
"Mas nggak punya ruangan khusus di sini karena emang jarang datang. Di lantai dua ini kantor, ruangan bendahara, ruangan sekretaris, dan di sana ruangan rapat." Alfin mengajak Naina berkeliling ke lantai dua tokonya.
Ruangan yang tak bersekat, hanya terdapat meja dan kursi juga lemari-lemari berisi dokumen milik toko. Semuanya transparan, terlihat dengan jelas tanpa ada yang ditutupi.
"Kamu sama kayak Papah nggak, sih? CEO gitu?" Teringat pada Adrian, pemilik gedung tinggi menjulang yang ia datangi sebelum bertemu Alfin.
"Ya, nggak juga. Mas bahkan nggak punya kursi khusus di sini. CEO di sini, Yusuf sama Hamka. Mereka yang mengatur, kalo Mas cuma penyedia aja," kilah Alfin tak ingin gelar itu disematkan kepadanya.
"Kalo Papah punya ruangan khusus di kantor. Kalo kamu mau istirahat di sini, dimana, Mas?" Naina kembali bertanya sambil mendaratkan bokong di kursi.
"Ya, di mushola. Ada di lantai satu, paling Mas tiduran di sana." Alfin menarik kursi di samping istrinya, meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya.
"Maaf, ya, karena aku baru kasih tahu kamu semuanya. Ya, itu juga karena ketahuan aja. Kalo nggak ... nggak tahu juga, sih. Sebab, umi sama abi aja nggak tahu. Pokonya nggak ada yang tahu," ungkap Alfin sejujurnya.
Naina menoleh, seperti apa perasaannya? Dia sendiri bingung menerjemahkan rasa yang timbul di relung jiwa.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyanya lirih.
Alfin menghela napas, menatap wajah teduh sang istri dan mengusapnya.
"Karena cukup tangan kanan saja yang tahu, tangan kiri nggak perlu tahu. Mas takut, ketika semua orang tahu siapa itu Alfin ... terbersit rasa sombong di hati. Hal yang paling Mas takuti, semua itu akan melunturkan niat awal Mas membangun tempat ini. Jadi, biarlah semua hanya tahu Alfin si marbot masjid bukan pemilik toko ini," ungkap Alfin, terenyuh perasaan Naina.
Gemerlap dunia memang selalu memabukkan, apalagi bila dilengkapi dengan sanjungan, pujian, serta kekaguman manusia, terkadang menimbulkan keangkuhan di hati. Terkadang menjadi khilaf, hilang jati diri. Niat awal dilandasi dengan keikhlasan, berbelok mencari keuntungan. Alfin tidak menginginkan itu. Maka gelar marbot lebih dia sukai daripada 'pengusaha'.
"Aku nggak tahu lagi harus ngomong apa, Mas. Semua ini membuat aku terkejut." Naina menyandarkan kepala di bahu suaminya, mensyukuri nikmat Allah yang tak bertepi.
Tanpa diminta pun, Naina dengan rela hati merawat semua anak-anak malang itu. Kasih sayang mereka, sikap manja mereka, ketergantungan mereka, menjadikan Naina sosok ibu berguna. Senyum dan tawa anak-anak itu, memberikan kebahagiaan pada hatinya.
Tanpa sadar, tangan Naina mengusap perut sendiri. Berharap si buah hati akan segera hadir di tengah-tengah mereka.
"Oya, kamu udah pikirin ke mana kita mau bulan madu?" tanya Alfin teringat rencana bulan madu yang tertunda.
__ADS_1
"Aku nggak punya pilihan, Mas. Ke mana aja yang penting sama kamu," jawab Naina mengeratkan dekapan tangannya.
"Hmm ... ke mana, ya? Kita nginep di hotel aja, ya. Mas ada punya teman buka usaha perhotelan di tepi pantai. Kamu pasti suka," ujar Alfin diangguki Naina.
Dengan cepat otaknya berpikir mencari waktu untuk segera melaksanakan keinginan yang tertunda itu. Tak sabar lagi rasanya, sepanjang waktu hanya mereka habiskan berdua saja.
"Kapan, ya?" Berpikir keras. Inginnya lebih cepat, tapi terpentok acara pengajian di masjid.
"Abis resepsi aja, Mas. 'Kan, nggak lama lagi," sahut Naina teringat pada acara resepsi yang direncanakan kedua belah pihak keluarga mereka.
Alfin mengingat-ingat, kapan tepatnya resepsi itu digelar. Ia menghela napas, harus menunda lagi.
"Nanti malam kita nggak pulang ke rumah, ya. Nginep aja di hotel, yuk," ajak Alfin dengan nada memelas. Terlalu banyak gangguan di rumah, ingin khusyuk membuat adonan, selalu saja ada yang mengganggu.
Pipinya bersemu mengingat tadi malam hampir ketahuan oleh Adrian karena bermain di belakang rumah. Demi menyenangkan hati suaminya, Naina menganggukkan kepala.
__ADS_1
Satu atau dua malam, tidak masalah. Rumah mereka dalam waktu dekat ini rampung seluruhnya. Mungkin akan segera mereka tempati setelah mengadakan syukuran. Tinggal berdekatan dengan anak-anak dan tak perlu lagi bingung mencari tempat bermain. Karena di rumah itu hanya ada mereka berdua.