
"Sial! Kamu sebenarnya ingat nggak mobil Alfin?" bentak si Pengemudi pada perempuan yang menunjukkan keberadaan laki-laki itu.
"A-aku nggak terlalu ingat. Soalnya cuma sekilas aja." Dia menjawab terbata dengan kepala menunduk takut.
"Argh! Sial!" Pengemudi itu memukul setir, rombongan itu berhenti di sebuah tepi jalan jauh dari daerah yang mereka tempati.
"Mungkin nggak dia belok ke daerah itu?" Salah seorang dari mereka mengingat sebuah jalan yang tak pernah mereka lalui.
"Bisa aja, sih, tapi kita nggak bisa masuk ke sana. Pemerintah daerah tersebut melarang orang-orang kayak kita masuk ke sana," ujar salah satu dari mereka bingung.
Semua orang terdiam, meski Alfin pernah menjadi bagian dari mereka, tapi penampilan laki-laki itu tidak seekstrim mereka. Menindik bagian-bagian tubuh, mentato tubuh, atau melubangi daun telinga.
"Kita pernah cari dia ke sana, 'kan? Selama sepuluh hari, tapi nggak kita temuin. Apa mungkin dia si sana?" Diskusi berlanjut karena tak satupun dari mereka yang tahu dari mana Alfin berasal.
"Aku punya ide. Balik!" Mereka memutar kendaraan kembali ke markas. Entah apa yang dilakukan, tapi sebuah rencana sedang mereka susun.
****
Di toko, Alfin duduk bermenung di kursinya. Di lantai dua menghadap jendela kaca yang besar. Terbayang rombongan tadi, orang-orang yang ingin dia jauhi. Jika tak dapat membawa mereka mendekati Tuhan, maka menjauhlah karena mereka yang perlahan akan menjauhkanmu dari Tuhan.
Alfin menghela napas, merasa gagal dengan misi yang diterimanya. Misi berdakwah untuk mengajak mereka kembali kepada kodratnya sebagai manusia.
Idzaa jaaroita fii khuluqin dzanii'an, fa anta wa man tujaariihi sawaa'un. Jika engkau berteman dengan orang yang berperangai buruk, maka engkau dan temanmu sama saja.
"Astaghfirullah al-'adhiim!" Alfin mengusap wajah, teringat pergaulannya dulu bersama mereka. Bukan tanpa maksud dan tujuan, bukan sekedar menantang jiwa muda untuk mencoba hal-hal baru, bukan untuk bersenang-senang, bukan untuk menjadi bagian dari mereka.
Sesungguhnya, Alfin bergabung bersama mereka hanya untuk berdakwah menyampaikan kebaikan dan kebenaran. Berharap ridho Allah, juga hidayah dari-Nya untuk mereka. Hanya saja, tujuannya tak ada yang tahu. Cukuplah dia dan Allah saja yang tahu.
__ADS_1
"Aku gagal menyampaikan kebenaran pada mereka, ya Allah. Aku kira mereka akan menerima, tapi nyatanya justru menjadikanku seperti mereka yang perlahan menjauh dari-Mu. Astaghfirullah al-'adhiim, astaghfirullah al-'adhiim." Alfin menutup wajahnya, beruntung saat itu dia menyadari kekeliruannya dan segera pergi meninggalkan mereka.
Alfin salah satu orang berpengaruh dalam kelompok itu karena hanya dia yang mampu mematahkan persepsi orang tentang kelompok anak jalanan yang selalu membuat onar.
"Bos! Ada masalah sama Ibu? Kok, kayaknya ngelamun terus," tegur Yusuf menyentak tubuh Alfin.
"Eh, Suf?" Alfin beranjak duduk, menoleh pada sekretarisnya. "Nggak, Suf. Kayaknya kalo sama istri aku nggak akan punya masalah, insya Allah. Cuma lagi kepikiran hal lain aja, sih. Nggak ada sangkut pautnya sama istri." Alfin menepuk kursi di sebelahnya.
Yusuf beranjak duduk, menatap jendela kaca memandang keadaan jalanan yang tak pernah sepi.
"Ya, apapun itu mudah-mudahan segera bisa diatasi." Yusuf menatap wajah kusut sang atasan.
"Aamiin."
Keduanya terdiam untuk beberapa saat, merenungi setiap apa yang sudah mereka lewati.
Alfin tersenyum, kemungkinan sudah tahu, tapi ia tidak memberitahu siapapun tentang usahanya itu.
