduk meremang. Tak seperti jalanan di tempat tinggalnya, yang selalu ramai oleh para pemuda ataupun bapak-bapak yang duduk di pos kamling.
"Kenapa sepi banget, sih?" gumam Naina.
Tubuhnya meremang kala pandangan mengarah pada jalan lengang di depannya. Terasa jauh dan hampa, bahkan lampu jalanan tak cukup menerangi.
"Bismillahirrahmanirrahim!" gumam Naina mengawali perjalanannya kembali.
Ia menaiki sepeda motor, melaju dengan perlahan. Di kanan dan kiri jalan, berjejer rumah-rumah minimalis modern yang tak satupun pintunya terbuka. Tak ada orang dewasa berkeliaran di jalan, bahkan anak-anak yang suka bermain tak kenal waktu, tak terlihat seorang pun di jalan tersebut.
"Ya Allah, lindungi hamba!" Lisan Naina bergetar, maniknya berputar-putar ke sekitar. Berharap tak akan ada hati-hati yang dengki.
Di keheningan malam itu, suara tawa menggelegak begitu nyaring terdengar. Naina waspada, melirik awas ke kanan dan kiri jalan. Semakin jauh melaju, semakin nyata dan jelas suara tawa menggema.
Ya Allah! Ya Allah!
Batinnya tak henti berdoa, menggantungkan harapan pada Sang Pemilik Kehidupan. Naina melanjutkan perjalanan, tak ada apapun yang wujud di matanya. Hanya suara tawa yang semakin menggema di kesunyian malam itu.
Tubuhnya bergidik ketika melintasi sekelompok laki-laki yang tengah mabuk. Botol-botol minuman keras berserakan di depan mereka, semua kepala di sana serentak menoleh saat deru motor Naina terdengar.
Sigap tangan kanannya menarik gas, melaju lebih cepat meninggalkan jalanan sepi. Sayangnya, jalan yang harus dilewati terasa jauh dan panjang. Ditambah awan hitam yang menyembunyikan sang rembulan.
Rintik-rintik air mulai turun, Naina mengeluh karena tak membawa mantel. Ia mengamankan ponsel ke dalam tas, melaju dibawah guyuran hujan yang semakin lama semakin deras.
"Ya Allah!" Ingin berhenti rasanya untuk meneduh, tapi nyali menciut mengingat tak satu pun manusia yang tampak.
Pandangan mata yang tak jelas akibat hujan, Naina menatap awas dan waspada. Melaju dengan pelan khawatir terjungkal disebabkan jalanan yang licin.
"Alfin. Katanya kamu mau nyusul, kenapa sekarang belum sampe juga? Aku takut!" lirih Naina bergetar.
Air mata mulai turun merembes bercampur air hujan dan peluh yang membanjiri. Perlahan rasa dingin mulai menjalar, menembus permukaan kulit. Naina menggigil, tangannya bergetar, gigi bergemelutuk nyaring, tapi terlalu takut untuk menepi.
Ia mencari-cari warung, ataupun minimarket untuk meneduh, tapi tak ditemukan satupun. Ia mengeluh, terus memacu sepeda motor dibawah hujan. Naina merasa lega ketika ujung jalan mulai terlihat, sebentar lagi ia akan meninggalkan jalanan komplek yang sepi itu.
"Alhamdulillah, bentar lagi sampe di jalan besar," lirihnya sembari menahan gigil yang kian menusuk.
Namun, dalam keremangan cahaya lampu motor, samar-samar ia melihat dua sosok berdiri menghalangi di tengah jalan. Jantung Naina berdegup tak karuan, memukul-mukul rongga dada. Napasnya memburu, matanya melilau mencari celah untuk dapat melewati dua sosok menyeramkan itu.
__ADS_1
"Ya Allah!" Naina bergumam sedikit keras.
Ia berbelok membanting motor ke samping kiri berharap dapat menghindari mereka. Namun, sialnya, salah satu dari mereka berhasil mencekal ekor motor Naina. Akibatnya, jalanan yang licin juga penglihatan yang tertutup, membuat keseimbangan Naina oleng. Motor yang ia tumpangi jatuh bersamaan dengan dirinya.
Tawa mereka menggelegar mengalahkan petir di langit. Naina beringsut menjauh, tapi tas yang disampirkannya di bahu, tertimpa badan motor. Terpaksa ia lepas untuk dapat melarikan diri dari tempat tersebut.
"Si-siapa kalian? Jangan ganggu aku! Pergi!" ucap Naina bergetar.
Tawa itu kembali menggema, menikam jantungnya yang sudah bertalu kalut.
"Kenapa kamu keluar sendiri malam-malam begini, manis? Hujan-hujanan lagi. Mending temenin Abang, yuk. Kita sama-sama kedinginan, 'kan?" katanya sembari melangkah mendekati Naina.
