
"Aku sendiri nggak tahu siapa bapak biologisku? Di mana dia? Masih hidupkah atau sudah berkalang tanah? Aku nggak tahu. Karena masalah inilah, aku pernah mendapat penolakan dua kali dari laki-laki yang mau melamarku, bahkan mereka merendahkan aku dan menghina ibuku. Sampai akhirnya aku harus kehilangan sandaran hidup untuk selamanya. Ibuku meninggal, dan aku sendirian."
Di tengah-tengah perbincangan itu, seseorang datang mengejutkan. Ia mrengakul pundak Alfin dengan tiba-tiba sambil membekap mulutnya. Turut mendengarkan untaian kalimat yang diucapkan Naina.
Alfin membelalak dengan wajah menengadah, dipeganginya tangan lancang itu dan hendak dilepaskan. Akan tetapi, setelah melihat siapa yang datang, sang pemuda menjadi diam. Mengangguk setelah sosok misterius itu memintanya untuk tidak berbicara. Ia meletakkan jari telunjuk di bibir sebagai isyarat untuk Alfin.
Keduanya khusyuk mendengar, sesekali sosok tersebut mencium kepala Alfin penuh cinta. Tampak bahagia dan mesra.
"Kalo kamu nggak bisa nerima aku, maka setidaknya tolak aku dengan baik. Jangan menghinaku apalagi merendahkan aku."
Sosok dibalik tubuh Alfin itu beranjak, dan duduk di antara mereka. Ia mendengar semua yang diucapkan Naina. Alfin masih tidak percaya kedatangan sosoknya, sebuah kejutan yang tak terduga. Pemuda itu tersenyum, membiarkannya berbicara dengan Naina.
"Siapa bilang? Alfin juga bukan orang yang baik. Orang-orang menyebutnya berandalan, anak punk, suka balapan liar, dan semua kenakalan-kenakalan lainnya. Dia punya masa lalu yang kelam, kamu harus tahu itu," ucap orang tersebut menyentak tubuh Naina, ia bahkan berbisik di ujung kalimat membuat Naina meremang.
Gadis itu terlonjak, bangkit dari duduk seraya berbalik dengan cepat. Bekas tangisan masih berjejak di wajah, kedua matanya yang sembab tampak kosong, bibir terbuka sedikit terkejut bukan main.
Bola matanya bergulir, menatap bergantian dua orang yang duduk berdampingan itu. Mereka terlihat sedikit mirip.
"Si-siapa kamu?" tanya Naina gugup.
Pandangannya berubah terhadap Alfin, kehilangan kepercayaan pada sosoknya. Ia pikir tak akan ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka, rupanya kedatangan seorang wanita dengan pakaian syar'i tersebut mengganggu Naina.
"Tenang, sayang. Jangan lihat Alfin kayak gitu. Dia juga nggak tahu kalo aku akan datang. Duduklah! Sini! Dekat dengan Kakak, jangan jauh-jauh," pintanya sembari menepuk-nepuk lantai gazebo yang baru saja ia duduki.
__ADS_1
Naina masih berdiri dengan gelisah di sana. Memandangi keduanya dengan perasaan malu yang tiada tara.
"Jangan takut! Aku Khadijah, Kakak pertama Alfin. Apa kamu mau mendengar masa lalu Alfin? Dia nggak sealim sekarang ini. Mau Kakak tunjukkan fotonya? Sini, jangan takut. Kita tertawakan Alfin sama-sama," pintanya lagi karena melihat reaksi Naina yang tak terduga.
Niat ingin memberi kejutan, tapi nyatanya membuat gadis itu merasa tidak nyaman. Alfin menganggukkan kepala ketika pandangan mereka bertemu. Meminta Naina untuk menuruti permintaan sang kakak lewat sorot mata.
Tangan wanita sholihah itu terjulur, menyentuh lembut jemari Naina yang sedikit kasar. Menariknya dengan pelan, mau tidak mau Naina mengikuti tarikannya untuk duduk di tempat semula. Ia mengelus punggung tangan gadis itu, memperlakukannya dengan baik.
"Nih, coba kamu lihat!" katanya sembari menunjukkan gambar Alfin di ponsel.
Deretan foto Alfin dengan jaket kulit di atas motor yang dimodif, dapat ia lihat dengan jelas. Celana jeans robek, aksesoris kalung memenuhi lehernya. Rambut dibuat seperti puncak Piramida, berwarna-warni seperti pelangi.
Diam-diam Naina tersenyum, Khadijah meliriknya juga ikut menyematkan senyum. Gadis itu mulai tenang, dan dapat menerima kedatangannya.
"Gimana menurut kamu? Nggak sama, 'kan, kayak sekarang?" tanyanya meminta pendapat.