"Aku nggak tahu, tapi aku nggak pernah kasih tahu soal toko ini sama mereka. Mungkin tahu dari orang ... oya, gimana cabang yang di Sumatra? Kapan rencananya akan mulai dibuka?" tanya Alfin teringat pembangunan toko cabang di luar pulau.
"Alhamdulillah, Minggu ini insya Allah akan rampung. Kemungkinan bulan depan akan mulai dibuka. Kali ini, Bos sendiri yang harus melakukannya." Yusuf mengingatkan bahwa dialah pemilik sesungguhnya bisnis itu.
Lagi-lagi Alfin tersenyum, membuang wajah menghindari tatapan bawahannya.
"Yah, mudah-mudahan. Aku nggak bisa janji, sih. Kamu sama Hamka aja kurasa udah cukup. Sekalian nanti ajak bulan madu istri kamu, Hamka juga." Alfin melirik Yusuf, wajah pemuda itu merona tak terkira.
Membayangkan wajah Biya, pesan-pesan yang diketiknya, tak sabar ingin segera meminang.
__ADS_1
"Nggak usah pake lamaran segala, langsung aja akad nikah. Kasih tahu sama dia kalo kita datang nanti bukan mau lamaran, tapi langsung menikah. Jangan lupa kirimi dia uang untuk mengurus surat-surat," ujar Alfin tak ingin menunda hal baik terlalu lama.
Yusuf menunduk, diapun inginnya seperti itu. Hampir-hampir menangis karena Alfin begitu perhatian padanya.
"Makasih, Bos. Ya, nanti aku bilang sama dia." Yusuf masih menunduk, menormalkan hatinya yang lebay. Ingin menangis, tapi malu.
"Cukup uangnya? Aku tambahin nanti." Alfin menepuk-nepuk bahu pemuda itu, jatuh air mata Yusuf karenanya.
"Ada, Bos. Insya Allah cukup." Yusuf mengusap air matanya, teringat pada keluarganya dulu ... tidak, mereka tidak seperti Alfin yang begitu memperhatikan dirinya.
"Jangan ada-ada aja, tapi nggak ada. Ambil aja bagian aku bulan ini, udah terlalu numpuk uang di ATM dan itu belum pernah dipake istri aku. Aku heran, dia nggak pernah belanja kayak kak Dijah. Beli ini beli itu, tas juga itu-itu aja. Apa dia pikir tabungan itu isinya sedikit, ya?" Alfin berdecak, kemudian menghela napas.
Tak sekalipun dia melihat Naina berbelanja keperluannya, jika berkunjung ke mal pun tak ada yang dia beli. Semua hanya keperluan anak-anak dan rumah, padahal mereka punya simpanan sendiri.
"Beruntung banget, Bos. Kalo orang lain mungkin udah dipake beli-beli. Coba aja Bos yang beliin, hadiah atau apa gitu. Ibu pasti seneng," usul Yusuf mengagumi sosok Naina yang tak pernah berfoya-foya.
Alfin tercenung memikirkan ide dari Yusuf. Dia masih memiliki tabungan yang isinya tak berapa, hanya sepuluh persen dari bagiannya sekedar untuk pegangan.
"Benar juga, ya. Nanti aku cari hadiah, kebetulan besok malam tepat satu bulan kami menikah." Alfin tersenyum, mulai berpikir hadiah apa yang akan dia berikan kepada Naina.
****
Di rumah, karena rasa penasaran diam-diam Naina mengirim pesan kepada Salma untuk membelikannya alat tes kehamilan karena sekolah Salma tak jauh dari apotik. Dia meminta gadis itu untuk merahasiakan permintaannya tersebut.
"Apa mungkin aku hamil? Tapi aku nggak mual sama sekali. Kata orang kalo hamil muda itu pasti mual, muntah-muntah, kayak orang sakit." Naina mendesah, menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang berbaring.
Menatap langit-langit kamar, membayangkan waktu lima hari yang mereka lalui berdua tanpa gangguan. Merona pipinya, selama itu dia benar-benar dimanja Alfin, diratukan laki-laki itu. Tak ada apapun yang dia lakukan selain melayani keinginan Alfin di atas ranjang.
__ADS_1
"Mudah-mudahan aja beneran udah ngisi." Naina mengusap perutnya yang rata. Berharap si jabang bayi akan segera hadir melengkapi kebahagiaan mereka.