Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 95


__ADS_3

"Tolong jangan bawa Naina pergi!"


****


Sebelum kedatangan Adrian di kantor polisi.


"Assalamu'alaikum, Pak Ustadz!" sapa Bas kepada Ustadz Hasan di masjid.


Ia mendatangi masjid Alfin beberapa saat setelah Naina menggantikan posisi pemuda itu di penjara. Laki-laki dengan khas sorban menyampir di bahu kanan itu, mendongak pada pintu masjid. Semua anak-anak Alfin tengah berkumpul mendengar kajian.


"Wa'alaikumussalaam! Bas, silahkan masuk!" sambut sang ustad dengan ramah. Bibirnya yang selalu bertutur lembut itu tersenyum, menerbangkan ketenangan pada hati polisi muda yang tengah gelisah.


Bas bergeming, bola matanya melirik semua anak-anak di sana seolah-olah menjadi isyarat untuk ustadz Hasan meminta mereka pergi. Sang ustadz mengerti, kemudian memerintahkan yang tertua dari mereka untuk membawa semua adik-adiknya bermain.


"Ada apa? Kamu kelihatannya gelisah," tanya sang ustadz begitu Bas duduk bersila di hadapannya.


Sepandai apapun ia menyembunyikan kegelisahan hati, tak akan pernah lolos dari pandangan seorang sholeh di hadapannya. Bas menghela napas dalam, menyiapkan hatinya untuk menceritakan semua yang terjadi.


"Ah, gimana kabar Alfin? Anak-anak terus menanyakan tentang dia. Saya rasa seiring waktu mereka juga akan tahu dengan sendirinya perihal ayah mereka," ujar ustadz Hasan diakhiri helaan napas memikirkan tentang anak-anak asuh Alfin.


Bas yang hendak bercerita urung mendengar pernyataan tersebut. Ia menunduk beberapa saat, meremas kepalan jarinya, mengumpulkan keyakinan untuk bercerita pada orang soleh di hadapannya itu.


"Alfin baru saja keluar dari penjara, Ustadz. Dalang dibalik semua kejadian itu sudah tertangkap, tapi ...." Bas menggigit daging dalam bibir bagian bawahnya, menekannya beberapa saat sembari merapatkan rahang.


"Alhamdulillah. Syukurlah." Senang hati sang ustadz, tapi kemudian mengernyit bingung. "Tapi ... tapi apa?" Bertanya penasaran kelanjutan dari kalimatnya yang menggantung.


Lagi-lagi polisi muda itu menghela napas, mengangkat wajah menatap sang ustadz yang menunggu jawaban.


"Tapi itu karena Naina menggantikan posisinya. Saya sendiri nggak tahu, Ustadz. Dia memaksa kami untuk menggantikan posisi Alfin dengan alasan ibu Alfin yang sakit." Bas menggelengkan kepala, benar-benar tidak mengerti kisah cinta yang sedang diperankan Alfin dan Naina.


Ustadz Hasan sedikit terkejut, tapi masih tetap bersikap tenang. Ia menghela napas panjang, betapa rumit takdir yang harus dijalani kedua insan itu.

__ADS_1


"Maa syaa Allah! Ini kisah luar biasa." Ustadz Hasan mengangkat wajah, memandang Bas dengan senyum penuh arti.


Polisi muda itu menunduk, menghindari tatapan sang ustadz. Hatinya remuk membayangkan Naina mendekam di balik jeruji besi. Dialah korbannya, tapi dia juga yang harus merasakan hukumannya.


"Jadi, sekarang ibu ada di penjara?" Pertanyaan itu membuat kedua tubuh mereka menegang seperti tersengat aliran listrik.


Tanpa mereka sadari, dua orang anak Alfin yang paling besar menguping pembicaraan mereka. Anak-anak itu hanya ingin tahu kabar tentang ayah mereka, tapi yang didapat adalah kabar tentang Naina yang menggantikan posisi Alfin.


"Astaghfirullah al-'adhiim! Jadi, kalian mendengarkan percakapan kami?" Ustadz Hasan tersenyum, memang sudah seharusnya mereka tahu perihal kedua orang tua asuh mereka.


Tangan beliau melambai, meminta keduanya untuk masuk dan duduk bersama.


"Ustadz, Paman, apa bener ibu ada di penjara menggantikan ayah? Kenapa Paman nggak pernah bilang kalo selama ini ayah ada di penjara? Bukan pergi mencari ibu?" cecar anak yang paling tua.


Bas menatapnya beberapa saat, sebelum kembali menghela napas. Ia mengusap kepala anak itu, merasa iba dengan kehidupan mereka.