Wanita berpakaian syar'i itu menghela napas, kemudian meletakkan ponsel di pangkuan. Menatap langit dengan banyaknya awan putih yang mencerahkan.
"Setiap orang memiliki kisahnya sendiri. Masa lalu yang dilalui, juga masa depan yang harus dihadapi. Kamu dengan kisahmu sendiri, Alfin dengan kisahnya sendiri. Kita tidak tercipta sempurna tanpa cacat, sejatinya tidak ada manusia yang sempurna karena Rasulullah saja sebagai manusia paling suci pernah melakukan khilaf."
Ia menghela napas lagi, merasa iba dengan kisah hidup yang diceritakan Naina. Kemudian menoleh kepada Naina, menyentuh lembut tangan gadis itu.
"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Tidak ada yang namanya anak haram karena yang haram adalah perbuatan orang tuanya. Takdir yang menimpa pada seseorang itu bukanlah atas kehendaknya sendiri, melainkan suratan yang telah digariskan Allah sebagai ujian selama hidup di dunia ini."
__ADS_1
Naina mengangkat wajah, memandang kedua manik teduh di hadapannya. Alfin mendengarkan dengan seksama, menunduk khusyuk tidak menyela sama sekali.
"Kamu gadis yang baik, kalo aku lihat hidup kamu ini keras sejak kecil. Kamu pantas bahagia, sayang. Jangan terus menerus terkungkung di masa lalu yang membuat kamu bersedih. Mendengar cerita kamu, aku merasa tersentuh. Kamu berani mengungkapkan siapa diri kamu, yang hal itu belum tentu perempuan lain mampu melakukannya." Khadijah menyentuh lembut pipi Naina.
Dia keibuan, seorang kakak yang baik.
"Mereka nggak seharusnya melakukan itu sama kamu. Kamu benar, kalo nggak bisa nerima setidaknya tolak dengan baik. Jangan sampai menghina ataupun merendahkan. Aku setuju, karena kamu nggak pantas direndahkan. Kamu wanita terhormat sama seperti muslimah lainnya. Jangan menganggap diri kamu lebih rendah dari wanita lain. Kamu, aku, kita semua sama. Sama-sama memiliki derajat dan kehormatan."
Hati Naina menghangat, air matanya jatuh tanpa diundang tanpa dapat ia cegah. Terharu karena untuk pertama kalinya, dia diterima sebagai gadis yang tak bernasab. Senyum wanita itu begitu lembut dan menenangkan, Naina merasa damai berada di dekatnya.
"Alfin beruntung bisa dapet calon istri kayak kamu. Jujur, berani, dan pastinya tangguh. Bukan hal mudah kehilangan sosok yang kita cintai, tapi itu nggak membuat kita lantas kehilangan sandaran hidup untuk selamanya. Kita punya dan selalu ada, yaitu Allah. Tempat mengadu yang pasti. Teman curhat yang tak akan membuka aib yang kita ceritakan. Jangan kehilangan keyakinan dalam hidup, percaya sama Kakak. Alfin pasti merasa bangga sama kamu di hatinya," pungkas wanita tersebut sembari melirik Alfin yang memejamkan mata dan tersenyum samar.
"Kakak sarankan, jangan terlalu dekat sama dia. Mau ikut Kakak?" ajaknya pada Naina.
Alfin membuka mata cepat, tubuhnya menegang saat sang kakak hendak membawa Naina pergi. Mereka baru saja bertemu setelah beberapa hari dia memilih berdiam diri di dalam masjid.
Alfin menoleh pada sang kakak, menatap Khadijah tajam. Wanita baik itu mengusap wajah sang adik sambil terkekeh gemas.
"Nggak usah melotot sama Kakak. Kakak mau bawa calon adik ipar Kakak ini pergi dulu. Ada hal yang harus dibenahi. Kamu diam di sini, banyak kerjaan. Nggak usah ngintil!" tegas Khadijah diakhiri tawa.
Alfin tak dapat berkata-kata, menatap kepergian mereka dengan mulut terbuka. Dia masih merindukan Naina, masih ingin melihat wajahnya, senyumnya, juga mendengar suaranya.
"Kenapa dibawa, sih?" Dia mengeluh, menjatuhkan tubuh di lantai gazebo.
__ADS_1
Bibirnya tersenyum mengingat sang kakak yang sangat terbuka dengan Naina. Ia berguling, menatap punggung kedua wanita yang semakin jauh itu. Alfin melambaikan tangan ketika Naina menoleh be belakang. Gadis itu tersenyum malu, kemudian ditarik sang kakak masuk ke dalam mobil.
"Astaghfirullah! Pelit banget jadi kakak!" umpatnya cemberut.