Dia membungkuk, seringai laki-laki itu muncul dari rambut yang memenuhi bagian mulutnya. Naina bergetar, wajahnya seketika memucat karena rasa takut yang hebat.
"Tolong, biarin aku pergi. Kalo kalian mau uang ambil aja di tas aku, tapi tolong biarin aku pergi. Aku mohon!" pinta Naina menangkupkan kedua tangan di depan wajah.
Hatinya menjerit takut, terus berdoa memohon perlindungan kepada Allah.
Alfin, tolong aku. Cepat datang, Alfin. Kamu di mana?
Batin Naina menangis perih, tak ada siapapun yang bisa menolongnya. Ia menoleh ke kanan dan kiri berharap ada warga yang melintas utusan dari Yang Kuasa.
Laki-laki itu kembali membungkuk, merapatkan wajah pada Naina. Bau alkohol menyeruak dari mulut berjanggutnya. Rasa mual terus melanda perut Naina, matanya mulai berkunang-kunang. Tak jelas, rasa pening mendera kepala, semua yang dilihatnya berputar-putar mengelilingi.
Namun, Naina harus tetap sadar untuk dapat melarikan diri dari kedua penjahat itu.
Nggak! Aku nggak boleh pingsan di sini. Aku nggak bisa nyerah gitu aja. Seenggaknya sampe Alfin datang. Ya Allah, tolong aku.
Naina memejamkan mata, menahan rasa pening yang semakin mendera kepalanya. Dia harus kuat jangan sampai kedua penjahat itu berhasil melakukan niatnya.
"Haha ...." Suara tawa itu masih terdengar begitu angkuh menantang langit. Beradu dengan gemuruh guntur juga cahaya petir yang berkilat-kilat.
"Siapa yang mau uang kamu, sayang. Kami mau kamu, mau tubuh kamu buat menghangatkan kami." Dia kembali tertawa bersambut dengan tawa temannya.
Tangis Naina menjadi, menggeleng takut. Siapa yang akan menolongnya disaat seperti ini? Siapa?
Iyyaka nasta'iin ... iyaaka nasta'iin. Hanya pada-Mu, Ya Allah aku memohon pertolongan. Hanya pada-Mu. Tolong aku, ya Allah. Tolong!
"Tidak! Jangan sentuh aku! Tolong biarin aku pergi! Aku mohon!" ratap Naina sembari terus menjauh dari kedua sosok itu.
__ADS_1
"Hanya orang bodoh yang ngelepasin kelinci lemah kayak kamu gini. Siapa yang mau ngelepasin kamu? Haha ...." Mereka mendekat, semakin mendekat.
Tangan Naina meraba-raba belakang tubuhnya. Sebongkah batu ia genggam erat, dia harus melawan rasa takutnya. Tak ada yang bisa dia andalkan kecuali dirinya sendiri.
"Kemari, sayang. Kenapa menjauh? Ayo senang-senang sama Abang!" ucapnya disusul seringai menjijikkan.
Lidahnya terjulur membasahi bibirnya sendiri, Naina berdecih jijik. Semakin kuat tangannya menggenggam batu tersebut, bersiap untuk ia hantamkan pada kepala laki-laki itu.
"Menjauh dariku!" pinta Naina sambil menggelengkan kepala.
"Tidak akan!" katanya semakin mendekat.
Laki-laki itu membungkuk dengan tangan terjulur hendak menarik tubuh Naina. Namun, hantaman batu di salah satu matanya yang cukup kuat, membuat tubuh laki-laki tersebut termundur ke belakang. Dia mengerang kesakitan sambil memegangi bagian mata kiri.
Naina menggunakan kesempatan itu untuk berdiri dan melarikan diri. Sebelumnya, dia melemparkan batu itu pada laki-laki yang satunya, tepat mengenai bagian kepala.
"Sialan! Awas kamu, j*l*ng!" umpat mereka seraya mengejar Naina yang berlari menuju gerbang perumahan.
Kepala Naina semakin terasa sakit, mata kian memburam. Langkah kaki pun semakin terasa lemas. Naina menggelengkan kepala untuk memperoleh kesadarannya kembali.
"Aku nggak boleh nyerah! Aku harus kuat! Allah bersamaku!" gumam Naina terus memacu kakinya untuk berlari.
"Hei! Gadis sialan! Tunggu kamu!" teriak dua laki-laki itu sambil terus mengejar Naina meski langkah kaki sempoyongan.
"Tolong!"
Laju kaki Naina terhenti saat salah satu dari penjahat berhasil menyusul dan menjagal langkahnya.
"Mau ke mana kamu? Haha ...."
"Tidak! Jangan!"
Jalan Naina tertutup, tapi dia tidak menyerah.
****
"Naina?"
"Tolong!"
__ADS_1