"Paman nggak bisa apa-apa. Itu semua karena permintaan ayah kalian yang nggak mau anak-anaknya tahu kalo dia ada di penjara. Dia nggak mau kalian kecewa sama dia. Dia nggak mau kalian merasa malu karena punya ayah yang pernah dipenjara." Bas kembali terdiam, manik mereka beradu tajam.


Anak paling besar itu, meraih tangan sang polisi dari atas kepala, menggenggamnya dengan erat tanpa mengalihkan pandangan darinya.


Bas mengangkat wajah, menatap sekitar. Kesemua anak-anak Alfin telah berdiri di sana mendengar pernyataan kakak tertua mereka. Wajah-wajah polos yang terlihat menyedihkan, menderita karena jauh dari sang ayah. Bas menitikan air mata, selain beruntung karena memiliki Naina, Alfin juga beruntung memiliki anak-anak hebat seperti mereka.


Ustadz Hasan tersenyum, betapa Alfin sangat berpengaruh untuk kehidupan mereka. Dia berhasil mendidik mereka menjadi anak-anak yang bijak dan penuh syukur.


"Paman!" Halwa melangkah pelan mendekati Bas, meraih tangan yang digenggam sang kakak dan meremasnya dengan jemari kecil yang ia punya. "Kami mau ketemu sama Ibu. Halwa kangen sama ibu. Paman bisa ajak kami ke sana?" pintanya dengan lisan yang bergetar dan mata berkabut.


Bas melipat bibir saat air mata kian merangsek keluar. Permintaan sederhana gadis kecil itu, cukup mengoyak relung hatinya yang terdalam. Ia merengkuh tubuh kecil Halwa, menangis tanpa suara.


Ustadz Hasan mengusap sudut matanya, perih rasa hati melihat mereka terlunta tanpa orang tua. Dering ponsel milik polisi muda itu menghentikan keharuan. Bas melepas pelukan, mengeluarkan ponsel dari saku celana, seraya berpamitan pada Ustadz Hasan untuk menjawab telepon.


Halwa melirik ke mana ia pergi, untuk kemudian menghampiri sang ustadz dan duduk di pangkuan tanpa segan.

__ADS_1


"Pas Ustadz, kita jenguk ibu, yuk. Ibu pasti sedih sendirian di sana. Halwa mau temenin ibu di sana, Pak," pintanya sembari memainkan janggut tipis sang ustadz.


Ia mengangguk sembari mengusap rambut gadis kecil itu. Mencium pipinya yang gembil, mendekapnya penuh kasih.


"Kita ke sana sekarang. Kalian siap-siap dulu, Ustadz mau ambil mobil."


Halwa beranjak bersama semua kakaknya pergi ke asrama untuk mengunci kamar-kamar. Bas kembali dan berpamitan kepada ustadz Hasan karena perintah dari kantor.


****


"Tolong jangan bawa Naina pergi!"


Permintaan bernada halus dan lembut itu menjeda langkah mereka. Naina berbalik lebih dulu, untuk memastikan pemilik suara lembut itu. Ustadz Hasan mendatangi kantor polisi, tapi kabar dari Bas mengatakan bahwa Naina dibawa pergi ayahnya.


Sosok bergamis di hadapannya, meruntuhkan pertahanan Naina. Bukan ... bukan beliau, tapi gadis kecil yang menggenggam tangannya.


"Ibu!" Ustadz Hasan melepas genggaman, membiarkan Halwa mendatangi Naina.


Gadis itu jatuh di posisi berlutut, membentang kedua tangan menyambut kedatangan sang anak. Tanpa dapat berkata-kata, ia menangis dalam kungkungan tangan kecil Halwa.


Adrian berpaling, mengusap wajah menahan kesedihan. Mereka adalah salah satu alasan mengapa Naina bertahan di kota tersebut.


"Ibu!" Kesemua anak-anak itu berhamburan masuk ke dalam pelukan. Menumpahkan kerinduan pada ibu mereka.


Naina melepas pelukan, menatap mereka satu per satu.


"Dari mana kalian tahu kalo Ibu ada di sini?" tanyanya dengan hati yang getir.


"Paman Bas tadi datang ke masjid. Kami nggak sengaja denger dia bilang kalo Ibu di sini menggantikan ayah." Jawaban yang dilontarkan anak paling besar, mengguncang perasaan Naina. Dia tak ingin mereka tahu kalo Alfin dipenjara, mereka harus tetap percaya padanya.


"Ibu jangan nangis, kami tetap sayang ayah sama Ibu. Nggak ada yang bisa menggantikan ayah sama Ibu." Halwa mengusap pipi Naina, tak membiarkannya menjatuhkan air mata.

__ADS_1


Terharu gadis itu, ia memeluk mereka kembali.


"Terima kasih banyak, terima kasih karena kalian masih mau menerima kami."


__ADS_2